
Dengan gerakan cepat, Leon menarik lengan Ghani yang saat itu hendak meninggalkannya berduaan hanya dengan Lulu. Hal serupa dilakukan Lulu, ia mencengkeram pergelangan tangan sahabatnya tidak terlalu erat dan tidak pula terlalu longgar. Tak mau sampai dirinya ditinggal pergi oleh Queensha.
"Aduh, sakit Lu!" rintih Queensha, pura-pura. Padahal sebetulnya ia tak merasakan sakit sama sekali. Lulu sangat lembut meski terlihat barbar, tetapi tidak sampai hati menyakiti sahabatnya sendiri.
Namun, Lulu menutup telinganya dari rintihan Queensha. "Biarin, ini hukuman buat lo karena berani ngenalin gue dan berniat ninggalin gue cuma berduaan aja sama dia." Saat Lulu mengucap kalimat terakhir, ia melirik tajam ke arah Leon.
"Santai, Bro. Jangan pake kekerasan segala, ntar yang ada lo digiring ke kantor polisi karena diduga melakukan penganiayaan terhadap anak dari pemangku hajat," ujar Ghani.
"Gue enggak peduli! Udah buruan, jelasin ke gue maksud lo dan Queensha apa pake acara ngenalin gue dengan cewek barbar modelan dia!" sentak Leon meninggikan suara.
Saat Ghani telah berada di tempatnya semula, ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Leon. Kini ia dapat berdiri tegap seperti sedia kala.
"Gue bermaksud untuk jodohin kalian berdua. Kemarin lo cerita kalau Tante Ayu ngomel gara-gara lo belum juga nikah, padahal umur udah matang untuk berumah tangga. Lalu gue dengar dari Queensha, kalau Lulu pun didesak terus sama nyokap untuk menikah. Gue dan Queensha sepakat untuk ngenalin kalian berdua, siapa tau lo dan dia cocok. Kalaupun enggak, setidaknya gue dan Queensha udah usaha." Ghani mulai memberi penjelasan di hadapan Leon dan Lulu, sahabat dari istri tercinta.
"Apa? Jadi kalian berniat jodohin gue dengan lelaki berengsek ini? Enggak. Gue enggak mau!" Lulu bergidik kala membayangkan dirinya bersanding dengan Leon di pelaminan.
"Lo pikir gue mau dijodohin sama cewek modelan begini? Dih, sorry, kriteria cewek gue tuh kayak Dakota Johnson bukan Dakota KW 1000 macam lo!" sindir Leon habis-habisan, kesal karena dirinya dicap lelaki berengsek oleh wanita sialan yang berdiri di seberangnya.
Ghani dan Queensha saling berpandangan melihat adegan di depannya. Rasanya tidak mungkin tiba-tiba Leon dan Lulu saling mengenal. Seingat Queensha, ini kali pertama mereka bertemu, tetapi mengapa tingkah laku mereka seolah mengatakan pertemuan ini bukanlah yang pertama.
Queensha menatap suaminya, meminta jawaban tentang kejadian yang agak menggelikan ini, tapi Ghani pun sama saja tidak tahu apa yang terjadi karena Leon tidak pernah bercerita apa-apa tentang Lulu.
'Gue bersumpah bakal kasih jabatan kepala bangsal ke orang lain kalau sampai lo nyembunyiin sesuatu di belakang gue,' batin Ghani dalam hati.
Tak mau terus menerus dilingkupi rasa penasaran dan menduga-duga apa yang terjadi kepada mereka, Queensha memberanikan diri bertanya kepada dua orang di depannya.
Bibir ranum merah muda alami terbuka. “Well, kayaknya kalian udah saling kenal, ya? Sejak kapan? Kenapa diam-diam aja? Wah, sayang sepertinya kita melewatkan sesuatu.” Queensha mengedipkan mata ke arah suaminya.
__ADS_1
“Iya, aku juga merasa demikian. Tampaknya sesuatu terjadi di antara kalian, tapi seseorang memilih bungkam." Ghani menghunus tatapan tajam kepada Leon. "Bukan seseorang, tapi dua orang sebab sahabat terbaik istriku sepertinya ikut menyembunyikan sesuatu di belakang sahabatnya. Untuk itu aku dan Queensha butuh penjelasan. Siapa yang mau berbicara terlebih dulu?”
