Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Lagu Pengantar Tidur


__ADS_3

Peluh membanjiri kening serta leher Queensha. Tubuhnya bergerak-gerak gelisah tak menentu. Kelopak mata wanita itu terpejam, tetapi bibirnya meracau seolah tengah meminta tolong pada seseorang.


"Tidak. Kumohon jangan ambil kesucianku, Tuan! Aku wanita baik-baik. Aku bukan seorang jal*ng. Tuan ... jangan, Tuan! Jangan!" teriak Queensha histeris. Sontak, kedua matanya yang terpejam kembali terbuka lebar saat merasakan keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuh. Dinginnya ruangan rupanya tak mampu menyingkirkan peluh yang muncul ke permukaan kulit.


Queensha menatap langit-langit kamar ruang perawatan yang didominasi warna putih dan hijau. Napas wanita itu tersengal seolah baru saja lari maraton, berkeliling lapangan bola. Untuk kesekian kali, ia memimpikan kejadian nahas yang merenggut kesuciannya ketika bekerja di Jepang.


Mengusap dada mencoba menetralkan detak jantung yang berdegup kencang dari sebelumnya. "Ya Tuhan, kenapa aku harus memimpikan hal itu lagi? Padahal kejadian itu sudah lama berlalu, tapi kenapa aku masih menyimpan kenangan buruk itu?" Menghela napas panjang dan berat lalu kembali berkata, "Harus dengan cara apa agar aku bisa melupakan kejadian itu? Aku sangat lelah, Tuhan. Benar-benar lelah sekali."


Wanita cantik itu duduk di headboard tempat tidur kemudian meraih botol air minum yang sebelumnya sudah disiapkan oleh office girl, orang suruhan Arumi. Ia habiskan air mineral itu hingga isinya tersisa setengahnya.


Ekor mata Queensha melirik jam dinding yang menempel di dinding ruang perawatan. Waktu menunjukan pukul delapan malam dan entah mendapat dorongan dari mana wanita itu turun dari ranjang pasien.


"Sebaiknya aku ke kamar Rora, memastikan apa dia sudah siuman atau belum." Queensha menyingkap selimut dengan motif garis panjang yang membentang dari atas ke bawah.


Berjalan menyusuri lorong sepi, hanya ditemani hawa dingin bersumber dari pendingin ruangan dan suara jangkrik yang saling bersahutan. Malam ini rembulan kembali bersinar menyinari bumi. Tampak begitu indah dan syahdu.


Sementara itu, tampak seorang gadis kecil baru saja tersadar dari tidurnya yang panjang. Kelopak mata bulat itu bergerak perlahan. Bulu mata lentik pun ikut bergerak secara perlahan.


Ketika bola mata bulat itu terbuka lebar, sekelebat wajah Mia dan Lita serta bagaimana teganya mereka saat membentak dirinya terekam kembali di memori ingatan gadis kecil itu. Bulu kudu meremang disusul tubuh gemetar hebat dengan ekor mata yang bergerak gelisah ke sana kemari.


"Enggak. Rora enggak mau sama Nenek. Rora maunya sama Mama dan Papa. Mama. Papa. Tolongin Rora!" pekik Aurora dengan raut wajah penuh kecemasan. Iris coklat jernih berkaca-kaca saat mengingat kembali perlakuan ibu dan adik tiri Queensha terhadapnya.


Queensha yang sudah berdiri di ambang pintu segera mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar saat mendengar suara jeritan bersumber dari kamar perawatan anak sambungnya itu.


Bola mata Queensha terbelalak lebar saat mendapati tubuh Aurora sedang gemetar hebat di atas pembaringan. Beruntungnya jarum infus yang menancap di punggung tangan tidak tercabut dari tempatnya.


Berjalan setengah berlari, Queensha menghampiri Aurora. "Rora, Sayang. Kamu kenapa, Nak? Katakan pada mama, apa yang sakit?" Mendekap tubuh mungil itu dalam pelukan. Sesekali mengecup puncak kepala si gadis kecil dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Mama, Rora takut. Nenek jahat sama Rora, Ma."


Suara Aurora terdengar sangat lirih. Ia utarakan apa yang membuat tubuhnya ketakutan hingga buliran kristal ikut meluncur di antara kedua pipi.


"Sst, tenang. Mama di sini, Sayang. Tidak akan mama biarkan satu orang pun melukaimu. Sudah ya, jangan nangis lagi!" Jemari tangan Queensha menepuk lembut punggung Aurora, berharap gadis kecil itu tenang kembali.


Meskipun Queensha sudah bersusah payah menghentikan air mata Aurora, tetapi nyatanya insiden penculikan itu menyisakan trauma tersendiri bagi putri sambungnya itu.


"Nenek jahat, Ma. Nenek cubit paha Rora. Rora takut sekali, Mama," berucap dengan terisak. Tubuh Aurora semakin menengang. Ia semakin mengeratkan pelukan di punggung Queensha. Ia benar-benar takut jika Mia akan datang kembali, membentak dan mencubit pahanya dengan keras hingga meninggalkan warna merah kebiruan saking kesalnya kepada anak kecil itu.


Hati Queensha seperti disayat pisau yang baru saja diasah ketika mendengar ucapan Aurora. Dugaannya ternyata benar bahwa Mia berhasil melukai putri kesayangannya itu.


"Everthing's gonna be okay. Selama ada mama, kamu akan baik-baik saja. Tidak akan pernah mama biarkan kedua Iblis itu menyakitimu lagi. I promise." Queensha mengeraskan rahangnya, membulatkan tekad akan membuat perhitungan pada Mia dan Lita karena sudah membuat Aurora menderita.


