
"Mas?"
Panggilan itu mengalihkan perhatian Ghani yang sedang sibuk memilih kemeja lengan panjang yang hendak ia kenakan. Pria itu masih bisa bersantai sebab hari ini tak ada jadwal shift seperti Leon sehingga tak perlu terburu-buru berangkat ke tempat kerjanya.
"Ada apa, Sayang? Kamu butuh sesuatu? Mau aku buatkan jus mangga, jus apel, atau susu hamil?" Ghani menyahut sambil mengambil kemeja abu-abu dari dalam lemari. Kemudian ia mengenakan pakaian tersebut, tetapi saat hendak memasukannya ke dalam celana kerja, tersadar bahwa ada sepasang mata tengah memandanginya dengan intens. Sontak ia menghentikan kegiatannya karena merasa malu terus diperhatikan dengan seksama.
"Kenapa diam saja? Lanjutkan, Mas. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Semalam aku sudah puas bercinta denganmu jadi pagi ini tidak akan memintanya lagi. Kamu ... bisa pergi ke rumah sakit dengan aman," ujar Queensha, yang kemudian membuat Ghani geleng-geleng kepala.
Queensha jadi semakin liar dan lebih berani mengutarakan keinginannya untuk bercinta. Bahkan tak jarang ia berinisitaif memulai permainan panas mereka dengan cara mengenakan pakaian mirip saringan tahu, menggodanya dengan kerlingan mata manja ataupun menggusap inti tubuh Ghani yang saat itu tengah sibuk bekerja di ruang belajar.
"Kalau memang kamu sudah puas, kenapa memandangiku seperti binatang buas yang kelaparan? Bikin aku merasa tak nyaman." Ghani memasukan ujung kemejanya lalu memasangkan kembali ikat pinggang tersebut hingga penampilan pria itu terlihat lebih rapi.
Queensha membenarkan kerah kemeja yang sedikit berantakan, menepuk pakaian tersebut sampai benar-benar rapi. Setelah itu Queensha berkata, "Aku ingin ikut denganmu ke rumah sakit, boleh tidak? Bosan berada terus di apartemen."
"Loh, bukannya kemarin kamu sudah pergi ke mall, refreshing dengan sahabatmu, Lulu? Walaupun ada insiden tak mengenakkan, tapi setidaknya cukup mengembalikan mood-mu yang berantakan," sahut Ghani.
Tiba-tiba Queensha memasang wajah cemberut. Kaki yang yang beralaskan sandal rumahan dihentakkan di lantai kemudian wanita itu melengos dari hadapan Ghani.
Melipat kedua tangan di depan dada dan duduk di kursi meja rias. Tatapan matanya tajam memandang Ghani dari cermin di depannya. "Ya beda lagilah, Mas. Kemarin, ya, kemarin. Sekarang, ya, sekarang. Gimana, sih, kamu nih. Aku tuh ingin pergi ke rumah sakit sama kamu, tapi kenapa kesannya kamu seperti enggan mengajakku. Apa kamu main di belakangku?"
Sontak Ghani mendekat. Paling tidak suka jika dirinya dituduh bermain api di belakang sang istri. Bagaimana mungkin membagi cintanya dengan wanita lain, sementara ia begitu tulus mencintai istrinya tersebut.
Meletakkan lutut di lantai, Ghani tangkut kedua tangan Queensha. "Jangan bicara begitu, Sayang. Mana ada aku selingkuh di belakangmu. Aku cuma tidak mau kamu kecapean. Kemarin saja pulang terlambat lalu sekarang mau ikut aku ke rumah sakit, bagaimana kalau kamu bosan dan suntuk karena berada di rumah sakit terlalu lama."
"Aku tidak keberatan sama sekali kalau kamu mau ikut denganku, tapi bagaimana dengan ketiga anak kita yang ada dalam kandunganmu? Daripada ikut denganku, kenapa tidak di apartemen saja? Di sini kamu bisa istirahat dengan puas di atas kasur yang empuk. Mau makan ataupun minum, kamu bisa minta Bik Anah buatkan itu lebih enak ketimbang berada di rumah sakit." Ghani mencoba memberi pengertian kepada istrinya. Dengan sangat berhati-hati menjelaskan alasannya mengapa tidak mau Queensha ikut bersamanya ke rumah sakit.
"Tapi aku maunya dekat terus dengan kamu, Mas. Mengerti tidak, sih! Ini bukan keinginanku, loh, tapi keinginan mereka bertiga." Queensha mengalihkan pandangan pada perutnya yang mulai membuncit. Kehamilan kembar tiga membuat perutnya jadi terlihat lebih membesar dibanding usia kandungannya yang baru memasuki minggu ke-8.
__ADS_1
"Kamu ngidam, Sayang?"
Menggendikan bahu. "Entahlah. Namun, aku tetap ingin berada di sisimu terus, Mas. Boleh, ya, aku ikut denganmu ke rumah sakit? Aku janji tidak akan menyusahkanmu apalagi mengganggumu saat sedang bekerja. Aku akan jadi istri yang patuh, menuruti semua kata-katamu."
