Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Pembalasan Leon


__ADS_3

"Sialan! Ghani bener-bener udah keterlaluan. Dia ngenalin seseorang ke gue tanpa ngasih tau terlebih dulu. Emang dipikir gue enggak mampu cari cewek sendiri sampai dikenalin ke perempuan barbar macam betina itu. Kalau perempuan yang dikenalinnya ke gue good looking dan spek bidadari, pasti gue enggak akan semarah ini. Lah ini, cewek tomboy, suka ngomel-ngomel enggak jelas, dan tukang fitnah, masa iya mau dikenalin ke gue. Orang bodoh aja tau kalau tuh macan betina bukan tipe cewek idaman, si Ghani malah berani-beraninya ngenalin dia ke gue. Keterlaluan!" Leon terus menggerutu seraya membasahi kepalanya di bawah guyuran air shower.


Sejak semalam Leon terus mengomel tiada henti. Dari saat meninggalkan pesta hingga detik ini, setiap kalimat yang terucap berupa makian, makian, dan makian saja terhadap sahabat sejatinya--Ghani. Ia benar-benar kesal atas kelancangan atasan sekaligus sahabat karibnya itu. Meskipun tujuan Ghani baik, tetapi di mata Leon tetaplah salah.


"Gue bersumpah, saat ketemu di rumah sakit nanti, akan gue lempar dia pakai bantal sofa karena udah bikin gue kesal setengah mati." Lalu Leon segera menyelesaikan ritual mandinya yang hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja.


Anak bungsu dari pasangan Ayu dan Imran melangkah keluar kamar mandi menuju walk in closet. Pria jangkung itu memilih kemeja kerja yang akan dikenakan untuk pergi ke rumah sakit.


Sebetulnya hari ini Leon tak ada shift kerja karena sudah dua hari berturut-turut menggantikan rekan sejawatnya yang kebetulan berhalangan, tetapi karena ada urusan penting dengan Ghani, mau tak mau ia mesti bekerja seperti biasa. Urusan libur bisa dipikir belakangan, terpenting sekarang ia menemui Ghani dan minta penjelasan pria itu.


"Selamat pagi, Ma, Pa." Leon mencium pipi kanan Bu Ayu yang saat itu sedang mengoleskan mentega di roti tawar suaminya. Bu Ayu begitu telaten melayani Pak Imran, suami tercinta.


"Pagi. Tumben sekali jam segini sudah rapi, memangnya mau ke mana?" Suara bariton Pak Imran mengawali hari anak lelakinya.


Leon menarik kursi di sebelah sang papa sehingga derit kursi menggema di penjuru ruangan. "Aku mau ke rumah sakit, Pa, ada urusan penting yang harus diselesaikan di sana. Nanti aku pinjam mobil Papa, ya? Kebetulan mobilku masuk bengkel semalam gara-gara ketemu cewek barbar pembawa sial," sahut pria itu.


Terdengar bunyi pertemuan dua permukaan kulit di gendang telinga semua orang. Tak lama kemudian suara rintih kesakitan memenuhi ruangan.


"Sakit, Ma. Mama kenapa pukul bahuku? Memangnya aku salah apa?" tanya Leon seraya mengusap bahunya yang terasa sakit. Pukulan itu bukan pukulan biasa, terbukti Leon segera merintih kesakitan.


"Salah kamu itu adalah tidak bisa menjaga lisan. Tahu tidak ada pepatah yang mengatakan bahwa mulutmu harimaumu. Bagaimana kalau ada orang tersinggung dengan ucapanmu barusan? Memangnya kamu mau bertanggung jawab dengan perkataanmu itu, hah?" kata Bu Ayu dengan meninggikan satu oktaf suaranya. "Lagi pula, di dunia ini tidak ada yang namanya orang pembawa sial. Itu hanya omong kosong belaka! Jadi, lain kali jangan asal berbicara, mama tidak suka."


Leon hendak membantah, tetapi pak Imran menggelengkan kepala, meminta anak bungsunya untuk menutup mulut. Sebaiknya Leon mengalah karena tahu jika puteranya kembali bersuara maka acara sarapan mereka terganggu dan berakhir dengan hidangan lezat di depan mata diambil kembali oleh ibu ratu, menguasa rumah.

__ADS_1


Mendesaah pelan dan berkata dalam hati. 'Lo mesti sabar ngehadapi Mama. Ingat, kaum wanita selalu benar dan kaum lelaki selalu salah di mata mereka.'


Tak mau suasana pagi hari yang cerah terganggu oleh keributan kecil, Leon memutuskan untuk mengalah, membiarkan sang mama menang tanpa perlu ia membantah ucapan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


***


Leon berjalan memasuki bangunan mewah bak istana negeri dongeng. Bangunan dengan lantai lima belas tingkat menjadi tempat pria itu mengais rezeki selama kurang lebih lima tahun lamanya. Selama itu, telah banyak pundi rupiah masuk ke rekeningnya yang ia gunakan untuk membantu perekonomian keluarga serta membeli segala macam kebutuhannya.