Sebagai seorang ibu, tentu saja hati Queensha hancur berkeping-keping melihat penderitaan yang dialami Aurora. Meskipun baru dua bulan lamanya tinggal bersama di bawah atap yang sama, tetapi hati mereka sudah tertaut satu sama lain. Di saat Aurora tertimpa musibah, dada Queensha terasa nyeri sekali seakan dihimpit bongkahan batu yang sangat besar.


Setelah dirasa tenang, barulah Queensha mengurai pelukan mereka. Ia usap anak rambut yang menutupi sebagian wajah Aurora. "Sekarang Rora bobok lagi, ya? Mama akan tungguin kamu di sini sampai Papa kembali."


Rasa kantuk masih setia menemani malam Aurora. Entah karena memang lelah sehabis menangis atau karena tubuhnya sudah jauh lebih tenang sesaat setelah dipeluk Queensha, gadis kecil bermata bulat mengangguk patuh. Dibantu Queensha, Aurora merebahkan kembali tubuhnya di atas pembaringan.


Queensha menarik selimut motif taddy bear hingga kain berwarna merah jambu itu menutupi ujung kaki hingga bagian dadanya. Mengelus-elus kedua pipi tembem sambil memandangi iris coklat indah nan jernih.


Ketika iris coklat itu terkena pantulan sinar lampu berasal dari ruangan tersebut, jantung Queensha seakan berhenti berdekat selama beberapa saat. 'Kenapa aku merasa wajah Rora mirip sekali denganku waktu masih kecil. Mulai dari hobi serta makanan pantangannya pun sama sepertiku. Jangan-jangan ... dia ....


Menggeleng kepala cepat, mengenyahkan pikiran mustahil yang sempat terlintas di benaknya. 'Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Sha! Mana mungkin Rora putrimu. Bukankah kamu melihat sendiri bagaimana para penggali kubur menguburkan jenazah putrimu di samping makam Papa dan Mamamu? Enggak mungkin kalau putrimu hidup kembali.'


'Ini dunia nyata, bukan dunia novel yang segala kemungkinan bisa saja terjadi. Jadi, sebaiknya kamu enyahkan pikiran itu sebelum hatimu semakin tersiksa.'

__ADS_1


Untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak mengorek kembali luka lama, Queensha menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang sering ia nyanyikan saat masih mengandung janin, hasil perbuatan bejad seorang lelaki asing yang tak lain adalah Ghani.


Lirik lagu itu khusus diciptakan oleh Queensha sendiri untuk putri kecilnya yang saat itu masih berada dalam kandungan. Setiap kali perutnya terasa kram akibat terlalu lelah bekerja demi menghidupi dirinya sendiri, ia akan bersenandung lirih sambil mengusap lembut perutnya itu. Dan ajaibnya, rasa sakit yang diderita akan hilang begitu saja.


Tidurlah Putriku. Putriku sayang. Pejamkan matamu dan tidurlah nyenyak. Mama akan menemanimu di sini hingga fajar kembali terbit.


Itulah lirik lagu yang dinyanyikan Queensha. Walaupun putri tercinta telah kembali kepada Sang Pencipta beberapa tahun lalu, tetapi ia masih hapal betul akan penggalan lirik lagu ciptaannya sendiri.


Bola mata Aurora mulai mengerjap. Mulutnya yang mungil beberapa kali menguap dan detik berikutnya gadis kecil itu sudah terpejam dengan sebelah tangan menggenggam jemari lentik sang mama.


"Bobok yang nyenyak ya, Sayang. Mama yakin esok pagi semua akan kembali indah seperti sebelumnya," berbisik lirih di sebelah telinga. Tak lupa Queensha daratkan kecupan penuh cinta di kening Aurora.


Bersamaan dengan Queensha mencium kening Aurora, pintu ruang perawatan terbuka dan memperlihatkan sosok Ghani berdiri angkuh di ambang pintu. Dada kembang kempis dengan kedua telapak tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan urat-urat halus menonjol di punggung tangan.


"Queensha Azura Gunawan! Sedang apa kamu di sini? Bukankah saya sudah pernah bilang untuk menjauh dari Rora! Lalu kenapa sekarang kamu justru nekad datang ke sini?" cecar Ghani dengan napas tersengal. Sungguh, ia tak dapat menahan diri untuk tidak memarahi istrinya itu.


Queensha menghela napas. Merasa bersyukur sebab Ghani datang di saat ia telah berhasil menenangkan Aurora dan membujuk anak sambungnya itu tertidur kembali dengan nyenyak. Jika saja Ghani datang di saat mereka tengah berpelukan mungkin pria itu akan memisahkan Aurora dari dalam dekapannya.


"Rora baru saja tidur. Apa tidak sebaiknya kita bicara saja di luar? Di luar nanti Bapak boleh memarahi, menghina maupun menamparku sekalipun, aku tidak keberatan. Tapi please, jangan buat kegaduhan di sini. Kasihan Rora, dia butuh ketenangan setelah melewati hari tersulit dalam hidupnya," pinta Queensha dengan pengharapan.


Ghani melirik ke arah Queensha kemudian beralih pada sosok mungil yang tengah terbaring di bawah selimut tebal terbuat dari katun 100%. Kemudian ia menghela napas kasar.


"Baiklah. Sepertinya kita memang harus berbicara serius."


Setelah mematikan lampu utama di ruang perawatan tersebut dan menggantinya dengan lampu tidur, Ghani berjalan keluar ruangan dengan Queensha yang mengekori di belakang. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit, kemudian berhenti di tempat yang cukup sepi. Jauh dari jangkauan orang lain sehingga mereka bebas berbicara dari hati ke hati.


...***...

__ADS_1


__ADS_2