
"Sayang, kamu yakin mau nginep sama Nenek Rumi dan Kakek Rayyan? Enggak mau ikut mama dan Papa pulang ke apartemen?" Queensha bertanya sekali lagi untuk memastikan keputusan Aurora yang tiba-tiba saja meminta ditinggal karena ingin menginap bersama kakek dan neneknya.
"Yakin, Mama. Rora kangen banget kepingin bobok sama Nenek Rumi. Boleh, 'kan, Ma?" Bola mata bundar itu mengerjap penuh pengharapan.
Walaupun sedikit berat melepaskan putri tercinta, Queensha tetap mengizinkan Aurora tinggal bersama kakek dan neneknya. Ia tak mau egois dengan menolak permintaan sang putri apalagi ia pernah berjanji untuk tetap menjalin hubungan silaturahmi dengan mertuanya meski kini mereka tak lagi tinggal serumah.
"Boleh dong, Sayang. Namun, Rora harus janji, enggak boleh nakal dan menyusahkan Kakek dan Nenek selama menginap di sini. Rora harus patuh dan menuruti semua perkataan kakek dan nenek. Enggak boleh nakal apalagi menyusahkan mereka, ya?"
Dengan antusias Aurora menjawab, "Siap, Mama! Rora akan jadi anak penurut."
Queensha mengusap pucuk kepala Aurora dengan penuh cinta. "Anak pintar. Sini, peluk mama dulu." Tubuh mungil itu berhambur dalam pelukan sang mama. Memeluk Queensha erat sebelum mereka berpisah untuk sementara.
Ghani serta kedua mertua Queensha melihat pemandangan di depan sana dengan perasaan haru. Harapan Aurora untuk memiliki ibu akhirnya terwujud. Di usianya yang menginjak lima tahun, dia dapat bertemu dengan ibu kandungnya sendiri.
Queensha berpamitan kepada mertuanya. "Ayah, Bunda, aku titip Rora. Besok siang setelah mengantar bekal makan siang untuk Mas Ghani, aku mampir ke sini sekalian jemput Aurora."
"Iya. Kamu tidak perlu mencemaskan Aurora. Dia akan aman bersama kami. Kalian hati-hati di jalan dan kalau sudah sampai jangan lupa beri kabar kepada bunda, ya?"
"Baik, Bun. Ya sudah, kami pulang dulu. Assalamu a'laikum." Queensha mencium punggung tangan Arumi dan Rayyan secara bergantian.
"Ghan, jangan lupa kirimkan laporan yang tadi ayah minta. Ayah membutuhkannya segera."
Ghani mengangguk cepat. "Siap, nanti kalau sudah ketemu laporannya langsung kukirimkan ke Ayah."
Tak berselang lama, Ghani tiba di apartemen yang kini menjadi tempatnya berteduh bersama istri dan anak tersayang. Unit apartemen tersebut terlihat sepi, tak ada suara teriakan, celotehan kecil dari bibir mungil Aurora, hanya terdengar bunyi detak jam dinding yang ditempel di ruang keluarga.
__ADS_1
"Apartemen ini jadi sepi, ya, Mas, karena tidak ada Rora. Biasanya dia akan berteriak minta dibuatkan omurice kalau sedang menonton film Barbie." Queensha mengedarkan pandangan pada satu sudut di ruang keluarga. Di tempat itulah biasanya Aurora bermain bersama boneka kesayangan. Meskipun baru beberapa hari pindah ke sini, rupanya spot tersebut telah memberi kesan tersendiri bagi Queensha.
Perlahan Ghani melangkah mendekati Queensha yang sedang berdiri di dekat pembatas ruangan terbuat dari kayu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri lalu memeluk wanitanya dari arah belakang.
"Kamu benar, Sayang. Tidak adanya Rora di sini membuat apartemen ini jadi lebih sepi dari sebelumnya. Namun, kita bisa membuat apartemen ini menjadi lebih ramai meski tidak ada Rora."
Kening Queensha mengerut. "Bagaimana caranya, Mas?" tanya wanita itu penasaran.
Jemari tangan kokoh yang semula berada di pinggang, kini terangkat ke udara. Ghani menyampirkan helaian rambut hitam Queensha yang tergerai ke samping kiri menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kiri masih melingkar di pinggang ramping sang wanita.
"Kita bisa bercinta dan kamu dapat mengeluarkan suara merdu sehingga setiap sudut ruangan di apartemen ini menjadi ramai oleh suaramu, Sayang. Kamu bebas mendesaah, mengeram, dan berteriak memanggil namaku setiap kali mencapai pelepasan. Bagaimana, apa ideku brilian?" bisik Ghani di telinga Queensha. Ia dekatkan bibirnya di leher jenjang istrinya, mengecup permukaan kulit putih tanpa cela tersebut dengan penuh hasrat. Selagi tak ada siapa pun di apartemen tersebut, ia dapat leluasa melakukan apa pun tanpa takut dipergoki Aurora, kedua orang tuanya ataupun para asisten rumah tangga yang sering hilir mudik, keluar masuk dapur demi mengerjakan pekerjaan mereka sebagai ART.
