Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Pigura Foto


__ADS_3

Menempati rumah baru berarti siap menata kembali semua ruangan dengan segala pernak-perniknya. Minggu lalu, Queensha memang sudah menata sedikit demi sedikit barang-barang yang ia bawa dari rumah sang mertua sehingga membuat huniannya bersama suami lebih indah dan elegan karena didekorasi sesuai keinginannya.


Pandangan mata Queensha tertuju kepada koper berukuran besar berisikan pakaian rumahan miliknya dan suami tercinta. "Hu, ternyata masih ada satu koper yang belum kubongkar. Kirain aku sudah selesai semua, eh tak tahunya masih ada, toh."


Karena sedikit senggang hari itu Queensha mulai mengeluarkan baju-baju serta beberapa barang miliknya dari dalam koper lalu menyusunnya ke dalam lemari.


Tiba-tiba matanya tertuju pada satu buah pigura berwarna putih di mana foto tersebut membuat suasana hatinya berubah. Foto di dalam pigura itu memperlihatkan dirinya, mendiang papa serta Mia dan Lita. Sontak ingatan wanita itu melayang pada sosok Lita yang sedang berada di dalam penjara.


"Sedang apa dia di sana? Mungkinkah selama di penjara dia sudah banyak berubah?" Queensha bermonolog sendiri. Lantas ia menutup kopernya kembali ke sudut ruangan sambil sesekali menyeka air mata yang mengintip di sudut matanya.


Queensha menghela napas dan mencoba mengumpulkan keberanian untuk menceritakan perasaannya pada Ghani. Suaminya sedang mengetik sesuatu di laptop, matanya tertuju pada layar laptop. Meskipun sedikit mengganggu, Queensha tetap memberanikan diri memulai obrolan.


Queensha berbicara perlahan. "Sayang, kenapa aku tiba-tiba merindukan Lita, ya? Melihat foto ini rasanya tidak tega melihatnya harus berada di penjara.”


Wanita cantik bermata sipit memperlihatkan foto pigura di tangannya. Ghani yang sedang berkonsentrasi segera memalingkan wajah seolah ia tak suka dengan ucapan istrinya.


Segera terbit rasa bersalah dalam diri Queensha, seharusnya dia tidak membahas ini. Namun, sudah terlanjur, Queensha terbiasa mengatakan perasaannya.


“Maaf kalau tiba-tiba aku membahas Lita. Aku hanya merindukannya. Kami memang tidak dekat, tapi pernah ada momen di mana aku dan dia akur, layaknya adik dan kakak sungguhan. Aku hanya berharap dia bisa kembali menjadi insan yang baik setelah keluar dari penjara."


Ghani melihat wajah Queensha yang penuh rasa cemas dan kekhawatiran. Dia tahu betapa Queensha peduli pada Lita, adik tirinya.


“Aku mengerti perasaanmu, Sha. Tapi kamu tahu kita tidak bisa sembarangan membantu Lita keluar dari penjara. Dia harus bertanggung jawab atas tindakannya, dan kita tidak bisa mengambil risiko untuk melanggar hukum atau membahayakan diri kita sendiri."


Ghani menanggapi dengan serius setiap perkataan istrinya. Baginya sudah jelas posisi Lita di penjara adalah solusi terbaik untuk memberikan efek jera.


"Tentu aku tahu itu. Aku hanya mengkhawatirka dia, Mas. Aku harap dia mendapatkan kesempatan kedua setelah keluar dari penjara, mungkin bisa memperbaiki diri dan merubah hidupnya."


Mata Queensha menerawang. Sudah beberapa hari ini dia kepikiran tentang saudara tirinya itu. Bagaimana keadaannya di penjara? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia tidak sakit? Bagaimana dengan makanannya? Apakah cukup makanan di sana? Terkadang Queensha dihinggapi rasa bersalah, meskipun dia tahu Lita dan Mia yang bersalah.  


"Sudahlah jangan terlalu kamu pikirin. Aku tahu kamu orang yang baik hati dan tidak tegaan dan aku mengagumi rasa empatimu. Dalam hal ini kita harus tegas. Semoga suatu hari nanti, Lita bisa menemukan jalan untuk mengubah hidupnya jadi lebih baik. Untuk saat ini yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah memberikan dukungan moril dan mendoakan yang terbaik untuknya."


“Sayang, aku sangat beruntung menjadi istrimu. Kamu sangat mengerti apa yang aku rasakan. Mungkin aku memang sedikit berlebihan dan tidak perlu mengkhawatirkan Lita.”


 


“Iya, sebaiknya kita tidak usah bahas ini, karena bagaimanapun juga Lita dan Mia harus mendapatkan hukuman atas kejahatan mereka.” Ghani kembali menegaskan sikapnya.

