Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Dipecat


__ADS_3

"Mama dan Papa juga sangat merindukanmu, Sayang. Kamu tidak tahu, ya, bagaimana mama begitu mencemaskanmu selama berada di luar negeri? Hampir setiap hari mama termenung, memikirkan akan kesayanganku yang cantik dan menggemaskan ini. Mama jadi tidak fokus jalan-jalan karena terus kepikiran kamu," kata Queensha jujur. Tidak ada sedetik pun bagi Queensha tanpa memikirkan anak kesayangannya itu. Wajah dan senyuman Aurora selalu terlintas di benaknya.


"Apa yang dikatakan Mamamu benar, Nak. Kemarin pagi Mamamu sampai nekad ingin menelepon Nenek Rumi, menanyakan keadaanmu apakah baik-baik saja. Perasaan Mama Queensha tidak tenang karena harus meninggalkanmu selama beberapa hari," sahut Ghani menimpali, membenarkan kata-kata Queensha.


"Sungguh? Berarti Mama sangat menyayangiku?" Wajah polos itu bertanya kepada kedua orang tuanya. Sontak semua orang yang ada tertawa mendengarnya.


Dengan lemah lembut Queensha menjawab, "Tentu saja. Kamu itu anak mama, mana mungkin tidak mama sayang. Mama telah memperjuangkan nyawa demi kamu jadi tidak mungkin tidak sayang kepadamu. Kamu itu permata hati mama dan Papa. Sini, peluk mama!" Tanpa diminta untuk kedua kali, Aurora menuruti perintah sang mama.


***


“Duduk!”


Perintah bernada tegas dari pemilik dari restoran tempatnya bekerja selama ini menjadi sambutan pertama bagi Puji yang baru saja menginjakkan kaki di sebuah ruangan khusus yang letaknya ada di lantai atas.


Tanpa menunggu diperintah dua kali, Puji bergegas menempati kursi kosong yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Duduk dengan gelisah di sana seraya meremas kedua tangannya yang kini telah berkeringat dingin.


Selama menjadi staf pelaksana di bawah pengawasan langsung Rama, Puji nyaris tak pernah bertatap muka dengan orang nomor satu di restoran tempatnya bekerja karena selalu ada Rama yang menjadi penghubung. Jadi saat mendengar jika dia disuruh menghadap pemilik restoran, firasat Puji mulai tidak enak.


'Ada apa ini?' tanya Puji pada dirinya sendiri.


“Saya dengar kemarin terjadi insiden tak menyenangkan yang dialami oleh seorang pelanggan,” kata Pak Umar, memulai pembicaraan. Nada bicaranya memang terdengar santai, jauh dari kata menghakimi. Namun, tidak dengan tatapan tajam beliau yang kini terarah pada Puji.


Disinggung soal keributan beberapa waktu lalu, Puji hanya bisa memejamkan matanya sejenak. Dia sudah menduga cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Hanya saja dia tak menyangka jika secepat ini masalah antara dirinya dan Queensha sampai ke telinga sang pemilik restoran.


Pantas saja sejak pagi Lulu terus saja mencari gara-gara seolah sedang menguji kesabaran Puji yang memang setipis tisu. Mulai dari tak mengindahkan perintah Puji sampai terang-terangan selalu menyinggung keributan kemarin yang terjadi antara dirinya dan Queensha dengan staf lain tanpa rasa takut, padahal posisi Puji jauh lebih tinggi dibanding mereka. Ternyata diam-diam, Rama sudah mengadukan keributan kemarin kepada pak Umar.


Sialan memang. Tidak Queensha ataupun Lulu, rupanya mereka sama saja. Sama-sama menyebalkan dan membuatnya sial.


“Puji, kamu sudah bekerja di sini berapa lama?”

__ADS_1


Pertanyaan pak Umar berhasil menyadarkan Puji dari keributan isi kepalanya sendiri.


“Sudah cukup lama, bukan?”


“Maaf, Pak," sahut Puji dengan kepala menunduk. Sedikit menyesali perbuatannya kemarin yang gadis itu akui memang sedikit keterlaluan. Tapi jika boleh membela diri, kemarin juga tidak sepenuhnya kesalahan dia. Queensha juga turut ambil bagian. Jadi kenapa justru dia yang dipanggil oleh pak Umar?


Beberapa saat kemudian dari tempatnya duduk, bisa Puji dengar helaan napas panjang dari pak Umar. Saat gadis itu memberanikan diri mengangkat wajah, bisa dia lihat beliau telah menyadarkan tubuhnya di kursi seraya melipat kedua tangan di depan dada.


“Kamu tahu, selain Rama, kamu salah satu orang kepercayaan saya di sini. Namun, kenapa kamu malah membuat masalah di restoran yang telah lama saya rintis, hem?"


Itulah yang paling Puji sesali. Butuh waktu lama baginya untuk berada di posisi sekarang, yang awalnya hanya sebagai pelayan biasa menjadi orang kepercayaan pak Umar. Akan tetapi, semua harus kandas hanya karena Queensha.


“Saya benar-benar menyesal, Pak. Tolong, beri saya kesempatan sekali lagi. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi dan memperbaiki sikap saya." Puji memelas dan memohon kepada pemilik restoran sambil berusaha mengenyahkan pikirannya yang terus saja berteriak jika kesalahan itu tidak sepenuhnya karena dia.


