
Dengan membawa dua buah amplop yang disembunyikan di saku jas warna putih, Abdullah melangkah menuju lantai tertinggi dari gedung berlantai lima belas. Dia berencana memberikan amplop putih tersebut kepada Ghani. Setelah menunggu selama dua minggu lamanya akhirnya hasil tes DNA milik Ghani keluar dan Abdullah ingin memberikan secara langsung.
Kini Abdullah berdiri di depan pintu coklat bertuliskan 'Ruang Direktur'. Sebelum mengetuk pintu, pria itu terlebih dulu mengatur napas demi mengurai rasa gugup dalam diri. Jika dilihat dari segi usia, Ghani jauh lebih muda darinya, tetapi entah kenapa setiap kali mereka bertemu bulu kudunya selalu berdiri saat tanpa sengaja menatap sepasang mata tajam seperti milik Rayyan. Hanya menatap matanya saja sudah menciutkan nyalinya.
"Ayo Abdullah, kamu pasti bisa. Jangan gugup saat bertemu Dokter Ghani!" ucap Abdullah pada dirinya sendiri.
Setelah dirasa siap, barulah Abdullah mengetuk daun pintu. "Permisi, Dokter Ghani. Ini saya, Abdullah. Bolehkah saya masuk ke dalam?"
Ghani yang saat itu sedang berdiskusi dengan Leon segera menoleh ke arah pintu lalu tak lama kemudian keduanya saling bertatapan.
"Kenapa Pak Abdullah datang ke sini? Emang lo minta bantuan apa padanya?" tanya Leon. Alisnya mengernyit petanda bingung.
Ghani belum memberitahu sahabatnya itu kalau empat belas hari lalu menyerahkan helaian rambut miliknya, Queensha dan juga Aurora kepada Abdullah untuk dilakukan pemeriksaan tes DNA. Jadi wajar apabila saat ini Leon berubah menjadi wartawan dadakan yang tengah mencari bahan berita.
"Panjang ceritanya, nanti aja gue ceritain. Sekarang lebih baik lo duduk di sofa dan jangan pernah mengatakan apa pun selama gue berbicara dengan Pak Abdullah." Usai mengucap kalimat tersebut Ghani berseru, "Silakan masuk, Pak Abdullah!"
__ADS_1
Kini Abdullah berdiri di hadapan Ghani. Sejak menginjakan kaki di ruangan itu, keringat dingin mulai bercucuran membasahi kening dan punggung. Walaupun ruangan itu dilengkapi pendingin ruangan, tetapi buktinya tak mampu menyingkirkan peluh yang terus bercucuran di tubuh Abdullah.
"Maafkan saya bila kedatanganku ke sini mengganggu kesibukan Dokter Ghani. Saya ke sini hanya ingin menyerahkan amplop ini, Dok." Abdullah mengeluarkan satu dari dua amplop putih lalu menyodorkannya ke hadapan Ghani.
Dengan tidak sabaran Ghani meraih amplop tersebut lalu membukanya perlahan. Jantung pria itu berdegup kencang seolah sedang berparade ria di dalam sana. Tangan gemetar kala mengeluarkan kertas putih dari dalam amplop.
Mata sipit itu bergerak dengan bibir komat kamit membaca setiap kalimat yang tertulis. Bumi tempatnya berpijak seolah berhenti berputar ketika membaca kalimat terakhir yang sengaja ditulis tebal.
Tingkat probabilitas Muhammad Ghani Hanan dengan Aurora Shafiyatunnisa adalah 99.99%.
Suara Ghani menggema di penjuru ruangan. Mendengar perkataan sang sahabat, Leon bersiap berdiri dari sofa dan hendak mengajukan berbagai pertanyaan tentang kalimat yang baru saja diucapkan sulung dari empat bersaudara. Akan tetapi, dia urungkan niatannya itu ketika melihat ekspresi wajah lelaki seusianya yang tampak lebih menakutkan saat sedang frustasi.
'Sialan si Ghani, udah main rahasia-rahasian segala. Awas aja kalau sampai dia enggak cerita, enggak gue bantuin kalau ada operasi dadakan.' Leon memilih menyandarkan punggung di sandaran sofa sambil pura-pura membaca majalah.
"Selain itu, saya pun melakukan pemeriksaan yang sama terhadap sampel rambut milik Nona Aurora dengan helaian rambut seorang wanita yang Anda berikan pada saya. Hasilnya sama seperti hasil tes yang sedang Dokter Ghani pegang saat ini." Abdullah kembali berbicara, tidak mau setengah-setengah saat menyampaikan berita penting kepada Ghani.
__ADS_1
Ghani terdiam mendengar apa yang dikatakan Abdullah. Sudah yakin jika memang Queensha adalah ibu kandung Aurora, tetapi karena khawatir sang mantan istri menuduhnya macam-macam maka dia melakukan tes serupa agar tak terjadi kesalahpahaman lagi di antara mereka.
"Apa Pak Abdullah juga membawa salinan hasil pemeriksaannya?" tanya Ghani dengan penasaran. Dengan bukti itu diharapkan Queensha percaya jika putri mereka masih hidup.
Menganggukan kepala lalu menyerahkan amplop putih lain ke hadapan Ghani. "Dokter Ghani bisa membacanya terlebih dulu dan apabila ada hal yang ingin ditanyakan, Anda bisa bertanya langsung kepada saya."
"Tidak perlu, Pak Abdullah bisa meninggalkan ruangan ini sekarang juga. Terima kasih saya ucapkan karena telah membantuku."
Abdullah bersiap meninggalkan ruangan setelah berpamitan kepada Ghani dan Leon. Namun, baru saja pria itu membalikan badan terdengar seruan berasal dari Ghani.
"Walaupun urusan kita telah selesai, tapi saya harap Pak Abdullah tidak pernah lupa dengan janji yang pernah diucapkan kepada saya."
Abdullah membalikan badan lalu menjawab, "Dokter Ghani tidak perlu khawatir, rahasia ini akan saya bawa sampai mati."
...***...
__ADS_1