
Leon masuk ke dalam restoran. Hawa dingin bersumber dari pendingin ruangan menjadi sapaan pertama bagi pria itu. Ruangan seluas 51 meter tampak begitu lenggang sebab waktu masih menunjukan pukul sembilan pagi.
"Permisi, Mas. Saya lagi nyari Lulu, pelayan restoran ini. Bisa tolong panggilin? Kebetulan saya ada perlu sebentar sama dia," kata Leon. Ia berdiri di samping pelayan pria yang baru saja menyapu lantai.
"Kalau boleh tau, Masnya siapa Mbak Lulu?" Alih-alih bergegas menemui Lulu, Agus--nama pelayan itu malah mengajukan pertanyaan. Sebagai rekan kerja sekaligus teman satu daerah Lulu, ia merasa punya tanggung jawab untuk melindungi gadis itu dari segala macam marabahaya.
'Aih, nih cowok banyak bacot amat, sih! Bukannya buruan dipanggilin, eh malah nanyain gue siapanya Lulu. Dasar cowok berengsek!' Leon kesal karena Agus membuang waktunya dengan sia-sia. Padahal ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu Lulu.
"Saya Leon, temennya Lulu. Ehm ... bisa tolong dipanggilin sekarang? Kebetulan habis ini saya mesti kerja, banyak kerjaan di rumah sakit yang harus segera diselesaikan." Terpaksa sedikit berbohong karena kesabarannya sudah mulai menipis.
Agus memindai Leon dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Dan saat tak menemukan hal janggal dalam diri Leon, ia berkata, "Tunggu sebentar. Saya mau ke ruang janitor, naruh ini dulu. Setelah itu baru manggil Lulu ke sini. Masnya duduk di sana saja biar Lulu enggak kelimpungan nyariin."
Menarik kursi hingga terdengar derit memenuhi ruangan. Leon mendudukan bokongnya di kursi, menunggu Lulu dengan perasaan campur aduk.
"Lu, ada yang nyariin lo, tuh. Kalau enggak salah namanya ... Leon."
Mendesaah berat mendengar nama itu disebut. "Tadi emanknya, sekarang anaknya. Kenapa hari ini gue mesti berurusan dua orang itu, sih. Tuhan, sebetulnya mau mereka apa?"
Lulu tak mengerti kenapa bu Ayu dan Leon datang ke restoran untuk menemuinya. Mungkinkah mereka ada maksud lain selain ingin bertemu dengannya?
"Leon?"
Leon tersenyum tipis melihat Lulu berdiri di sebelahnya. Wajah gadis yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya tengah menatap lurus ke arahnya dengan tatapan kebingungan.
"Duduk, Lu!" titah Leon sambil menarik kursi di seberangnya. Ia persilakan Lulu duduk berhadapan dengannya.
Walaupun merasa risih akan perlakuan Leon yang begitu memanjankannya, tetapi Lulu tetap mengucap terima kasih sebagai tanda bahwa ia menghargai kebaikan Leon.
__ADS_1
"Tau dari mana kalau gue ada di sini. Apa lo tadi mampir ke indekos gue dulu?" tanya Lulu masih dengan gaya bicaranya. Namun, nada suaranya sudah tak lagi ketus seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Sebelumnya gue nelepon Ratna, buat nanyain kondisi terbaru lo. Tapi ternyata gue dapat info dari dia kalau ternyata lo udah mulai kerja lagi. Kenapa enggak izin aja, sih, Lu. Emang bos lo enggak kasih kelonggaran buat karyawannya yang lagi sakit untuk enggak masuk kerja sampai dia bener sembuh. Seharusnya sih dikasih kecuali kalau ... bos lo itu punya sifat pelit dan sangat perhitungan."
Lulu menghunus tatapan tajam ke arah Leon, membuat pria itu menutup mulutnya detik itu juga.
"Mas Rama dan Big Boss orangnya baik. Mereka bukan tipe atasan yang gemar menindas pekerjanya dengan cara memeras tenaga para karyawan demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Alasan kenapa gue tetep kerja meski baru aja sembuh karena gue udah enggak betah tinggal di indekos. Kerjaan gue cuma makan dan tidur doang, tanpa ngerjain sesuatu," jawab Lulu dengan penuh penegasan. Tak mau Leon salah paham dan menyudutkan Rama serta pemilik restoran yang sudah begitu baik kepadanya.
"Kedatangan gue ke sini mau ngasihin makanan dan jug vitamin buat lo biar lo enggak gampang sakit. Di tengah cuaca yang sering berubah-ubah, daya tahan tubuh kita mesti kuat. Jangan sampe terserang flu dan batuk." Leon mencoba mengalihkan pembicaraan. Jika terus membahas hal yang sama, pertemuan mereka kali ini berakhir dengan perdebatan yang tiada habisnya.
