Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kunci Utama


__ADS_3

Ghani segera melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh ketika dia dan Bayu tiba di depan rumah dokter Aminah, dokter yang membantu persalinan Queensha dulu. Banyak hal yang ingin disampaikan olehnya kepada dokter senior yang kini telah pensiun sehingga tak dapat membuang waktu walau hanya sedetik saja.


Bayu menggelengkan kepala melihat betapa bersemangatnya Ghani. "Lama tak berjumpa rupanya kelakuanmu masih sama seperti dulu, selalu tergesa-gesa dalam bertindak." Kendati demikian dia dapat memaklumi kenapa Ghani dapat bersikap begitu.


Mendorong pintu pagar seukuran pinggang orang dewasa hingga terbuka setengahnya kemudian kedua lelaki itu berjalan memasuki pelataran rumah dokter Aminah. Suasana rumah cukup sepi mungkin sang empunya rumah sedang beristirahat sebab kedatangan mereka di sana bertepatan dengan waktunya orang istirahat.


Bayu melirik beberapa detik ke arah Ghani, memastikan apakah teman lamanya itu sudah siap siapa tahu berita yang disampaikan dokter Aminah akan membuat putera tertua keluarga Wijaya Kusuma murka. Ghani menganggukan kepala mantap, tak terlihat sedikit pun keraguan pada diri pria itu.


Lantas, Bayu mengulurkan tangan ke depan lalu mengetuk daun pintu setelahnya menunggu beberapa saat hingga seseorang membukakan pintu tersebut.


Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu menatap Bayu dan Ghani secara bergantian. Sepasang mata coklat menatap penuh tanda tanya pada dua pria tampan di depannya. Dokter Aminah mengenali siapa pria berkemeja lengan panjang, tetapi siapakah pria asing yang berdiri di sebelah Bayu?


Bayu mengerti arti tatapan itu segera membuka suara. "Selamat siang Dokter Aminah, mohon maaf sudah mengganggu waktu istirahat Anda. Kedatangan saya ke sini hanya ingin menanyakan suatu hal penting terkait pasien bernama ... Queensha Azura Gunawan, ibu hamil yang lima tahun lalu pernah Anda bantu saat proses persalinan melalui operasi caesar."


Wajah dokter Aminah berubah pias, jantung pun terasa berhenti berdetak kala mendengar nama itu. Dengan gerakan cepat wanita paruh baya itu menarik kembali daun pintu tersebut dan hendak menutupnya. Akan tetapi, Ghani dengan sigap menahannya menggunakan tangan.


"Kenapa Dokter buru-buru sekali? Tidakkah Anda berniat mempersilakan kami masuk terlebih dulu?" ucap Ghani dingin.

__ADS_1


Masih berusaha menutup daun pintu, dokter Aminah berkata, "Saya masih punya pekerjaan lain jadi sebaiknya tinggalkan rumah ini. Kehadiran kalian tidak diterima di sini. Pergilah sebelum saya berteriak meminta tolong kepada para tetangga!"


Ghani tersenyum smirk. Hati kecil semakin yakin apabila dokter Aminah ikut terlibat di dalamnya maka dengan tanpa mengenal takut pria itu menjawab, "Silakan saja berteriak, saya tidak takut!" gertaknya kencang.


"Pria sinting! Pergilah, saya tidak mau membahas masalah itu. Bagi saya itu hanya masa lalu dan sudah sepantasnya untuk dilupakan."


Dokter Aminah menarik kemudian mendorong daun pintu tersebut berharap Ghani melepaskannya dan dia bisa terbebas dari dua pria itu. Akan tetapi, usahanya sia-sia sebab kini Ghani menggunakan sebelah kakinya untuk menahan pintu dibantu Bayu yang turut mendorong pintu berwarna putih tersebut.


