
"Selamat siang, Bu. Apa yang bisa kami bantu?" Manager toko berdiri dengan anggun di hadapan Queensha. Senyuman manis ia berikan kepada pelanggannya tersebut. Ia menyambut ramah kedatangan Queensha yang bisa saja dalam waktu dekat menjadi pelanggan tetapnya.
"Mbak, saya mau lihat sample pakaian dalam yang sama persis seperti dipajang mannequin di depan sana. Bisa tolong diambilkan?" ujar Queensha dengan malu-malu. Maklum, ini pertama kalinya Queensha membeli pakaian super seksi yang lebih sering disebut dengan baju harom atau baju perang yang biasa digunakan para kaum wanita saat hendak melayani suami di atas ranjang. Warna kemerahan pada wajah serta daun telinga sangat kontras dengan warna kulit Queensha sehingga semua orang dapat menilai bahwa wanita itu tengah menahan malu.
"Tentu saja bisa, Bu." Lantas manager toko tersebut menepuk tangan sebanyak dua kali membuat seorang pramuniaga yang baru saja selesai melayani pelanggan segera menoleh ke arahnya. "Ambilkan pakaian dalam yang sama persis seperti sample di depan sana. Keluarkan semua warna dari sample tersebut dan beberapa koleksi terbaru dari toko kita."
Tak berselang lama, pramuniaga yang diperintahkan sang manager telah kembali dengan membawa lima macam warna dari motif yang sama serta lima pakaian dalam terbaru koleksi dari toko mereka. Mata Queensha melebar maksimal saat sang manager meraih pakaian tersebut dari tangan anak buahnya.
'Ya Tuhan, kenapa semua pakaian itu terlihat kurang bahan? Apa tidak akan membuat masuk angin kalau dipakai?' batin Queensha dalam hati.
Sang manager mengulum senyum melihat ekspresi Queensha. Sangat memaklumi kenapa bisa pelanggannya itu menunjukan perubahan wajah berbeda dalam waktu sepersekian detik.
"Ini barang yang Anda minta, Bu, sementara sisanya adalah koleksi pakaian terbaru yang toko kami miliki. Saya sengaja meminta anak buah untuk membawanya sekaligus, siapa tahu Ibu kurang cocok dengan sample pakaian dalam yang dipajang di depan sana jadi ada alternatif pilihan lain untuk Anda," tutur sang manager toko menjelaskan alasannya mengapa membawa pakaian dalam lainnya, padahal Queensha hanya meminta diambilkan barang yang sama persis seperti yang dipajang di depan.
__ADS_1
Queensha tampak ragu saat menerima helaian pakaian kurang bahan itu dari tangan manager toko. Tangannya gemetar karena gugup. 'Astaga, ternyata bahannya lebih tipis dari yang kubayangkan. Apa yang akan Mas Ghani pikirkan kalau aku jadi membeli ini?' raungnya dalam hati.
Mendadak kepala Queensha jadi pusing sendiri saat pikiran nakalnya berkelana ke mana-mana. Membayangkan jemari tangan kokoh Ghani menyentuh setiap area permukaan kulit, membelai dengan lembut sampai ke area paling sensitif dalam dirinya membuat wanita itu merinding. Jantung Queensha berdetak terlalu kencang hingga ia berkeringat dingin.
"Ehm, apa tidak ada yang lebih tertutup lagi? Ini ... terlalu seksi dan saya tidak biasa memakainya," kata Queensha. Ia berkata jujur meski sebetulnya terlalu malu mengakuinya.
"Untuk pertama kali memang akan merasa tidak biasa, tetapi lama kelamaan pasti terbiasa. Sebetulnya pakaian dalam pilihan pertama Ibu lebih tertutup dibanding dengan koleksi yang ada. Coba Ibu bandingkan dengan yang ini, bukankah ada perbedaan di antara keduanya? Di tangan kanan saya dari warnanya saja sudah mencolok, belum lagi pada bagian dadanya yang terlihat lebih membusung ke depan hingga memberi kesan lebih menggelembung dan padat berisi, sedangkan di tangan kiri saya adalah pilihan pertama Anda. Modelnya memang sedikit ketinggalan zaman, tapi terkesan manis dan polos sangat cocok dengan karakter Anda," ucap manager toko tersenyum menatap Queensha.
