Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Berdamai


__ADS_3

Tubuh seketika menegang. Jantung seakan berhenti berdetak dan bangunan megah bak istana negeri dongeng terasa runtuh, menimpa kepalanya detik itu juga ketika netra Queensha menangkap sosok Andri tengah duduk di kursi roda. Beberapa hari berlalu pasca insiden tak mengenakan terjadi, akhirnya dia bertemu kembali lelaki yang hampir membuatnya berpisah dari orang terkasih di sekitarnya.


"Mas Ghani, dia ...."


"Iya, dia lelaki yang menyebabkanmu masuk rumah sakit. Kamu ingin pergi menemuinya?" tanya Ghani sambil menatap iris coklat istrinya. Dari sini dia dapat melihat jelas tatapan penuh kebencian dan rasa takut yang berbalut menjadi satu.


Tak mendapat respon apa pun, Ghani kembali bersuara. "Sha, kalau memang kamu tak sudi bertemu dengannya, tak perlu merasa tidak enak hati karena harus mengusir tamu yang bertandang ke rumah ini toh kamu punya hak menolak mereka jika dirasa kehadiran orang itu mengganggu kenyamananmu. Aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman karena harus bertemu orang asing," ujar Ghani.


Queensha berpikir beberapa saat, menimbang keputusan terbaik bagi semua orang. Kendati dia dendam, dan sangat membenci Andri, tetapi rasanya tak tega melihat dengan mata kepalanya sendiri petugas keamanan di rumah ini mengusir Andri beserta dua orang paruh baya yang diduga adalah orang tua Andri dari kediaman mertuanya. Queensha bukan orang jahat, dia dididik untuk tidak menjadi orang pendendam walau orang itu pernah melakukan kesalahan besar kepadanya.


"Biarkan mereka tetap di sini, aku akan menemui Andri. Aku ingin tau maksud dan tujuan kedatangannya ke sini untuk apa. Kalau memang kedatangannya hanya ingin membuat onar, baru kita usir dia dari sini," tandas Queensha pada akhirnya.


"Baiklah, jika itu keputusanmu, aku turuti kemauanmu. Ya sudah, kita temui mereka sekarang." Ghani mendorong kursi roda Queensha, menuju ruang tamu.


Keduanya sudah sampai di ruang tamu, tempat Andri beserta kedua orang tuanya menunggu. Pak Hardi memaksa diri untuk tersenyum meski dalam hati amat sangat malu bertemu Queensha--korban kejahatan anak tersayang.


"Selamat pagi. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Queensha pada ketiga tamunya.


Pak Hardi bangkit berdiri kemudian mendekati kursi roda Queensha lalu mengulurkan tangan ke hadapan menantu kedua Rayyan dan Arumi, hendak memperkenalkan diri di depan wanita itu. Namun, Ghani segera memberi tatapan tajam pada pria paruh baya di depannya, membuat ayahhanda Andri menghentikan kegiatannya.


Menarik kembali tangan dari hadapan Queensha dan berkata, "Pagi juga, Mbak. Maaf jika kedatangan saya beserta keluarga mengganggu waktu istirahatmu. Saya bersama istri dan anak saya datang ke sini karena hal penting yang ingin dibicarakan. Kalau berkenan, sudikah kiranya Mbak Queensha memberi kami waktu sebentar untuk mengutarakan maksud kedatangan kami sekeluarga."


"Tentang apa, Pak?" tanya Queensha penasaran.


Andri yang sedari tadi menundukan kepala karena takut bersitatap dengan ekor mata Ghani, mendongakkan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit wajah tampannya menatap lurus ke depan.


"Tentang kecelakaan tempo hari. Kedatanganku ke sini ... mau minta maaf atas perbuatan yang pernah kulakukan beberapa hari lalu. Aku menyesal telah mendorongmu sampai terjatuh hingga membuatmu kandunganmu bermasalah. Saat itu otakku tak dapat berpikir jernih karena telah dikuasai hawa napsu sampai tega melakukan kekerasan pada ibu hamil. Aku menyesal, Mbak."


"Apa kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu? Kamu tidak sedang ingin menarik empatiku, 'kan?" kata Queensha. Tahu persis bagaimana watak Andri, pria itu jahat jadi mana mungkin mau meminta maaf kalau tidak ada maunya.


"Ya, aku bersungguh-sungguh. Aku bersumpah kalau ucapanku barusan benar-benar murni dari sanubari yang terdalam." Andri makin gugup dan lemas ketika kali kedua beradu pandang dengan mata elang Ghani. Wajah datar itu mengingatkan dirinya akan jarum suntik berisi racun dosis tinggi yang mampu mematikan lawan dalam hitungan detik.

