
Hari yang dinantikan pun tiba, di mana Lulu mengajak Leon bertemu kedua orang tuanya di kampung. Mengendarai kendaraan pribadi, Leon mengantarkan kekasih sekaligus calon istrinya itu menuju tempat kelahiran sang wanita.
Merangkum jemari lentik Lulu lalu memberi ciuman di punggung tangan kekasih tercinta. "Aku enggak tau apa yang sedang kamu pikirkan, tapi aku cuma mau bilang satu hal sama kamu, apa pun yang terjadi nanti kita hadapi bersama. Aku enggak akan tinggal diam jika emang orang tuamu enggak setuju dengan hubungan ini. Aku akan berusaha untuk luluhin hati bapak dan ibumu. Aku janji, Neko-chan."
Suara magnetis itu mampu membawa ketenangan kepada Lulu. Rasa cemas yang sempat membelenggunya beberapa waktu lalu perlahan menguap di udara. Dia percaya, selama ada Leon di sisinya, segala masalah dapat teratasi. Sekalipun masalah itu berat, Leon mampu menyelesaikannya.
"Apa kita udah sampe, Lu?" tanya Leon sambil melajukan kendaraan roda empat miliknya. Jalanan berlubang membuat dia ekstra hati-hati agar kepala mereka tak terantuk bagian atas mobil.
"Masih sekitar 60 meter lagi, Mas. Pertigaan depan, kamu ambil kiri. Lurus sekitar 20 meter, nanti ketemu rumah reyot, nah itu rumah orang tuaku."
Leon mengacak-acak rambut Lulu kemudian membawanya mendekati bibir. Dia kecup puncak kepala kekasihnya dengan penuh cinta.
"Biar pun reyot, tapi seenggaknya kalian punya tempat berteduh. Kita mesti banyak-banyak bersyukur biar rezekinya dilimpahkan Tuhan."
Kepala mendongak ke atas. Lulu gemas sekali akan sikap Leon yang berubah semakin dewasa. Dia seperti melihat sosok sang bapak ada dalam diri kekasihnya itu.
"Iya, bawel."
"Biarin bawel, yang penting laku," kata Leon seraya membelokkan kemudi memasuki pelataran rumah sederhana yang terlihat cukup asri dan sejuk.
Bangunan satu lantai dengan bagian atas ditutupi genteng, sementara bagian badannya dari anyaman bambu tampak terlihat sederhana, tetapi sangat nyaman untuk ditinggali. Ada banyak tumbuhan hijau ditanam di pekarangan rumah. Pepohonan hijau menjulang tinggi ke atas awan, membuat rumah tersebut semakin sejuk.
Leon mematikan mesin mobil, lalu memutar tubuh demi membukakan pintu untuk Lulu. Telapak tangan sang gadis mulai berkeringat melihat pintu rumahnya terbuka lebar. Sepertinya bapak dan ibu Lulu telah menunggu kedatangan anak gadis mereka.
"Ini rumahku, Mas. Maaf kalau kamu kurang berkenan ada di rumah reyot ini," bisik Lulu.
Leon justru memberi senyuman termanis untuk pujaan hati hingga memperlihatkan lesung pipinya di kedua sudut bibir. "Enggak masalah. Aku malah betah berlama-lama tinggal di sini. Udaranya sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan."
Menaik napas panjang, menahannya sebentar lalu mengembuskan perlahan. Dengan meremas telapak tangan, Lulu mengucap salam pada penghuni rumah. "Assalamu a'laikum, Pak, Bu. Ini Lulu."
Kedua orang tua Lulu yang sedang ada di dapur bergegas berlari saat mendengar suara anak kesayangannya. Tampak mereka berlomba-lomba demi bisa bertemu dengan putri semata wayangnya itu. Namun, gerakan mereka melambat kala melihat seorang pria tinggi berdiri di sebelah Lulu.
"Wa'alaikum salam," jawab pasangan suami istri itu hampir bersamaan. Tubuh membeku di tempat, tatapan mata menatap lurus ke arah Leon.
Lulu menyalami kedua orang tuanya diikuti dengan Leon yang melakukan hal yang sama.
