Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Kediaman keluarga Ghani kembali sepi. Zavier yang beberapa hari menginap di rumah peninggalan sang nenek karena pernikahan kedua Ghani dan Queensha sudah kembali tinggal di apartemen miliknya yang lokasinya tak jauh dari kampus. Pun Shakeela yang telah kembali ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah setelah mengambil cuti demi bisa datang di momen spesial kakak pertamanya.


“Rumah jadi sepi ya, Sha," ujar Arumi malam itu saat sedang bersiap berkutat di dapur bersama Queensha untuk menyiapkan makan malam. “Shakeela sudah kembali ke luar negeri, sementara Zavier ada saja alasannya setiap kali disuruh menginap di rumah. Bunda sampai pusing mendengar semua alasannya. Heran deh sama anak itu, diajak balik tinggal di rumah sudah banget kayak mau dihukum mati. Paling tidak pura-pura minta waktu buat berpikir dulu, kek. Ini malah ditolak mentah-mentah. Minta kembali dimasukkan ke dalam perut atau bagaimana dia?”


Gurauan Arumi sukses membuat Queensha serta Tina terkekeh mendengarnya.


“Jarak apartemen dengan kampus mungkin lebih dekat, Bun, jika dibanding dari rumah sehingga Zavier enggan menginap di sini," sahut Queensha dengan tenang menanggapi semua keluhan ibu mertuanya. Berusaha bersikap senetral mungkin tanpa memihak salah satu. Takut akan memperkeruh keadaan. Lagi pula Queensha juga sadar jika Arumi tidak butuh saran apa pun, karena sesungguhnya ibu mertuanya itu hanya ingin didengar.


Seperti yang tadi beliau sendiri katakan di awal, rumah besar ini jadi terasa sepi pasca Ghani, Zavier, Zahira dan Shakeela beranjak dewasa dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Apalagi ayah mertuanya masih aktif dengan kegiatan sosial dan aman yang diadakan pihak rumah sakit walau usianya yang tak lagi muda. Jadi saat Triplet serta Shakeela sudah memiliki kehidupan masing-masing, Ghani menikah, Zavier memilih keluar dari rumah dan tinggal di apartemen, sementara Zahira sibuk dengan suami dan anak-anaknya, sedangkan si bungsu kuliah di luar negeri, tak mengherankan jika Arumi yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah jadi merasa kesepian.


Memang banyak asisten rumah tangga yang menemani selama Rayyan sibuk dengan kegiatannya, tapi tentu saja rasanya jauh berbeda saat ditemani suami dan anak-anaknya sendiri.


“Apanya yang jauh lebih dekat dari kampus? Itu hanya alasan adik iparmu saja, Sha. Zavier pikir mungkin bunda tidak tahu kalau dia sengaja tinggal di apartemen agar tidak disinggung perihal calon istri. Umur sudah matang, pekerjaan sudah mapan, tapi tak sedikit pun berpikir untuk menikah. Bagaimana bunda tidak pusing. Lihatlah, Ghani dan Zahira saja sudah bahagia dengan pasangan masing-masing, sedangkan Zavier? Dia masih sibuk dengan pekerjaannya." Arumi mendesah pelan.


Ada perasaan miris dalam diri melihat anak keduanya yang masih menjomlo, padahal dulu sewaktu sekolah Zavier tidak akan pernah betah hanya dengan satu wanita. Namun, sekarang justru tak ada satu wanita pun berada di sisinya. Mungkinkah ini karma karena Zavier banyak menyakiti hati perempuan? Kendati Zavier terkenal playboy, tetapi ia tak pernah sampai melanggar aturan yang ditentukan kedua orang tuanya, berciuman, free s*x ataupun minum minuman beralkohol, tidak pernah ia lakukan.


