
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan fisik, dokter menyatakan bahwa Leon memang dapat menjadi pendonor Queensha. Mengetahui berita tersebut, Leon bergegas menuju ruang pengambilan darah, di mana seorang perawat wanita telah menunggunya dengan setia.
"Dokter Leon, saya mulai pengambilan darahnya. Tarik napas panjang lalu embuskan perlahan." Bersamaan dengan helaan napas Leon, perawat itu menusukkan jarum steril ke pembuluh darah vena di lengan pendonor dan proses pengambilan darah dimulai.
Setiap tetes darah yang mengalir, ada banyak doa dipanjatkan Leon, berharap semoga darah ini dapat membantu Queensha dan istri dari sahabatnya dapat pulih kembali seperti sedia kala.
'Tuhan, selamatkanlah Queensha serta ketiga keponakanku yang ada dalam kandungannya. Kembali dia di tengah kami,' batin Leon. Dia begitu khusyu dalam berdoa hingga tanpa terasa waktu sepuluh menit berlalu dengan begitu cepat. 500 cc darah telah berada dalam genggaman tangan, siap untuk diberikan kepada Queensha.
"Alhamdulillah, pengambilan darah berjalan dengan baik. Setelah ini Dokter Leon istirahat dulu sekitar 15 menit sebelum kembali ke ruang tunggu. Oh iya, di atas meja sudah saya siapkan makanan ringan serta minuman. Apa Dokter mau saya bantu menyuapinya?"
Leon menggeleng kepala lemah. "Tidak perlu, Sus. Kamu selesaikan saja pekerjaanmu, saya bisa merawat diri saya sendiri."
Perawat wanita itu membawa kantong darah yang dimasukkan ke dalam wadah dan berkata, "Baiklah, jika itu maumu. Saya permisi dulu mau memberi darah ini pada Dokter Nizam. Permisi."
"Hmm. Pergilah dan berikan darah itu segera pada Dokter Nizam."
Sementara itu, Ghani tengah mengintrogasi Yogi serta kedua anak buahnya. Tatapan membunuh dia berikan pada tiga lelaki jangkung di hadapannya. Wajah sangar dan berperawakan besar dengan otot di lengan atas tak membuat sang direktur rumah sakit terintimidasi, justru Yogi beserta anak buahnya merasa merinding melihat ekspresi wajah menakutkan bersumber dari Ghani.
Mengayunkan kaki kanan ke depan lalu menendang tulang kering di kaki kanan Robby dan Yudi hingga tubuh keduanya mundur satu langkah ke belakang.
"Dasar tidak berguna! Gunanya kalian ada di lokasi kejadian apa kalau tak bisa melindungi istriku. Aku meminta Yogi mencarikan bodyguard untuk menjaga istriku bukan menggaji kalian untuk senang-senang, menikmati segelas es cendol guna menghilangkan dahaga di tenggorokan. Bisa-bisanya kalian lalai saat sedang bertugas," bentak Ghani, meluapkan kemarahannya pada dua pria bertubuh besar di depannya. Tak peduli jika tubuh Robby dan Yudi kesakitan akibat ulahnya sebab dia tidak lagi mampu membendung kemarahannya.
Rasanya Ghani hampir gila mengetahui nyawa istri beserta ketiga calon anak-anaknya berada di ambang kematian. Kalau bisa memilih, biarkan dia menggantikan posisi istrinya daripada harus melihat Queensha kesakitan di dalam sana.
"Maafkan kami, Dokter Ghani. Saat itu saya dan Yudi tak bisa menahan diri untuk menikmati es cendol yang ada di sekitar kami. Saya pikir Bu Queensha akam aman jika ditinggal sebentar bersama Mbak Lulu, tapi ternyata dugaan saya salah. Bu Queensha justru celeka di saat kami berdua asyik menyesap minuman dingin itu," kata Robby. Kepala menunduk ke bawah, wajah meringis kesakitan merasakan betapa sakitnya tulang kering kakinya akibat terkena tendangan Ghani yang dibalut sepatu pentofel hitam.
"Pikiran macam apa itu? Seharusnya kamu tetap bertanggung jawab meski istriku sedang bersama sahabatnya. Mereka berdua perempuan, lebih lemah daripada kamu, tapi kamu malah melimpahkan tanggung jawab itu kepada Lulu. Otakmu ditaruh di mana, hah! Di dengkul! Bisa-bisanya berpikiran begitu!" Ghani kembali melayangkan tendangan di kaki yang sama, membuat Robby tak lagi dapat bertahan. Tubuh pria itu terjatuh di lantai.
