Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
"Mulai Detik Ini Kamu ...."


__ADS_3

Ghani berdiri menghadap jendela berukuran dua meter, memandangi hamparan cahaya lampu yang terlihat kecil di bawah sana. Sementara Queensha berdiri di belakang Ghani, menatap punggung suaminya dengan tatapan nanar.


"Kenapa bersikeras menemui Rora, sedangkan saya pernah memberimu peringatan untuk tidak berdekatan lagi dengannya? Apa kamu tuli hingga tak mendengar jelas apa yang saya ucapkan beberapa waktu lalu?" Ghani mulai berbicara.


"Saya mendengar jelas apa yang Pak Ghani katakan kepadaku. Hanya saja saya tidak bisa kalau harus menjauhi Rora. Saya menyayangi dan mencintainya dengan tulus, Pak." Meremas kedua telapak tangan guna mengurai kegugupan yang mendera wanita itu. "Apalagi tadi saya sempat mendengar suara jeritan berasal dari kamar Rora dan melihatnya ketakutan, hati ibu mana yang tega membiarkan anaknya menangis seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun."


"Saya memang bukan ibu yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia, tapi hati nuraniku sebagai manusia masih berfungsi dengan baik, Pak. Terlebih statusku sekarang adalah istri Anda, ibu sambung Rora. Jadi, mana mungkin membiarkan dia ketakutan sendirian di ruangan itu."


"Istri di atas kertas lebih tepatnya!" ucap Ghani tegas. "Ingat, pernikahan kita hanya kontrak dan kamu tidak punya hak seperti seorang istri pada umumnya. Camkan itu!"


Memejamkan mata sejenak seraya mengatur napas agar ia tegar menghadapi masalah rumah tangga yang tengah membelenggunya. "Saya tidak pernah lupa akan hal itu, Pak. Saya sadar betul dengan statusku di keluargamu. Saya ... hanyalah istri kontrak yang tidak mempunyai arti apa-apa di matamu," sahut Queensha dengan suara bergetar.


Menahan keruntuhan di dalam batin. Ya, walaupun pernikahan itu bukan dilandasi cinta, tapi jauh di lubuk hati yang terdalam ada asa terpendam. Berharap jika suatu hari nanti ia dapat mendampingi Ghani seumur hidup hingga mereka menua bersama. Namun, akankah angan dan impian itu terkabul jika Ghani saja tak pernah mencintainya?


Dada kembang kempis saat mendengar ucapan Queensha. Mengepal kedua tangan di samping tubuh hingga memperlihatkan buku-buku kuku putih. Entah mengapa hati pria itu sakit sekali seperti disayat silet yang tajam ketika Queensha mempertegas hubungan mereka.


Bukankah seharusnya Ghani bahagia sebab Queensha sadar betul akan posisinya di keluarga Wijaya Kusuma? Namun, kenapa ia seperti mendapati luka tusuk yang begitu mendalam hingga rasanya sukar disembuhkan.


"Baguslah kalau kamu sadar betul bagaimana statusmu di keluargaku. Jadi ke depannya, saya harap kamu tidak usah ikut campur dalam urusan Aurora. Biarkan saya menentukan sendiri apa yang terbaik baginya."


"Setelah Rora pulih dan kembali ke rumah, saya akan mencarikan baby sitter untuknya. Dengan begitu kamu tidak usah repot-repot mengurus dan menjaga Rora. Kamu bebas melakukan apa pun sesuai dengan keinginanmu. Mau pergi ke mana pun tanpa ingin diganggu siapa pun, saya tidak peduli. Ingin menghabiskan semua uang pemberian saya sebagai nafkah untukmu, silakan. Karena mulai detik ini kamu ... saya talak. Kamu bukan lagi istri saya, Queensha Azura Gunawan."

__ADS_1


Queensha terhentak akan perkataan yang baru saja ia dengar. "Bapak tidak bisa seenaknya saja memisahkan saya dengan Rora. Rora itu tidak terbiasa hidup tanpa saya, Pak. Dia sangat membutuhkan saya. Dia-"


"Cukup! Saya tidak mau mendengar apa pun lagi keluar dari bibirmu. Keputusan saya bulat, tidak bisa diganggu gugat." Ghani menjeda sejenak kalimatnya. Menarik napas panjang kemudian mengembuskan secara perlahan. "Namun, kamu tidak usah khawatir. Saya akan terus bertanggung jawab kepadamu sesuai kontrak perjanjian kita. Saya tetap memberimu nafkah setiap bulannya sesuai surat perjanjian kita."


Queensha mengatupkan kedua bibir. Dada wanita itu terasa sesak luar biasa. Mati-matian menahan air matanya agar tak tumpah.


Tersenyum getir mengingat takdir kembali mempermainkannya. Haknya sebagai seorang ibu telah direnggut kembali oleh pria yang sama. Pria yang beberapa bulan lalu memintanya untuk menjadi ibu bagi Aurora. Namun, pria itu pulalah yang telah merampas kembali haknya sebagai ibu dari gadis kecil penyuka boneka teddy bear.


