
Sudah beberapa hari ini Queensha berada di indekos Lulu. Dia menyiapkan berkas-berkas untuk melamar pekerjaan. Untuk sementara waktu, Lulu yang menanggung hidupnya baik dari urusan makan dan juga ongkos pergi ke sana kemari selama dia mencari pekerjaan.
Sejak dua hari yang lalu dia mencari pekerjaan ke sana kemari, tapi belum juga ada panggilan. Sebenarnya, Queensha tidak enak hati merepotkan sahabatnya ini. Akan tetapi, mau bagaimana lagi tidak ada sanak saudara yang bisa diminta tolong atau untuk menampung dirinya sementara waktu.
"Hari ini mau cari kerjaan lagi?" tanya Lulu saat melihat Queensha pagi-pagi sekali sudah bersiap untuk pergi.
"Iya nih aku mau cari pekerjaan lagi. Kalau enggak cepat-cepat cari pekerjaan nanti aku keenakan malah jadi pengangguran." Queensha tertawa sambil merapikan anak rambutnya yang masih berantakan. Dia sudah memakai kemeja putih lengan panjang dipadu dengan celana hitam kain sebatas mata kaki.
"Alah, meski penggangguran seumur hidup gue masih mampu nafkahin lo. Tapi kalau terpaksa banget enggak punya duit, gue terpaksa jual ginjal lo untuk kebutuhan sehari-hari kita." Lulu menertawakan guyonannya yang terdengar garing.
Dia rangkul pundak Queensha dan berkata, "Terpenting lo semangat cari kerjaan. Gue doain, semoga hari ini lo bisa dapat pekerjaan yang baik, yang gajinya gede biar cepet jadi orang kaya. Kalau lo sukses, gue juga ikutan seneng loh," sambung Lulu.
"Aamiin. Thanks, Lu. Aku janji kalau udah gajian, bakal bayar hutang sama kamu," ujar Queensha sambil tersenyum malu.
Lulu berdecak kesal. "Iih, lo itu apaan sih. Gue enggak niat ngasih hutangan sama lo. Gue tulus bantuin lo sampai lo dapat pekerjaan nanti. Jangan mikirin uang yang udah gue keluarkan. Lagi pula, kita tuh udah kenal lama jadi enggak perlu sungkan," ujar Lulu kembali kesal saat Queensha lagi-lagi menganggap uang yang telah dia berikan sebagai hutang. Padahal dia sama sekali tidak memiliki niatan seperti itu kepada sahabatnya sendiri, mengingat pada masa-masa dulu siapa juga yang membantunya jika bukan Queensha.
"Tapi aku enggak enak hati, uang kamu udah banyak aku pakai."
Melambaikan jemari lentiknya ke hadapan Queensha. "Udah jangan dipikirin. Gue cuma titip pesan aja sama lo, kalau nanti gue sedang berada di bawah, lo jangan lupa untuk gandeng tangan gue. Jangan pernah lepasin tangan gue, Sha!" ucap Lulu dengan tulus. Queensha yang mendengarnya menjadi terharu dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Aku beruntung banget punya sahabat kayak kamu. Makasih banyak. Aku pasti enggak akan lupa sama apa yang sudah kamu lakuin sama aku."
Queensha hampir menangis dari nada suaranya, segera Lulu menjauhkan diri dan melarang sahabatnya itu untuk tidak menangis.
"Masih pagi enggak boleh nangis, nanti make up-nya luntur!" ujar Lulu mencolek hidung Queensha dengan lembut.
"Iya aku enggak akan nangis. Janji deh nanti kalau aku gajian pertama, aku akan traktir kamu makanan yang enak," janji Queensha.
"Iya, dong. Harus. Gue tunggu janji itu terealisasi," ujar Lulu dengan nada semangat. Mana mungkin menyia-nyiakan kesempatan langka.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Takut kesiangan," ucap Queensha seraya mengambil tasnya dari atas meja, di dalamnya sudah ada keperluan untuknya melamar pekerjaan.
"Lo enggak sarapan dulu?" tanya Lulu.
