
Taksi yang ditumpangi Queensha dan Aurora tiba di depan pintu masuk gedung apartemen. Rupanya Ghani sudah menunggu dari tadi. Pria tampan berdarah campuran Tionghoa segera bangkit dari sofa yang terdapat di lobby apartemen dan berjalan mendekati istri dan anak pertamanya, Aurora.
“Akhirnya kalian pulang juga. Aku takut terjadi hal buruk menimpa kalian berdua." Ghani segera membungkukan badan, membawa Aurora dalam pelukan. Dia gendong si kecil dengan bagian badan membelakangi Queensha.
“Papa, Rora ngantuk. Pingin bobok." Aurora mengucek matanya yang sedikit berair. Dia lalu menguap lebar dan merebahkan kepalanya di bahu Ghani.
“Boboklah. Papa akan gendong kamu sampai kamar." Ghani mengecup rambut hitam sang putri sebelum gadis kecilnya tertidur pulas. Lalu dia beralih menatap Queensha. "Sayang, kamu juga harus istirahat. Ayo, kita kembali ke unit apartemen kita."
Queensha mengangguk patuh. Dia menerima uluran tangan Ghani dan menggenggam erat jemari tangan kokoh itu.
Ketiga orang itu pun naik lift menuju unit apartemen mereka. Begitu sampai, Ghani segera membaringkan Aurora di tempat tidur kamarnya. Tak lupa dia selimuti si kecil agar tak kedinginan.
Setelah selesai, Ghani segera menemui Queensha. Istrinya yang tengah hamil itu tengah duduk di sofa ruang tamu, menegakair putih yang sempat dia ambilkan di dapur. Melihat wajah Queensha yang kecapekan, Ghani langsung merasa khawatir.
“Sayang, ini terakhir kalinya kamu pergi tanpa izin dariku. Bilangnya mau ke mall, ternyata kamu mampir ke indekos Lulu sampai mau maghrib. Kamu tau tidak kalau usia kandunganmu masih sangat rawan, rentan terjadi keguguran. Sadar kamu tidak ada di rumah, sudah membuatku berpikiran yang bukan-bukan. Aku takut kamu diculik seseorang yang punya dendam padaku."
"Setidaknya kamu sempatkan mengirim pesan padaku agar aku tidak khawatir," sambung Ghani. Dia hampir gila menunggu kepulangan Queensha. Pernah sekali dia kehilangan istrinya akibat kebodohannya dan kini dia tak mau kejadian itu terulang untuk kedua kali.
Alih-alih bersedih, Queensha malah tertawa melihat ekspresi Ghani yang begitu mengkhawatirkannya. “Iya, maafin aku, Sayang. Aku benar-benar lupa tadi. Lagi pula tadi situasinya mendadak banget makanya aku tidak sempat memberimu kabar. Sekali lagi, maafi aku, ya? Please?" Sepasang mata sipit mengerjap, memohon kesalahannya agar dimaafkan Ghani.
Melihat betapa indahnya mata sang istri dan wajah yang imut bagai boneka membuat amarah dalam diri Ghani perlahan menyurut. Dia tak lagi kesal kepada istrinya itu.
“Sebenernya ada apa sih? Kenapa kamu sampai melupakan nasihat yang kuberikan kepadamu,” ujar Ghani penasaran. Entah kenapa dia ingin tahu apa yang terjadi pada Lulu sampai-sampai Queensha harus menjaganya seperti itu.
“Lulu sakit atau jangan-jangan dia kena gendam ya?” tebak Ghani asal.
Queensha spontan tertawa mendengarnya. “Kok, gendam, sih. Ngaco kamu, Mas. Mana ada Lulu kena gendam." Tubuh wanita itu bergerak turun dan naik. Perut terasa geli seperti digelitik tangan tak kasat mata.
Ghani mengerucutkan bibir karena ternyata dugaannya salah. “Yah, siapa tahu karena kena gendam, makanya Lulu kehilangan barang berharga. Dia jadi seperti orang linglung dan kamu mesti menemaninya."