__ADS_1


 


“Aku tahu, aku cuma ingin bilang kalau aku tidak tega sama dia. Kami pernah tumbuh bersama dan aku tahu dia itu sebetulnya orang baik, tapi dia terpaksa menuruti perintah Mama Mia dan Sarman. Lita itu anak baik, kok, cuman karena salah didikan dia jadi jahat dan jadi pemalas.” Tanpa sadar Queensha masih menyebut nama Lita lagi dan hal itu membuat Ghani jengah.


 


“Aku mulai tidak suka dengan obrolan ini, Sha. Apa pun alasannya tidak dibenarkan kalau dia menculik anak kecil.” Nada suara Ghani semakin meninggi membuat Queensha terdiam sesaat.


 


“Aku sendiri juga tidak habis pikir kenapa Lita tega menculiknya. Ini semua di luar dugaan. Aku setuju dia mendapat hukuman yang setimpal, tapi terkadang aku juga cemas dengan keadaannya di penjara. Apalagi dia masih muda.” Qeensha menghela napas panjang.


 


“Penjara akan menyadarkan dia dan memang semua orang harus belajar dari kesalahannya, kan?”


Ghani menatap dua bola mata istrinya dengan pandangan tak mengerti. Ghani sebetulnya sudah malas dan tidak mau lagi membahas masalah Mia, Lita, apalagi Sarman. Baginya membicarakan mereka selalu mengingatkannya akan kejadian penculikan Aurora. 


 


 


“Sudah, aku yang mengantarkan tadi. Hari ini dia sangat penurut sekali," sahut Queensha. Ia menyenderkan punggung di sandaran sofa. Matanya yang sipit sesekali mencuri pandang ke arah layar laptop milik sang suami.


“Sayang kamu tahu 'kan kalau aku akan melakukan semua upaya agar kamu dan Aurora tetap aman. Aku rela menukar nyawaku demi melindungi kalian.”


 


Queensya terdiam mendengar kata-kata Ghani. Pria itu memang seserius itu jika membahas keselamatan keluarganya.


 


“Jadi jangan pernah berpikir untuk kembali menempatkan kalian di dalam bahaya. Aku tidak mau hal itu terjadi.”


 


Qeensha menghela napas panjang. Dia benar-benar bimbang sekarang. Satu hatinya menginginkan Lita segera dibebaskan, tetapi di bagian yang lain rasa sakit itu masih sama. Rasa kecewa juga sama besarnya. Bagaimana seorang adik tiri yang selama ini mereka pernah tumbuh bersama, tiba-tiba dengan tega mencelakai putri kecilnya yang tidak berdosa.

__ADS_1


 


“Kalau kamu mau menjenguk di tahanan aku memberikan izin, itu pun tidak boleh lama-lama. Datang sebagai saudara, bawakan dia makanan, tidak masalah bagiku, tapi dia tetap harus ada di sana untuk menebus semua kesalahannya. Kamu paham kan maksudku?” tanya Ghani sembari memegang bahu istrinya. "Kalau mau, nanti aku pesankan tiket pesawat dan minta Yogi menemanimu. Aku tidak bisa ikut denganmu jika harus berurusan dengan mereka lagi."


 


“Iya, Mas, aku paham.” Queensha kebingungan dengan keinginan hatinya.


“Aku tahu maksud kamu baik, mungkin kekhawatiranku yang berlebihan.” Ghani segera menimpali.


 


“Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya. Aku tidak akan melarang kamu menemuinya. Mungkin memang sekarang Lita sedang mendapat hukuman, tetapi sebagai manusia kita juga harus berempati,” imbuh Ghani.


 


“Itulah yang aku maksudkan, Sayang. Aku jadi merasa serba tidak enak.”


 


“Seharusnya bukan kamu yang merasa tidak enak, tapi Lita. Kenapa dia tega-teganya melakukan hal ini kepada keponakannya sendiri. Meskipun dia bukan adik kandungmu, hanya anak bawaan dari wanita iblis itu, tetap saja kalian tumbuh dewasa sedari kecil."


Lagi-lagi Queensha terdiam. Ghani memang benar, tidak seharusnya dia yang didera perasaan bersalah toh dia memenjarakan Lita karena kesalahannya sendiri.


 


“Ya, maafkan aku Mas. Aku juga tahu kalau apa yang dilakukan Lita dan Mama Mia itu salah, tapi entah mengapa aku jadi melow begini. Apakah dia bisa bebas dari penjara, ya? Karena sebetulnya dia itu ‘kan hanya menuruti perintah Mama dan Sarman?”


 


Ghani yang sudah kembali duduk dan akan melanjutkan pekerjaannya, segera menghentikan ketikan di depan layar laptop, lalu dengan wajah serius ia kembali menghampiri istrinya.


“Kenapa kamu terus membahas Lita? Jangan bilang kamu ingin membebaskannya!” tanya Ghani penuh selidik. Dari kata-kata Queensha seolah menunjukan bahwa istrinya berniat membebaskan penjahat itu dari dalam sel tahanan.


***


 

__ADS_1


__ADS_2