Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kejujuran Andri


__ADS_3

Sehari setelah kedatangan Ghani ke rumah sakit, Andri banyak mengalami perubahan dalam bersikap. Yang tadinya ceria, berubah murung. Yang tadinya banyak bicara jadi lebih pendiam dan itu membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya, apa yang membuat anak lelaki mereka berubah drastis hanya dalam satu hari saja. Bukan hanya itu saja, Andri pun terlihat seperti orang gelisah, mengamati keadaan sekitar seolah-olah dirinya tengah diawasi seseorang.


"Ndri, kamu kenapa? Mama perhatikan sejak kemarin pagi sikapmu berubah 180°. Apa ada yang sedang kamu pikirkan? Cerita sama mama, siapa tau mama bisa bantu." Bu Tania mengelus-elus kepala Andri yang masih diperban. Dia memperlakukan Andri layaknya anak kecil.


Andri menatap lurus ke depan dengan tatapan mata kosong. Masih belum berani menceritakan kejadian kemarin pagi pada mama dan papanya.


"Aku enggak apa-apa, cuma merasa lelah dan butuh istirahat. Mama, apa bisa tinggalin aku sendirian? Aku sedang tidak mau diganggu oleh siapa pun," pinta Andri tanpa menoleh ke arah Bu Tania, sontak membuat wanita paruh baya yang duduk di sampingnya membelalakkan kedua mata.


"Kenapa mama mesti pergi dari ruangan ini? Kalau kamu mau tidur, ya tidur saja, mama juga tidak akan mengganggumu istirahat." Bu Tania menolak keras permintaan sang putera. Bukan apa-apa, dia hanya tak mau meninggalkan Andri sendirian di saat anaknya itu sedang kesusahan. Bagaimana jika Andri membutuhkan sesuatu sementara tak ada seorang pun yang dapat membantunya.


Membuang napas kasar. Lelah sekali kalau harus berdebat dengan mamanya sebab Andri tahu jika bu Tania tak akan pernah bisa dikalahkan.


"Terserah. Mama mau tetap di sini silakan. Tapi ingat, jangan pernah menggangguku. Titik!" Lalu Andri memejamkan mata, berusaha mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang terasa lelah.


Sejak semalam Andri tak nyenyak tidur, selalu terbayang wajah bengis Ghani dan jarum suntik yang diletakkan di lehernya. Baru kali ini bertemu orang sinting yang rela melenyapkan nyawa seseorang menggunakan racun dosis tinggi demi membalas dendam orang tersayang.


Tepat pukul delapan pagi, waktunya dokter dan juga perawat berkeliling, memeriksa kondisi pasien serta memberi pengobatan lanjutan pada pasien demi kesembuhan mereka.


"Selamat pagi." Suara berat Dokter Haikal menginterupsi percakapan bu Tania dengan suami tercinta. Berhubung hari ini adalah hari Minggu sehingga pak Hardi dapat menemani istrinya di rumah sakit, menjaga anak lelaki mereka yang masih terbaring lemah.


"Selamat pagi, Dokter Haikal. Mari, silakan masuk." Bu Tania dan Pak Hardi menyambut hangat kedatangan Dokter Haikal, lelaki yang bertanggung jawab merawat putera mereka.


Setelah basa basi sebentar, dokter Haikal segera melaksanakan tugasnya dengan baik. Memeriksa kondisi Andri, menanyakan apa yang dirasakan pasien istimewanya itu sementara pemeriksaan tanda-tanda vital diserahkan sepenuhnya kepada perawat.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kondisi pasien sudah membaik dari sebelumnya. Tinggal menunggu hasil pemeriksaan MRI dan CT scan saja. Jika tidak ada masalah, pasien dapat meninggalkan rumah sakit dalam waktu dua sampai tiga hari ke depan."


"Obat-obatan yang kemarin, masih harus diminum dan akan ada tambahan obat suntik yang dicampur dengan cairan infus," tutur Dokter Haikal menjelaskan.


Bu Tania dan pak Hardi mendengarkan penjelasan dokter Haikal dengan seksama, tetapi tidak bagi Andri. Pria itu tengah termenung, memikirkan suatu hal yang mengganggu pikirannya.


Lamunannya terhenti ketika seorang perawat mengeluarkan jarum suntik dari baskom stainless steel berbentuk panjang, lalu membuka penutupnya dan menyentil-nyentilkan ujung jarum tersebut dengan tujuan mencegah agar tak ada gelembung udara masuk ketika pemberian obat dilakukan.


"Apa yang mau kamu lakukan kepadaku? Jauhkan jarum suntik itu dariku!" bentak Andri. Pria itu ketakutan setengah mati melihat benda kecil dengan bagian ujungnya lancip mengarah kepadanya.


