Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Impian Ayu


__ADS_3

Resepsi pernikahan digelar secara meriah di sebuah ballroom hotel bintang lima di kawasan Tangerang. Mengusung konsep garden party, pesta tersebut dihadiri oleh ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan atas, menengah, dan ke bawah, turut hadir memberi doa restu kepada mempelai yang tengah berbahagia. Dua di antaranya adalah Ayu dan Imran, orang tua Leon.


Pasangan paruh baya yang rambutnya mulai memutih berdiri di antara banyaknya tamu undangan yang tengah mengantri menunggu giliran untuk bisa menyalami pengantin baru yang sedang diliputi kebahagiaan. Ayu dan Imran sesekali berbisik lalu mengarahkan pandangan mereka pada pasangan penganti baru di depan sana.


"Natasha cantik banget, ya, Pa. Mama masih belum percaya kalau anak kerabatmu itu akhirnya melepas masa lajang di usianya yang baru menginjak 23 tahun. Perasaan baru kemarin mama menggendongnya, eh sekarang dia sudah menikah. Waktu benar-benar berputar begitu cepat, ya, Pa?" ujar Ayu kepada suaminya. Ia memandangi Natasha, mempelai wanita yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna biru langit. Meski dipoles make up natural, wajah Natasha memancarkan aura kecantikan yang luar biasa.


Imran mengangguk setuju. "Benar, Ma. Itu artinya kita semakin tua dan mungkin sebentar lagi menghadap Sang Maha Pencipta."


Membahas soal kembali kepada Sang Pencipta, Ayu jadi teringat anak bungsunya yang masih melajang sampai detik ini. Bagaimana seandainya jika malaikat maut mencabut nyawanya sebelum melihat Leon menikah dengan seorang gadis baik berhati malaikat? Pasti akan membuatnya mati penasaran, bukan?


Helaan napas berat lolos dari bibir Ayu. "Namun, sebelum kita kembali kepada Sang Pencipta, aku ingin melihat Leon menikah terlebih dulu, Pa. Aku tidak ikhlas meninggalkan dunia ini jika anak bungsu kita masih betah hidup melajang."


Imran yang mengerti akan kegundahan hati Ayu merangkul pundak sang istri hingga tak ada jarak memisahkan mereka berdua. "Jangan bicara omong kosong, Ma! Papa tidak menyukainya," tegur pria itu. "Soal Leon, jangan terlalu dipikir. Papa yakin secepatnya dia akan dipertemukan dengan seseorang yang bisa menerimanya apa adanya. Sekarang yang dapat kita lakukan hanyalah berdoa, memohon kepada Tuhan agar Leon didekatkan dengan jodohnya."


"Sebaiknya kamu perbanyak doa, semoga dari sekian banyaknya doa yang dipanjatkan ada satu yang dikabulkan. Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan mengabulkannya, bukan? Jadi, selagi masih ada kesempatan, bantulah putera kita agar dia lekas dipertemukan dengan jodohnya."


Ayu terdiam saat kalimat suaminya mulai menelusup ke relung hati yang terdalam. Selama ini ia memang berdoa, tetapi tidak dibarengi dengan amalan lain sehingga mungkin itulah penyebabnya mengapa sampai sekarang doanya belum juga terkabul.


"Baiklah, Pa. Mama akan lebih giat berdoa demi anak bungsu kita," ujar Ayu pasrah. Berharap semoga doanya kali ini dapat didengar oleh Sang Maha Kuasa.

__ADS_1


Sementara itu, orang yang tengah diperbincangkan baru saja melangkah keluar dari ruang operasi. Masih mengenakan scrub suits atau biasa disebut seragam scrub, Leon mengayunkan kakinya yang dibungkus sandal menuju tempat sampah. Ia melepas masker lalu membuangnya ke tempat seharusnya kemudian mencuci tangan di bawah air mengalir menggunakan sabun antiseptik.


Di tengah kegiatannya mencuci tangan, hidung pria itu terasa gatal dan tak lama kemudian terdengar suara bersin bersumber dari dokter tampan itu. "Aargh, sial. Kenapa tiba-tiba gue bersin, sih? Apa mungkin karena musim pancaroba, gue jadi terserang flu? Gue mesti minum vitamin yang banyak, nih, biar enggak drop. Bisa bahaya kalau sampai jatuh sakit."


