Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Apakah Aku Pantas?


__ADS_3

Lulu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Queensha. Lalu memicingkan mata tajam ke arah sahabatnya itu. "Maksud lo ngomong begini, apa? Jangan bilang kalau lo mau jadi mak comlang antara gue dengan sahabat suami lo."


Queensha nyengir kuda ditanya begitu oleh sahabatnya. Niat hati ingin menjodohkan sahabatnya dengan sahabat sang suami secara diam-diam akhirnya diketahui oleh Lulu. Kalau sudah begini mau tak mau ia harus berkata jujur agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.


Si cantik bermata sipit dan berambut panjang tergerai, menurunkan tubuh Aurora yang sedari tadi berada dalam gendongan. Terlalu lama menggendong sang putri membuat tangannya terasa pegal. Berat badan si kecil semakin hari semakin bertambah dan Queensha tak lagi sanggup menggendong buah cintanya itu terlalu lama.


"Sayang, bisa tunggu mama sebentar di sana? Mama mau ngobrol dengan Aunty Lulu dulu, setelah itu baru kita cari es krim dan pergi ke arena permainan." Jari telunjuk Queensha mengarah pada kursi panjang yang tadi sempat ia dan Aurora duduki. Kebetulan kursi itu masih kosong sehingga dapat digunakan Aurora sebentar sambil menunggunya menyelesaikan masalah dengan Lulu.


"Oke, Mama. Tapi jangan lama-lama, ya? Rora udah enggak sabar ingin cepat-cepat main."


"Iya, Sayang." Queensha mengusap kedua pipi Aurora sebelum gadis itu kembali duduk di kursi. "Sudah sana duduk. Mama mau ngobrol dulu dengan Aunty Lulu."


Queensha memang selalu membiasakan diri untuk tidak melibatkan anak kecil dalam percakapan orang dewasa. Karena khawatir akan berdampak buruk bagi psikis dan tumbuh kembang sang putri. Biarlah Aurora menikmati masa kanak-kanaknya tanpa perlu ikut terlibat langsung dalam permasalahn orang dewasa.


Kedua wanita cantik berdiri menghadap deretan pertokoan di seberang sana. Pandangan mata menatap lurus ke depan pada para pengunjung mall yang tengah lalu lalang, keluar masuk dari toko satu ke toko lainnya.


"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku emang ada rencana ingin mengenalkan Mas Leon kepadamu. Beberapa hari lalu, aku pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan bekal makan siang untuk Mas Ghani dan di sana aku baru tahu kalau ternyata Mas Leon pun tidak sedang menjalin kasih dengan siapa pun atau istilah zaman sekarang disebut jomlo." Queensha mulai berbicara, menceritakan kejadian beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Ehm, sebetulnya dia pernah pacaran beberapa kali, tapi selalu putus di tengah jalan. Terakhir kali pacaran, mereka sudah sampai ke tahap serius, kedua keluarga saling mengenal. Namun, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja si cewek minta putus dan tak lama kemudian mantan pacarnya itu memutuskan nikah dengan cowok lain. Tau kalau dia dan kamu masih sama-sama single, aku memutuskan untuk mengenalkan kalian berdua siapa tau cocok dan kalaupun pada akhirnya kalian tidak cocok, setidaknya aku sudah mencoba membantumu menemukan pria yang layak menjadi pendamping hidupmu."


Lulu tersenyum getir. "Emangnya ada cowok yang mau sama cewek modelan gue, Sha? Gue tuh cewek barbar, kalau ngomong ceplas-ceplos, enggak pernah disaring sama sekali. Belum lagi kalau dia tau masa lalu gue, gue enggak yakin dia akan langsung minta putus detik itu juga."


Queensha bergegas meraih punggung tangan Lulu yang ia letakkan di atas pagar pembatas terbuat dari kaca tebal. "Jangan bicara begitu, Lu. Kita tidak akan pernah tau jika tidak mencobanya. Menurutku, Mas Leon tidak seperti mantan pacarmu yang berengsek itu. Dia lelaki baik, bertanggung jawab, dan juga sangat menghormati kaum wanita. Jadi rasanya mustahil kejadian buruk di masa lalu akan menimpamu lagi."