__ADS_1
Yogi sedari diam saja, tak berniat membela anak buahnya karena Robby dan Yudi memang bersalah. Mereka tak menjalankan tugas dengan baik hingga insiden naas menimpa Queensha.
'Bodoh, berani-beraninya dia menyela ucapan Dokter Ghani,' ucap Yogi seraya memandang sendu pada salah satu anak buah kepercayaannya.
"Pokoknya aku tidak mau tau, kalian cari Bajingan itu sampai ketemu. Kalau sudah ketemu, beri dia pelajaran. Patahkan tangannya yang digunakan untuk mendorong istriku, injak-injak tangan itu sampai dia memohon agar kalian segera melenyapkan nyawanya dari muka bumi ini. Kalau perlu, habisi nyawanya dan buang jasadnya ke sungai yang dipenuhi dengan buaya biar lelaki berengsek tak berperasaan macam dia enyah dari bumi ini!" kata Ghani berapi-api. Napas tersengal kala senyuman manis Queensha melintas di benaknya. Dia baru saja mengecap manisnya hidup berumah tangga bersama wanita yang begitu dicintai, bencana besar justru datang menghampiri.
Yudi mengangguk cepat. Melihat betapa menakutkannya tampang Ghani saat sedang marah, membuat keberaniannya mencuit bagai kerupuk yang direndam kuah bakso. Walaupun tubuhnya kekar seperti seorang binaragawan, tapi di hadapan Ghani, dia laksana hewan kecil yang tak mempunyai kekuatan apa pun.
Sebelum Yogi ikut meninggalkan ruangan, Ghani memanggil orang kepercayaannya itu. "Yogi, kamu ikut mencari si Bajingan itu. Terserah mau mencarinya di mana, aku tak peduli. Cari dia terus sampai ke lubang semut sekalipun. Mengerti?"
"Mengerti, Dok. Kalau begitu saya permisi dulu."
***
Berita kecelakaan yang menimpa Queensha sampai di telinga Rayyan dan Arumi. Pasangan suami istri yang telah membangun biduk rumah tangga selama 34 tahun berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit. Dengan bergandengan tangan, keduanya melangkah beriringan menuju tempat di mana Queensha sedang ditangani.
"Ghani, ceritakan pada bunda apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Queensha sampai dilarikan ke rumah sakit." Arumi langsung bertanya tanpa basa basi. Meskipun rasa lelah datang menghampiri, tak menyurutkan rasa penasaran dalam diri wanita paruh baya itu akan musibah melanda menantu keduanya.
"Tapi, aku khawatir pada Queensha, Mas. Bagaimana dengan nasib ketiga cucu-cucuku? Queensha banyak mengeluarkan darah dan itu bisa mengancam nyawa mereka."
"Iya, aku mengerti. Aku pun sama khawatirnya seperti kamu, tapi kita tidak boleh terlihat panik, mencecar Ghani dengan berbagai pertanyaan. Beban putera kita sangat berat, jangan menambah bebannya lagi."
Melihat penampilan Ghani berantakan, dan tatapan mata sendu, perkataan Rayyan perlahan menelusup ke sanubari yang terdalam. Menarik napas panjang, menahannya sebentar kemudian mengembuskan perlahan.
Arumi mengangguk pelan lalu menurunkan kedua tangan suaminya di bahu. Lalu dia duduk di sebelah sang putera.
Membawa kepala anak pertamanya ke pundak, mengelus pelan rambut Ghani seperti saat masih kecil. Dengan lemah lembut berkata, "Maafin bunda sudah menodongmu dengan pertanyaan. Bunda cuma syok sebab baru tadi pagi kami bertukar pesan, saling menanyakan kabar masing-masing, tapi tiba-tiba saja bunda mendapat kabar bahwa Queensha kecelakaan. Tentu saja bunda kaget setengah mati karena tak menduga musibah ini datang melanda menantu kesayanganku," tutur wanita itu panjang lebar.