__ADS_1


"Lalu, apa kamu pun menyesal telah berbuat jahat kepada sahabatku? Kamu telah melecehkannya, dan nyaris memperkosanya. Apa kamu tidak tau akibat perbuatanmu itu menyisakan trauma tersendiri bagi sahabatku? Dia lebih pendiam semenjak kejadian itu."


Andri mengangguk lemah. Dada seakan dihimpit batu besar, membayangkan betapa berengseknya dia zaman dulu. Wajah Lulu serta korban lainnya silih berganti melintas di benak lelaki itu.


"Untuk itulah aku datang ke sini. Selain ingin minta maaf padamu, aku pun ingin meminta bantuanmu, tolong bantu aku menghubungi Lulu. Aku mau minta maaf kepadanya sebelum aku mempertanggungjawabkan kesalahanmu kepadamu." Andri menunduk dan meremas telapak tangan dengan erat. Dia sadar telah berbuat lancang, melibatkan Queensha dalam masalahnya dengan Lulu. Akan tetapi, hanya ini satu-satunya cara untuk bisa berkomunikasi lagi dengan mantannya itu.


Queensha mendongakan kepala, meminta pendapat suaminya. Lalu pria yang berada di belakangnya mengangguk setuju.


"Baik, aku bersedia membantumu. Tunggu sebentar, aku akan mengirim pesan terlebih dulu untuk menyanyakan kesediaan Lulu."


Suasana kembali hening, hanya terdengar bunyi notifikasi pesan masuk dari telepon genggam Queensha. Wanita itu berkomunikasi dengan sahabatnya via WhatsApp.


[Oke, gue bersedia ngomong sama cowok sialan itu. Gue lakuin ini demi Mas Leon, bukan karena gue kepingin denger suara si Bajingan itu.]


Pesan balasan itu Lulu kirimkan kepada Queensha sebagai tanda jika dirinya bersedia berbicara dengan Andri via sambungan telepon.


[Iya, aku mengerti. Terima kasih sudah bersedia membuka jalan bagi Andri untuk minta maaf sama kamu.]


Tanpa membuang waktu, Andri segera mematuhi apa yang dikatakan Queensha. Dia tak punya banyak waktu, hari ini segala urusan harus diselesaikan. Dia tidak mau ada beban berat dipikul selama menjalani hukuman penjara.


"Ngapain lo minta bantuan Queensha untuk ngehubungin gue? Jangan pernah berpikir bisa melecehkan gue lagi karena calon suami gue akan buat perhitungan kalau lo berbuat macam-macam ke gue!" kata Lulu. Kendati jantung memompa cepat dan keringat meluncur di dahi, tetapi dia mencoba kuat agar Andri tak lagi menganggapnya lemah.


"Gue cuma mau minta maaf karena pernah melecehkan lo. Gue nyesel udah berusaha merebut kesucian yang lo jaga selama ini. Sebagai seorang pacar, seharusnya gue lindungi lo, tapi gue malah menyengsarakan lo, berniat memperkosa lo yang jelas-jelas saat itu berstatuskan sebagai cewek gue. Gue lelaki paling berengsek di dunia ini, Lu."


Lulu memandang nanar pada kerumunan ikan hias di kolam ikan milik sang ayah. "Hmm, lo emang berengsek, Ndri. Kalau enggak berengsek, mana mungkin tega melecehkan dan berniat memperkosa gue. Gue pikir, lo tulus cinta sama gue, tapi ternyata cinta lo palsu. Lo deketin gue cuma kepingin anu doang."


"Iya, gue salah, Lu. Gue nyesel sekarang. Akibat hawa napsu membuat gue jadi sengsara," kata Andri penuh penyesalan.


"Bagus deh kalau lo nyesel. Setidaknya mata hati lo sekarang terbuka dan sadar bahwa apa yang lo lakuin dulu adalah salah," ujar Lulu. "Dan untuk permintaan maaf lo, gue terima. Gue udah maafin lo, Ndri. Semoga setelah ini, lo berubah jadi lelaki baik, lebih menghormati perempuan, dan enggak doyan celup sana sini. Kasihan bini dan anak lo kalau punya bapak berengsek kayak lo."