“Bukan seperti itu kejadiannya, Sayang.” Queensha menghentikan tawanya gara-gara melihat Ghani yang mulai merengut.
Semenjak kehadiran Triplet terungkap, rupanya mood swing tidak hanya dirasakan Queensha saja, melainkan juga dirasakan Ghani. Mood pria itu up and down. Terkadang kesal sendiri dan terlihat begitu bahagia hingga membuat rekan sejawatnya mengira kalau atasan mereka hilang akal karena senyum-senyum sendiri.
“Terus kenapa dong?”
Queensha merangkul lengan Ghani. Dia bermanja-manja di lengan kekar suami tercinta. “Jadi, gini ceritanya ...." Akhirnya Queensha bercerita mengenai kejadian tadi siang waktu Lulu bertemu laki-laki berengsek yang nyaris merenggut kesucian sang sahabat.
Ghani manggut-manggut mendengar cerita Queensha. Tanpa sadar, dia mengepalkan telapak tangan, membayangkan bagaimana histerisnya Lulu bertemu kembali dengan Andri. Seandainya dia berada di lokasi kejadian, sudah pasti melakukan hal yang sama seperti Leon atau bisa jadi lebih gila daripada sahabatnya itu. Bisa saja dia menghabisi nyawa Andri karena saking jengkelnya kepada pria itu.
“Aku mengerti. Mungkin itu efek trauma yang dirasakan Lulu. Ketika seseorang mengalami kejadian tak mengenakkan di masa lalu, maka itu akan terekam di alam bawah sadarnya. Bisa saja dalam kehidupan sehari-hari hidupnya normal, tapi kalau ada pemicu yang mengingatkannya pada kejadian trauma tersebut, maka dia bisa saja terguncang.” Ghani bercerita dari sudut pandang psikologi. Dulu dia pun harus rutin membawa Aurora terapi pasca penculikan yang menimpa si kecil. Beruntungnya Rini, sahabat sang bunda dapat dengan cepat menangani sehingga trauma yang dirasakan anak pertamanya bisa segera disembuhkan.
“Ya, mungkin itu yang dirasakan Lulu. Saking besarnya efek kejadian itu, Lulu sampai tak sadarkan diri. Pasti trauma yang dia rasakan besar sekali.” Queensha terlihat sedih akan nasib malang yang menimpa Lulu. Dia ikut prihatin saat sahabat terbaiknya mengalami musibah.
“Maybe. Kasihan sekali, Lulu. Semoga traumanya tak berlarut-larut dan mengganggu kehidupan sehari-harinya.”
“Ya, semoga saja.” Queensha menarik napas pendek. Dia benar-benar berharap Lulu bisa segera baikan.
__ADS_1
“Omong-omong, aku serius dengan ucapanku tadi ya, Sayang.” Ghani kembali mengungkit kesalahan Queensha. “Kalau sekali lagi kamu pergi tanpa izin dariku lagi, aku tidak akan maafin kamu. Apalagi ada tiga janin dalam kandunganmu. Aku akan merasa bersalah kalau ada apa-apa denganmu dan tiga calon bayi kita.”
Queensha melepaskan tangannya dari lengan suami tercinta. “Iya, Sayang. Ini terakhir kalinya aku pergi tanpa izinmu. Aku tidak akan melakukannya lagi.”
“Janji?”
“Janji.” Queensha mengulurkan jari kelingkingnya, yang segera disambut jari kelingking Ghani, tanda telah ada perjanjian kecil di antara mereka.
Ghani membawa kepala istrinya dalam pelukan. Bisa gila kalau sampai Queensha serta Aurora dan juga calon anak-anaknya kenapa-kenapa. “Ingatlah, Sayang, tidak cuma satu, tapi tiga bayi yang akan kamu lahirkan nanti. Tubuhmu akan mudah capek. Kamu juga tidak boleh berpikir yang berat-berat. Nutrisimu harus tercukupi agar kelak anak-anak kita sehat dan kuat."