__ADS_1
Menjeda sejenak kalimatnya. Arumi menangkup wajah Ghani menggunakan telapak tangan. "Nak, bunda bisa mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Kamu pasti takut kehilangan Queensha dan calon anak-anakmu, 'kan? Namun, kamu harus yakin jika Queensha akan selamat. Begitu pun dengan calon anak-anak kalian, mereka dapat terlahir ke dunia ini tanpa kekurangan apa pun."
Tanpa disangka, Ghani menangis di hadapan sang bunda. Hati teriris bagai disayat pisau saat sepasang mata melihat kondisi Queensha dari jendela pintu ruang perawatan. Membayangkan betapa kesakitannya Queensha ketika didorong Andri membuat pria itu ingin sekali menenggelamkan pria sialan tersebut ke sungai. Rasa sayangnya pada Queenaha membuat dia seperti orang hilang akal sehat.
"Tapi aku takut mimpiku jadi kenyataan, Queensha dan ketiga anakku meninggalkanku dan Rora berduaan di sini. Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan mereka semua. Tidak sanggup, Bun." Ghani terisak. Tubuh bergerak dengan pundak turun dan naik. Sekuat apa pun dia bertahan, rupanya dia tak mampu memikul beban berat ini sendirian. Di depan Arumi, wanita yang telah melahirkannya ke dunia, dia luapkan isi hatinya tanpa diminta siapa pun.
Sebagai seorang ibu yang mengandung Ghani selama 8 bulan lamanya, tentu saja Arumi dapat merasa penderitaan yang dirasakan anak sulungnya itu.
"Mimpi itu cuma bunga tidur, belum tentu jadi kenyataan. Percaya dan yakin Tuhan pasti menyelematkan istri dan anak-anakmu." Arumi mengusut buliran kristal yang sempat menetes di pipi sang putera. Dia tersenyum dan kembali berkata, "Queensha perempuan kuat, mana mungkin dia menyerah begitu saja. Apalagi ada tiga janin dalam perutnya yang menunggu untuk segera dilahirkan. Dia pasti berusaha keras untuk tetap bertahan karena di bumi ini ada dua orang yang sedang menunggunya, kamu dan juga Rora."
Dengan gerakan cepat Ghani memeluk tubuh ibunda tercinta. Dekapan dan pelukan Arumi selalu menenangkannya.
"Terima kasih, kehadiran Bunda di sini membuatku semangat lagi."
Arumi membalas perlukan Ghani dengan mengusap punggung bidang pria muda di depannya. "Itu sudah menjadi tugas seorang ibu. Sebaiknya sekarang kita berdoa, meminta pada Tuhan semoga Dia menyembuhkan Queensha."
Rayyan menepuk-nepuk pundak Ghani, seakan memberi kekuatan pada anak pertamanya itu. Walaupun terkesan dingin, tak terlalu dekat dengan dua anak lelakinya, tetapi sebetulnya dia sangat menyayangi Ghani dan juga Zavier. Dalam diam mendoakan kedua jagoannya itu agar diberi kebahagiaan sepanjang hidupnya.
Semua orang yang ada di sana bangkit berdiri ketika pintu ruang IGD terbuka, memperlihatkan sosok Nizam berdiri di sana. Pria itu melangkah ke arah Ghani, Rayyan, dan Arumi, sedangkan Lulu sedang berada di ruangan terpisah, menemani kekasihnya pasca melakukan donor darah.
"Dokter Nizam, bagaimana keadaan menantuku. Apa dia berhasil melewati masa kritis?" Rayyan lebih dulu mengajukan pertanyaan. Dia mengetahui kondisi terakhir Queensha dan Leon. Sahabat anak lelakinya mengirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp.
Dokter Nizam menatap wajah cemas ketiga orang di depannya. Wajah semua orang terlihat begitu menegangkan.
Mengeluarkan udara dengan embusan beban. "Kondisi Bu Queensha ... jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia berhasil melewati masa kritis dan kini tengah diobservasi terlebih dulu sebelum dipindah ke ruang rawat inap. Sementara waktu kalian belum boleh menemuinya, tunggu sampai dua atau tiga jam ke depan baru bisa dibesuk."
Tubuh Ghani terkulai lemas di tempat. Ada perasaan tenang setelah mendengar keadaan Queensha baik-baik saja. Beban yang menghimpit dada berangsur-angur terangkat detik itu juga.
__ADS_1
'Alhamdulillah, terima kasih Tuhan karena Engkau tak mengambil dia dari sisiku.' Ghani tersenyum bahagia.
***