
Sepanjang jalan menuju toilet yang ada di dekat ballroom hotel, Queensha merasa tidak tenang. Ia gelisah seolah-olah ada seseorang tengah mengawasinya dari kejauhan.
'Kenapa aku seperti sedang diawasi seseorang. Apa ini cuma perasaanku saja?' batin Queensha. Ia menyempatkan diri mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati keadaan sekitar dengan seksama.
'Tuhan, lindungilah aku. Jangan sampai momen sakral ini berantakan karena ada orang yang berniat jahat kepadaku.' Dengan penuh kesungguhan Queensha memohon kepada Tuhan untuk kesalamatannya.
Masuk ke dalam toilet, perasaan Queensha semakin tidak tenang. Pandangan mata wanita itu jadi tidak fokus pada satu titik, matanya yang sipit bergerak ke sana kemari seakan tengah mengawasi keadaan sekitarnya. Apalagi saat kakinya yang jenjang dibungkus sepatu heels setinggi 5 centimeter menginjak lantai toilet, tanpa sengaja ia menabrak wanita aneh berpakaian serba hitam yang saat itu kebetulan hendak masuk ke toilet.
"Maaf, tidak sengaja," kata wanita asing itu, kemudian ia berjalan melewati Queensha yang masih membeku di tempat.
Naomi serta kedua asistennya refleks menahan tubuh Queensha agar tidak terhuyung ke belakang. "Bu Queensha baik-baik saja?" tanya Naomi, memastikan kliennya itu tidak terluka sedikit pun.
Queensha mengangguk cepat. "Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mencemaskanku."
Langkah kaki Queensha terhenti sebentar. Ia membalikkan badan menghadap Naomi serta kedua wanita berseragam rapi. "Aku akan masuk sekarang. Kalian bertiga tunggu saja di sini sampai aku menuntaskan hajatku."
Ketiganya mengangguk patuh. Lalu mereka berjalan sedikit menjauhi pintu masuk toilet khusus wanita, meninggalkan Queensha yang melangkah seorang diri masuk ke dalam toilet.
Cukup lama berada di bilik terbuat dari PVC, Queensha keluar lalu melangkah menuju westafel yang berada tak jauh dari posisinya saat ini. Ia cukup terkejut kala mendapati wanita asing yang sempat menabraknya beberapa waktu lalu masih berada di tempat yang sama dengannya. Akan tetapi, ia berusaha bersikap tenang walau jantungnya berdegup tak beraturan.
'Orang ini mencurigakan sekali. Melihat gerak geriknya, aku curiga kalau dia punya jahat kepadaku. Sebaiknya aku waspada, jangan sampai kelengakahnku dimanfaatkan olehnya.' Queensha bermonolog, menguatkan diri untuk tetap terlihat tegar meski ada bahaya mengancam di dekatnya.
Queensha mencuci tangannya menggunakan sabun, lalu membasuhnya di bawah guyuran air keran. Setiap gerak gerik wanita itu tak lepas dari wanita asing berpakaian serba hitam.
Tangan wanita itu mengeluarkan sebuah benda dari saku celana. Sebuah benda berbentuk kotak persegi, di bagian ujung terdapat antena kecil yang berfungsi memperkuat sinyal pengiriman dan penerimaan cahaya agar dapat berbicara dengan jelas dan cepat.
"Sekarang!" ucap wanita asing itu lirih. Ia memanfaatkan suara bising hand dryer untuk berkomunikasi dengan atasannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan tiga sosok pria bertubuh tinggi dan berperawakan kekar dengan mata memancarkan kilat kebejatan hadir di sana. Mereka menyeringai menatap ke arah Queensha.
Akibat bunyi benturan daun pintu beradu dengan dinding toilet yang sangat kencang membuat Queensha terlonjak dibuatnya. Sepasang matanya yang sipit membulat sempurna saat melihat ada tiga pria asing tersenyum penuh arti ke arahnya.
"Kalian siapa? Mau apa di sini? Ini toilet khusus perempuan, laki-laki tidak diperbolehkan masuk ke sini!" seru Queensha dengan nada tinggi. Ia terlihat panik karena dikepung tiga orang pria asing plus wanita misterius yang sedari tadi mengawasinya.
Salah satu dari pria berpakaian hitam menaikkan sudut bibirnya naik ke atas. "Kamu tidak perlu tahu siapa kami. Kamu hanya perlu menuruti apa yang kami perintahkan kalau tidak mau nyawamu melayang."
"Itu benar. Kami tidak akan melukaimu seujung kuku pun asalkan kamu dapat bekerjasama." Pria dengan luka bakar di wajah melangkah sambil menyeringai. Ketukan sepatu hitam menggema di tengah suasana hening nan sepi. Di dalam toilet tersebut hanya ada Queensha dan wanita asing itu sehingga mereka leluasa melakukan apa pun kepada calon istri Ghani.
Napas Queensha terengah hebat. Masih tidak percaya di hari pernikahannya ia justru dikepung seseorang yang tak dikenalnya. Entah apa motif mereka, tetapi ia yakin keempat orang itu mempunyai niat jahat kepadanya.
"Jangan berani mendekatiku, jika tidak mau aku berteriak! Aku yakin orang di luaran sana pasti berhamburan ke sini setelah mendengar suara teriakanku!" seru Queensha sedikit mengancam. Andai saja saat ini ia tak mengenakan kebaya pengantin, mungkin sejak tadi sudah berlari dari tempat menakutkan ini dan meminta tolong kepada orang-orang di luar sana.
