
"Beruntung, gue enggak jadi masuk penjara. Coba kalau kesalahpahaman itu berujung dengan penangkapan gue ke balik jeruji besi. Ibu dan Ayah bisa ngamuk dan mencak-mencak di kantor polisi, enggak terima anak perawannya dituduh nyuli anak orang," ujar Lulu selang satu hari setelah kejadian yang sukar dilupakan sampai kapan pun.
Selain ingin menceritakan kejadian kemarin siang, Lulu ingin menangih janji sahabatnya itu, makan di restoran mahal sebagai upah karena sudah menjemput Aurora meski ada sedikit insiden tak mengenakan, tetapi setidaknya ia menjalankan tugas Queensha dengan baik.
Lulu menyesap ocha dingin sampai tersisa setengahnya. "Gue ngucapin makasih banget sama Rora karena udah selamatin gue. Anak lo malaikat penolong gue, Sha. Gue berutang budi sama dia."
Queensha tersenyum. "Lebay. Sudah, tidak perlu merasa berhutang budi segala, kalau memang Rora bisa bantu, dia pasti bantuin kamu, kok. Walaupun dia masih polos, tapi untuk urusan menolong sesama, dia nomor satu. Dia sering banget bantuin aku di dapur. Namun, untuk urusan merapikan mainan, mesti ngomel dulu aku."
Sontak Lulu tertawa mendengarnya. "Lo mirip emak-emak penduduk Konoha. Sering ngomel, teriak-teriak enggak jelas sambil berkacak pinggang." Pundak wanita itu bergerak turun dan naik, membayangkan Queensha saat tengah memarahi keponakan tersayang.
Berdecih kesal. "Sudah, jangan dibahas lagi." Queensha mencoba mengalihkan perhatian. "Ehm, omong-omong soal cowok asing itu, aku jadi penasaran orang seperti apa yang berhasil membuat sahabatku ini uring-uringan. Tadi kata kamu, temannya Mas Ghani? Siapa, Lu? Teman satu circle-nya Mas Ghani tuh ada banyak, sekitar lima orang. Nah, salah satunya yang mana?"
Lulu meletakka gelas berisi minuman miliknya ke atas meja. "Gue males ngejelasin. Pokoknya dia tuh nyebelin banget, deh."
"Hati-hati, jangan sampai sebal jadi cinta." Queensha menaik turunkan kedua alis, berusaha menggoda sahabat terbaiknya itu.
"Dih, ogah! Najis banget deh kalau sampai berjodoh sama cowok mesum modelan dia. Bisa apes tujuh turunan gue."
Queensha menepuk punggung tangan Lulu dengan kencang. "Jangan sembarangan bicara, tidak baik!" tegurnya cepat. "Kalaupun berjodoh, memang kenapa, sih? Semesum dan semenyebalkan apa dia sampai kamu sangat membencinya? Benci boleh. Kesal pun boleh, tapi jangan terlalu, takut termakan ucapanmu sendiri. Sewajarnya saja."
Lulu memutar bola mata malas. Andai saja Queensha tahu bagaimana Leon sebenarnya, pasti sahabatnya itu turut membenci pria yang konon katanya adalah teman dekat Ghani.
"By the way, gimana persiapan wedding anniversery metua lo, aman?" tanya Lulu, berusaha mengalihkan atensi sahabatnya.
Jari telunjuk dan ibu jari terangkat, membentuk huruf O. "Aman. Jangan lupa besok malam datang. Lo tamu istimewa aku, Lu."
Lulu ketawa, ia mengiyakan permintaan Queensha. Lantas keduanya kembali menikmati hidangan lezat yang ada di atas meja. Siang ini, Queensha kembali mentraktir Lulu menggunakan kartu sakti pemberian suami tercinta.
****
Wedding anniversary Rayyan dan Arumi digelar dengan sangat mewah, tamu undangan satu demi satu menunjukan batang hidung mereka di sebuah ballroom hotel yang telah didekorasi sedemikian indah. Bahkan saking indahnya, Arumi tak kuasa menahan diri untuk tidak meneteskan air mata bahagia karena di malam spesial ini, anak, menantu serta hampir seluruh sanak saudara dari pihak mendiang Nyimas hadir dalam momen indah yang terjadi sekali dalam setahun.