"Kabar Bapak dan Ibu, bagaimana? Sehat-sehat saja, 'kan? Maaf, Lulu baru sempet pulang soalnya di kota banyak kerjaan dan susah buat ambil cuti."
"Alhamdulillah, sehat," jawab kedua orang tua Lulu. Pasangan paruh baya itu masih bingung melihat ada laki-laki lain yang dibawa oleh anaknya. Selama ini Lulu tidak pernah membawa pria mana pun ke rumah mereka.
"Lu, kamu bawa siapa?" tanya Ibu Lulu mengalihakan perhatian dari sosok tampan di depannya. Sebagai wanita normal, tentu saja bu Fatimah terpesona akan ketampanan Leon.
"Saya-"
Lulu segera menyambar tangan sang bapak dan berkata, "Pak, gimana kalau kita masuk dulu? Nanti Lulu jelasin di dalam."
__ADS_1
"Ah, ya. Bener banget itu. Sebaiknya memang kita ngobrol di dalem aja. Enggak enak dilihat tetangga." Bapaknya Lulu menarik tangan sang istri, lalu membantu wanita itu duduk di kursi. "Mas, masuk! Maaf kalau rumahnya jelek." Pria paruh baya itu bersikap sebijak mungkin meski sebetulnya dia pun penasaran siapa lelaki yang diajak Lulu ke rumah. Mungkinkah lelaki itu adalah kekasihnya Lulu?
"Duduk dulu, Mas," ucap Lulu kepada Leon. Leon mengangguk, lantas duduk di seberang kursi rotan orang tua Lulu.
Lelaki yang bekerja sebagai dokter bedah di Persada International Hospital bagai seorang tawanan yang tengah disidang. Tatapan intimidasi diberikan pak Idris beserta istrinya, tetapi Leon sama sekali tak gentar sedikit pun. Dia justru bersikap santai, seakan terbiasa menghadapi situasi sulit seperti ini.
"Bu, tolong buatkan minum dulu untuk Lulu dan temannya," ucap Pak Idris mencairkan suasana.
Mata bu Fatimah melotot. "Tapi, Pak-"
Pak Idris membalas tatapan istrinya seakan memberi isyarat pada wanita itu untuk bergegas bangkit ke dapur.
"Baik, Pak." Akhirnya Bu Fatimah pasrah. Tatapan mata tajam Pak Idris menciutkan keberaniannya.
Pak Idris masih mengamati Leon dari atas kepala sampai ke ujung kaki, tak ada satu bagian yang tak luput dari pandangannya. Dia sudah memiliki firasat bahwa pria di hadapannya ini adalah kekasih Lulu. Namun, dia akan langsung bertanya setelah Lulu dan temannya itu beristirahat.
"Silakan diminum, Mas." Bu Fatimah mempersilakan tamunya meminum teh hangat buatannya.
"Terima kasih, Bu," jawab Leon. Leon dan Lulu menyesap cairan berwarna coklat di atas meja. Tenggorokan terasa kering akibat perjalanan jauh yang memakan waktu kurang lebih 6 jam lamanya.
Setelah agak lama mereka terdiam, Lulu menyenggol lengan Leon untuk menyatakan maksud dan tujuan kedatangannya ke sini. Lulu yakin, sang bapak tengah menunggu penjelasan mereka.
"Ehem ... Pak, Bu. Sebelumnya, perkenalkan nama saya Leon. Saya adalah pacarnya Lulu. Kedatangan saya ke sini bukan sekadar ingin bersilaturahmi, tapi karena ada hal lain yang ingin disampaikan pada kalian berdua." Leon membuka percakapan, sementara Lulu hanya komat kamit, memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, semoga semua berjalan lancar sesuai rencana.
Orang tua Lulu masih diam membiarkan Leon menjelaskan apa maksud kedatangannya ke sini. Melihat orang tua Lulu yang tampak fokus memperhatikan, Leon pun melanjutkan perkataannya kala belum ada sanggahan atau jawaban lebih lanjut.
