Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Target Kedua dan Ketiga


__ADS_3

Mendengar suara bising dan teriakan seseorang memanggil namanya, Sarman yang saat itu sedang berada di kamar bergegas keluar. Mengenakan jaket dan celana training, ia berjalan keluar dan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Mia, ada apa? Kenapa pagi-pagi begini kamu berteriak seperti orang kesurupan?" ujar Sarman. Belum tahu jika sang istri yang telah memberinya satu orang putri telah disandera anak buah Ghani.


Langkah kaki Sarman terhenti, melihat pintu rumah terbuka lebar, tetapi tidak menemukan Mia di mana pun. Perasaan pria itu jadi tidak tenang dan entah mengapa merasa seperti mendapat firasat buruk tengah mengintai mereka.


"Mia? Kamu di mana?" Sarman mengayunkan kaki, berjalan cepat sambil mencari istrinya ke sana kemari. Di kamar tamu, ruang tamu dan teras rumah. Pun begitu di pelataran rumah, sosok Mia tak jua ditemukan.


"Sial! Ke mana perginya Mia? Jangan-jangan ada orang jahat berniat menculik istriku!" Tanpa pikir panjang Sarman berlari masuk ke dalam rumah. Baru saja sandalnya menginjak lantai ruang tamu, ia dikejutkan akan kehadiran sosok pria asing berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala yang hanya memperlihatkan bola mata dan bibirnya saja.


"Siapa kamu? Mau apa di rumahku?" sentak Sarman. Tidak terlihat sedikit pun ketakutan dari pancaran matanya. Tentu saja ia tidak takut kepada dua orang asing yang sempat bersembunyi di balik pintu rumah sebab ayah kandung Lita merupakan pimpinan geng Codet yang sering melakukan tindakan kriminal. Jadi, sudah banyak bertemu banyak orang yang mempunyai pekerjaan sama dengannya.


Salah satu dari anak buah Yogi menyahut, "Kamu tidak perlu tahu siapa kami. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, tujuan kami ke sini untuk membawamu menemui Big Boss. Sebelum aku dan temanku menyeretmu dengan kasar, sebaiknya kamu menyerah dan menuruti semua perintahku. Aku berjanji tidak akan melukaimu."


Sarman meludah di hadapan anak buah Yogi. "Cuih, jangan mimpi! Sampai kapan pun, aku tidak mungkin menyerah begitu saja." Lantas pria itu memasang kuda-kuda, bersiap melakukan perlawanan.


"Bodoh! Diberi keringanan malah pilih yang sulit. Jadi, jangan salahkan kami jika melakukan kekerasan kepadamu." Pria berpakaian serba hitam menoleh ke sebelah, memberi kode yang hanya dimengerti oleh keduanya.


Lalu, kedua anak buah Yogi berdiri tegap dengan satu tangan terangkat ke udara, sedangkan tangan yang lainnya bergerak perlahan memberi isyarat kepada Sarman untuk memulai pertandingan. "Maju, kalau kamu berani!" tantang pria itu.


Merasa dirinya diremehkan, Sarman maju terlebih dulu. Sebagai seseorang yang ditakuti lawan, martabatnya serasa terkoyak karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang berani menantangnya.


"Hiyak!" teriak Sarman. Kakinya terayun mendekati dua anak buah Yogi.

__ADS_1


Kedua pria berpakaian serba hitam masih berdiri tegap. Di balik penutup wajah yang dikenakan, keduanya menyeringai puas karena berhasil memancing kemarahan Sarman. Mereka sengaja ingin bermain sebentar dengan Sarman sebelum akhirnya menyeret pria jahat itu dengan posisi tertelungkup di atas tanah dan membawanya ke tempat rahasia yang hanya diketahui Ghani, Yogi beserta teman-teman yang lain.


Ketika Sarman sudah berada di depan kedua anak buah Yogi, ayah kandung Lita mengarahkan kepalan tangan ke wajah salah satu dari mereka. Namun, dengan sigap pria yang diketahui bernama Ahmad segera menundukan kepala, menghindari pukulan yang dilayangkan ke arahnya.


"Berengsek! Rasakan ini!" Untuk kedua kali, Sarman melakukan penyerangan. Ia arahkan kepalan tangannya kepada Roni, anak buah Yogi yang lain.


Roni yang sedari tadi memperhatikan pergerakan Sarman mengetahui di mana celah di mana ia harus menyerang. Berpikir jika seseorang sudah dikuasai amarah maka pikirannya kosong, tak dapat berpikir jernih. Oleh karena itu, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk memenangkan permainan.