"Terima kasih atas niat baik Bapak. Tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya. Lebih baik saya bekerja daripada berpangku tangan dengan mengharap belas kasih dari seseorang yang bukan lagi suami saya," ucap Queensha dengan bibir gemetar. Wanita itu langsung membalikan badan, meninggalkan tempat itu.


Derap langkah sepatu kets menggema di tengah kesunyian malam membuat Ghani begitu yakin bahwa saat ini Queensha telah pergi meninggalkannya. Ada rasa menyesal karena dengan mudah mengucap kata talak. Namun, mau bagaimana lagi ia sendiri tak bisa menerima keputusan Queensha yang terkesan gegabah dan nyaris mencelakakan putri tersayang.


"Maafkan saya, Sha. Tapi saya rasa inilah yang terbaik untuk kita. Saya tidak mau kehadiranmu di keluargaku justru membawa bencana besar terhadap Rora dan anggota keluargaku yang lain."


Keesokan harinya, tubuh Aurora kembali segar seperti sedia kala. Matanya yang kemarin sembab kini tak lagi terlihat. Gadis kecil itu sudah mau diajak bicara walau setiap kali bertemu wanita asing, tubuhnya bereaksi berlebihan.


"Saran saya, Rora harus menemui psikiater agar trauma yang diderita olehnya segera menghilang. Jika tidak ditangani dengan baik, saya khawatir akan berbahaya bagi masa depan putri Anda," ujar Dokter Hamdan yang bertanggung jawab menangani Aurora. "Kasihan, kalau sampai seumur hidup Rora mengalami trauma hingga membuatnya ketakutan setiap saat ketika bertemu wanita asing."


"Dokter Hamdan benar. Baiklah, kalau begitu saya akan membuat janji temu dengan Aunty Rini. Kebetulan sahabat dari Ibuku adalah seorang psikiater jadi beliau bisa membantu Rora terbebas dari rasa trauma yang tengah membelenggunya."


Dokter Hamdan menepuk pundak Ghani sambil berkata, "Saya doakan semoga Aurora lekas sembuh dan dapat ceria kembali seperti sedia kala. Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan, saya permisi dulu. Mari, Dokter Ghani."

__ADS_1


Setelah undur diri dari hadapan Ghani, dokter Hamdan yang tak lain merupakan dokter anak senior di rumah sakit milik mendiang neneknya, anak sulung dari empat bersaudara segera mengirim pesan kepada Rini dan membuat jadwal konsultasi, berharap Aurora dapat kembali tersenyum lagi seperti dulu.


Mata indah itu mengerjap lalu menyapu seisi ruangan. Sejak bangun tidur tadi ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. "Pa, Mama di mana? Kenapa Rora enggak lihat Mama sejak tadi? Rora kangen Mama," ucapnya polos. Ia belum mengetahui akibat penculikan kemarin siang menyebabkan rumah tangga sang papa dengan mantan baby sitter-nya kandas di tengah jalan.


Semalam, Ghani telah menjatuhkan talak kepada Queensha. Yang itu artinya, di antara mereka sudah tak terikat lagi hubungan suami istri. Itu semua Ghani lakukan demi menjauhkan Aurora dari bahaya yang bisa saja datang kembali menghampiri. Sebelum itu terjadi, dokter tampan berwajah oriental memutuskan menceraikan istrinya daripada harus mengorbankan putri kesayangannya.


"Ehm ... Mamamu ... d-dia ...." Ucapan Ghani menggantung di udara, tidak tahu harus menjawab apa sekarang. "Ah ya! Mamamu semalam pulang ke rumah. Mungkin sebentar lagi sampai."


"Lebih baik sekarang Rora bobok lagi. Nanti, kalau Mama ke sini, papa bangunin kamu." Ghani membenarkan selimut Aurora yang sedikit turun hingga sebatas dada. Mengusap puncak kepala lalu mencium kening si kecil untuk beberapa saat. "Tidurlah, papa akan menjagamu di sini."


Ketika Aurora hendak memejamkan mata, suara ketukan dari luar mengalihkan atensi keduanya. Kemudian mereka menoleh hampir bersamaan ke sumber suara.


"Papa, itu pasti Mama. Minta Mama masuk ke sini, Pa. Rora ingin ditemani Mama," rengek gadis kecil itu.


Menghela napas panjang dan berat. 'Dasar keras kepala. Tidakkah dia mengerti makna dari setiap perkataan yang kuucapkan semalam,' gerutu Ghani kesal.


Namun, meminta Queensha pergi rasanya mustahil. Akhirnya Ghani hanya bisa pasrah, menuruti permintaan Aurora.


Dengan suara lantang Ghani berseru, "Masuk!"


Dari jarak sekitar dua meter, mereka dapat melihat seseorang sedang membuka daun pintu. Lalu, tak berselang lama seorang wanita mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar. Dia tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.

__ADS_1


"Halo semua, apa kabar?" sapanya ramah.


...***...


__ADS_2