
"Begitulah ceritanya. Beruntungnya saat itu Lulu berhasil kabur tepat waktu, walau mengalami pelecehan, tapi dia bisa mempertahankan kesucian yang dijaganya selama ini. Sejak saat itu, Lulu berubah menjadi lebih murung dan tak mau bertemu dengan siapa pun hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman karena merasa kota ini tidaklah aman lagi baginya."
"Lulu tidak hanya meninggalkan kota ini, tapi juga meninggalkan aku sendirian di sini. Selama hampir satu tahun dia kembali ke kampung, tinggal bersama kedua orang tuanya dan baru kembali ke kota tepat menginjak bulan ke tiga belas. Dia kembali menjadi sosok yang berbeda. Tidak ada lagi Lulu yang lemah, yang ada adalah gadis tangguh, barbar, dan tak pernah kenal takut terhadap apa pun. Dia ... berubah 180°," tutur Queensha panjang lebar.
Mendengar semua cerita tentang Lulu, darah Leon berdesir. Gejolak amarah dalam diri meningkat tanpa dapat ia kendalikan. Rahang mengeras, telapak tangan mengepal di atas meja menunjukan betapa marahnya ia saat ini. Walaupun ia sangat membenci Lulu karena dituduh sebagai lelaki berengsek, tetapi kini ia dapat memaklumi mengapa wanita itu bisa berpikiran demikian.
Masa lalulah yang membuat Lulu menuduhnya sebagai lelaki berengsek. Padahal Leon tidaklah sama seperti Andri--mantan kekasih Lulu. Ia tidak akan pernah menyentuh wanita mana pun tanpa meminta izin terlebih dulu.
"Berengsek! Pantas Lulu ketakutan setengah mati, rupanya pria itu hampir saja merenggut kesuciannya. Seandainya aku tau sebelumnya, sudah aku hajar Bedebah itu sampai babak belur! Akan aku hajar wajahnya menggunakan punggung tanganku ini. Kuremukan batang hidung, tangan yang ia gunakan untuk menyentuh Lulu, dan inti tubuhnya karena berniat memperk*sa gadis itu!" desis Leon dengan napas tersengal. Membayangkannya saja sudah membuat Leon hilang akal apalagi kalau sampai ia bertemu dengan Andri maka semua ucapannya akan ia kabulkan.
Ghani yang mengerti bagaimana perasaan Leon saat ini menepuk pelan pundak sahabatnya. Ia saja geram apalagi Leon yang pernah menghabiskan waktu bersama Lulu, pria itu pasti sangat ingin menghajar Andri sampai si berengsek itu tak bernapas lagi.
"Tenangin diri lo. Lampiaskan amarah lo di depan orangnya, jangan di depan gue apalagi Queensha. Bini gue lagi hamil muda." Ghani mencoba mengingatkan sahabatnya itu.
Kini Ghani mengalihkan pandangan ke arah Queensha. "Lalu, sekarang di mana lelaki berengsek itu? Apa dia mendekam di penjara?"
Menggeleng lemah. "Tidak, Mas. Psikis Lulu terguncang, ia tak bisa melakukan apa pun selain mengurung diri di kamar. Terlebih orang tua Andri adalah orang berada, bisa saja mereka malah menuduh Lulu yang bukan-bukan. Bukankah negara kita selalu mendukung orang yang kuat?" ucap Queensha. "Oleh karena itu, Lulu memilih pergi dengan membawa kenangan buruk itu selama hidupnya."
Queensha memasang wajah serius. "Karena kalian berdua sudah tau, kuharap Mas Ghani dan Mas Leon merahasiakan ini dari Lulu. Aku tidak mau dia kembali mengingat kenangan masa lalunya yang susah payah ia kubur dalam-dalam. Aku cuma mau dia bahagia, tak peduli bagaimana kepribadiannya sekarang, terpenting dia senang, itu sudah lebih dari cukup buatku."
Ghani, Queensha serta Leon mengakhiri percakapan mereka tepat pada pukul dua belas siang, bertepatan dengan waktu istirahat. Ketiga orang dewasa itu melangkah bersama meninggalkan coffé shop yang ada di lobby rumah sakit.
"Gue harap kenyataan yang baru aja kita tau enggak membuat lo illfeel terhadap Lulu. Karena bagaimanapun, dia adalah korban."
Leon mendengkus. "Lo pikir gue bakal illfeel cuma gara-gara itu? Gue orangnya bijak, enggak mungkin benci seseorang cuma karena masa lalunya. Lo aja yang punya masa lalu kelam masih gue deketin, apalagi Lulu yang cuma korban dari cowok biadap macam si Andri itu. Enggak ada alasan bagi gue untuk ngebenci Lulu. Walaupun pertemuan kami menyisakan sebuah kesalahpahaman, tapi gue udah bisa ngelupain kejadian itu."
__ADS_1
"Hmm, bagus kalau lo bisa bersikap bijak. Ya udah, gue cabut dulu, mau ke rumah Ayah dan Bunda. Orang tua gue belum tau kalau Queensha hamil."
Hampir memakan waktu satu jam lamanya, akhirnya Ghani beserta istrinya tiba di rumah Arumi dan Rayyan. Keduanya disambut hangat oleh para asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Wijaya Kusuma.
