
Berjalan bergandengan tangan dengan membawa tote bag berisi kotak makan untuk sarapan Ghani. Sepanjang jalan Aurora terus berceloteh menceritakan pengalamannya saat Arumi mengajak dirinya membesuk mama Tiara yang kebetulan saat itu tengah dirawat di rumah sakit pasca melahirkan anak kedua.
Dengan antusias Aurora berkata, "Dedek bayinya lucu banget, Ma. Rora udah enggak sabar deh ingin segera punya dedek bayi. Mama dan Papa betulan akan kasih dedek bayi untuk Rora, 'kan?"
Suara terasa tercekat di tenggorokan kala mendengar permintaan Aurora. Sejak kemarin siang topik adik bayi menjadi obrolan hangat yang sering diperbincangkan si cantik jelita. Setiap saat dan setiap waktu selalu memastikan apakah Queensha betulan akan memberikan adik bayi untuknya.
"Ehm, nanti mama coba bicarakan dengan Papa, ya? Untuk sekarang Rora fokus aja belajar, katanya mau jadi arsitektur terkenal. Nanti kalau mama dan Papa sudah berdiskusi baru kasih tahu kamu." Lagi dan lagi senjata pamungkas itu Queensha keluarkan sebab tidak tahu harus dengan cara apa mengakhiri percakapan mereka.
Beruntungnya Aurora adalah anak yang patuh, tak banyak bertanya jika sudah mendapat jawaban dari pertanyaan yang diajukan olehnya.
Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, Queensha serta Aurora melangkah keluar. Tidak sulit bagi Queensha mencari di mana lantai bangsal tempat Ghani bertugas sebab dia pernah sekali datang mengunjungi mantan suaminya saat mereka masih berstatuskan suami istri.
"Hei, bukannya itu baby sitter-nya Nona Aurora, ya? Mau apa dia kemari?" Terdengar beberapa orang perawat yang berjaga di bangsal Bougenville tengah berkumpul membicarakan Queensha yang baru saja keluar dari pintu lift. Kebetulan mereka baru saja selesai melakukan visit pasien sehingga punya sedikit waktu luang untuk bergosip.
Sontak arah pandangan kelima perawat tertuju kepada sosok wanita cantik berkulit putih bagai pualam. Sebagian dari mereka pernah melihat Queensha datang ke rumah sakit beberapa bulan lalu.
"Iya, benar," sahut kelima wanita berseragam perawat.
"Eh, eh. Dia itu, 'kan baby sitternya Nona Aurora. Namun, kenapa dia diam saja saat anak majikannya memanggilnya dengan sebutan 'mama'. Tidak sadar diri sekali, ya padahal posisinya itu hanya pengasuh di rumah itu," celetuk salah dari mereka. Entah apa tujuannya, tapi perkataan itu sukses memunculkan berbagai spekulasi dalam benak masing-masing.
"Mungkin dia bercita-cita ingin menjadi Nyonya Besar kali, menggantikan Dokter Arumi. Ish, mimpinya ketinggian sekali, nanti sekalinya jatuh sakit!" Ucapan itu membuat perawat yang laim tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Biarkan saja dia bermimpi, lagi pula Dokter Ghani tidak mungkin tertarik kepadanya. Lihat, penampilannya tidak menarik sedikit pun jauh beda sekali jika dibandingkan dengan Dokter Cassandra, teman semasa kuliah Dokter Ghani dulu. Sudah cantik, kaya dan pintar, aku yakin anak mereka menjadi bibit unggul."
Suara kekehan kembali terdengar nyaring di telinga Queensha. Terasa menyesakan dada karena mereka secara terang-terangan menghinanya dengan berbagai macam hinaan yang membuat Queensha menarik napas beberapa kali.
'Jika bukan karena Aurora, sebetulnya aku malas datang ke sini. Mulut mereka seperti tidak ada remnya saja, gemar sekali membicarakan orang lain di belakangnya.' Queensha menarik napas panjang kemudian mengembuskan secara perlahan. 'Sabar Queensha, jangan mudah terpancing emosi! Tetaplah bersikap tenang dan anggap mereka semua tak ada.'
Queensha kembali melanjutkan langkahnya, berusaha tak memedulikan perkataan mereka meski dinilai sangat menyakiti hati, tapi dia tak dapat berbuat apa-apa selain bungkam karena tidak mau membuat keributan di rumah sakit, tempat mantan suaminya mengais rezeki.
Baru saja melangkah tiga langkah ke depan, tiba-tiba saja ayunan kaki itu terhenti kala melihat dua sosok pria berdiri di depannya. Satu dari dua pria itu menatap sinis ke arahnya sementara satu lagi hanya menggeleng kepala seraya meracau tak jelas.