Bu Fatimah membeliakkan mata, cukup terkejut akan maksud kedatangan Leon ke rumahnya, sementara pak Idris hanya manggut-manggut saja. Sudah menduga kalau pria itu dan Lulu ada hubungan spesial. Jika tidak, untuk apa Lulu membawa lelaki lain ke rumah.
"Lu? Selama ini kamu enggak pernah cerita sama Ibu kalau kamu deket sama pria lain," ujar Bu Fatimah, bertanya langsung kepada Lulu terkait ucapan Leon.
"Iya, Bu maaf. Lulu emang belum cerita sama Ibu karena waktu itu Lulu belum yakin sama Leon. Seiring berjalannya waktu dan Leon pun punya niat serius, Lulu langsung aja suruh Leon izin sama bapak dan Ibu," jawab Lulu.
"Yang dikatakan Lulu benar. Selama ini saya selalu menunggu kesiapan Lulu untuk memperkenalkan saya pada orang tuanya. Saya tidak memaksa Lulu untuk segera mengenalkan saya pada kalian berdua. Saya biarkan Lulu sampai dia benar-benar yakin dan setelah itu barulah saya datang ke sini, minta izin kepada Bapak Dan Ibu untuk menikahi Lulu," jawab Leon sopan.
"Kamu sudah tahu bagaimana keluarga kami, Nak Leon? Kami bukan dari keluarga kaya seperti Nak Leon. Pekerjaan saya dan ibunya Lulu cuma tukang kebun, tidak punya penghasilan tetap. Kami juga bukan dari keluarga terpandang." Pak Idris menceritakan keadaan keluarganya yang sebenarnya kepada Leon. Sebelum terlambat, lebih baik dia ceritakan semuanya agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Leon tersenyum lebar. "Sudah, Pak. Lulu sudah menceritakan semuanya kepada saya. Saya sama sekali tidak keberatan, begitu pun dengan Papa dan Mama saya. Mereka menerima Lulu beserta keluarganya dengan tangan terbuka."
Namun, Pak Idris belum begitu yakin untuk melepas sang putri. Dia kembali berkata, "Kamu yakin bisa nerima Lulu dengan segala kekurangannya? Tidak malu punya mertua miskin dan tak berpendidikan seperti kami?"
"Saya sangat yakin, Pak. Kalau saya benar-benar tulus cinta sama Lulu, bukankah harus menerima orang tuanya juga dengan tangan terbuka? Saya tidak peduli dengan latar pendidikan Bapak dan Ibu, terpenting bagi saya adalah restu dari kalian berdua. Saya ingin menjadikan Lulu sebagai istri dan ibu bagi anak-anak saya kelak." Leon bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Pak Idris menatap sepasang manik coklat Leon, mencari setitik kebohongan di sana. Akan tetapi, tak ada apa pun di sana selain kesungguhan.
Menghela napas panjang dan dalam lalu kembali berkata, "Kalau sudah seperti itu, saya menyerahkan semuanya kepada anak saya. Yang menjalani semua adalah Lulu. Kalau kamu memang niatnya serius dan tidak neko-neko saya restui," ucap Pak Idris. Selagi Lulu bahagia maka dia merestui anaknya itu menikah dengan lelaki yang dicintainya.
__ADS_1
Menatap ke arah Lulu. "Kamu sendiri gimana, Lu? Serius tidak dengan Nak Leon?" tanya sang ayah ke Lulu
Lulu mengangguk yakin. "Serius, Pak. Lulu cinta sama Mas Leon dan ingin jadi istrinya."
Bu Fatimah memandang ke arah pak Idris. Pria yang rambutnya mulai memutih hanya mengangguk. Kalau memang putri kesayangannya sudah yakin, mereka sebagai orang tua hanya bisa memberikan restu dan doa yang terbaik.
***
Di sisi lain, kedatangan Lulu di kampung halaman membuat Juragan Tatang kalang kabut. Pria paruh baya yg mengincar Lulu untuk menjadi istri kelimanya meminta anak buahnya mengantarkan dia ke rumah orang tua Lulu. Berencana melamar gadis itu karena sudah tidak tahan ingin memperistri gadis yg masih bersegel. Namun, berita tentang rencana pernikahan Lulu dengan pemuda kota membuat amarah dalam dirinya membara.