Queensha menggelengkan kepala. "Enggak ah, nanti aja!" seru Queensha kemudian bergegas pergi. "Doakan aku ya!" pintanya sebelum menutup pintu.
__ADS_1
Ibu jari Lulu terangkat ke atas. "Siip. Semangat, Sha!"
Queensha berlari kecil menuju ke halte terdekat. Jangan sampai dia kesiangan mengingat jalanan di pagi hari akan sangat macet.
Sampai di sebuah perusahaan, Queensha bertanya pada security apakah perusahaan tersebut menerima lowongan pekerjaan bagi lulusan SMA atau tidak. Namun, jawaban dari security membuatnya kecewa.
"Terima kasih, Pak," ucap Queensha sambil menganggukkan kepala. Dia pergi, menuju ke tempat lain yang mungkin saja ada tulisan membutuhkan karyawan. Untuk saat ini dia tidak akan memilih pekerjaan, apa pun akan dia lakukan bahkan jika harus menjadi OB sekalipun atau seperti pekerjaannya sebelumnya.
Hingga siang hari, Queensha tak kunjung mendapat pekerjaan. Lelah seharian berkeliling mencari pekerjaan membuat perut terasa lapar. Sudah lebih dari lima perusahaan dia datangi, tapi jawabannya tetap sama, tidak ada lowongan kerja di sana.
"Kayaknya memang bukan rezekinya di perusahaan," ucap Queensha. Ada sorot kekecewaan dari matanya yang indah. Niat hati ingin melamar ke perusahaan, dengan harapan mendapat gaji yang cukup besar dari sebelumnya, tetapi ada daya hingga detik ini belum ada satu perusahaan pun bersedia menerima lamarannya.
Mengeluarkan dompet dari sling bag dan menghitung jumlah uang di dalam sana. "Enggak akan cukup kalau pulang naik ojek online," gumam Queensha.
Akhirnya dia memutuskan beristirahat sejenak di halte bus, kakinya sudah terasa sakit karena mengenakan sepatu hak tinggi agar penampilannya sedikit memukau. Sambil menunggu bus yang akan membawanya pulang ke indekos Lulu, Queensha menyempatkan diri untuk membuka medsos. Biasanya ada yang memasang iklan untuk sebuah pekerjaan.
Beberapa lowongan pekerjaan telah dia lihat, tapi syarat dan juga usia menjadi penghalang dirinya dengan persyaratan pekerjaan tersebut. Queensha sampai kesal melihat usia yang selalu menjadi patokannya.
"Huh, kenapa juga harus gelar sarjana. Kenapa enggak lulusan SMA aja sih, kan usiaku masuk kriteria lowongan pekerjaan ini!" kesal Queensha bergumam sendiri. Dia juga melihat iklan yang lain, tapi dengan gaji minim yang tertulis di sana, rasanya tidak mungkin akan cukup untuknya apalagi jika harus menyewa tempat tinggal sendiri. Kalaupun tinggal bersama dengan Lulu, tentu saja masih tetap menghabiskan gajinya untuk ongkos pulang pergi.
Queensha menatap wallpaper dengan foto dirinya dan Aurora, dia hanya tersenyum getir mengusap wajah gadis kecil bermata bulat yang sedang tersenyum di sana.
"Mama kangen kamu, Nak. Kamu apa kabar? Semoga baik-baik aja. Maaf, mama udah tinggalin kamu." Sedih tentu dia rasakan selama beberapa hari ini, rasa rindunya kepada Aurora sangat besar dan membuatnya ingin menangis.
Saat termenung seperti itu, tiba-tiba saja bunyi klakson sebuah motor terdengar dengan cukup keras mengagetkan Queensha.
"Queensha? Kamu sedang apa di situ?" tanya seseorang yang ternyata dia adalah Rama. Queensha terkejut melihat mantan atasannya ada di sana dan dia tersenyum seraya bangkit dari duduknya untuk mendekati Rama.
Rama menjalankan motornya sedikit ke depan agar tidak menghalangi jika ada bus yang datang.