"Anak serta menantu kita sudah berusaha keras demi mewujudkan pesta indah ini, Mas. Aku bahagia sekali," kata Arumi di tengah suara isak tangisnya. Dia jadi lebih emosional dari sebelumnya.
Rayyan mengusap pundak Arumi, membawa kepala wanitanya dalam dekapan. "Kamu benar, Babe. Mereka sudah berusaha keras dan patut mendapat hadiah. Usai acara selesai, aku akan beri angpao sebagai ucapan terima kasih. Bagaimana menurutmu?"
Arumi mengangguk setuju. "Berikan juga untuk keempat cucu-cucuku yang manis dan menggemaskan. Allan, Mayumi, Aurora serta janin yang masih dalam kandungan Zahira. Dia juga berhak mendapatkannya."
Percakapan mereka terhenti saat pengantin baru, Queensha dan Ghani menghampiri keduanya.
"Selamat, Bunda dan Ayah. Semoga pernikahan kalian langgeng selamanya." Queensha sangat semangat mengucapkannya, dia memeluk Arumi lalu mencium punggung tangan ayah mertuanya. Beruntungnya Ghani telah sembuh dari penyakit langka yang menderanya sejak masih remaja dulu.
"Tetap bersama walau sudah tak lagi dapat berjalan, menikmati keindahan dunia ini. Ayah dan Bunda merupakan role model bagiku dalam membina rumah tangga," sambung Ghani ikut menambahkan.
"Kalau ada masalah, kuncinya cuma satu, saling terbuka satu sama lain. Bicarakan masalah kalian dengan kepala dingin." Rayyan memberi tips rahasia yang dimiliki sehingga rumah tangganya harmonis meski usia tak lagi muda.
Satu per satu tamu undangan turut memberi ucapan selamat atas perayaan pernikahan yang ke-33 tahun. Mereka menyalami pasangan lansia yang masih terlihat harmonis layaknya pengantin baru. Sementara itu, keempat anak-anak Rayyan dan Arumi berpencar, mencari kesenangan masing-masing bersama pasangan serta anak-anak mereka.
__ADS_1
Seperti sekarang ini, Leon bersama Ghani sedang bercanda ria, di sampingnya ada Queensha yang tengah memarahi Lulu lewat sambungan telepon.
"Lu, kamu di mana? Kenapa belum sampai juga. Acara sudah dimulai, loh," kata Queensha sambil menekan suaranya.
"Sorry, gue kejebak macet. Taxi online yang gue order enggak gerak sama sekali." Lulu menjawab pertanyaan Queensha di seberang sana.
Queensha mencoba memaklumi karena memang jalan menuju hotel adalah jalan raya satu-satunya penghubung antara 3 kota.
"Oke, kamu hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, kabarin." Queensha menutup telepon, dia menghela napas kasar. Sedikit kesal karena di tengah keramaian dia terlihat sendirian karena Ghani sibuk menjamu para tamu undangan. Pun begitu dengan Zavier dan Zahira, sementara Shakeela sibuk bermain bersama keponakan kembarnya.
Ghani mengusap bahu istrinya yang tengah kesal sambil tetap mengobrol bersama Leon. Seolah-olah ingin memberitahu untuk Queensha agar lebih tenang, tidak terlalu emosi karena Lulu belum juga datang.
"Para hadirin pesta wedding anniversary dari pasangan sensaional, Dokter Rayyan dan Dokter Arumi, mari kita saksikan sebuah penampilan luar biasa yang merupakan hadiah spesial dari Triplet dan Nona Cantik--Shakeela. Hadiah ini diberikan khusus untuk orang tua mereka. Baiklah, tanpa menunggu lama, mari kita putar!" seru pembawa acara dengan hebohnya.
