Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Triplet


__ADS_3

Sambil menunggu namanya dipanggil, Queensha membaca lembaran brosur yang disediakan pihak rumah sakit. Dari banyaknya selembaran tersebut ada satu yang menarik perhatian wanita itu yaitu sebuah brosur tentang senam bagi ibu hamil. Lembaran tersebut berisikan informasi tentang definisi, manfaat serta kondisi yang memperbolehkan seseorang mengikuti kelas tersebut.


Seketika sepasang mata Queensha mengembun saat kepingan kejadian di masa lalu hadir dalam ingatannya. Bibir gemetar dan dada terasa sesak hingga tanpa sadar ia mengepalkan tangan lalu membawanya pada area dada. Ia merasakan rasa sakit yang teramat nyata setiap kali mengingat kejadian tersebut.


Gerakan itu tertangkap oleh ekor mata Ghani. Sontak ia menoleh ke samping dan memperhatikan perubahan air muka di paras jelita sang istri. Khawatir Queensha merasa tak nyaman berada di posisi duduknya yang sekarang, ia bertanya, "Sayang, kamu kenapa? Apa kakimu kesemutan? Apa bokongmu nyeri karena terlalu lama menunggu Dokter Elsa? Ah, ya. Ini pasti karena Dokter Elsa yang tak bisa on time datang ke sini. Awas saja, aku akan tegur dia dan memberinya SP karena datang terlambat."


"Sudah tau banyak pasien yang menunggu, dia malah tidak bergegas datang ke mari. Dokter macam apa itu yang tidak bisa datang tepat waktu," cerocos Ghani tanpa henti. Ia terlihat begitu kesal karena istrinya tercinta harus menunggu selama kurang lebih tiga puluh menit dari waktu janjian mereka.


Queensha menjadi panik kala orang sekitar mengalihkan perhatian mereka kepada dirinya dan Ghani. Suara pria itu cukup keras hingga sedikit mengganggu ketenangan orang lain.


"Hentikan, Mas! Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Dokter Elsa. Aku bisa maklum kenapa sampai detik ini beliau belum tiba di ruangan. Tindakan operasi besar membutuhkan waktu yang cukup lama jadi wajar kalau sekarang dia belum juga kembali. Sudah, jangan ngomel lagi, tidak enak dilihat orang lain." Queensha menyapukan pandangan ke sekitar menggunakan matanya yang sipit.


Mulut bungkam saat tersadar bahwa saat ini ia dan istrinya tercinta menjadi pusat perhatian semua orang. Menghela napas berat dan berkata, "Kalau bukan karena Dokter Elsa, lalu apa? Wajahmu tiba-tiba saja murung jadi kupikir kamu bosan karena terlalu lama menunggu."


Queensha membelai rahang suaminya. Masih dengan sisa kesedihan di sepasang mata indah nan jernih ia menjawab, "Aku sedih karena melihat brosur ini, Mas. Dulu saat mengandung Rora, aku ingin sekali mengikuti senam yang diadakan di rumah sakit tempatku melahirkan Rora. Namun, karena terkendala biaya membuatku mengurungkan niatan tersebut. Jangankan untuk bayaran, periksa kandungan saja mesti kerja banting tulang, jadi tukang bantu-bantu di rumah makan Padang. Kalau upahnya tidak cukup terpaksa bantuin Bu RT jahit pesanan seragam orang. Semua kulakukan asal bisa memeriksakan kondisi kesehatan bayi dalam kandunganku."


"Lalu saat aku melihat brosur ini teringat bagaimana perjuanganku dulu untuk bisa bertahan hidup di saat tak ada satu anggota keluargaku yang mau membantuku. Itu ... semua membuatku sedih, Mas." Queensha tertunduk seraya meremass lembaran brosur tersebut hingga lusuh. Susah payah menahan buliran kristal agar tak jatuh membasahi pipi. Begitu besar perjuangan dan pengorbanannya untuk bisa menghidupi Aurora, bayi yang tercipta dari sebuah kesalahan satu malam.


Hati Ghani serasa seperti disayat pisau, ikut membayangkan penderitaan istrinya. Andai saja ia tahu jika wanita yang telah diperkosannya berada di negara yang sama dengannya, ia tak akan pernah membiarkan wanita itu menderita.

__ADS_1


Ghani ulurkan tangan ke depan, menyentuh ujung dagu Queensha. Ditatapnya dengan tatapan syahdu. "Jangan lagi memikirkan tentang masa lalu, Sayang. Sekarang kamu sudah hidup bahagia, bertemu Rora dan menikahi pria kaya seperti aku. Kamu mau ikut senam hamil? Aku bisa mengabulkannya bahkan kalau perlu aku carikan instruktur profesional dan ruangan khusus untuk kamu gunakan berlatih nanti. Kamu tinggal bilang, mau apa, pasti kukabulkan."


Queensha tersenyum bahagia. Merasa beruntung memiliki suami seperti Ghani. Walaupun sikap pria itu dulu jutek, dingin, dan sangat menyebalkan, tetapi sekarang suaminya telah berubah. Menyayangi dan mencintainya dengan sepenuh hati.