Ghani mengesek-gesekkan kedua ujung hidung mereka dengan gemas. "Baiklah, karena ini keinginan si kecil maka aku turuti kemauan mereka. Urusan Rora, biar nanti aku minta Mbak Ijah menjemputnya dan menitipkannya di rumah Bunda. Bunda pasti senang karena ada Rora di rumah."
***
Setelah melewati drama singkat, akhirnya Ghani membawa serta Queensha bersamanya pergi ke rumah sakit. Sesekali melirik istrinya, memperhatikan ekspresi wajahnya apakah Queensha kesakitan atau tidak karena mesti berjalan dari parkiran menuju pintu masuk rumah sakit.
"Perlu aku minta satpam membawakan kursi roda untukmu?" tawarnya kepada sang istri. Namun, Queensha bukanlah wanita lemah. Wanita itu menolak tawaran suaminya. Ibunda Aurora memilih untuk berjalan sambil bergandengan tangan dengan suami tercinta.
"Eh, tumben kamu ikut suamimu, Sha. Ada angin apa, nih?" Suara bariton Leon membuat Queensha terpaksa melepaskan genggaman tangan. Sahabat Ghani rupanya baru saja tiba di rumah sakit. Mereka bertemu di depan lobby rumah sakit.
"Lagi bosan saja di apartemen, Mas. Makanya aku ikut dengan Mas Ghani," jawab Queensha.
Queensha memperhatikan wajah Leon yang tampak berseri hari ini. Ada aura bahagia terpancar di wajah tampan itu.
Queensha mengamati pria jangkung di sebelahnya dengan tatapan seksama, membuat Ghani yang berada di tengah istri dan sahabatnya segera menghadang pandangan ibu dari anaknya agar tidak terus memandangi Leon. Tidak mau kalau sampai di hati Queensha ada lelaki lain selain dirinya.
"Mas Ghani apaan, sih. Kenapa menghalangi pandanganku. Awas, aku mau lihat wajah Mas Leon dulu!" Queensha mendorong tubuh Ghani agar menyingkir dari hadapannya. Akan tetapi, tenaga wanita itu tak berpengaruh apa pun terhadap Ghani. Sang pria masih berdiri kokoh dengan tatapan mata tajam mengarah kepada istrinya.
Karena merasa lelah, akhirnya Queensha menyerah. Ia biarkan Ghani bertindak sesuka hati
Membalikan badan hingga kini posisinya saling berhadap. Ghani menatap Leon dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kening mengerut, ikut memperhatikan wajah Leon yang terlihat berbeda dari biasanya. "Apa yang terjadi setelah Queensha kembali ke apartemen. Apa jangan-jangan lo dan Lulu-"
__ADS_1
Leon memalingkan wajah ke arah lain. "Jangan sembarangan nuduh orang, enggak baik! Gue dan Lulu enggak ngapa-ngapin. Lagi pula semalam Lulu demam tinggi jadi imposibble gue dan dia bermesraan."
"Berarti kalau Lulu sudah tidak lagi sakit, Mas Leon mau bermesraan denganya. Iya?" Queensha tersenyum menggoda, membuat wajah Leon tersipu malu. Dari wajah lalu merambat ke telinga, mulai memanas karena menahan perasaan aneh dalam dirinya.
Queensha cekikikan karena feelingnya mengatakan bahwa telah tumbuh benih cinta di hati Leon dan Lulu.
Bersikap manja pada sang suami. "Mas Ghani, kita harus mulai hunting kado pernikahan, nih. Tampaknya sebentar lagi kita mendapat undangan pernikahan."
"Undangan pernikahan siapa?" Ghani belum mengerti jika Queensha menyindir Leon.
Queensha tak menjawab. Ia hanya menunjuk Leon dengan ujung dagunya.
Refleks Ghani menunjuk Leon menggunakan ibu jari. "Lo dan Lulu jadian? Kapan? Kok enggak cerita ke gue," cecarnya tanpa henti.
Leon yang sudah tidak tahan terus dipojokkan, memilih pergi meninggalkan Ghani dan Queensha. Tak mau kalau sampai semburat rona merah muda terus menempel di wajah.
"Omong kosong! Udah, gue mau ke ruangan dulu. Bye! Lama kelamaan di sini bisa ikutan gila karena kelakuan kalian berdua." Tak banyak cakap Leon berlalu dari hadapan Queensha dan Ghani.
Ghani yang tengah dilanda rasa penasaran menyusul sahabatnya. "Woy, cerita ke gue, ada apa antara lo dan Lulu? Apa bener lo udah jadian?"
Alih-alih menjawab pertanyaan, Leon mendorong tubuh Ghani hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
"Berisik!" kata Leon.
Saat pintu lift terbuka, Leon langsung menekan tombol lift hingga pintu tersebut tertutup rapat.
"Sialan lo, Yon. Gue belum selesai ngomong ditinggal pergi!" gerutu Ghani, tak berhasil mendapat informasi apa pun dari Leon.
__ADS_1
"Semoga ini petanda baik bagi mereka berdua," ucap Queensha.
...***...