"Antarkan saya ke rumah Lulu sekarang! Sialan berani-beraninya dia nikah dengan laki-laki lain. Selama ini saya menunggunya hingga kembali," ucap Juragan Tatang dengan emosi. Anak buahnya segera mengantarkan Juragan Tatang ke rumah Lulu.
"Baik, Juragan," jawab anak buahnya dengan tegas.
"Lulu! Fatimah! Idris! Keluar kalian semua! Berani-beraninya bohongin saya!" teriak Juragan di depan rumah Lulu. Mereka semua yang mendengar teriakan Juragan Tatang lantas segera ke luar rumah.
"Ju ... juragan Tatang. Juragan Tatang kok ada di sini?" tanya Bu Fatimah dengan tubuh gemetar. Kilatan emosi dari mata pria itu semakin membuat dirinya ketakutan.
Dengan sombong dan angkuh juragan Tatang menjawab, "Memangnya kenapa kalau saya ke sini. Tidak boleh! Kalau saya tidak datang ke sini, saya tidak akan tau kalau Lulu akan dinikahkan dengan pria kota."
"Kamu keterlalu, Imah, bisa-bisanya ingkar janji. Kamu bilang akan menikahkan saya dengan anak semata wayangmu ini, tapi buktinya apa? Kamu malah berniat menikahkan dia dengan lelaki lain. Keterlaluan kamu!" bentak Juragan Tatang. Suara teriakan pria itu membuat para tetangga berkerumun di depan rumah Lulu.
"Juragan Tatang tidak berhak marah-marah pada ibu saya!" Lulu maju ke depan, membela sang ibu.
"Lu," ucap Bu Fatimah mengingatkan anaknya.
Tongkat juragan Tatang terangkat ke udara lalu menunjuk wajah Lulu menggunakan tongkat tersebut. "Berani ya kamu sama saya! Dasar bocah ingusan!"
Pak Idris menarik Lulu, menyembunyikan anak kesayangannya di belakang. "Maafkan kami Juragan. Saya tidak tau ada perjanjian apa antara Juragan dengan istri saya. Namun yang pasti, saya memang merestui Lulu menikah dengan pilihannya karena saya ingin melihat dia bahagia," jawabnya lemah lembut. Namun, jawaban pak Idris malah membuat Juragan Tatang semakin murka mendengarnya.
"Sialan! Kalian sudah bohongi saya. Kalian sudah saya pinjamkan uang dengan jaminan Lulu, tapi malah ingkar janji. Dasar bedebah!" Lagi dan lagi Juragan Tatang menghardik orang tua Lulu.
Kepala bu Fatimah menunduk. "Maaf, Juragan. Saya dan keluarga akan membayar utang yang saya pinjam dari Anda."
Lalu Juragan Tatang minta pada ibu Lulu mengembalikan utang berikut bunga. Dia begitu kesal akan kelakuan bu Fatimah.
Leon berjalan maju sebagai pahlawan dan akan membayar semua hutang calon ibu mertuanya sampai lunas.
"Kalau gitu kalian bayar utang tersebut plus bunganya 20%. Jika tidak, maka saya jebloskan kalian berdua ke penjara!"
Kepala yang menunduk dengan cepat terangkat. Bu Fatimah cukup terkejut dengan ucapan juragan Tatang. "Kenapa pakai bunga, Juragan?"
"Baik, tidak masalah. Asal setelah utang Bu Fatimah lunas, Anda jangan pernah injakkan kaki lagi di rumah ini. Akan ada hitam di atas putih agar semuanya jelas!" kata Leon pada akhirnya.
"Oke. Saya pun tidak sudi berada terlalu lama di rumah reyot ini. Cih!" Juragan meludah ke tanah.
__ADS_1
Lalu menyuruh anak buahnya memberikan catatan utang plus bunga kepada Leon. Leon pun bersedia membayar seluruh utang beserta bunga yang diberikan Juragan Tatang. Anggap saja sebagai imbalan atas kesediaan bapak dan ibunya Lulu karena telah memberi restu kepadanya.
...***...