Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Rencana Pertama


__ADS_3

Ghani meletakkan gawai di atas nakas saat melihat istri tercinta masuk ke dalam kamar. Pria itu menyingkap selimut yang menutup bagian kaki, memberi akses pada sang istri untuk merebahkan tubuh di sampingnya.


"Apa Rora sudah tidur, Sayang?" Ghani bertanya seraya membawa tubuh istrinya dalam dekapan. Mengusap pundak Queensha sambil mencium puncak kepala istrinya dengan penuh cinta.


"Sudah, Mas. Setelah aku selesai membacakan dongeng Princess Aurora, dia pasti langsung tertidur pulas. Dia suka sekali dengan cerita dongeng itu, padahal ada banyak koleksi buku cerita lain di kamarnya, tapi dia lebih suka dibacakan buku itu. Apa mungkin karena kesamaan nama tokoh utama membuat dia menyukai cerita tersebut?" Mata mengerjap, memandangi kesempurnaan paras pria yang begitu Queensha cintai.


"Maybe. Itulah kenapa Rora tak pernah merasa bosan meski ratusan kali dibacakan cerita yang sama, dia tetap menyimaknya dengan seksama sampai ceritanya tamat."


Queensha membenarkan posisi tidurnya menyamping ke arah Ghani. Dia tampak sedang memikirkan cara untuk menyampaikan satu hal pada suaminya itu. Pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk dalam dirinya.


"Mas, soal tawaran Tante Ayu, dari mana kita memulainya? Jujur, aku sendiri masih bingung mau carì alasan apa lagi biar Lulu dan Mas Leon semakin dekat. Ini merupakan pengalaman pertamaku menjodohkan seseorang jadi tak punya banyak pengalaman untuk diterapkan pada kasusnya Lulu dan Mas Leon." Queensha berkata jujur pada suaminya itu.


Jangankan jadi mak comlang, berpacaran saja tidak pernah karena masa mudanya dihabiskan untuk berbakti kepada Mia meski baktinya sebagai seorang anak tak pernah dianggap oleh istri kedua sang papa.


Ghani membeku di tempat. Kening mengerut seakan sedang berpikir keras. Lalu, tak lama kemudian senyuman tipis tercipta di paras rupawan.


"Pentas seni di sekolah Rora, kapan?"


"Sekitar tiga hari lagi. Acara pensi diadakan pada hari minggu pukul 09.00 WIB," sahut Queensha.


Sepersekian detik terdiam, kemudian dia ikut tersenyum saat mengerti maksud pertanyaan sang suami. "Aku tau apa yang harus kulakukan sekarang."


Tak perlu membuang waktu terlalu lama, Queensha menyingkirkan tangan kekar Ghani yang melingkar di pinggangnya. Dia beringsut menjauhi sang suami dan mendekati nakas di samping tempat tidur.

__ADS_1


Jemari tangan mencari nomor Lulu, mencoba menghubungi sahabatnya itu. "Lu, maaf ganggu. Aku cuma mau tanya, hari Minggu nanti kamu ada acara tidak? Kebetulan Rora mau petas di sekolah hari Minggu ini dan dia merengek ingin agar kamu juga ikut. Aku sudah coba membujuknya, memberitahu kalau kamu sibuk kerja. Namun, uahaku gagal, dia tetap ingin kamu juga hadir, menyaksikan sendiri kehebatannya bersama teman sekelasnya yang lain."


Di seberang sana, Lulu membuka buku agenda yang baru saja dia ambil dari dalam laci nakas. Mengecek kembali agenda kegiatan yang tertulis di sana.


"Hari Minggu ini kebetulan gue free. Gue sih mau aja datang, tapi gimana sama suami lo? Takut dia merasa terganggu akan kehadiran gue di antara kalian berdua," jawab Lulu. Walaupun ada perasaan kurang nyaman berada di tengah Queensha dan Ghani, tetapi demi keponakan tersayang, dia rela menyingkirkan perasaan tersebut. Asalkan Aurora senang maka dia pun ikut senang.


Queensha melirik ke arah suaminya, lalu Ghani menganggukan kepala tanda bahwa dia sama sekali tak keberatan jika Lulu hadir dalam pentas seni nanti.


"Mas Ghani tidak keberatan jika memang kamu hadir. Dia malah senang karena banyak orang yang memberi dukungan pada Rora. Baiklah, kalau kamu memang tak sibuk, aku akan minta Mang Aceng mampir sebentar ke indekosmu biar kita berangkat bareng ke sekolahnya. Mas Ghani nanti nyusul karena ada urusan sebentar di rumah sakit." Queensha menggigit kukunya dengan gugup kala mengucap kalimat terakhir. Entah berapa banyak kebohongan yang akan dia lakukan demi keberhasilan hubungan Lulu dan Leon.


