
"What the fuuck! Yang benar saja! Mana mungkin Ghani menikahi wanita miskin dan kampungan seperti dia. Lo pasti bohongin gue, 'kan? Tujuan lo bicara begini karena ingin gue menjauh dari Ghani, iya?" bentak Cassandra terperanjat hebat. Saking hebatnya hingga membuat garpu dan pisau terjatuh ke lantai. Beberapa pasang mata hampir bersamaan menatap aneh ke arah Cassandra.
Leon menyeringai. "Untuk apa gue bohong. Apa yang gue ucapkan barusan benar adanya. Ghani telah menikahi perempuan yang lo anggap miskin dan kampungan." Pria itu menjeda sejenak ucapannya, menyesap ice matcha latte yang ada di atas meja. "Kalau boleh jujur, gue emang enggak suka lo terus menerus mendekati Ghani, tapi gue bukan tipe orang picik, menggunakan cara licik untuk menjauhkan lo dengannya. Berbohong adalah satu sifat yang gue hindari sejak masih kecil."
Jari tangan meletakkan kembali gelas berisi minuman warna hijau ke tempat semula. "Lo pasti enggak menyangka bukan kalau ternyata Ghani udah married? Awalnya gue juga begitu, enggak percaya kalau sahabat gue udah sold out. Namun, setelah memastikan kembali, gue percaya jika Ghani emang udah nikah."
"Ghani dan Queensha terikat tali pernikahan yang sah selama dua bulan lamanya. Walaupun gue sempat bilang kalau pernikahan mereka kandas di tengah jalan, tapi melihat gerak gerik Ghani, tampaknya sahabat gue yang super bego itu ada niatan rujuk dengan mantan istrinya. Jadi gue harap, lo mulai menjaga jarak dengan Ghani agar Queensha enggak salah paham. Gue enggak mau rencana Ghani ngajak rujuk istrinya gagal karena Queensha pikir kalau lo adalah pacarnya sahabat gue."
Cassandra menggeleng dan mendengkus kasar. "Sekarang lo udah mulai terang-terangan menunjukan ketidaksukaan lo pada gue, hem? Lo enggak takut dengan kekuasaan yang Papa gue punya bisa menghancurkan masa depan lo beserta keluarga?" ancam gadis itu. Tak terlihat sedikit pun nada bercanda tersirat dari sorot matanya.
Suasana berubah mencekam kala dua pasang mata saling menatap sinis satu sama lain. Leon sama sekali tak merasa terintimidasi meski gadis di seberang sana mengancam akan melibatkan keluarganya dalam perseteruan mereka. Takut? Tentu saja iya. Namun, ia yakin dan percaya jika Tuhan selalu melindungi setiap hamba-Nya.
Dengan tenang Leon menjawab, "Gue tahu bagaimana berkuasanya nyokap dan bokap lo. Hanya dengan sekali memerintah maka anak buah bokap lo akan melakukan sesuatu terhadap gue dan keluarga. Pasti enggak ada satu orang pun berani menentang lo. Namun, di atas langit masih ada langit. Jadi jangan pernah sombong jika lo hidup dalam kemewahan maupun kekuasaan karena kita enggak pernah tahu bagaimana masa depan orang lain."
"Roda terus berputar. Bisa jadi saat ini lo dan keluarga berada di posisi atas hingga membuat lo sombong dan dengan mudah mengancam orang lain, tapi bisa jadi satu menit kemudian posisi lo justru berada di bawah. Who knows! Pesan gue cuma satu jangan terlalu berbangga diri atas semua yang dimiliki karena semua itu hanya titipan Tuhan, sewaktu-waktu bisa diambil kembali jika Dia sudah bosan."
Mengusut sisa minuman di sekitar bibir menggunakan tisu kemudian bangkit berdiri. "Gue rasa pertemuan kita cukup sampai di sini. Udah terlalu malam dan gue mesti pulang ke rumah karena besok kebagian shift pagi. Sampai ketemu lain waktu. Selamat malam, Sandra."
Usai kepergian Leon, Cassandra melempar garpu dan sendok dengan keras ke atas meja hingga menimbulkan bunyi nyaring. Lagi dan lagi para pengunjung yang duduk di samping kanan, kiri, depan dan belakang Cassandra menatap aneh ke arah gadis itu. Akan tetapi, ia sama sekali tak merasa terganggu sebab tubuh terasa terbakar hidup oleh api amarah yang semakin lama semakin berkobar.