Akan tetapi, seruan bernada ancaman tak menghalangi niatan keempat orang jahat itu. Pria dengan luka bakar di wajah terus melangkah mendekati Queensha.
Namun, bukan Queensha namanya jika ia menyerah begitu saja. Pengalaman pahit di masa lalu membuat wanita itu tak mau menyerah begitu saja. Ia meraih vas bunga yang ada di pinggiran westafel lalu melemparkan benda terbuat dari kaca ke arah pria menyeramkan itu.
"Jangan macam-macam kepadaku! Aku akan meminta Mas Ghani untuk membun*hmu kalau sampai kamu berani mendekat! Calon suamiku itu tidak akan membiarkanmu hidup setelah tanganmu yang kotor itu menyentuh tubuhku!" Queensha berteriak dan menatap ganas pada sosok pria asing. Wajahnya memucat, terlihat jelas betapa ketakutannya ia sekarang.
"Apa yang bisa pria pincang itu lakukan, hem? Jangankan menangkapku, berlari ke sini untuk menolongmu saja tidak mampu. Lalu kamu berharap banyak dia dapat membunuhku? Jangan mimpi, Nona Manis karena sebelum dia membun*hku, Bos kami telah lebih dulu melenyapkan nyawa kamu!"
Queensha terhenyak. Tubuh semakin membeku saat mendengar sebuah kenyataan yang baru saja ia dengar. "Bos? Jadi, kalian diperintahkan seseorang untuk menangkapku, iya?"
Pria berwajah menyeramkan itu tertawa, begitu pun dengan ketiga teman-temannya yang lain.
"Cantik-cantik, kok, bodoh! Memangnya kamu pikir kami menangkapmu secara cuma-cuma?" Wanita berpakaian serba hitam berkata lantang. Tubuhnya masih bergerak turun dan naik. Perut terasa geli seakan tengah digelitik seseorang.
__ADS_1
"Bos, sebaiknya kita tangkap saja dia sekarang. Telingaku sudah panas mendengar ocahannya yang memekikan gendang telingaku ini." Pria bertato kalajengking di punggung tangan ikut menimpali. Ia sudah tak sabar ingin segera mencicipi tubuh molek itu sebelum Queensha dibun*h.
Pimpinan komplotan itu mengedipkan mata. Tangannya bergerak ke udara, memberi kode kepada kedua anak buahnya untuk menangkap Queensha.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!"
Queensha memberontak saat kedua pria jahat itu menyeretnya dari sisi kanan dan kiri. Menghentakkan kaki di atas lantai, menggerakan tubuh sekuat tenaga dengan harapan dapat terlepas dari jeratan mereka.
"Berisik!" Pimpinan komplotan menampar wajah Queensha dengan kencang. Saking kencangnya hingga menyisakan bekas tamparan di wajah mulus, putih bersih milik calon mempelai wanita.
"Kalian pasti mendapat balasan setelah ini, terutama kamu. Aku bersumpah akan meminta Mas Ghani untuk memerintahkan Yogi mematahkan tanganku karena telah berani menampar wajahku. Kamu adalah orang pertama yang akan celaka!" desis Queensha merasakan sakit akibat tamparan tersebut. Rasa kebas ia rasakan di area sekitar wajah.
"Banyak bacot! Buruan, kita bawa dia pergi dari sini sebelum ketiga wanita sialan itu bangun dari pingsannya dan melaporkan kejadian ini kepada orang lain."
Queensha dibawa pergi dengan suara teriakan nyaring, tetapi tak ada satu pun yang mendengarnya karena pintu belakang hotel sangat jarang dilalui siapa pun sehingga suara wanita itu bak desau angin di musim gugur.
Melewati pintu gedung, pimpinan komplotan memastikan tak ada orang yang mengikuti. Ia serta ketiga anak buahnya harus berjalan beberapa langkah ke depan untuk membawa tubuh Queensha ke dalam mobil yang parkir tak jauh dari posisi mereka saat ini.
Hanya tersisa beberapa langkah lagi mereka mencapai pintu belakang gedung, sekelompok orang membawa tongkat baseball di tangan bermunculan satu per satu dari belakang tembok dinding.
Ekspresi wajah mereka menegang ketika melihat pemimpin gerombolan itu muncul dan berdiri di tengah kesepuluh anak buahnya. Wajah pria berjaket kulit warna hitam sangat datar, tetapi memancarkan aura menyeramkan membuat bulu kudu musuh merinding seketika.
"Sial! Kenapa dia ada di sini? Bisa tamat riwayatku kalau sampai berada di tangannya!" gumam pimpinan komplotan.
"Cari jalan lain. Jangan sampai kita tertangkap oleh mereka!" perintah pria berwajah menyeramkan kepada anak buahnya.
Mereka mengangguk patuh kemudian berbalik berniat untuk mencari jalan lain agar dapat meloloskan diri dari kepungan Yogi dan anak buahnya. Namun, gerakan mereka terhenti ketika melihat tiga sosok pria bertubuh jangkung dan dua di antaranya berwajah kembar tak identik.
__ADS_1
"Kalian lihat bukan, calon suamiku datang menyelamatkanku. Bersiaplah menemui ajal karena kalian berani menculikku di hari pernikahanku," kata Queensha dengan sorot mata tajam.
...***...