Queensha menaruh piring yang ia pegang ke atas meja, lalu mengusap punggung Arumi dengan lembut. “Sabar, Bun. Queensha yakin, nanti kalau sudah waktunya, Zavier pasti bertemu dengan orang yang bisa membuatnya berpikir soal pernikahan kok. Bunda perbanyak lagi saja sabarnya.”


“Sudah overload tahu, Sha, kesabaran bunda. Untung saja sekarang ada kamu dan Aurora, bunda jadi punya teman mengobrol dan bisa sedikit terhibur akan kehadiran kalian berdua."


Queensha menanggapi dengan senyuman. Setelah menikah untuk sementara mereka memang akan tinggal di rumah orang tua Ghani sampai apartemen yang diberikan suaminya selesai direnovasi.


“Sedang membicarakan apa?”


Queensha dan Arumi baru saja selesai menata menu makan malam mereka saat Rayyan datang bersama Ghani yang tengah membawa Aurora dalam gendongan.


“Sayang, kok, minta gendong Papa, sih? Kaki Papa, 'kan, masih sakit bagaimana kalau terluka lagi. Ayo, sini sama mama saja," ujar Queensha seraya berusaha mengambil putrinya dari Ghani. Bukan apa-apa, Queensha masih ngeri jika harus melihat suaminya mengendong putri mereka yang lumayan berat meski alat penyangga di kaki Ghani sudah dilepas.


“Enggak mau, Mama. Rora mau digendong Papa!” rengek Aurora. Mungkin gadis kecil itu rindu digendong papanya karena semenjak sakit, Ghani tak diperbolehkan melakukan aktivitas berlebih.


Mendengar penolakan itu, Queensha menarik napas dalam. Mencoba tetap sabar menghadapi Aurora yang memang berada di usia suka tantrum jika keinginannya tidak dituruti.

__ADS_1


“Sayang, tapi kasihan Papa. Apa Rora enggak kasihan pada Papa? Lihat, wajah Papa sampai memerah menahan sakit, loh." Queensha masih membujuk sang putri. Akan tetapi, Aurora tetap teguh pendirian. Tampaknya sifat keras kepala yang diwariskan Ghani menurun kepada si kecil, Aurora.


“Sudah, jangan dimarahi kalau memang anaknya tidak mau," lerai Ghani yang membuat Aurora semakin mempererat pelukannya di leher sang papa.


“Tapi Mas—“


“Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ok? Jangankan Aurora, mengendong kamu pun sekarang aku sanggup, kok."


Bisa-bisanya di saat seperti ini Ghani masih bisa menggombal. Sialnya, pipi Queensha merona tanpa bisa dicegah dan semakin merah padam saat mendengar ayah mertuanya berdehem singkat. Tolong jangan tanya betapa malunya Queensha sekarang karena digombali di hadapan ibu dan ayah mertuanya sendiri.


Berbeda dengan Queensha yang menahan malu sampai tak berani untuk sekadar menoleh ke arah lain selain menundukan wajahnya, menatap bayangan diri di atas lantai, Arumi justru terlihat senang melihat anak dan menantunya tampak akur dan saling mencintai satu sama lain.


Karena tak tega melihat wajah menantunya yang sudah merah padam menahan malu, Arumi pun segera menyuruh mereka untuk segera duduk di kursi masing-masing untuk makan malam. "Sudah, sudah, sebaiknya kita makan malam bersama. Makanan tidak akan enak disantap jika sudah dingin."


Selama itu, Aurora terus menempeli papanya dan tak mau duduk sendiri membuat Ghani sedikit kesulitan menyendok makanan. Queensha yang tak tega melihatnya akhirnya berinisiatif untuk menyuapi Ghani dan Aurora yang sedang manja secara bergantian.


“Kalian belum tidak berencana bulan madu?” tanya Rayyan disela-sela makan malam mereka.


“Kapan?”


“Rencananya sih beberapa hari lagi, aku juga sudah membeli tiket dan segala keperluannya. Hanya saja ...."


“Hanya saja?” Kening Rayyan mengernyit petanda bingung.