Melepas genggaman tangan Queensha yang berada di atas telapak tangannya. Lulu menatap sahabatnya yang kini sedang membalas tatapannya. "Bukannya mantan cowok gue dulu juga begitu? Pura-pura baik di depan gue, tapi ternyata kebaikannya itu cuma sebuah kedok demi mendapatkan apa yang selama ini ia incar."


Hati terasa nyeri ketika kepingan kejadian masa lalu melintas di benaknya. Lulu mencengkeram pagar pembatas lantai dua dengan erat saat merasakan gelombang badai dahsyat menghantam hatinya. Kejadian itu memang sudah berlangsung lama, tetapi kenangannya masih ia rasakan sampai detik ini.


"Lu, aku emang belum lama kenal dengan Mas Leon, tapi melihat sikapnya saat sedang berinteraksi dengan Mas Ghani dan lawan jenis, aku dapat menilai kalau dia tidak seperti mantan kekasihmu itu. Mas Leon bukan pria berengsek, kok, percaya deh sama aku." Queensha terus meyakinkan Lulu kalau Leon memang pria baik dan tidak mungkin menyakiti sahabatnya itu.


"Untuk sekarang, gue mau fokus kerja dulu, Sha. Cari uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan gue dan keluarga di kampung halaman. Adik gue yang bungsu tahun ini masuk SMA, butuh uang banyak agar bisa keterima di sekolah favorit. Minimal ada satu adik gue yang mengecap namanya sekolah di sekolah bergengsi."


Queensha mengusap pundak Lulu dengan lembut. Ia dapat merasakan bagaimana penderitaan Lulu selama ini. Sama-sama mempunyai masa lalu yang kelam membuat kedua wanita itu menjadi lebih dekat dan memutuskan untuk menjadi sahabat, selalu ada di saat bahagia ataupun sedih.


"Ya sudah, aku tidak akan memaksamu. Kalau memang tidak mau kukenalkan dengan Mas Leon, tidak masalah. Aku tidak marah padamu, kok."

__ADS_1


Queensha melirik pada Aurora yang tengah bermain sendirian di kursi tunggu. Merasa sudah terlalu lama meninggalkan putrinya seorang diri, ia menjadi kasihan, takut anaknya tersayang merasa bosan. "Karena urusan kita sudah selesai, bagaimana kalau sekarang kita cari kedai es krim? Katanya kamu mau traktir aku dan Rora," ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku dan Rora, sudah menunggu, loh."


Mencoba tersenyum walau ada luka yang kembali mengangga. "Oke, deh. Nanti kamu yang traktir makan siang, ya?"


"Beres. Kamu tinggal pilih saja mau makan di restoran mana nanti aku yang bayarin." Queensha mendekati Lulu dan berbisik, "Aku baru mendapat black card dari Mas Ghani. Dengan kartu ajaib ini kita bisa membeli apa pun tanpa perlu takut kantong jebol."


"Serius?" tanya Lulu tidak percaya. Ia pikir hanya ada di dunia novel saja black card itu ada, tetapi di dunia nyata pun ternyata ada. Satu di antara orang beruntung itu adalah Queensha, sahabatnya sendiri.


Tanpa ragu Queensha mengeluarkan kartu sakti pemberian Ghani. "Sekarang kamu percaya, 'kan?" tanyanya dengan senyum menggoda.


Lulu mengangguk cepat. Tampak antusias melihat kartu yang hanya dimiliki oleh kalangan atas. Walaupun bukan ia yang mempunyai kartu tersebut, tetapi ia turut bahagia akan limpahan rezeki yang datang menghampiri sang sahabat.


"Ya sudah, ayok jalan! Kita gunakan kartu ini sepuasnya!" ajak Queensha sambil menarik tangan Lulu. Maka kedua wanita itu berjalan beriringan mendekati Aurora.


Hari ini, Queensha berniat memanjakan dirinya, Aurora serta Lulu menggunakan black card pemberian Ghani. Bukan karena matre apalagi aji mumpung, Queensha lakukan itu demi menghibur anak serta sahabatnya. Hitung-hitung berbagi kebahagiaan dengan orang terdekatnya.


Lagi pula Queensha belum pernah membelanjakan nafkah pemberian sang suami selama menjadi istri pria itu. Jadi, kalau sekarang ia menggunakannya, tidak masalah bukan?

__ADS_1


...***...


__ADS_2