
"Yogi, selama Queensha menemui Mia, jaga dia dengan baik. Jangan sampai Mia ataupun Sarman melakukan sesuatu kepada calon istriku. Kalau kamu sampai lalai maka bersiaplah menerima hukuman dariku," kata Ghani sedikit mengancam. Menatap penuh intimidasi pada pria muda di sebelahnya. Meskipun dalam keadaan lemah tak berdaya, rupanya ia masih mampu mengeluarkan sifat yang diwariskan dari sang ayah.
"Dokter Ghani tenang saja, saya pasti menjaga Bu Queensha dengan segenap jiwa dan raga. Kalau Mia maupun Sarman berani menyentuh calon istri Anda, akan saya habisi mereka detik itu juga," sahut Yogi bersungguh-sungguh. Ia memang tak pernah bermain-main dengan kata-katanya .
Queensha merinding mendengarnya. Bulu kudu wanita itu berdiri kala membayangkan bagaimana tangan kekar yang memperlihatkan urat-urat halus itu menyentuh tubuh Mia dan Sarman. Lalu mengeluarkan benda tajam, kemudian tubuh dua manusia itu ....
Wanita cantik berambut panjang pirang kecoklatan menggeleng kepala cepat. Tak sanggup membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Seketika wajahnya pucat dan keringat dingin pun mulai bermunculan di setiap pori-pori tubuh.
Ghani yang kebetulan menoleh ke arah Queensha segera menyentuh punggung tangan calon istrinya ketika menyadari perubahan wajah wanita itu. Tatkala tangan pria itu menyentuh permukaan kulit, terasa dingin seperti berada di dalam lemari es. Ia paham mengapa wanitanya menunjukan ekspresi ketakutan seperti sekarang ini.
Dengan penuh kelembutan, Ghani mengusap punggung tangan yang menguarkan aroma wangi di setiap inch tubuh. Mengulum senyum di bibir sambil berkata, "Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk mendengar segala sesuatu yang belum pernah kamu dengar sebelumnya. Mematahkan tulang lawan, menghajar lawan hingga babak belur bahkan melenyapkan nyawa seseorang akan menjadi topik pembahasan yang sering aku dan Yogi ucapkan."
"Kamu tahu sendiri, di dunia ini Tuhan tidak hanya menciptakan manusia baik melainkan juga ada manusia jahat seperti mantan ibu tirimu itu. Dia bisa saja melakukan apa pun di saat kita sedang lengah. Oleh karena itu, aku membutuhkan seseorang yang dapat membantuku membalas dendam kepada orang-orang jahat itu jika mereka nekad melukaimu ataupun Rora, putri kita."
"Ada kalanya kita mengalah, tetapi ada pula saatnya kita melawan. Aku tidak bisa berdiam diri saja melihat orang jahat itu melukai kamu ataupun putri kita, Sha. Sebagai kepala keluarga tentu aku harus melindungi kalian dan memastikan kamu dan Rora baik-baik saja."
Membelai pipi Ghani yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Semenjak dirawat di rumah sakit, pria itu belum sempat mencukur kumis, jambang dan janggut sehingga helaian bulu halus menutupi wajah tampan sang lelaki. Namun, aura ketampanannya tak pernah pudar justru semakin bertambah ratusan kali lipat.
"Iya, Mas. Pelan-pelan pasti aku bisa terbiasa," kata Queensha. "Ehm, apa aku boleh pergi sekarang? Selagi Ayah dan Bunda belum datang, aku ingin menemui Mama Mia untuk terakhir kali."
"Pergilah dan cepat kembali. Yogi akan menggantikanku menjagamu selama kamu tak berada di sisiku. Teruslah berada di sisi Yogi dan jangan pernah sekalipun pergi tanpa didampinginya."
Sebelum meninggalkan ruang rawat inap, Queensha mencium punggung tangan Ghani layaknya seorang istri kepada suaminya. Mulai detik ini ia ingin belajar menjadi istri yang baik dan sholehah bagi calon suaminya itu.
***
__ADS_1
Sesuai dengan janjinya kepada Ghani, Yogi menjaga ketat Queensha selama dalam perjalanan. Walaupun tengah mengemudikan kendaraan roda empat yang sempat ia sewa sebelumnya, perhatian pria itu tak pernah lepas dari Queensha. Matanya yang tajam bagai seekor burung elang memperhatikan setiap gerak gerik wanita itu.
Apa Queensha tidak merasa risih? Jawabannya tentu saja risih. Namun, mau bagaimana lagi toh ini resiko yang diterima ketika memutuskan menerima pinangan Ghani untuk menjadi istrinya.
"Sebentar lagi kita tiba di tujuan. Persiapkan mental Bu Queensha karena saya yakin dua manusia jahat itu semakin membenci Anda karena tahu penyergapan yang dilakukan beberapa hari lalu tak luput dari andil Anda di dalamnya," ucap Yogi sambil menyalakan rating mobil ketika hendak menyalip gerobak bakso yang menghalangi jalannya.
Queensha tersenyum getir. Sadar akan ada resiko yang diambil jika meminta Ghani membalas rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya selama ini. Sebenarnya ia bukan wanita jahat yang tak berperasaan, tapi ia berubah menjadi wanita kejam karena kehidupannya diusik seseorang hingga menimbulkan penderitaan yang teramat mendalam.