“Iya, Sayang. Aku janji akan mengingat semua ucapanmu." Queensha berkata manja. Dia tak tahu kalau Ghani amat cerewet kalau menyangkut tiga bayinya.
“Janji lho. Awas, kalau kamu langgar akan kuberi hukuman.” Ghani mewanti-wanti lagi.
"Kalau hukumannya di atas ranjang, aku mau banget, Mas." Queensha mengerlingkan sebelah mata, menggoda suaminya itu.
Queensha mendekati Ghani lalu berbisik, "Mas, aku lagi kepingin. Kita bercinta, yuk. Mumpung Rora sudah tidur, kita bisa main sepuasnya."
Ghani yang memang sedang berhasrat langsung nyengir kuda. Queensha selalu tahu jika dirinya sedang ingin bercinta. Tubuh Queensha selalu menjadi candu, membuatnya ingin selalu menyentuh sang istri. Apalagi saat mengandung begini, di mata Ghani, Queensha semakin terlihat seksi dengan beberapa bagian tubuh yang semakin membesar. Bagian dada dan bokong menjadi tempat baru bagi Ghani.
"Seperti yang kamu mau, Sayang. Tak akan pernah kubiarkan kamu tidur malam ini." Ghani bergegas menggendong Queesha ala bridal style. Membawa tubuh sintal istrinya ke dalam kamar.
Merebahkan tubuh molek itu di atas pembaringan. Tak lupa Ghani mengunci pintu terlebih dulu sebelum melakukan ritual malam agar tidak kepergok Aurora saat mereka sedang bercinta.
"Bersiaplah menerima hukuman dariku, Sayang." Ghani mengelus perut istrinya dengan pelan. "Nak, izinkan papa menjenguk kalian. Kalau terjadi gempa lokal di dalam sana, tolong maafkan papa." Dia akhiri kalimatnya dengan mencium perut Queensha lalu mulai menjamah istrinya penuh dengan hawa napsu.
***
Di sebuah kamar indekos, seorang gadis tampak menggerakan kelopak matanya yang terpejam. Bulu-bulu mata lentik itu bergerak secara perlahan dan tak lama kemudian mata indah itu terbuka sempurna. Kepala masih sedikit pening, tapi dia berusaha bangun. Saat itulah Lulu sadar jika dia tak sedang sendirian. Ada Ratna yang tidur di lantai beralaskan kasur lantai miliknya.
“Kenapa Ratna ada di sini?” Lulu menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur. Mencoba mengingat apa yang terjadi. Begitu ingat, dia jadi merasa bersalah karena telah merepotkan orang-orang di sekitarnya.
Ya, Lulu kembali ingat alasan dia sampai tak sadarkan diri. Gara-gara bertemu laki-laki yang dulu pernah melecehkannya, dia mengalami guncangan yang amat hebat.
Suara lirih seseorang dan gerakan pelan dari atas sana berhasil membangunkan Ratna. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum memastikan apakan Lulu sudah bangun atau belum.
“Lo udah bangun, Lu?"
Suara Ratna membuat Lulu menoleh. Teman sebelah kamarnya itu mengucek matanya, lalu menguap lebar. Sepertinya dia masih mengantuk. Mungkin gara-gara semalam begadang, tidurnya jadi kurang.
“Ratna, dari semalam lo yang nungguin gue?” tanya Lulu ingin tahu.
“Begitulah. Gue cuma gantiin pacar lo yang super ganteng mirip Koko-Koko. Gila, gue baru tau kalau lo punya pacar spek Bidadara," puji Ratna dengan mata berbinar.
“Hah?” Lulu melongo dengan mata membulat. Pacar? Siapa yang dimaksud Ratna? Sejak putus dari Andri, dia tak pernah berpacaran dengan siapa pun.
"Lo beruntung banget punya pacar yang perhatian sama lo. Sebenernya, dia pengin jagain semalam suntuk. Tapi, karena besok mesti kerja, makanya dia terpaksa pulang."