Berbentuk two piece, warna hitam. Atasan berupa sejenis korset dengan kaitan mungil mulai dari bawah lingkar payudara hingga ke pusar. Lalu, di bagian bra tertutup sempurna dengan kain brokat. Bagian perut dibalut oleh kain transparan dengan hiasan pita serat renda di bagian lingkar pinggul. Tidak terlalu seksi, tetapi mampu membangkitkan syahwat lawan jenis.
'Oh astaga, kenapa rasanya ruangan ini terasa begitu panas. Padahal ruangan ini dilengkapi pendingin ruangan. Apa mungkin ada yang salah dengan tubuhku?' Queensha mengipas-ngipas wajahnya menggunakan telapak tangan. Dalam hati mulai merutuki keputusannya untuk melipir sebentar ke toko pakaian dalam khusus bagi kaum wanita. Andai saja tadi ia segera menyusul Aurora dan Lulu yang masih asyik bermain mungkin ia tak akan mengalami kejadian memalukan seperti ini.
Manager toko yang masih setia berdiri di depan Queensha kembali bersuara. "Bagaimana, Bu, apa Ibu jadi mengambil pakaian dalam ini? Menurut saya ini lebih jauh tertutup dibanding dengan yang lain."
__ADS_1
Queensha tidak langsung menjawab. Ia tampak menimbang-nimbang haruskah membeli pakaian tersebut sebagai wujud ucapan terima kasih karena suaminya telah memberi kartu sakti yang bisa ia gunakan untuk membeli apa pun.
Sha, lo sekarang udah jadi istri dari pria tampan yang merupakan idola setiap wanita. Tampang suami lo itu tampan, kaya sejak lahir walaupun sifatnya dingin, justru itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum wanita di luaran sana untuk mengejar suami lo. Lo mesti menjaga ketat suami lo supaya enggak direbut orang. Tau sendiri zaman sekarang adalah zaman edan. Bibit pelakor ada di mana-mana, enggak menutup kemungkinan ada satu di antara mereka berniat menghancurkan rumah tangga lo dan Pak Ghani.
Oleh karena itu, lo mesti merawat diri, mempercantik penampilan agar Pak Ghani selalu betah di rumah. Jangan beri kesempatan kepada orang ketiga datang dan menghancurkan pernikahan lo. Sekalinya orang ketiga hadir di antara lo dan Pak Ghani, jangan harap semuanya akan baik-baik saja.
Queensha tertegun mengingat petuah bijak yang disampaikan Lulu kepadanya. Atas desakan sahabatnya itu pulalah ia bersedia melakukan perawatan di salon kecantikan meski sebetulnya tak ada niatan sedikit pun menggunakan uang sang suami untuk memanjakan diri sendiri.
Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. Lalu Queensha menaikkan dagu ke atas dan berucap dengan penuh percaya diri. "Jadi, Mbak. Tolong bungkus pakaian dalam yang di sebelah kirimu itu dan semua koleksi pakaian dalam terbaru yang toko kalian miliki. Saya mau membeli semuanya."
Setelah melakukan pembayaran di kasir, Queensha keluar dari toko tersebut dengan menenteng tiga buah paper bag di tangan kanan dan kirinya. Ia melenggang anggun meninggalkan deretan pertokoan menuju lantai dua di mana Aurora dan Lulu menunggu.
"Mulai sekarang, aku harus lebih agresif lagi. Jangan sampai Mas Ghani mencari perhatian di luaran sana. Dengan cara apa pun, aku harus menjaga keutuhan rumah tanggaku bersama suamiku." Gumam Queensha. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk berubah, tidak lagi malu-malu kucing saat diajak bercinta suaminya. Tak mengapa jika dirinya dianggap penggoda oleh suaminya sendiri, toh ia melakukan itu semua demi pernikahannya.
__ADS_1
...***...