"Biarkan saja Mama Mia semakin membenciku toh selama ini aku memang tak punya arti apa-apa dalam hidupnya. Jadi aku tak akan rugi jika dibenci oleh wanita jahat itu."
Yogi mengangguk patuh dan segera menaikan kecepatan laju kendaraan agar segera tiba di tujuan.
Tak berselang lama, kendaraan roda empat itu tiba di halaman kantor polisi. Ada beberapa mobil kepolisian terpakir, berjejer rapi di parkiran. Banyak petugas polisi yang lalu lalang keluar masuk gedung berlantai dua yang berada di pusat kota Makassar.
"Silakan masuk. Saya akan meminta petugas rutan mengantarkan Mia menuju ruangan," ucap pria berusia sekitar empat puluh tahunan.
Yogi menarik kursi hingga terdengar bunyi menggema di ruangan. Ia mempersilakan calon istri bosnya duduk nyaman di kursi sambil menunggu kedatangan Mia.
Sementara itu, di sel tahanan khusus para wanita, tampak Mia sedang memijat tubuh Ani. Wanita paruh baya yang kini wajahnya cacat menjadi kacung bagi Ani serta antek-anteknya. Itu semua dilakukan sebagai balasan karena Mia telah menyinggung perasaan Ani.
"Pijat yang benar kalau tidak mau aku jedotkan kepalamu ke dinding lagi! Ingat, akulah penguasa di sini jadi kamu wajib menuruti semua yang kukatakan!" tukas Ani. Wanita itu menggeserkan tubuhnya sedikit ke kanan guna memberi akses pada Mia untuk duduk di sebelahnya. Ia lakukan itu agar Mia dapat memijat punggung bagian kirinya dengan benar.
Mia mengangguk patuh. Tak banyak membantah seperti waktu sebelumnya. Sialan. Kalau bukan karena terpaksa aku tidak sudi memijat tubuh si Kuda Nil ini. Ini semua gara-gara Anak Sialan itu! Seandainya dia tak meminta Ghani mencariku pasti saat ini aku hidup bahagia bersama Sarman dan Lita.
Mengeraskan rahang hingga menonjol keluar. Mia melampiaskan kekesalannya dengan cara memijat kencang tubuh Ani sehingga membuat wanita itu memekik karena kesakitan.
__ADS_1
"Wanita Sialan! Kamu mau membunuhku, hah?" seru Ani seraya mendorong tubuh Mia hingga terdorong beberapa meter ke belakang.
Ani bangkit berdiri lalu berkacak pinggang dan menatap penuh amarah pada sosok wanita paruh baya yang terduduk lemas di lantai. "Kalau kamu tidak sudi memijatku katakan saja terus terang agar aku meminta orang lain menggantikan tugasmu!" Ia jambak rambut Mia dengan kencang. "Kamu pasti sengaja memijatku dengan keras karena dirimu kesal kepadaku. Benar, 'kan?"
Mia menggeleng kepala. Wajahnya panik, takut bila Ani memperlakukannya dengan kasar sama seperti beberapa hari lalu. "T-tidak, Bos. A-aku tidak bermaksud menyakitimu. Tadi a-aku t-tidak sengaja melakukannya," elaknya dengan suara tergagap.
"Alah, palingan juga bohong. Si Mia, 'kan, pintar sekali berbohong dan aku yakin saat ini dia pun sedang mengelabuimu," celetuk Endah memanas-manasi suasana. Kapan lagi menyaksikan pertandingan seru yang ditayangkan secara langsung. Terkurung di balik jeruji besi membuatnya haus akan hiburan.
Ani termakan ucapan Endah. Lalu semakin mengeratkan genggaman tangan di rambut Mia. "Apa benar begitu? Kamu sedang membohongiku, iya?"
"Sumpah demi apa pun, Bos, saya tidak berbohong. Tadi betulan, kok, saya tidak sengaja."
"Alasan! Memangnya aku goblok sampai percaya dengan kata-katamu!" Ani mengangkat kakinya ke atas, hendak melayangkan ke perut Mia. Akan tetapi, kehadiran penjaga rutan menghentikan kegiatannya. Ia lepaskan genggaman tangannya dari helaian rambut hitam milik Mia, memasang wajah semanis mungkin dan bersikap seolah tak terjadi apa pun di dalam sel tahanan tersebut.
"Mia Kurniasih, ada orang yang mencarimu. Bangunlah dan temui orang itu segera," titah petugas rutan tanpa menaruh curiga sedikit pun. Melihat Mia terduduk di lantai, ia berpikir kalau salah satu tahanan wanita itu tengah bersantai bersama tahanan yang lain.
Mia menengadahkan kepala dan menatap ke arah petugas rutan. "Siapa yang ingin menemuiku, Bu?"
"Putrimu, Queensha."
Sontak mata Mia membulat sempurna dengan rahang terbuka sedikit. Lita yang berada di seberang sel tahanan Mia ikut terkejut mendengar nama kakak tirinya disebut penjaga rutan.
'Mau apa dia ke sini? Apa mungkin dia ingin menyaksikan bagaimana penderitaan kami?' kata Lita dalam hati.
...***...
__ADS_1