"Nasi Padang?"
Mengangguk cepat disusul senyuman lebar. "Makanan kesukaan lo. Kebetulan gue tau rumah makan Padang yang super lezat di sekitaran rumah. Rumah makan itu selalu rame sampe orang-orang mesti ngantri demi dapat menikmati kuah rendang dan sambal ijonya. Entah pagi, siang ataupun malem, selalu rame pembeli."
"Karena gue keinget omongan Queensha yang bilang kalau lo suka banget makan masakan Padang, jadi gue sempetin mampir sana bentar sebelum nemuin lo di sini."
'Gimana dia bisa tau kalau gue lagi kepingin makan masakan Padang. Cuma kebetulan aja atau emang kami berdua ...."
'Bego! Kenapa lo bisa berpikir kalau kalian berdua berjodoh. Stop, Lu. Jangan pernah mimpi bisa hidup bahagia. Lo itu kotor, enggak pantas untuk bersanding dengan siapa pun!' Lulu mengingatkan pada dirinya sendiri untuk tidak terbawa suasana. Bisa saja Leon baik kepadanya hanya karena diminta Ghani ataupun Queensha. Who knows.
"Makasih. Lo udah repot-repot bawain gue makanan." Lantas di gadis cantik berkuncir kuda meraih bungkusan plastik di hadapannya, kemudian meletakkan di ruang kosong di sebelahnya.
"Oh ya, lo kenapa enggak bilang kalau Tante Ayu mau datang ke sini. Kalau gue tau, pasti gue sambut dengan baik. Beliin makanan ataupun sediain minuman untuk beliau."
"Tante Ayu? Maksud lo, nyokap gue?" Jari Leon menunjuk ke arahnya saat menyebut nama sang mama.
"Dih, gaje. Nama nyokap sendiri kok lupa. Iya, nyokap lo tadi datang ke sini. Beliau ada perlu sama gue dan akhirnya kita ngobrol cukup lama ... sekitar tiga puluh menitan. Emang beliau enggak cerita ke lo kalau mau datang ke sini?"
__ADS_1
"Kagak. Gue aja enggak pernah bilang di mana tempat kerja lo," sahut Leon dengan bingung. Ia seperti orang linglung mendengar mamanya pergi menemui Lulu tanpa diketahui siapa pun.
"Seriusan lo, jangan boong. Gue bakalan marah besar kalau lo bohongin gue," kata Lulu. Cukup terkejut saat mendengar bahwa Leon sama sekali tak pernah memberitahu di mana alamat kerjanya sekarang.
Tangan Leon terangkat, membentuh huruf V. "Swear! Sumpah demi makam kucing gue yang udah mati kalau gue enggak pernah cerita apa-apa tentang lo ke nyokap."
"Kalau emang bukan lo, terus siapa? Enggak mungkin, 'kan, nyokap lo nyuruh seseorang untuk nyelidikin gue."
Leon meraup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Ia terlihat frustasi saat menyadari sesuatu.
'Mama bener-bener udah keterlaluan. Bisa-bisanya minta bantuan seseorang buat nyelidikin Lulu. Gue mesti bicara sama Mama. Harus!'
Leon bangkit berdiri dari kursi, hendak mohon undur diri dari hadapan Lulu. "Lu, gue enggak bisa lama-lama di sini. Masih ada kerjaan yang nungguin gue."
"Makanan yang gue bawa dan vitamin yang gue beli, jangan lupa diminum. Kalau misal lo ngerasa enggak enak badan lagi, langsung minta izin aja. Enggak boleh maksain diri. Lo mesti ngukur diri sendiri. Dan ... seumpama butuh obat atau apa pun itu, langsung hubungin gue. Gue pasti akan datang secepat mungkin."
"Gue pulang dulu. Sehat-sehat terus, Lu."
Lulu mengembuskan napas panjang melihat punggung Leon dari kejauhan. Menatap sosok itu mulai menghilang dari pandangan, hati terasa hampa seakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Namun, Lulu tak tahu apakah yang membuat ja merasa kehilangan.
"Lo emang betulan cowok baik, Yon. Maafin gue yang penah nuduh lo yang bukan-bukan." Tanpa disadari, kedua sudut bibir Lulu tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan.
Ketika sudah berada di dalam mobil, Leon segera mengeluarkan telepon genggam lalu mengirim pesan lewat WhatsApp.
[Suster Diana, sepertinya saya akan datang terlambat. Untuk sementara waktu sampai saya tiba di rumah sakit, semua pekerjaan tolong di-handle Dokter Nugroho dulu. Lakukan visit dokter seperti biasa.]
"Urusan kerjaan udah selesai dan kini saatnya gue temuin Mama di rumah. Awas aja, kalau sampe Mama nyakitin Lulu, gue aduin ke Papa."
__ADS_1
...***...