"Aku cuma mau, kamu tetap setia kepadaku. Menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak-anak, apakah bisa?" tanya Queensha dengan mata berkaca-kaca. Terkadang ada kekhawatiran dalam diri jika Ghani berpaling darinya. Walaupun Ghani mengucap sejuta kata cinta setiap hari, tetap saja ia takut ada orang lain merebut pria itu dari sisinya. Entah karena pengaruh hormon atau rasa minder dalam diri membuat ia takut kehilangan Ghani untuk selamanya.


"Tentu saja bisa. Aku berjanji kepadamu, Sha."


***


"Selamat pagi, Dokter Ghani. Tumben sekali Anda datang ke ruangan ini. Ada apa?" Wanita paruh baya itu menyapa hormat salah satu putera dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


Ghani duduk di sebelah Queensha. "Kedatangan saya ke sini untuk menemani istri periksa kandungan, Dok. Kemarin sore istri saya melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan test pack dan hasilnya positif. Untuk mengetahui lebih lanjut kondisi calon anak dan ibunya, saya beserta istri datang ke sini."


"Sebelum akad nikah, Dok. Saat Mas Ghani menjamah saya, itu hari di mana saya mengalami ovulasi dan kemungkinan besar pembuahan terjadi tanpa pernah disadari oleh saya," sahut Queensha.


"Saya dan istri memprediksi usia kandungan memasuki minggu ke-8, tetapi saya tidak begitu yakin sebab selama mengandung Queensha tidak mengalami morning sickness yang biasa dialami ibu hamil pada umumnya," timpal Ghani menyampaikan informasi yang diketahuinya.


"Oh begitu. Memang gejala hamil muda pada setiap ibu hamil berbeda-beda. Ada yang mengalami morning sickness dan ada juga yang tidak. Namun, biasanya akan ada gejala lain yang dialami ibu hamil. Ehm, Bu Queensha sendiri adakah mengalami keluhan lain selain morning sickness?"

__ADS_1


"Hanya merasa cepat lelah, pusing, napsu makan bertambah, dan mood yang sering berubah-ubah, Dok. Saya pikir cuma masuk angin biasa karena saya memang punya riwayat maag."


Tampak dokter Elsa manggut-manggut. Jemari tangan mencatat semua informasi yang disampaikan Ghani dan Queensha pada buku catatan rekam medis. Tak ada satu pun informasi yang terlewatkan. Telinga, mata, dan jari saling bekerja sama satu sama lain.


"Baiklah, kalau begitu kita lakukan USG dulu. Sus, tolong dibantu!" ujar Dokter Elsa pada perawat wanita yang berjaga di ruangan tersebut.


Queensha mengangguk kemudian ia hendak berdiri seorang diri. Akan tetapi, Ghani dengan gerakan cepat membantu istrinya. "Be carefull, Sayang!" ucapnya penuh perhatian.


Dengan dibantu seorang perawat dan Ghani, Queensha berbaring di atas ranjang pasien. Perawat wanita dalam balutan seragam merah muda menutupi bagian perut sampai kaki menggunakan selimut. Kemudian perawat itu menyibak selimut dan pakaian yang membungkus tubuh sang pasien hingga sebatas dada.


Dokter Elsa dan perawat wanita terkesiap saat melihat tanda bekas luka operasi di bagian perut Queensha. Keduanya terdiam beberapa saat, saling melempar pandangan satu sama lain.


'Aneh, kenapa ada bekas luka operasi caesar? Bukannya Bu Queensha dan Dokter Ghani adalah pengantin baru. Apa mungkin Bu Queensha saat menikah dengan Dokter Ghani statusnya janda?' Dokter Elsa bermonolog. Kening mengerut dalam hingga memperlihatkan guratan halus di sana.


Ghani menatap tajam saat tanpa sengaja melihat ke mana arah tatapan rekan sejawatnya. Dengan suara dingin ia berkata, "Lakukan saja tugas Dokter Elsa dengan baik, jangan ikut campur urusan orang lain apalagi itu adalah urusan pasienmu sendiri!"


Queensha yang mengerti akan ucapan sang suami, hanya dapat menggenggam telapak tangan suaminya. Berharap emosi Ghani tidak meledak hanya karena persoalan sepele.


Tak mau bermasalah dengan atasannya yang berujung pada pemecatan secara tidak hormat, dokter Elsa segera mengoleskan gel pada perut Queensha lalu meletakkan alat bernama transducer dan menggesernya dengan sangat hati-hati. Baik Ghani dan Queensha turut memperhatikan layar USG di depan mereka.

__ADS_1


Jari tangan dokter Elsa terus bergerak ke atas dan bawah. Kemudian mengulum senyum tertahan saat melihat penampakan di depan sana. "Alhamdulillah, kondisi ibu dan janin dalam keadaan sehat. Dan ... saya ingin menyampaikan berita bahagia kalau saat ini Bu Queensha tengah mengandung janin kembar. Bukan hanya dua, tetapi juga ... kembar tiga."


...***...


__ADS_2