"Kamu apa kabar?" tanya Rama mengulurkan tangannya. Queensha menyambut tangan itu dengan senang. Tidak dia sangka jika akan bertemu dengan Rama di sini.
"Baik, Pak. Bapak sendiri?"
"Saya baik, seperti yang bisa kamu lihat. Kebetulan sekali kita ketemu di sini. Udah lama banget ya kita enggak ketemu. Ehm ... sekitar dua bulan kalau enggak salah. Oh, ya. Sedang apa kamu di sini?" tanya Rama penasaran, melirik amplop coklat yang ada di tangan Queensha.
__ADS_1
"Oh ini ... saya sedang mencari pekerjaan," ucap Queensha jujur tanpa malu.
Udara siang ini sangat terik sekali, membuat Rama mengipaskan tangan ke depan wajah. Melihat Queensha yang juga sudah berkeringat banyak dia pun menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
"Saya merepotkan, Pak," ucap Queensha tidak enak hati.
"Enggak apa-apa. Lagian saya juga sedang tidak repot," ucap Rama kemudian duduk di jok motor bagian depan dan pergi dari sana.
Queensha harus berterima kasih kepada Rama karena menyelamatkan dirinya dari rasa lelah yang mendera. Setidaknya, uangnya aman untuk saat ini berada di dalam dompet.
"Bukannya kamu sudah bekerja di tempat lain? Kenapa sekarang mencari pekerjaan lagi?" tanya Rama bingung.
"Ah, anu ... saya mengundurkan dari pekerjaan saya, Pak."
"Mengundurkan diri lagi?" ulang Rama tak percaya.
"Iya. Ada sedikit masalah di tempat kerjaan saya yang baru, Pak. Jadi saya memilih mundur. Saya enggak betah kerja di sana dan mencari pekerjaan lain," ucap Queensha berbohong. Terpaksa, karena dia tidak mau jika Rama atau orang lain mengetahui jika dia adalah salah satu bagian dari Keluarga Wijaya Kusuma.
"Ooh, begitu rupanya." Rama menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Masuk akal jika memang wanita di belakangnya ini mengundurkan diri sebab lingkungan pekerjaan yang kurang sehat terkadang membuat kinerja kita terganggu dan performa menurun.
Motor Rama telah sampai di depan indekos Lulu. Perjalanan mereka lalui dengan menyenangkan karena mereka berbicara tentang banyak hal. Rama memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin agar bisa berdekatan dengan Queensha.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Rama sambil membantu Queensha melepaskan helm yang menutupi kepalanya.
"Iya, Pak. Maaf karena enggak bisa mengudang Bapak ke dalam. Ini indekos putri soalnya. Saya anak baru di sini, enggak mau kena tegur penghuni lain." Tersenyum simpul hingga membuat Rama terpana selama beberapa detik. Senyuman itulah yang selalu dirindukan pria lajang berusia dua puluh tujuh tahun.
Rama tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Tidak masalah, saya bisa ngerti kok."
Pria jangkung itu hendak menyalakan kendaraan roda dua miliknya, tapi dia teringat sesuatu. "Oh ya, omong-omong soal kerjaan kalau kamu mau bisa kok balik lagi kerja di restoran. Kebetulan Neti baru saja berhenti dan posisi sebagai pelayan kembali kosong. Menurut saya daripada kamu pusing nyari kerjaan dan belum tentu dapat, mendingan balik lagi. Tapi itu pun kalau kamu bersedia kembali kerja bareng saya."
Tampak Queensha berpikir sejenak, menimbang apakah dia harus menerima tawaran Rama atau tidak. Apabila menolak lalu dengan apa dia menafkahi dirinya sendiri. Namun, jika menerimanya maka bersiaplah menerima sindiran pedas yang berasal dari Puji.
"Boleh deh, Pak. Saya mau balik lagi kerja di sana. Besok saya datang ke restoran untuk menyerahkan segala persyaratan."
"Oke, saya tunggu kedatanganmu, Sha." Rama memberikan senyuman terindah yang dimiliki kepada wanita yang ia sukai.
__ADS_1
...***...