Bulu kudu Queensha merinding saat embusan hawa panas menerpa lehernya yang jenjang. Aroma parfum bernuansa woody menyeruak ke indera penciuman Queensha membuat wanita itu teringat akan bau kayu di hutan, terasa begitu lembut dan memberi kesan macho.
"Mas Ghani, aku-"
"Kenapa, Sayang? Kamu mau menolak ajakanku?" sergah Ghani cepat saat menyadari tanda bahaya di sekitarnya. "Sayang, apa kamu tidak merasa kasihan kepadaku? Sejak kita bertengkar, aku dan kamu tidur terpisah. Kamu tidur di kamar sedangkan aku di sofa di ruang keluarga. Setiap malam aku tidur hanya ditemani tumpukan boneka milik Aurora tanpa bisa memeluk dirimu. Lalu sekarang aku pun harus tidur sendirian tanpa belaian kasih sayang dari kamu."
"Sayang, sejak tadi siang aku menahannya dan sekarang aku sudah tak sanggup lagi jika harus menahannya. Mandi air dingin maupun berendam di bathtub rasanya tak mampu membuatku merasa lebih tenang. Aku benar-benar menginginkanmu sekarang," ucap Ghani diakhiri kecupan di pipi.
Selama berada di rumah sakit, bayangan wajah Queensha terus menari indah di pelupuk mata. Bibir ranum bernuansa strawberry terus menggodanya seolah-olah meminta sang kumbang untuk menyesap, merasakan setiap tetes madu bersumber dari sang bunga mawar. Ghani pria normal yang akan bereaksi saat berada Queensha di dekatnya.
Queensha terkesiap mendengar pernyataan Ghani. Kalau boleh jujur, sebetulnya ia pun merindukan momen kebersamaan mereka berdua saat berada di atas ranjang yang sama, berbagi selimut, dan saling memuaskan satu sama lain. Akan tetapi, sifatnya yang pemalu membuat dia tak dapat menyampaikan apa yang dirasakannya saat ini. Ia begitu malu untuk mengatakan bahwa jika dirinya pun menginginkan Ghani.
Tak mendapat jawaban apa pun, Ghani mendesah pelan. Ia tahu apa keputusan Queensha saat ini. "Ya sudah, kalau tidak mau tidak apa-apa. Aku akan coba mandi air dingin dan siapa tahu hasratku dapat berkurang meski kita tidak bercinta." Walaupun tampak kecewa, tetapi ia mencoba mengerti Queensha. Menyembuhkan trauma akibat kejadian di masa lalu tak semudah membalikkam telapak tangan. Untuk itulah Ghani tak mau memaksa Queensha agar mau melayaninya.
__ADS_1
Ghani melepaskan sebelah tangannya yang melingkar di pinggang Queensha, kemudian menurunkan kembali helaian rambut yang sempat ia sampirkan di pundak sebelah kiri.
"Aku mau ke ruang kerjaku dulu, mencari laporan yang diminta Ayah. Kamu bisa kembali ke kamar dulu untuk membersihkan diri. Kalau pekerjaanku sudah selesai, aku akan menyusulmu ke kamar."
Ghani hendak melangkah, meninggalkan Queensha. Namun, dengan gerakan cepat jemari tangan Queensha mencekal pergelangan tangan sang suami.
Ghani menatap heran kepada Queensha. "Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
Menggeleng kepala. "Tidak. Hanya saja aku ... aku ... ehm, aku cuma mau mengatakan kalau aku bersedia bercinta denganmu."
Queensha menangkup wajah Ghani dan mendaratkan satu kecupan ringan di bibirnya. Dengan begini ia berharap Ghani tahu kalau sebetulnya dia pun menginginkan pria itu.
Ghani membalas pagutan istrinya dengan semangat 45. Tanpa membuang waktu lama, pria itu menggendong Queensha ala bridal style menuju kamar mereka.
Mendaratkan tubuh istrinya secara perlahan di atas kasur berukuran king size dengan sprei warna merah muda motif bunga-bunga. Ghani merayap mendekati Queensha, kemudian mengungkung istrinya dengan kedua siku yang diletakkan di samping kanan dan kiri tubuh sang wanita.
"Aku berjanji akan bermain pelan sama seperti saat kita bercinta di Maldives dan Jepang."
Ghani membungkuk dan menjilat leher istrinya, menghidu aroma rosemary dan gingseng yang menguar dari rambut sang wanita. Setelah itu barulah turun ke bagian dua benda kenyal yang kelak menjadi sumber kehidupan bagi calon anak-anaknya. Ia meremas dua benda tersebut dengan kencang hingga membuat Queensha mendesaah kenikmatan.
"Malam ini kupastikan kita berdua kembali meregup indahnya surga dunia bersama-sama." Usai mengucap kalimat tersebut, Ghani mulai menuntaskan hasrat yang sudah berada di ubun-ubun. Ia memeluk tubuh istrinya erat-erat, membiarkan tubuh polos mereka saling bersentuhan satu sama lain.
Malam ini, untuk pertama kalinya Ghani dan Queensha bercinta pasca perselisihan yang terjadi di antara keduanya dan kegiatan mereka kali ini terasa begitu berbeda sebab dilakukan usai pertengkaran kecil yang dianggap sebagai bumbu penyedap dalam rumah tangga.
...***...
__ADS_1