Menundukan kepala, menghindar pukulan Sarman. Ia tarik tangan kanan ke belakang, kemudian mengarahkan ke depan dan memukul bagian perut lawannya dengan sangat kencang.


"Akkh!" raung Sarman. Tubuh pria itu tersungkur ke tanah. Mendapat hantaman keras di bagian perut membuat pria itu kehilangan keseimbangan. Tangan pria itu menyentuh bagian perut bagian ulu hatinya yang terasa nyeri.


Ahmad dan Roni tersenyum bangga karena berhasil melumpuhkan Sarman. Namun, mereka belum merasa puas sebelum menjalankan tugas dari Ghani dengan baik.


Wajah memerah, rahang mengeras disertai dada bergerak turun dan naik. Napas Sarman tak beraturan, semakin jengkel karena ia berhasil dikalahkan dengan mudah


"Menyerah? Tidak ada dalam kamusku untuk menyerah pada lawan!" Lantas Sarman mulai menyerang Roni dan Ahmad secara membabi buta. Ia kerahkan kemampuan yang dimiliki untuk dapat melakukan aksi balas dendam karena pernah diremehkan kedua orang itu.


"Rasakan ini!" Sarman memukul wajah Roni yang saat itu terlihat lengah. Pukulan keras berhasil ia daratkan ke wajah pria berusia tiga puluh tahun hingga sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.


Tubuh Roni terhuyung ke belakang saat tubuhnya tidak mampu menjaga keseimbangan. Ia diserang ketika dirinya belum siap.


"Fuuck!" Roni mengusut sudut bibirnya yang terluka. Rasa nyeri ia rasakan ketika menyentuh sudut bibirnya yang terasa nyeri.

__ADS_1


"Mampus! Itulah balasan karena kamu telah berani menantangku!" Sarman tersenyum smirk kala melihat Roni meringis kesakitan.


Teringat akan nasib sang istri yang tidak diketahui keberadaannya, Sarman bergegas mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana. Benda tajam yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi.


"Sudah cukup kita bermain. Kita saatnya aku memberi kalian pelajaran." Tanpa membuang waktu, Sarman melesakkan pisau lipat yang disembunyikan di balik jaket dan mengarahkannya kepada Roni.


Di antara Roni dan Ahmad, sikap Roni memang menjengkelkan di mata Sarman. Sejak pertama kali bertemu, pemuda itu memang banyak cakap membuat pendengaran Sarman terganggu. Oleh karena itu, ia dijadikan sasaran pertama untuk merasakan ketajaman dari sebilah pisau swiss army milik Sarman.


"Terimalah pembalasanku. Hiyaak!"


Sarman berlari kencang sambil terus menghunuskan ujung pisau swiss army miliknya ke wajah Roni. Ia berniat memberi goresan di wajah sang lawan untuk mengetahui siapakah orang di balik penutup kepala jelek itu.


Ahmad merasa nyawa Roni terancam, segera memutar otak, mencari cara untuk menyelamatkan teman kerjanya itu. Sebagai tim tentu saja ia mempunyai tanggung jawab untuk melindungi Roni. Begitu pun sebaliknya. Jadi jangan heran jika saat ini Ahmad berusaha keras membalikan keadaan.


Hanya tersisa beberapa jengkal saja ujung pisau itu melukai wajah Roni, sebuah pukulan keras mengenai bagian belakang kepala Sarman membuat pisau yang berada dalam genggaman tangan terjatuh ke lantai. Lalu tak lama kemudian tubuh Sarman ambruk setelah mendapat pukul untuk ketiga kalinya.


Ahmad segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyuntikan obat tidur ke leher Sarman agar korban tidak sadarkan diri saat dalam perjalanan menuju tempat misterius.


"Nyaris saja ketampananku hilang kalau kamu tidak segera menolongku." Roni susah payah bangkit berdiri setelah melihat Ahmad selesai menyuntik Sarman. Ia menepuk pakaian yang sempat terkena debu hingga merasa kain membalut tubuhnya bersih kembali.


"Sebaiknya kamu segera bawa wanita sialan itu. Lakukan hal sama seperti yang dilakukan rekan kerja kita sebelumnya. Lekas, sebelum orang berkumpul dan mencaritahu apa yang terjadi pada keluarga Mia!"


Roni berlari masuk ke dalam rumah, sementara Ahmad dibantu sopir menggotong tubuh Sarman yang tengah tak sadarkan diri. Setelah semuanya selesai dan ketiga taget berada dalam kendali Ghani maka mereka bersama-sama menuju tempat misterius yang akan digunakan ayah kandung Aurora untuk bermain-main dengan ketiga orang jahat tersebut.

__ADS_1


...***...


__ADS_2