__ADS_1
Ratna berdiri, kemudian membawakan botol air minum dan memberikannya kepada Lulu. Temannya itu pasti kekurangan cairan akibat terlalu banyak mengeluarkan keringat.
"Gue perhatiin, dari sikap dia jelas terlihat kalau tuh cowok peduli banget ke lo. Buktinya dia sampe belain pinjam handuk kecil dan nyari baskom untuk ngompres kening lo yang panas. Dia juga bahkan rela nunggu di sini sampai gue dan teman-teman lain tiba di indekos. Kalau enggak peduli mana mungkin mau buang waktunya cuma untuk jagain lo."
"Cowok sebaik dia langka banget, Lu. Jadi, jangan pernah lepasin dia untuk alasan apa pun," cerocos Ratna tanpa henti.
Lulu menggaruk kepalanya. Apa mungkin yang dibicarakan Ratna adalah Leon? Jika benar tampaknya Ratna salah paham sebab dia dan Leon tidak berpacaran. Mungkin karena Leon yang merawat Lulu, makanya Ratna berpikir jika di antara mereka punya hubungan spesial.
“Eh, gue masih harus kerja nih. Gue tinggal ya. Enggak papa, 'kan? Pasti enggak masalah, 'kan. Kalau butuh apa-apa, tinggal telepon aja. Oke?” Ratna berdiri kemudian melipat kasur lantai serta membawa bantal serta selimutnya ke kamar. Tugasnya telah selesai dan waktunya dia kembali ke rutinitas sehari-hari.
“Oke deh. Makasih lho, Rat. Kalau enggak ada lo, entah gimana nasib gue.”
“Halah, cuma gini doang. Tapi, kalau bener-bener mau berterima kasih, nanti traktir gue bakso ya." Ratna tertawa terbahak.
Tak urung, Lulu ketawa juga mendengar kelakar Ratna. “Beres. Lo atur aja tempatnya di mana.”
***
Setelah Ratna pergi dari kamarnya, Lulu jadi termenung di tempat tidur. Dia menyentuh dahinya yang sudah mendingin. Menurut keterangan yang diberikan Ratna, semalam demamnya tinggi sehingga Leon membelikan obat penurun demam untuknya.
“Leon. Cowok itu ...."
Tanpa sadar Lulu menyebut nama laki-laki itu. Hatinya menghangat saat teringat kata-kata Ratna kalau Leon amat peduli padanya semalam.
“Apa gue telepon aja sekarang ya buat bilang terima kasih? Tapi, sepagi ini, bukannya dia lagi siap-siap ke rumah sakit? Arggh, galau gue. Tapi kalau gue enggak telepon, nanti dikiranya gue enggak tahu terima kasih. Duh, kok, gue jadi bingung begini, ya?"
Lulu makin galau. Dia sudah meraih ponselnya. Jemarinya pun sudah siap-siap hendak menelepon Leon.
Tiba-tiba saja, ponsel yang dipegang Lulu berbunyi nyaring. Jantung Lulu langsung berdebar kencang karena kaget. Begitu melihat layar ponsel dan nama Queensha berkedip-kedip, debar jantung Lulu mulai mereda.
“Aduh, kirain Leon yang telepon. Untunglah Queensha yang telepon,” ucap Lulu sambil mengangkat telepon Queensha.
“Sha, halo?” sapa Lulu.
“Kamu sudah baikan, Lu? Udah sembuh?” tanya Queensha dengan intonasi cepat.
“Iya, udah. Lo khawatir sama gue? Sorry, udah bikin khawatir.” Lulu merasa menyesal.
“Tentu aja aku khawatir. Tapi karena kamu udah baikan, aku jadi merasa lega sekarang."
“Oh ya, Sha. Queensha. Thanks lo dan Leon udah ngerawat gue. Gue hutang budi banget sama lo dan Leon."
"Nope. Pasti Mas Leon bakal merasa tenang kalau tahu kamu udah baikan sekarang.”
Lulu mengangguk kecil. Dalam hatinya, dia jadi ingin bertemu laki-laki itu untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.
***
__ADS_1