Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Rumah Sakit


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, dua orang perawat segera membawa brankar dan meletakkan tubuh mungil Aurora di atasnya. Mereka membawa si kecil menuju ruang IGD untuk memberi pertolongan pertama pada pasien. Sementara Queensha berlari di sisi brankar dengan sebelah tangan menggenggam erat jemari mungil milik anak tercinta.


"Rora, mama mohon bertahanlah, Nak. Jangan tinggalin mama sendirian. Masih banyak waktu yang ingin mama habiskan bersama kamu. Jadi please, bertanah ya, Sayang?" ucap Queensha. Hati terasa sakit, Aurora tak memberi respon apa pun sejak dilarikan ke rumah sakit. Tubuh ringkih itu terbaring tak sadarkan diri di atas pembaringan.


"Maaf, Bu, sebaiknya tunggu saja di luar. Serahkan semuanya kepada kami." Salah seorang perawat wanita menahan Queensha saat wanita itu mencoba menerobos masuk ke dalam ruang tindakan.


Diliputi rasa bersalah karena membiarkan Aurora menunggu terlalu lama di sekolah, Queensha ingin tetap berada di sebelah sang putri.


"Tapi saya ibunya, Sus. Bagaimana kalau dia sadar dan mencari saya? Apa yang akan kalian katakan kepadanya?" bentak Queensha. Perempuan itu seperti kehilangan akal karena memikirkan nasib malang yang menimpa anak sambungnya itu.


Suara lengkingan menggema ke penjuru lorong rumah sakit, membuat orang yang sedang lalu lalang menoleh ke arah Queensha. Mereka memandangi wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tolong jangan persulit kinerja kami, Bu. Kasihan pasien jika Ibu membuat keributan di sini. Dokter dan rekan kerja saya bisa menjadi tidak konsen mendengar suara Ibu. Saran saya, sebaiknya Ibu menunggu sambil mendo'akan pasien." Tanpa memberi kesempatan kepada Queensha untuk berbicara, perawat wanita berseragam putih segera menutup daun pintu dan mulai menjalankan tugasnya bersama tenaga medis yang lain.


Tubuh Queensha melorot di kursi yang berada di depan ruang tindakan. Pandangan mata wanita itu menatap kosong pada ruang tindakan yang tertutup rapat. Kepingan kejadian beberapa saat lalu kembali terlintas di benak wanita itu.


"Mama Mia, aku bersumpah akan membuat perhitungan kepadamu kalau sampai terjadi apa-apa menimpa putriku. Tak peduli dengan statusku yang merupakan menantu keluarga Wijaya Kusuma, aku tetap membalaskan perbuatanmu terhadap Aurora." Queensha mengepalkan kedua tangan, berjanji pada dirinya sendiri akan membalas apa yang pernah Mia ataupun Lita lakukan kepada anak tercinta.


Membayangkan senyuman mengejek Mia, emosi dalam diri Queensha semakin meledak. Dada wanita itu terengah hebat. Dia masih ingat betul bagaimana ekspresi wajah duo iblis wanita yang selalu mengganggu hidupnya sejak masih remaja dulu.

__ADS_1


"Rora, sayang. Maafin mama, Nak. Mama enggak becus menjaga kamu, Sayang. Maafin ... mama, Sayang."


Banyak do'a yang Queensha panjatkan kepada Sang Maha Esa, memohon agar Dia menyelamatkan nyawa Aurora. Sesekali meremas telapak tangan karena merasa gugup menghadapi situasi genting seperti sekarang ini.


'Ya Tuhanku, tolong selamatkan anakku,' pinta Queensha dalam hati.


Tak berselang lama, pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter pria berusia sekitar 30 tahuan keluar dengan memakai masker yang menutupi bagian wajah dan hidungnya. Pria itu melepaskan masker kala Queensha menghampirinya.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Queensha dengan bibir gemetar. Mata wanita itu pun sembab karena sejak tadi tak henti-hentinya meneteskan air mata.