Dua pasang mata tampak sedang menanti jawaban apa yang akan diberi Lulu dan Leon. Baik Ghani maupun Queensha menatap arti kepada sepasang anak manusia di depan sana.
Lulu menjadi serba salah ditatap Queensha dan Ghani sedemikian rupa. Bukan dia penjahatnya, tetapi tatapan sahabatnya ini seperti sedang menudingnya.
'Gue enggak mau dianggap pengkhianat oleh Dokter Ghani. Jadi sebaiknya gue ceritain aja semuanya ke mereka.' Mau tak mau Lulu harus menceritakan kejadian pertemuannya dengan Leon. Tentu saja versi dirinya sendiri.
Setelah menarik napas panjang dan menyabar-nyabarkan hati, akhirnya bibir tipis Lulu mulai menguak cerita yang membuat sepasang suami istri di depannya kepo dan terus menatap, menunggu jawaban sebenarnya. “Jadi gini ….” Baru berbicara sebentar Lulu sudah kebingungan menyusun kata. Queensha dan Ghani berpandangan lagi mencium aroma drama yang semakin kental.
"Sebenernya gue malu sih cerita ini, karena enggak ada bagus-bagusnya juga diceritain.” Lulu mulai bercerita, setelah berkali-kali menarik napas panjang. Inhale-exhale.
“Dia ini pria berengsek yang ambil kesempatan dalam kesempitan.” Akhirnya lolos juga perkataan ini dari mulut Lulu disertai ekspresi wajah malaikat tanpa dosa.
Tentu saja perkataan Lulu berhasil mengundang tatapan tajam dari Leon. Ini benar-benar tuduhan tak beralasan. Hanya dari sudut pandang Lulu, seorang pahlawan yang punya niat baik hendak menolong justru dijadikan tersangka. Pria itu kesal dan mengedikkan bahunya, seolah ingin mengatakan ‘really? Lo enggak salah ucap, 'kan?'
“Ehm, gini. Beberapa waktu lalu gue ketemu pria yang sekarang sedang memasang wajah tanpa dosa itu di restoran. Dia mau nolongin gue saat gue hampir jatuh akibat didorong Mbak Puji, tapi gue tahu itu cuma modus doang sih. Ujung-ujungnya dia cium pipi gue, vangke emang!” Lulu mengusap pipinya seolah ciuman tak sengaja Leon adalah najis yang harus segera dibersihkan.
Kali ini bibir Leon membentuk huruf O sempurna mendengar cerita Lulu.
“Wow, luar biasa ya cerita Anda. Heh, cewek barbar. Jangan main fitnah gitu, dong! Bilang aja lo emang punya niat terselubung pengen kenalan sama gue, sampai pura-pura mau jatuh segala. Sebagai cowok sejati gue enggak tega kalau enggak nolongin lo, ini bukannya terima kasih malah fitnah.” Leon menjawab keras sambil menuding wajah Lulu yang juga sedang memelotot ke arahnya.
“Hello, Cowok Mesum dan tukang mengambil kesempatan dalam kesempitan, lo yang modus, bukan gue!” Teriakan Lulu membuat beberapa pasang mata menoleh ke arahnya. Tanpa memedulikan hal itu, Lulu melanjutkan omelannya. "Lagi pula, ngapain gue pura-pura mau jatuh cuma buat ditolongin cowok enggak jelas macam lo. Asal lo tau, gue enggak sejompo itu. Ngerti!" hardik wanita itu dengan napas tersengal.
Sekarang Leon maju perlahan-lahan mendekati Lulu sambil berkacak pinggang. Dia tidak terima tuduhan Lulu dan harus membela diri. “Omong kosong! Gue bukan cowok mesum. Selain itu, gue ini cowok dengan segudang pekerjaan menumpuk, sibuk nolongin orang jadi enggak ada waktu buat curi ciuman seperti yang lo bilang tadi. Di sini gue korbannya, bukan lo!” Leon menunjuk wajah Lulu tepat di depan hidungnya.