Suara teriakan Andri sukses membuat orang tuanya berjalan mendekati brankar pasien.


"Ndri, ada apa? Kenapa berteriak-teriak seperti itu, Nak?" Bu Tania mencoba menenangkan anaknya yang terlihat ketakutan. Wajah pias dengan deru napas memburu cepat.


"Ngawur kamu! Mana ada orang yang mau membunuhmu. Yang ada, perawat itu mau menyuntikan obat lewat selang infus." Pak Hardi angkat bicara. Bagaimana bisa Andri berpikir jika petugas medis berseragam perawat hendak membuhun pasiennya. Ada-ada saja.


Tangan kanan yang tidak terkena jarum infus terangkat di udara. Dia menunjuk ke arah perawat wanita yang terpaku di tempat.


"Dia yang mau bunuh aku, Pa. Dia disuruh seseorang untuk melenyapkan nyawaku. Usir dia sebelum racun itu mengalir ke seluruh tubuhku!" ujar Andri gusar. Mengapa Pak Hardi tidak mempercayainya.


Merasa dirinya disudutkan, perawat wanita itu berkata, "Saya hanya menjalankan tugas yang diberi Dokter Haikal, Pak, tidak ada niatan untuk melenyapkan nyawa Anda. Dalam suntikan ini berisi obat dengan dosis sesuai anjuran dokter. Jika tidak percaya, Anda boleh memeriksanya sendiri." Perawat wanita itu menyodorkan satu ampul kosong berukuran kecil ke hadapan bu Tania dan pak Hardi.


"Bisa saja obatnya sudah ditukar duluan sebelum datang ke sini. Dia itu licik, Pa, Ma. Pokoknya Andri enggak mau tau, usir dia dari ruangan ini sekarang juga! Usir dia!"

__ADS_1


"Pak polisi, tolong! Usir perawat kadungan ini dari ruangan. Dia mau membunuhku!" teriak Andri kepada dua orang petugas kepolisian. Dua pria berbadan tegap masuk ke dalam ruangan setelah mendengar keributan dari kamar perawatan. Namun, dengan cepat pak Hardi men-handle masalah kecil yang terjadi di sana sehingga polisi itu kembali ke tempat semula.


Sementara itu, perawat berseragam putih bergegas merapikan semua alat dan memasukan suntikan berisi obat ke dalam baksom stainless steel kemudian pergi meninggalkan ruangan karena kehadirannya di sana justru menimbulkan masalah. Dia tidak mau kondisi Andri memburuk. Oleh sebab itu, memilih mengalah demi kebaikan bersama.


"Andri, sikapmu sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya menuduh orang yang bukan-bukan. Apa karena isi kepalamu ikut bergeser ketika dihantam benda keras saat perampokan terjadi? Iya?" kata Pak Hardi usai pintu ruangan tertutup rapat. Dadanya kembang kempis menahan amarah.


"Papa, jangan marahin Andri. Dia baru saja siuman, bagaimana kalau koma lagi? Mama tidak mau anak kesayanganku celaka karenamu," ujar Bu Tania, mencoba membela Andri.


Pak Hardi berdecak. Hatinya kesal karena bu Tania selalu saja membela sang putera.


Bu Tania tersenyum manis dengan tatapan penuh cinta pada anak lelakinya itu. Ya, dia begitu menyayangi Andri dengan segenap jiwa dan raganya.


"Sayang, kamu kenapa? Ayo, katakan dengan jujur apa yang membuatmu jadi begini. Apa kamu ada masalah yang tak bisa diceritakan pada kami berdua?" ujar Bu Tania sembari menepuk-nepuk pelan pundak anaknya, mencoba menenangkan jiwa yang gelisah.


Tidak tahan hidup dalam bayang-bayang Ghani, akhirnya Andri memilih untuk berbagi masalah dengan sang mama. Ini merupakan kesempatan bagus untuk berbicara sejujurnya pada bu Tania dan pak Hardi. Siapa tahu dengan begitu, ketakutan dalam dirinya berkurang.


Andri menatap satu per satu wajah papa dan mamanya. Lalu menarik napas panjang dan dalam.


"Ma, Pa, maafin aku. Aku bersalah pada kalian semua. Selama ini aku udah banyak bohongi Mama dan Papa." Andri mulai bercerita. "Dan dalam kasus ini, aku memang bersalah. Aku sengaja mendorong korban sampai tersungkur ke tanah karena dia berusaha untuk menghalangiku membawa pergi mantan kekasihku."


"Saat itu, aku sudah diselimuti kabut gairah sampai tak bisa berpikir jernih. Aku singkirkan penghalang di depanku demi terwujudnya keinginanku. Keinginan untuk merenggut kesucian seorang wanita yang pernah berstatuskan sebagai kekasihku."


...***...

__ADS_1


__ADS_2