"Mungkin bagi Dokter Aminah tidak penting, tapi bagi teman saya sangat penting. Dia membutuhkan penjelasan sekecil apa pun dari Anda, jadi biarkan kami masuk dan marilah berbicara dari hati ke hati." Bayu tidak tinggal diam, pria itu membujuk dokter Aminah agar membiarkan mereka masuk dan duduk bersama sambil menceritakan apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu.


"Dok, saya tahu jika Anda begitu loyal terhadap pekerjaan dan rumah sakit tempat Dokter Aminah bekerja selama ini. Dengan sepenuh hati Anda mengabdikan diri, memberi pelayanan kepada pasien hingga membuat nama Anda menjadi salah satu dokter berprestasi selama bertahun-tahun lamanya. Di depan Anda adalah suami dari pasien yang pernah Dokter tolong dulu, dia membutuhkan informasi bagaimana buah cintanya dapat meninggal dunia sementara kondisi janin dan ibu baik-baik saja."


Dokter Aminah terhenyak beberapa saat. Sungguh, tidak menyangkan jika selama ini hidup Queensha menderita pasca pernyataan yang mengatakan bahwa bayi mungil berjenis kelamin perempuan meninggal sesaat setelah dilahirkan ke dunia.


Dokter Aminah mengembuskan napas kasar. Perlahan dia melepaskan tangan dari daun pintu lalu membukanya hingga terbuka lebar. "Baiklah, kalian berdua menang. Saya akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi hari itu. Namun, saya ingin membuat kesepakatan denganmu saat kebenaran terungkap. Berjanjilah untuk tidak melibatkan saya di dalamnya karena saya hanya menuruti apa yang diperintahkan orang itu."


Rahang Ghani mengeras, kedua tangan mengepal memperlihatkan urat halus di punggung tangan. Berpikir, bagaimana mungkin dia membiarkan orang yang terlibat dalam kasus ini bebas begitu saja sementara dirinya telah berjanji akan membabat habis semua orang yang telah membuat hidup Queensha menderita selama ini.

__ADS_1


Mulut pria itu terbuka hendak mengucap sesuatu. Akan tetapi, Bayu telah lebih dulu membuka suara.


"Dokter Aminah tenang saja, teman saya tidak mungkin melibatkan Anda di dalamnya asalkan Dokter berkata jujur, tak menutupi satu rahasia pun kepada kami."


Sepasang manik coklat melotot, tidak setuju dengan kesepakatan di antara mereka. Namun, dia tak mempunyai kesempatan untuk protes sebab kini Bayu sudah lebih dulu menarik tangannya masuk ke dalam rumah dokter Aminah setelah dipersilakan oleh sang pemilik rumah.


Seorang asisten rumah tangga membawa nampan berisi minuman dingin untuk kedua tamu. Menyodorkan dua gelas es lemon tea ke hadapan Ghani dan Bayu, tak lupa satu toples berisi kue kering di atas meja. Setelah itu undur diri dari hadapan majikan serta dua orang tamu sang majikan.


"Jadi, bisakah Dokter Aminah menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi kepada istriku. Saya membutuhkan semua informasi itu saat ini juga," kata Ghani to the point. Ya, lelaki itu tak suka basa basi selalu berbicara langsung pada pokok permasalahan.


Bayu menyenggol siku Ghani dan melototi teman lamanya itu. "Ghan, apa tidak bisa basa basi dulu sebelum ke inti permasalahan? Kita tuh tamu dan butuh bantuannya jadi tidak bisakah kamu bersikap lemah lembut kepada Dokter Aminah?" tegur Bayu dengan suara lirih.


Alih-alih menuruti permintaan Bayu, Ghani justru meninggikan nada suara. "Untuk apa basa basi, hanya membuang waktuku saja. Lebih baik selesaikan semuanya sekarang agar aku bisa mengambil langkah tegas jika memang terbukti ada orang lain di balik ini semua."


Bayu menghela napas panjang. Percuma menegur lelaki itu toh dirinya tak akan mampu memenangkan perdebatan di antara mereka.


'Dasar batu!' batin Bayu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2