Usai membilas tangan, Leon memutuskan kembali ke ruang kepala bangsal. Namun, sebelum itu ia melepaskan seragam scrub dan penutup kepalanya ke tempat semestinya.


Jemari tangan Leon sibuk mentransfer data ke sebuah flash disk kecil yang hendak ia berikan kepada Ghani. "Gue enggak nyangka kalau Ghani bakalan kasih izin istrinya untuk lanjutin kuliah. Padahal setau gue, Ghani tuh kepingin banget punya istri yang bisa fokus ngurusi dia dan anak-anaknya. Ternyata cinta bisa membuat seseorang jadi lupa diri," gumamnya lirih. "Tapi enggak apa-apa, deh, gue malah seneng kalau Ghani bucin sama Queensha. Itu artinya rumah tangga sahabat gue bakal langgeng sampai kapan pun. Enggak akan hancur karena kehadiran orang ketiga."


Leon bangkit berdiri dari kursi kebanggannya. Tangan yang tadi ia gunakan untuk mengoperasi pasien mencabut benda kecil yang pasang di monitor kerja miliknya. "Udah jam sembilan malem, sebaiknya gue pulang ke rumah. Nyokap bakal ceramah kalau tau gue nginep lagi di rumah sakit."


Tanpa membuang waktu, Leon bergegas melepas jas dokter lalu menggantungnya di loker. Menggenakan tas punggung serta memgambil kunci mobil yang disimpan dalam laci meja kerja.


Dalam keheningan malam Leon berjalan seorang diri, menyusuri lorong rumah sakit yang tampak terlihat sepi. Suara ketukan sepatu dan semilir angin di malam hari menjadi teman setia pria itu.


Suasana jalanan yang tampak lenggang membuat Leon dapat dengan cepat tiba di rumah orang tuanya. Jika biasanya membutuhkan waktu sekitar satu jam berkendara, malam ini hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja untuk dapat sampai di kediaman papa dan mamanya.


Memutar handle pintu lalu mendorongnya sampai terbuka lebar. Keadaan rumah terlihat sepi dan gelap. Leon yakin kalau mama dan papanya masih berada di resepsi pernikahan salah satu kerabat jauhnya yang tinggal di Tangerang.


"Akhirnya gue sampai rumah dengan selamat," ujar Leon seraya meletakkan tas ransel di sofa.

__ADS_1


Tubuh terasa letih karena seharian bekerja membuat Leon akhirnya ikut duduk di sofa, di sebelah tas ransel miliknya. Ia memijat kakinya yang terasa pegal karena berjam-jam lamanya berdiri di samping meja operasi.


"Makanya cepat menikah agar ada seseorang yang mengurusmu. Memangnya tidak bosan setiap kali tubuhmu terasa capek, kamu sendiri yang memijatnya?"


Suara lembut wanita di ambang pintu sukses membuat Leon tersentak dari tempat duduknya. Refleks menoleh ke sumber suara dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati tatapan mata tajam menghujam tepat ke jantung.


Kening Leon mengernyit petanda bingung. Dalam hati berkata, 'Kenapa sikap Mama tampak berbeda dibanding sebelumnya? Seingat gue, sebelum Mama dan Papa pergi ke kondangan, tatapan mata Mama terlihat lebih bersahabat, tetapi mengapa sekarang terlihat berbeda. Apa mungkin terjadi sesuatu saat nyokap dan bokap menghadiri resepsi pernikahan Natasha?' tanyanya dalam hati.


Tak mau terus menduga-duga, Leon memberanikan diri bertanya kepada mamanya. "Mama kenapa? Apa ada seseorang yang menyinggung perasaan Mama? Katakan sama aku, biar aku labrak dia."


"Iya, emang ada." Ayu menghempaskan bokongnya di sofa ruang tamu.


"Siapa?" tanya Leon penasaran.


"Kamu. Kamu yang sudah membuat mama kesal, Yon!" sahut Ayu dengan nada ketus.


Mata Leon terbelalak mendengar jawaban sang mama. "Aku? Emangnya aku salah apa, Ma?"


"Salah kamu adalah ...."

__ADS_1


...***...



__ADS_2