"P-pak Ghani ...," ucap Queensha lirih. Genggaman tangan semakin erat menggenggam jemari mungil Aurora. Hawa dingin menyeruak menyentuh permukaan kulit. Bulu kudu berdiri ketika melihat mantan suaminya itu.
Ghani melangkah cepat dan mendekati meja perawat. Dengan suara lantang dia berseru, "Siapa yang kalian sebut baby sitter?"
Suara kekehan tak lagi terdengar, tergantikan dengan suara gemelutuk gigi saling beradu. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi punggung keenam wanita berseragam putih.
"Kenapa diam saja! Di mana keberanian kalian yang tadi ditunjukan saat sedang dengan bangganya menghina orang lain? Apa mulut kalian bisu sehingga sulit menjawab pertanyaan saya?" Napas lelaki itu tersengal hebat kala mengucap kalimat demi kalimat yang terucap di bibirnya.
Sunyi dan senyap, tak ada dari satu enam perawat itu pun menjawab pertanyaan Ghani. Mulut terkunci rapat, jantung memompa lebih cepat seakan mau meledak detik itu juga.
"Jawab!" bentak Ghani dengan meninggikan nada suara.
__ADS_1
Semua orang yang ada di ruangan itu tersentak hebat tanpa terkecuali. Bahkan si kecil Aurora refleks melingkarkan tangannya yang mungil di pinggang Queensha kemudian menenggelamkan kepalanya di tubuh sang mama. Tubuh gemetar karena saking ketakutan.
Sementara itu, keenam wanita berseragam putih dengan haidca
"M-maaf, Dok. K-kami ... t-tidak bermaksud membicarakan orang lain di belakangnya. Hanya saja ...." Perkataan itu tertelan kembali bersamaan dengan saliva yang rasanya sulit untuk ditelan.
"Hanya saja apa?" tantang Ghani dengan gaya arogan, memperlihatkan sisi berbeda dari yang pernah dilihat orang lain. "Saya beritahu kalian semua jika wanita yang bersama Aurora adalah istriku jadi jangan pernah sekalipun menghinanya lagi! Kalau sampai saya mendengar kalian menghina, menggunjingkan atau bahkan membandingkannya dengan wanita lain sebaiknya angkat kaki dari sini karena saya tidak membutuhkan pegawai yang gemar bergosip!"
Mata membeliak menatap tajam ke arah Ghani. Baik Queensha, Leon maupunya keenam perawat itu terkejut mendengar pernyataan yang baru saja disampaikan Ghani. Tak menduga jika pimpinan rumah sakit tempat mereka bekerja telah melepas masa lajang dan menikahi baby sitter putrinya.
"Pak?" panggil Queensha lirih. Akan tetapi, Queensha segera merubah panggilan ketika melihat sorot mata ketidaksukaan terpancar di sepasang iris coklat. "Mas Ghani ... sudah, tenangkan dirimu," bisiknya lembut merangkul pergelangan tangan. Ia usap lembut permukaan kulit itu.
"Aku baik-baik saja, mereka tidak sampai menyakitiku. Sudah ya, jangan marahi mereka lagi! Kasihan Rora jadi ketakutan melihat Papanya marah-marah," bujuk Queensha mencoba menenangkan Ghani.
Dada Ghani kembang kempis ketika ucapan Queensha mulai masuk ke telinganya. Api berkobar di dalam dada perlahan tersiram ketika mendengar suara lembut nan syahdu ibu dari darah dagingnya.
"Ini merupakan peringatan pertama dan terakhir untuk kalian semua. Jika di kemudian hari saya mendengar ada seseorang melakukan kesalahan yang sama, temui bagian kepegawaian dan saya pastikan kalian akan hidup menderita karena sudah melukai istriku!"
Semua tidak terlepas dari pandangan Leon. Pria itu menggeleng kepala ketika melihat Ghani pergi bersama Queensha dan Aurora menuju ruangan khusus yang disediakan bagi dokter di bangsal tersebut.
"Lo udah mulai berubah jadi singa jantan, Ghan. Sikap lo mulai posesif dan tak segan menyingkirkan seseorang yang menyakiti Queensha," gumam Leon.
__ADS_1
Lantas dia berjalan dan berdiri di depan meja perawat. "Semua peringatan yang dikatakan Dokter Ghani, tolong sampaikan kepada rekan kalian yang lain. Jangan sampai dia mendengar gosip tak sedap tentang Bu Queensha! Kalau sampai terjadi, saya pun tak mampu menolong kalian."
...***...