"Oke. Gue tunggu."


Selesai mengakhiri pembicaraan dengan Lulu, Queensha mendekati suaminya dan kembali merebahkan kepalanya di dada bidang Ghani.


"Urusan Lulu sudah selesai, kini giliranmu menghubungi Mas Leon. Gunakan cara apa pun agar dia hadir dalam acara pensi nanti. Mau kamu ancam dia, atau menarik tangannya secara paksa, aku tidak peduli, terpenting Mas Leon datang dan rencana kita berhasil. Awas saja kalau tidak berhasil maka jangan harap bisa menjenguk anak-anak kita!" kata Queensha sedikit memberi ancaman. Dia sampai rela berbohong demi membujuk Lulu jadi dia minta imbalan atas perbuatannya itu.


"I-iya ... a-aku pastikan Leon juga hadir di pensinya Rora nanti," ujar Ghani tergagap.


***


Tiga hari kemudian, hari yang dinantikan pun tiba. Baik Ghani maupun Queensha, keduanya berhasil membujuk sahabat masing-masing sehingga Leon dan Lulu bisa dipastikan hadir dalam pentas seni yang diadakan pihak sekolahnya Aurora.


Berjongkok demi mensejajarkan tinggi badannya dengan sang putri. "Sayang, kamu pergi duluan dengan Mama, nanti papa menyusul. Papa mesti ngurusi urusan pekerjaan dulu sebentar jadi tidak bisa nganterin kamu dan Mama. Tapi kamu tidak boleh takut sebab papa pasti datang, menyaksikan Rora naik ke atas panggung bersama teman-teman satu kelas."

__ADS_1


"Iya, Papa, tidak masalah. Tapi Papa janji, ya, akan datang setelah urusan pekerjaan selesai. Rora enggak mau kalau sampai Papa enggak hadir dan lihat Rora di atas panggung."


"Janji!" Lantas Ghani mengulurkan jari kelingkingnya di depan wajah Aurora, disambut gembira oleh gadis kecil itu.


Ghani berdiri, lalu memeluk istrinya sebentar. "Kamu hati-hati di jalan. Kalau Mang Aceng berkendara ugal-ugalan atau dirasa laju kendaraan terlalu cepat, kamu boleh menegurnya. Jangan takut menegur orang yang salah. Mengerti?"


"Iya, aku mengerti. Kamu jangan lupa nyusul dan ajak Mas Leon juga. Aku tidak mau rencana yang telah disusun matang berakhir sia-sia."


Usai berpelukan, Ghani menggandeng istri dan anak perempuannya menuju lift. Saat pintu lift terbuka, kedua orang dewasa dan satu orang anak balita masuk ke dalamnya. Ghani menekan tombol L untuk lobby apartemen, dia ingin memastikan keselamatan Queensha dan Aurora terlebih dulu sehingga mengantarkan keduanya ke lantai bawah.


"Mang Aceng, jangan ngebut saat berkendara! Dan jangan pernah mengirim pesan ataupun mengangkat telepon selama sedang menyetir. Ingat, keselamatan berkendaran lebih penting dari apa pun," kata Ghani mencoba mengingatkan sang sopir.


Pria paruh baya yang duduk di kursi depan mengangguk patuh.


Ketika berada di dalam mobil, Queensha langsung mengirim pesan kepada Lulu. [Lu, aku dalam perjalanan ke indekosmu. Bersiaplah karena dalam kurun waktu kurang lebih satu jam sudah tiba di sana.]


Pesan itu terkirim dan langsung centang dua, menandakan bahwa pesan tersebut telah dibaca oleh si penerima.


Layar ponsel bagian atas menunjukan bahwa si penerima pesan tengah mengetik sesuatu. Tak lama kemudian pesan balasan dari orang seberang sana muncul di notifikasi pop up.


[Oke. Hati-hati di jalan. Gue tunggu lo dan Rora dengan setia.]


Queensha memasukan ponselnya ke dalam hand bag, kemudian menyenderkan punggung ke belakang. Ditatapnya langit cerah di atas sana dari jendela mobil milik keluarga suaminya.

__ADS_1


"Semoga rencana kami kali ini berhasil. Tuhan, bantulah kami menyatukan Lulu dan Mas Leon," ucap Queensha lirih bahkan nyaris tak terdengar.


...***...


__ADS_2