Para tamu undangan yang hampir memenuhi ballroom hotel tampak begitu antusias. Mereka duduk di kursi yang disediakan sambil menyimak tampilan video yang akan segera dimulai.
Foto-foto dengan sejuta kenangan mulai bermunculan, bergantian menampilkan cerita masa lalu yang sempat dirangkai oleh Arumi dan Rayyan. Keduanya tersenyum lebar tatkala kamera mengambil foto ketika pernikahan keduanya, kemudian foto saat berbulan madu di Jepang. Menyempatkan foto berdua di bawah pohon bunga sakura yang berguguran cantik. Lalu berpindah ke Cina, tak lupa berfoto di ketinggian kota Beijing yang ramai kerlap-kerlip. Beralih ke negara Malaysia, mengunjungi Kuala Lumpur yang cantik sambil berfoto di depan menara kembar.
Rayyan dan Arumi tidak sia-sia mengunjungi 3 negara karena setelahnya terdapat tiga buah embrio di dalam rahim Arumi yang sekarang sudah dewasa dan memiliki pasangan masing-masing. Semua foto pertumbuhan sang buah hati terangkum dalam satu slide tersebut.
Semua tamu menyaksikannya, ujung mata mereka terdapat air bahkan sudah ada yang menyiapkan tisu. Mereka semua terharu, termasuk Queensha yang belum lama bergabung dalam keluarga suaminya, Ghani.
Sang tokoh utama dalam slide tersenyum sendu, perjalanannya amat panjang untuk sampai di akhir yang membahagiakan. 33 tahun, bukanlah waktu singkat bagi pasangan Rayyan dan Arumi, menyelami biduk rumah tangga yang terkadang terdapat kerikil kecil datang menghadang. Dengan modal kisah masa lalu kelam, pasangan suami istri itu berusaha keras memperjuangkan rumah tangga mereka dari banyaknya cobaan dari Tuhan.
Shaka menghapus sudut air mata istrinya, Zahira. "Kelak kita pun akan seperti Ayah dan Bunda, rumah tangga langgeng sampai mau memisahkan."
"Ini sungguh luar biasa, Mas. Aku tidak bisa berkata-kata." Saking terharunya, Rini hanya dapat meneteskan air mata. Mem-flash back bagaimana lika liku kehidupan sahabat terbaiknya itu.
"Memangislah sampai kamu benar-benar merasa lega," ucap Rio lirih.
Hal serupa dilakukan Ghani. Dokter tampan yang sebentar lagi genap berusia 32 tahun, semakin mengeratkan rangkulan tangan di pundak Queensha sambil menatap Leon, bibirnya tersenyum miring mengejek laki-laki itu yang masih single sampai sekarang.
"Enggak ada niatan cari bini, Leon? Betah hidup sendirian sampai lo tua, hem?" tanya Ghani mengejek. Selalu bahagia memamerkan kebahagiaannya kepada Leon.
Leon dan Ghani memiliki usia yang tak terpaut jauh, hanya berbeda satu tahun saja. Ghani sudah memiliki Queensha sedangkan Leon tidak berpikir ingin menyusul sahabatnya.
Leon berdecak kesal, tahu betul kalau Ghani tengah pamer. "Gue enggak perlu mencari, kalau udah waktunya jodoh datang dengan sendirinya dan gue bakan nikah. Ngerti?"
Queensha terkekeh. Ghani memang gemar sekali menggoda Leon. Lalu dia menyenggol pinggang Ghani, memberi pria itu kode dengan rencana mereka berdua.
"Kapan? Sampai lo berusia 40 tahun? Atau sampai gue membentuk kesebelasan yang beranggotakan anak-anak gue? Daripada menjomlo, gue kenalin aja, ya, sama sahabat bini gue. Dia cantik dan juga baik hati. Cocok sama lo yang sableng." Ghani mulai melancarkan aksinya.
"Apa lo mau dijodohin sama anak kerabat lo yang tinggal di Yogyakarta? Yang katanya manjanya enggak ketulungan? Gue sih mikir, daripada sama anak kerabat nyokap lo mending sama sahabat gue."