“Queensha masih berat untuk meninggalkan Rora selama kami pergi sedangkan mengajak dia ikut bersama kami jelas tidak mungkin untuk dilakukan karena tahun ajaran baru saja dimulai.”


“Kita pergi tidak untuk satu dua hari, nanti Rora bisa kesulitan mengejar yang lain kalau terlalu lama bolos sekolah," sambung Ghani mengutarakan alasannya kepada Arumi dan Rayyan.


“Ya sudah, kalau begitu biar saja Rora di sini. Bunda tidak keberatan menjaga cucu bunda selama kalian pergi bulan madu," cetus Arumi tiba-tiba dengan semangat.


Alih-alih senang, saat mendengarnya Queensha justru semakin merasa tak enak. “Jadinya kita malah merepotkan, Bun. Aku tidak enak hati jika terus menerus merepotkan Ayah dan Bunda."

__ADS_1


Arumi mengibaskan tangannya singkat. “Halah, merepotkan apa, sih. Bunda sama sekali tak merasa direpotkan, kok. Justru malah senang bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan cucu. Nanti bunda bisa minta Mayumi menginap di sini, jadi Rora ada teman bermain."


“Tapi Bun—“


“Enggak ada tapi-tapi. Pokoknya bunda anggap masalah ini sudah selesai dan kalian bisa pergi bulan madu kapan pun dan selama apa pun yang kalian inginkan tanpa perlu mencemaskan Rora karena dia akan aman di sini.”


Queensha hendak kembali melontarkan karena merasa masih merasa tak enak, tetapi Arumi melarangnya bicara.


“Pokoknya keputusan ini sudah final, ya, bunda tidak mau mendengar alasan apa pun lagi.”


Merasa tak bisa mengatasi ini seorang diri, Queensha pun menoleh ke arah Ghani untuk meminta bantuan. Percayalah, mengasuh Aurora yang sedang licah-lincahnya sangatlah menguras energi. Queenhsa tak ingin ibu mertuanya capek.


Namun, rupanya meminta bantuan Ghani pun percuma. Suaminya itu tampak sama sekali tak keberatan dengan rencana Arumi. Begitu pula dengan Rayyan.


“Sudahlah, Queensha. Turuti saja, Bundamu. Biar dia senang.” Rayyan berkata membela istrinya. Mana mungkin tidak mendukung rencana sang istri, bisa-bisa disuruh tidur di kamar tamu dan itu merupakan hukuman terberat karena tidak dapat bermesraan dengan Arumi sebelum mereka tidur.


Merasa dibela, Arumi pun menganggukkan kepala setuju dengan penuh semangat. “Tuh, semuanya setuju. Jadi tidak ada alasan lagi ya kalian gagal bulan madu.”


Pada akhirnya, Queensha pun pasrah. Wanita itu tak lagi bisa berkutik saat ayah mertuanya ikut turun tangan memintanya pergi bulan madu segera. Dibanding anggota keluarga lain, Rayyan memang lebih banyak diam. Namun, saat lelaki itu sudah memberikan titah, nyaris mustahil untuk menolaknya. Hal itu pun rupanya berlaku pada Queensha.


“Tidak perlu sungkan, bantuan bunda tidak gratis kok. Ada imbalan yang harus kalian berikan nanti sepulang dari bulan madu sebagai gantinya," ujar Arumi yang berhasil membuat Queensha terkejut.


“Imbalan?”


“Iya,” sahut wanita paruh baya itu dengan senyum misterius. Menatap menantunya penuh maksud.


“Imbalan apa, Bun?”


“Bunda minta dibuatkan cucu kembar," sahut Arumi tanpa beban.


Sontak pasangan pengantin baru itu tersedak makanan yang baru saja melewati tenggorokan. Mata keduanya memerah menahan sakit akibat permintaan Arumi yang secara tiba-tiba.

__ADS_1


...***...


__ADS_2