__ADS_1
"Dasar sialan! Berani-beraninya dia bicara begitu di hadapan gue. Emangnya gue takut dengan semua ceramah dia? Enggak! Sama sekali gue enggak takut. Orang tua gue punya harta kekayaan melimpah ruah. Segala macam aset tersebar di seluruh Indonesia jadi enggak mungkin kami jatuh miskin. Gue yakin dia cuma iri karena terlahir dari keluarga miskin," ucap Cassandra sinis dengan napas terengah.
Sebetulnya Cassandra bosan bila harus berurusan dengan rakyat jelata atau orang-orang yang terlahir dari keluarga miskin tidaklah pantas bergaul dengannya. Namun, berhubung Leon adalah sahabat sejati Ghani, ia terpaksa berinteraksi dan berpura-pura baik agar bisa berdekatan dengan sang pujaan hati.
Cassandra mengeluarkan benda pintar dari dalam hand bag berharga puluhan juta rupiah lalu menghubungi nomor seseorang.
"Halo, gue butuh bantuan lo. Cari semua informasi tentang perempuan bernama Queensha. Sekecil apa pun infromasi itu, sampaikan ke gue. Dalam waktu dua hari, lo harus laporan ke gue."
Seorang pria di seberang sana menjawab, "Baik, Nona. Akan saya laksanakan segera."
Gadis berlesung pipi tersenyum smirk. Kedua tangan terlipat di depan dada. Dagu terangkat ke atas dan menatap sinis seakan di hadapannya duduk seorang wanita yang amat dia benci.
***
Semenjak kembali ke Indonesia, Cassandra bekerja di rumah sakit milik sang paman yang ada di kawasan Kota Tangerang. Tidak hanya menjadi dokter, Dani, adik kedua papanya Cassandra memberi kepercayaan kepada gadis itu untuk memegang tanggung jawab sebagai kepala bangsal dan masuk struktur keanggotaan rumah sakit sebab Alvaro mempunyai 30% saham atas rumah sakit tersebut.
Duduk di kursi kebangaan sambil membaca catatan medis pasien yang hendak dioperasi esok pagi. Cassandra tampak begitu serius membaca setiap laporan pemeriksaan sang pasien.
Atensi gadis itu terhenti saat pintu ruangan diketuk seseorang. Kemudian ia meminta orang di seberang sana masuk ke ruangan setelah mengetahui siapakah gerangan yang datang menemuinya saat jam kerja.
__ADS_1
"Nona Cassandra." Orang kepercayaan Cassandra melangkah menghampiri meja kerja bosnya. Wajah pria itu tampak serius, seakan ingin menyampaikan berita penting kepada gadis berambut panjang sebahu.
"Gimana, apa lo udah mengerjakan tugas yang gue berikan kemarin lusa? Udah lewat dari 2×24 jam, tapi gue belum mendapat informasi apa pun tentang wanita itu." Cassandra menatap lekat pada Adrian, orang kepercayaannya.
"Sudah, Nona. Nama lengkap wanita itu adalah Queensha Azura Gunawan. Mendiang Papanya mempunyai usaha sepatu, tetapi karena suatu alasan, pabrik yang dirintis sejak dulu gulung tikar dan menyebabkan mereka jatuh miskin. Setelah semua aset kekayaan terjual demi membayar upah para pekerja, mendiang Pak Gunawan jatuh sakit dan dokter memvonisnya terkena gagal ginjal akut."
"Operasi telah dilakukan, tapi sayang ginjal Pak Gunawan tidak berfungsi dengan baik hingga menyebabkan beliau harus rutin cuci darah. Melihat semua itu, Nona Queensha terpaksa menerima tawaran pekerjaan sebagai baby sitter dan ikut tinggal bersama majikannya di Jepang. Namun, Nona Queensha diketahui mengundurkan diri setelah hampir setengah tahun bekerja."
"Karena membutuhkan biaya banyak untuk pengobatan sang Papa, Nona Queensha bekerja di club sebagai seorang pelayan," sambung Adrian memberitahu.
Cassandra terdiam mendengar laporan Adrian. Entah kenapa perasaan gadis itu tidak nyaman saat Adrian menyebutkan bahwa Queensha pernah bekerja di sebuah club malam di negara Jepang.
"Apa lo tahu nama club tempat perempuan itu bekerja?" tanya Cassandra. Pertanyaan ini sangatlah penting bagi gadis itu. Ia ingin sekali mengetahui asal usul rivalnya itu sedetail mungkin.
Mengangguk cepat dan menjawab, "Kyoto Night Club."
Mulut Cassandra terkatup. Jantung wanita itu seakan berhenti berdetak selama beberapa saat. Kepingan kejadian lima tahun lalu kembali menari indah di pelupuk mata.
"J-jangan bilang dia adalah ...."
__ADS_1
...***...