Leon menatap bingung pada pasangan suami istri itu. Perlahan ucapan Ghani mulai merasuk ke relung hatinya yang terdalam. Berpikir apa yang dikatakan Ghani ada benarnya juga. Anak kerabatnya itu super duper manja sekali sampai membuat dia illfeel.
Tiba-tiba dering ponsel berbunyi. Segera Queensha mengecek siapa yang menghubunginya. "Bentar, aku angkat telepon dulu."
__ADS_1
Queensha pamit undur diri, dia menerima pesan dari Lulu kalau sahabatnya itu terhalang di depan pintu masuk hotel karena dianggap bukan tamu. Kedatangannya yang lewat dari jam yang ditentukan pasti penyebabnya.
"Makanya kalau ada acara, berangkatnya lebih awal dari jam acara mulai bukan malah jamnya mulai kamu baru berangkat. Sudah tahu kalau tempatnya jauh malah nyantai."
"Sorry, tadi gue mesti dandan dulu di salon. Ehm, jadi gue udah telat nih?" tanya Lulu yang melihat keramaian hotel tidak berkurang, bahkan untuk jalan saja harus berdesakan dengan tamu lain.
"Pake nanya lagi," jawab Queensha judes, dia manyun sambil terus menuntun Lulu.
Sebelumnya, Lulu minta diantar ke pemilik acara yaitu Arumi dan Rayyan. Pastinya untuk mengucapkan selamat pada keduanya.
Selesai bercipika-cipiki, Queensha mampir ke stand kue untuk menyuruh Lulu mencicipi salah satunya. Ia juga meminta Lulu mengambil minuman dingin yang tersedia di atas meja panjang.
"Enak, kayak kue pada umumnya," ucap Lulu di sela acara makan kue.
Queensha pura-pura manyun. "Masa? Padahal ini kue eksklusif, loh, seharusnya ada bedanya."
Lulu tersedak, "Berarti mahal, dong."
Queensha ketawa, "Bercanda. Untuk harganya relatif, sih, bagi kalangan berkantong tebal."
Lulu mengangguk saja, mencoba satu persatu yang dirasa menarik baginya. Bahkan kue besar milik pembuat acara turut masuk ke mulut wanita itu.
Kemudian, dia celingukan mencari sosok yang tak terlihat oleh matanya. "Kok gue enggak lihat Rora? Dia di mana?" tanya Lulu.
Queensha mengangkat bahu. "Mungkin bermain sama sepupu dan Aunty-nya."
Queensha melihat sekeliling, mencari Ghani yang bersama Leon. Saat itulah dia mengingat sesuatu yang sudah dibicarakan dengan Ghani semalam.
"Lulu, masih ingat yang kita bicarakan tadi malam?" tanya Queensha.
Lulu mengangguk, menatap Queensha dengan bingung. Kenapa sahabatnya tiba-tiba membahas masalah itu di tempat ini?
"Ada apa emang?" Melihat tatapan mata Queensha, dia jadi curiga.
"Tidak ada apa-apa. Yuk, temuin Mas Ghani. Kamu belum bertegur sama dengannya." Queesha dengan semangatnya menarik tangan Lulu menembus kerumunan hingga sampai di tempat Ghani.
"Mas Ghani, sahabatku sudah datang." Kemudian Queensha memanggil Leon yang sedang berdiri membelakanginya. "Mas Leon, kenalin ini sahabatku, Lulu namanya."
Leon refleks menoleh ke belekang. Alangkah terkejutnya dia saat sepasang mata menangkap sosok perempuan barbar yang akhir-akhir ini sering ditemuinya. Lulu sama terkejutnya dengan Leon. Namun, keterkejutan itu tak berlangsung lama ketika sepasang suami istri yang baru dua bulan menikah melangkah cepat menjauhi mereka.
"Muhammad Ghani Hanan!" teriak Leon.
"Queensha Azura Gunawan!" teriak Lulu tak kalah kencangnya.
...***...
__ADS_1