"Selamat datang Mbak Queensha, Den Ghani. Silakan masuk!" Tina membuka pintu lalu menggeser tubuhnya ke samping demi mempersilakan anak serta menantu sang majikan masuk ke dalam rumah. Kehadiran keduanya sangat dinanti oleh pasangan suami istri yang telah memasuki usia senja.
"Ayah dan Bunda apa ada di rumah?"
"Bu Arumi sedang duduk di taman belakang. Tadi, sih, sepertinya sedang menelepon Neng Shakeela. Mungkin sekarang sudah selesai. Kalau Pak Rayyan sedang keluar, katanya ada urusan dengan Pak Rio."
Ghani dan Queensha mengangguk hampir bersamaan. "Kalau gitu, kami masuk dulu ke dalam."
Lantas pengantin baru itu berjalan beriringan menuju taman belakang. Ghani terus menggenggam tangan wanita yang kini tengah mengandung darah dagingnya.
"Assalamu a'laikum." Queensha menyapa ibu mertuanya.
Queensha mencium punggung tangan Arumi dengan takzim. "Kita memang sengaja datang ke sini, Bun, karena ada yang mau dibicarakan."
Ibu empat orang anak mengernyitkan alisnya dalam. "Apa yang mau kalian bicarakan? Sepertinya penting sekali."
"Memang penting banget, Bun, makanya kita langsung datang ke sini untuk ketemu Bunda dan Ayah. Eh, malah Ayah tidak ada di rumah," sahut Ghani. Kini giliran pria itu mencium punggung tangan sang bunda. Ia pula memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya ke dunia yang fana ini.
Melihat ekspresi serius bercampur kebahagiaan di wajah anak serta menantunya membuat Arumi menyadari ada hal serius yang dibahas oleh mereka. Arumi menuntun Queensha duduk di kursi santai disusul Ghani mengikuti di belakang.
Setelah semua duduk berhadapan, Arumi mulai percakapan. "Ada apa?"
__ADS_1
Queensha melirik sekilas ke arah Ghani lalu kembali menatap sang ibu mertua. Tiba-tiba jantungnya berdetak tak beraturan. Lidah terasa kelu dan pikirannya pun blank seketika.
"Loh, kok, malah diam saja. Bicaralah, jangan buat bunda semakin penasaran," kata Arumi. Kemudian menyentuh lembut punggun tangan menantu kesayangannya itu. "Ayo, bicara. Jangan takut pada bunda. Bunda tidak akan menggigit kamu."
Queensha tersenyum samar. Bisa-bisanya ibu mertuanya itu bergurau di saat genting begini. "Sebetulnya ... aku ...." Wanita itu tak mampu melanjutkan kata-katanya. Sungguh, ia tak tahu harus memulai dari mana memberitahu Arumi tentang berita kehamilannya ini.
Melihat Queensha yang terlihat ragu, mau tak mau Ghanilah yang maju, memberitahu ibunda tercinta mengenai kabar gembira ini.
Berdehem sebentar, lalu berkata, "Bun, Queensha hamil. Usia kehamilannya memasuki delapan minggu. Bukan hanya itu saja, di dalam rahim istriku terdapat tiga kantung embrio. Mereka kelak menjadi the next triplet seperti aku, Zavier, dan Zahira."
"Serius? Kalian mau punya anak kembar tiga?" Arumi memastikan kembali apa yang ia dengar barusan bukanlah halusinasi. Queensha betulan hamil bayi kembar tiga.
"Benar, Bun. Aku tidak mungkin berbohong. Barusan aku ke rumah sakit guna memeriksa kandungan istriku dan aku baru saja tau kalau bibit unggul yang kutanamkan berhasil bersemayam di rahim Queensha. Anggota keluarga kita akan bertambah tiga," sahut Ghani antusias. Wajah pria itu bersinar bahagia bagai sinar mentari yang menerangi alam semesta. Mata berbinar karena harapannya untuk mempunyai anak dari rahim wanita yang ia cintai terwujud.
Dengan sekali gerakan, Arumi memeluk tubuh Queensha. Ia ciumi pipi menantu perempuannya itu dengan penuh kasih sayang. Tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini dibanding berita kehamilan sang menantu.
"Alhamdulillah, bunda ikut senang mendengarnya. Selamat, ya, Sha, sebentar lagi kamu jadi ibu bagi cucunya bunda." Bola mata Arumi berkaca-kaca, berita gembira ini sukses mengaduk-aduk perasaannya.
Queensha membeku. Dipeluk sedemikian erat oleh ibu mertuanya, membuat ia teringat akan mendiang mama tercinta. Seandainya sang mama masih hidup, mungkin ia mendapat perlakuan sama dengan yang Arumi berikan kepadanya.
Tangan Queesha melingkar di punggung Arumi. Ia menempelkan ujung dagu di pundak ibu mertuanya. Tanpa sadar ia menangis karena merindukan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
Sebagai seorang ibu, tentu Arumi mengerti bagaimana perasaan menantunya sekarang. Hidup sebatang kara tanpa ada orang tua maupun sanak saudara pasti terasa menyakitkan apalagi dalam kondisi saat ini, di mana Queensha sedang mengandung, tetapi tak ada ibunya yang mendampingi pasti membuat ia bersedih.
"Jangan pernah merasa sendiri karena masih ada bunda yang akan menemani. Anggap saja bunda seperti ibu kandungmu sendiri. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita ke bunda," kata Arumi lirih. Ucapan Arumi dibalas pelukan erat Queensha.
__ADS_1
...***...