"Inget, hidup di dunia tuh cuma sementara. Jadi, mending lo gunakan waktu yang ada untuk ngelakuin sesuatu yang bermanfaat. Ngerti?" tandas Lulu, dijawab anggukan kepala. "Ya udah, urusan kita udah kelar. Gue udah maafin lo dan antara kita udah enggak ada masalah apa pun lagi. Ke depannya, gue harap lo enggak pernah gangguin kehidupan gue lagi. Selamat tinggal, Andri."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Andri, Lulu segera mengakhiri panggilan telepon. Dia memang sudah memaafkan Andri, tetapi kenangan pahit itu belum menghilang dalam benaknya. Dia membutuhkan waktu lebih lama untuk mengobati lukanya itu.


"Terima kasih sudah menjadi pelantaraku menghubungi Lulu." Andri berkata setelah benda pipih berukuran 6.5 inci telah berada dalam genggaman tangan Queensha.


"Aku merasa lega telah meminta maaf padamu dan juga Lulu. Sekali lagi terima kasih dan maaf telah membuatmu masuk rumah sakit," sambung Andri tersenyum lebar. Kini satu per satu beban dalam dirinya terangkat. Ternyata keputusannya meminta maaf kepada Queensha dan Lulu tidaklah salah. Hidupnya menjadi tenang, dan damai. Tak ada lagi rasa gelisah, dan penuh penyesalan.


Queensha menatap dalam manik coklat Andri, mencari setitik kebohongan di sana. Namun, dia hanya melihat kesungguhan dan rasa penyesalan mendalam pada diri lelaki itu. Kalau sudah begini, mana mungkin dia menolak permintaan maafnya Andri, toh lelaki itu bersungguh-sungguh meminta maaf kepadanya.


Wanita cantik yang kini tengah berbadan dua mendulang senyum di wajahnya. "Ya, tidak masalah. Aku sudah memaafkanmu. Tapi maaf, aku tidak bisa mencabut gugatanku karena aku ingin kamu merasakan akibat dari perbuatan jahatmu di masa lalu. Bukan cuma kepadaku, dan juga Lulu, tetapi kepada perempuan lain yang pernah kamu sakiti."


Andri membalas senyuman Queensha dengan sebuah senyuman tulus. Dia ikhlas menjalani hukuman ini asalkan hidupnya kembali damai.


'Terima kasih sudah mengembalikan puteraku, Tuhan. Aku bersyukur dengan musibah yang datang, telah membuat Andri-ku tersadar akan semua kejahatan yang diperbuatnya di masa lalu. Semoga setelah ini, puteraku tak lagi melakukan dosa besar, yang justru membuat hidupnya lebih menderita." Pak Hardi mengusut butiran bening di sudut matanya. Dia bersyukur karena pada akhirnya semua berjalan sesuai rencana.


Andri berpamitan pada Queensha dan juga Ghani. Pun demikian dengan pak Hardi. Mereka bersalaman sebagai tanda damai. Namun, bu Tania justru berlalu begitu saja dari hadapan semua orang.


"Maaf, istri saya memang begitu orangnya." Pak Hardi malu dengan sikap istrinya yang terkesan kurang sopan.


"Tak masalah, Pak. Mungkin Ibu butuh waktu lama untuk menerima kenyataan ini," sahut Queensha mencoba bijak.


Pak Hardi bersiap meninggalkan rumah besar itu menuju mobil yang diparkir di bawah pohon mangga. Baru saja membalikan badan, tubuh pria itu membeku seakan seperti ada paku besar menancap di kaki. Sebuah foto keluarga yang ditempel di dinding sukses membuat jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik.


Ya, pak Hardi baru saja jika di dinding terdapat sebuah figura besar. Tadi dia tak begitu memperhatikan keadaan sekitar karena terlalu fokus dengan masalah sang putera. Jadi sekarang dia begitu terkejut mendapati Rayyan berada di tengah keempat kesayangannya.


Membalikkan badan dengan cepat. Ketika tubuh menghadap ke dinding, ekor matanya terbelalak sempurna. 'Pria ini ... bukankah dia pemilik rumah sakit yang tendernya diperebutkan semua orang. Jadi ... dia adalah mertuanya wanita ini. Pantas saja dia mem-black list perusahaanku. Rupanya dia tak sudi memberi proyek besar ini kepada orang yang telah menyakiti menantunya.'


Pak Hardi menarik napas dalam. Kini mengerti kenapa proposal miliknya ditolak mentah-mentah Rayyan.


Sesak. Itulah yang dirasakan setelah mengetahui kebenarannya, tetapi pak Hardi mencoba berlapang dada sebab tersadar bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Sekeras apa pun berusaha jika Tuhan tak berkehendak maka ia tidak akan pernah mungkin berada dalam genggaman tangan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2