Dokter pria bernama Chen mengerutkan kening hingga menimbulkan guratan halus di sana. "Tunggu. Tadi Nona bilang kalau Aurora adalah putri Anda. Berarti Nona ini adalah istri Dokter Ghani. Iya? Setahu saya, Dokter Ghani belum menikah lalu kenapa Nona menyebut jika diri Anda adalah Ibu dari pasien."


Rasanya bumi tempat Queensha berpijak tak lagi berputar. Bola mata wanita itu melotot saat menyadari bahwa saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit tempat suami, adik ipar serta kedua mertuanya bekerja.


Kalau sampai isu ini tersebar di rumah sakit maka hubungannya dengan Ghani semakin memanas. Belum lagi soal uang 100 juta yang raib dalam waktu satu hari, bisa-bisa rumah tangga mereka menemui badai besar yang bisa saja karam di tengah jalan. Meskipun sejak awal pernikahan itu hanya kontrak, tetapi dia tidak mau perjanjian itu usai sebelum waktu yang ditentukan.


Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Queensha. Detak jantung wanita itu memompa lebih kencang dari biasanya.


"Ehm ... a-anu ... s-saya ... cuma pengasuh Aurora saja kok, Dokter. Namun, saya sudah menganggapnya seperti anak sendiri," sangkal Queensha dengan suara tergagap. Mana mungkin dia mempunyai keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya di depan rekan sejawat Ghani. Akan terlihat memalukan bila dirinya mengakui bahwa calon direktur rumah sakit ini adalah pria yang telah menghalalkannya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Tampak Chen manggut-manggut mendengar jawaban Queensha. "Ooh begitu. Saya pikir Nona betulan istrinya Dokter Ghani." Tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipi di sudut bibir. "Kondisi Aurora saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tampaknya dia mengalami trauma berat hingga sering mengingau memanggil nama Dokter Ghani."


"Demam yang dialami Aurora sudah mulai turun. Saya sarankan untuk sementara waktu pasien dirawat inap dulu di sini sampai kondisinya stabil."


Queensha bernapas lega. Meskipun masih tersisa rasa khawatir mengingat Mia telah menyekap Aurora dan membawa si kecil ke gudang terbengkalai, tapi setidaknya sedikit beban dalam diri wanita itu terangkat.


"Terima kasih banyak Dok, telah menolong Aurora. Saya berhutang budi kepada Anda," ucap Queensha sambil memaksakan diri tersenyum di depan Dokter Chen.


Chen menepuk pundak Queensha pelan dan berkata, "Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang dokter. Sebentar lagi perawat akan memindahkan Aurora ke ruang perawatan VVIP khusus anak. Apabila Dokter Ghani menanyakan kondisi putrinya, minta dia menemui saya. Saya akan menjelaskan secara detail kepada atasanmu."


Setelah berpamitan, dokter Chen undur diri dari hadapan Queensha. Pria itu melanjutkan pekerjaannya, memeriksa pasien lain yang membutuhkan pertolongan segera. Sementara Queensha berjalan mendekati meja kasir untuk melakukan pendaftaran.


Walaupun Aurora adalah cucu dari pemilik rumah sakit ini, tetapi Queensha harus mengikuti prosedur yang berlaku di rumah sakit tersebut. Melakukan pendaftaran dan membayar deposit perawatan bagi pasien.


"Ini, Sus." Queensha menyerahkan formulir yang telah diisi kepada petugas yang bekerja di balik meja.


Petugas wanita dalam balutan kemeja batik segera menginput data pasien. Tatapan mata wanita itu menatap fokus pada layar monitor di depannya. Jemari lentik menari indah di atas keyboard.


Queensha dengan setia menunggu sambil duduk di kursi yang sudah disediakan. Terlalu fokus menatap ke depan, membuat wanita itu tidak sadar bahwa ada seseorang yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Tangan itu menepuk pundak Queensha. Dengan suara berat pria itu berkata, "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya penuh selidik.


...***...


__ADS_2