“Tapi kamu sadar tidak kalau kesalahan kamu kemarin cukup fatal?” Melihat Puji sekilas, lalu kembali berkata, “Kamu marah-marah tidak jelas kepada pelanggan kita. Ingat, Ji, Queensha itu bukan lagi karyawan di sini. Queensha telah resign dan itu artinya saat dia datang ke sini maka statusnya sama seperti pelanggan yang lain, harus kamu layani dengan baik."


"Lalu, apa kamu sudah meminta maaf kepadanya?"


“Jadi belum?” tanya pemilik restoran lagi atas sikap diamnya Puji.


“Setelah ini saya janji akan segera minta maaf, Pak!” sahut gadis itu cepat.


Namun, saat mendengar kalimat Puji barusan, pak Umar justru mengibaskan tangan singkat. “Sudahlah. Lupakan saja. Tidak ada gunanya juga kamu minta maaf sekarang. Apalagi jika kamu memang tidak benar-benar tulus mau melakukannya.”


“Tapi, Pak, saya-"


“Diam! Saya sudah tidak mau lagi mendengar ucapanmu. Maaf, Puji. Mulai besok kamu tidak perlu datang ke sini lagi. Kamu dipecat!" ujar pak Umar to the point.


“Loh, kok, begitu, Pak. Saya-"

__ADS_1


Seolah bisa menebak semua yang ada di dalam benak Puji sekarang, pak Umar menggelengkan kepalanya pelan. Tak berniat mendengar penjelasan Puji lebih lanjut. Pria itu bahkan sama sekali tak memberi kesempatan pada gadis di depannya untuk membela diri dengan cara sengaja memotong perkataan Puji. “Saya tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi. Bukan hanya memalukan, tapi juga tak sangat merusak citra baik yang dimiliki restoran ini. Apalagi sampai ditiru oleh karyawan lain, usaha yang dirintis selama puluhan tahu bisa hancur dan itu semua karena kamu."


“Pak-"


“Lagi pula ini juga bukan kali pertama kamu melakukannya, bukan?” potong pak Umar. “Jauh sebelum kejadian kemarin, saya sudah sering mendapat laporan dari karyawan lain kalau kamu menyalahgunakan jabatan yang kamu miliki untuk bersikap semena-mena dengan karyawan lain. Marah-marah tidak jelas, dan kurang profesional dalam bekerja.”


“Pak, soal itu saya bisa jelaskan.“


“Apa yang mau kamu jelaskan? Saya selama ini diam, untuk memberimu kesempatan sekaligus membuktikan apa yang karyawan lain katakan. Lalu kejadian kemarin merupakan puncak kesabaran saya selama ini.” Pria berwajah blasteran itu menatap Puji dengan tatapan tak habis pikir. “Saya benar-benar kecewa sama kamu.”


“Ini semua salah paham, Pak. Tolong percaya sama saya. Mereka pasti sengaja menjebak saya karena ingin—“


Pak Umar yang mulai hilang kesabaran melihat Puji yang terus saja berkelit menggebrak meja. Alih-alih merasa bersalah dan menyesali semua perbuatan buruknya, gadis itu justru terus saja mencari kambing hitam untuk membenarkan apa yang sudah dia lakukan, bahkan dengan berani melakukan fitnah kepada karyawan lain hanya agar terlihat benar. Ck, sungguh memuakkan.


“Bisakah kamu berhenti menyalahkan orang lain?”


“Tidak ada yang berusaha menyalahkan orang lain, Pak. Saya hanya berusaha—“


“Membela diri?” potong Pak Manajer tepat sasaran. “Percuma, Puji. Sampai kapan pun saya tidak akan mengubah keputusan saya. Kesalahanmu terlalu fatal untuk dimaafkan. Jika kamu hanya sekadar marah-marah pada karyawan lain hanya karena merasa posisimu jauh lebih tinggi dari mereka, saya mungkin masih bisa memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi mempermalukan seorang pelanggan di muka umum?” Lagi-lagi pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya pelan seraya menatap Puji dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kesalahan itu benar-benar sudah melampaui dari apa yang bisa toleransi.”


“Tapi saya melakukannya hanya pada Queensha, Pak. Bukan pelanggan lain,” ujar Puji masih mencoba membela diri.


“Lalu apa menurutmu hanya karena dia mantan bawahanmu lantas sikapmu bisa dibenarkan?”


“Pak-" Puji merengek seperti anak kecil.


“Lupa kalau hari itu dia datang sebagai tamu bukan untuk bekerja?”


“Saya—“

__ADS_1


“Keluar!” usir pak Umar emosi. Wajah tenang yang sedari tadi pria itu tampilkan seketika lenyap tak bersisa. Tanda jika kesabarannya dalam menghadapi Puji benar-benar sudah habis. “Kalau kamu memang punya otak, harusnya sebelum mencampur aduk antara urusan pribadi dengan pekerjaan, kamu sudah memikirkan konsekuensinya. Jadi sekarang lebih baik kamu pergi dan jangan pernah menginjakkan kaki ke tempat ini lagi karena saya tidak sudi menggaji pegawai macam kamu! Uang pesangonmu selama satu bulan akan segera dikirim ke rekeningmu."


...***...


__ADS_2