Melangkah panjang dengan penuh percaya diri. Sesekali Leon mengangguk seraya tersenyum kepada rekan sejawat maupun para pekerja rumah sakit yang berpapasan dengannya.


"Selamat pagi Dokter Leon. Tampaknya semalam Anda tidak dapat tidur nyenyak. Ehm, apa karena memikirkan gadis cantik berambut kuncir kuda?" goda Raffi saat berpapasan dengan rekan sejawatnya. Pria jangkung dalam balutan snelli putih sengaja menggoda Leon sebab saat pertengkaran semalam ia sempat menonton keseruan terjadi antara Tom dan Jerry dalam versi berbeda.


Leon berdecih sebal mendengar sindiran tersebut. "Gue butuh cotton bud untuk ngebersihin telinga yang gatel. Denger lo ngomong pakai bahasa formal, tiba-tiba bikin telinga gatel dan perut mules."


Raffi terkekeh mendapat respon Leon. "Santai, Bro. Jangan marah-marah mulu, nanti cepet tua. Kalau makin tua maka lo semakin enggak laku."


Kekehan pelan berubah menjadi semburan tawa yang mampu mengundang banyak orang. Hampir semua orang yang kebetulan melintas menoleh ke arah dua pria tampan yang tengah melangkah bersama menuju poli masing-masing. Tatapan penuh tanya mereka tujukan kepada Leon dan Raffi."


Namun, kedua pria tampan itu tak memedulikan keadaan sekitar. Mereka terus melangkah sampai di depan lift yang akan membawa keduanya menuju lantai lima dan lantai tiga.


"Kalau enggak mau lihat gue ngomel makanya jangan mancing emosi! Gue tuh lagi kesal sama Ghani jadi jangan buat masalah kalau enggak mau jadi bahan pelampiasan kemarahan gue. Ngerti?" kata Leon masih dalam mode marah. Napas pria itu tersengal hebat dengan rahang menonjol keluar.


Setiap kali mengingat kejadian semalam, kepala Leon berasa seperti tengah mendidih, bergejolak tiada henti. Seandainya seseorang menaruh satu butir telur di atas kepala Leon maka bisa dipastikan akan matang dalam waktu tiga menit saja.

__ADS_1


"Karena masalah semalam? Yaelah, cuma begituan doang, kenapa mesti marah, sih. Dokter Ghani bermaksud baik, mau ngenali lo dengan sahabat istrinya, tapi lo malah sewot. Enggak tau berterima kasih jadi orang. Seharusnya lo bilang makasih ke Dokter Ghani bukan malah ...."


Perkataan Raffi menggantung di udara saat sepasang mata tajam menatap ke arahnya. Suhu dalam lift tiba-tiba terasa dingin membuat bulu kudunya berdiri seketika.


"Oke, gue diem. Nih lihat, gue udah nutup mulut biar enggak berisik lagi." Lantas Raffi mengatupkan kedua bibir lalu menggerakkan tangan seolah tengah mengunci sesuatu.


Leon kembali menatap lurus ke depan dan berkata dengan dingin. "Suasana sepi lebih baik daripada gue denger suara cempreng lo. Bikin sakit kepala aja."


'Nih orang dari tadi ngomel mulu, apa enggak capek? Daripada ngomel mendingan dia diem, dengerin gue kasih nasihat yang pasti berguna bagi masa depannya. Leon, Leon, dasar cowok enggak tau diuntung,' ujar Raffi dalam hati.


Pintu lift berdenting dan terbuka. Kini pintu lift berhenti di lantai tiga, di mana ruangan Ghani berada.


Sebelum keluar lift, Leon berkata, "Gue enggak butuh nasihat dari lo, Fi. Lo aja masih jomlo masa gue mesti denger ceramah dari suhunya jomlo." Usai mengucap kalimat tersebut, ia melangkah keluar meninggalkan Raffi yang masih termangu di tempatnya.


Raffi mengernyitkan kedua alis. "Loh, kok, dia bisa tau apa yang ada dalam kepala gue. Jangan-jangan dia punya kemampuan membaca pikiran orang. Iih, gue mesti lebih waspada saat berdekatan dengannya, jangan sampai isi kepala gue yang kebanyakan mesum dibongkar di depan semua orang." Maka ia segera menekan tombol lift agar pintu itu segera tertutup seperti sedia kala.


Sementara itu, Leon mengambil langkah panjang agar dapat segera menemui Ghani. Kedua tangan mengepal erat di samping kanan dan kiri, menandakan betapa emosinya ia saat ini. Sudah mencari kalimat apa saja yang hendak disampaikannya kepada Ghani.


"Tunggu pembalasan gue, Ghan!" kata Leon semakin mengepalkan telapak tangan hingga memperlihatkan buku-buku putih.


...***...


__ADS_1


__ADS_2