“Sialan! Bisa-bisanya lo bilang korban? Lo itu ngambil keuntungan dari musibah yang nimpa gue. Enggak usah playing victim segala, deh." Lulu berkacak pinggang dan menaikkan dagu ke atas. Sama sekali tidak takut menghadapi Leon. "Tapi dilihat dari penampilan, kayaknya lo emang udah player, ya?"
__ADS_1
Lulu mengatakan apa yang ada di otaknya. Sikap Leon memang tidak sopan menurutnya.
“By the way, kalau emang lo player, gue seneng kenal sama lo. Kenalin, gue coach yang bakal ngelatih para player macam lo!” Lulu mengulurkan tangannya tapi sebelum Leon menjabat tangannya sebagai tanda perkenalan, buru-buru gadis itu menarik tangan kanannya lalu membawa tangan itu mengusap hidungnya sambil mendengkus kesal.
Queensha dan Ghani yang tadinya santai menanggapi kejadian ini, tak bisa menahan tawa. Mereka seperti sedang melihat pertengkaran Tom dan Jerry di depannya. Keduanya tergelak seiring kelakuan absurd sahabat-sahabatnya.
“Mau lo apa, sih, sebenarnya cewek absurd? Lo mau gue balikin ciuman enggak sengaja dan enggak punya berarti apa-apa itu buat gue? Okay, kalau itu mau lo. Gue akan ngelakuinnya.” Leon menyorongkan wajahnya hendak mencium Lulu lagi, tetapi wanita itu buru-buru memundurkan tubuhnya,
“Ih, najis amat! Jangan sentuh gue, yang ada gue harus menyucikan diri dengan pasir tujuh kali!” teriak Lulu sambil memperlihatkan ekspresi bergidik ngeri. Sikapnya ini tentu saja membuat Leon gemas. Pria itu semakin mendekatkan tubuhnya membuat Lulu berteriak-teriak histeris. Mereka saling berkejaran, mengundang tawa Queensha yang semakin kencang.
“Leon, hentikan! Jangan kelewatan karena bagaimanapun, Lulu itu perempuan enggak bisa lo kerjain habis-habisan." Ghani tergelak melihat sikap Leon yang seperti singa lapar hendak menerkam musuhnya. Sementara Lulu mengelus-elus pundaknya sendiri dengan kedua tangan saat berhasil menjauh dari Leon. Hal ini juga memicu tawa Queensha yang semakin lebar melihat mereka bertengkar seperti anak kecil.
“Sudah, jangan bertengkar lagi. Kalian sudah dewasa, apa tidak malu ditonton banyak orang. Sikap kalian kekanak-kanakan, tauk.” Queensha melerai pertengkaran keduanya karena tidak mau acara ulang tahun pernikahan Arumi dan Rayyan berantakan.
Arumi dan Rayyan sudah merencanakan pesta ini jauh hari dan berharap semuanya berjalan seperti yang mereka inginkan. Jika karena pertengkaran dua manusia di hadapan mereka yang kini sama-sama saling berteriak akan mengundang kericuhan maka Queensha dan Ghani harus mencegahnya.
“Jaga sikap kalian, jangan sampai Ayah gue datang buat negur kalian. Kalian enggak mau lihat singa jantan ngamuk, 'kan?" ancam Ghani pada keduanya.
Lulu pura-pura membetulkan gaunnya, sementara Leon mengibas-ngibas kemejanya. Mereka tidak mau menjadi pusat perhatian. Namun, sepertinya terlambat karena beberapa orang sudah mulai memerhatikan mereka sejak teriakan pertama. Kini Lulu baru sadar suaranya memang melengking senyaring itu saat meneriaki Leon.
“Kalian berdua jangan kelewatan pura-pura benci, yang ada malah saling sayang. Udah banyak contohnya, yang tadinya musuh bebuyutan justru jadi cinta beneran." Ada nada menggoda sekaligus menyindir dalam waktu bersamaan.
"Gue jatuh cinta sama dia? Dih, najis!" Leon dan Lulu menjawab hampir bersamaan.
...***...
__ADS_1