Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Gelisah


__ADS_3

Leon awalnya kesal karena Lulu tak kunjung menjawab pertanyaannya, tetapi saat melihat tubuh wanita itu semakin gemetar dan keringat dingin mulai muncul di kening membuat ia merasa kasihan. Walaupun ia tak menyukai Lulu bukan berarti naluri kemanusiaannya tidak berfungsi dengan baik. Apalagi ia berprofesi sebagai seorang dokter maka berkewajiban untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan.


Tangan Leon terangkat ke udara, hendak menyentuh tubuh Lulu yang tengah duduk di kursi tunggu khusus pengunjung restoran. Akan tetapi, ia ragu apakah tindakannya benar atau salah. Bagaimana jika Lulu kembali menganggap bahwa dirinya adalah pria mesum? Retupasinya sebagai pria ter-cool dan terganteng kedua setelah Ghani akan rusak detik itu juga.


Namun, terus melihat Lulu memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri, tentu saja Leon tidak tega. Maka ia memutuskan untuk merangkul Lulu dengan segala kemungkinan terbuka yang kelak diterimanya.


"Gue antar lo ke mobil sekarang. Nanti di mobil, lo bisa cerita ke gue kenapa mendadak jadi gemetaran begini."


Lulu tidak menepis apalagi mendorong tubuh Leon saat dada bidang pria itu menyentuh bagian punggungnya. Ia biarkan sahabat Ghani memapahnya menuju parkiran mobil.


"Lagian, lo kenapa, kok, bisa kayak orang habis ngelihat setan, tiba-tiba aja badan gemetaran. Muka lo juga pucat, padahal tadi gue udah traktir lo makan enak." Kendati menggerutu, Leon tetap membantu Lulu, berjalan perlahan menyesuaikan langkah kaki sang wanita.


Tatapan mata Lulu masih kosong. Tubuhnya pun masih gemetar, tetapi tidak seperti saat sebelum dipeluk Leon. Ia sudah mulai membaik dari sebelumnya.


'Gue yakin, ini pasti ada sangkut pautnya sama cowok asing itu. Kalau enggak, kenapa tiba-tiba aja sikap Lulu berubah seperti sekarang. Enggak mungkin dia kena sawan sehabis makan malam bareng gue,' ucap Leon dalam hati.


Saat ini Leon dan Lulu sudah ada di mobil. Dengan begitu telaten Leon membantu Lulu duduk di kursi sebelah kemudi. Setelah memastikan Lulu duduk dengan nyaman, barulah ia membuka pintu kursi penumpang yang ada di belakang, mencari air minum kemasan yang selalu ia simpan untuk bekal dalam perjalanan.


"Minum dulu, biar lo baikan." Leon menyodorkan botol air minum berukuran 330 ml ke hadapan Lulu. Ia biarkan Lulu menegak habis minumannya hingga saat wanita itu sudah mulai jauh lebih tenang, ia kembali bertanya, "Lu, are you okey?" tanyanya dalam bahasa Inggris.


Lulu menutup botol minuman tersebut dan menaruhnya di atas pangkuan. Mencoba menenangkan diri dengan cara menarik napas dalam, menahannya sebentar lalu mengembuskan secara perlahan. Akhirnya, setelah melakukan teknik relaksasi, ia telah pulih seperti sedia kala.


"Gue baik-baik aja. Thanks udah bantuin gue," jawab Lulu.


Leon mengerutkan kening. Leon masih ingin bertanya, tetapi melihat tubuh Lulu yang terlihat lemas membuat ia mengurungkan niatannya tersebut.


"Ya udah, kalau lo udah baik-baik aja, kita pulang sekarang. Gue rasa lo butuh banyak istirahat untuk pulihin kondisi lo dan gue rasa, rumah adalah tempat paling tepat untuk sekarang ini."


Lulu menganggukkan kepala mendengar tawaran Leon untuk mengantarkannya pulang. Saat ini ia hanya butuh sendiri menikmati gigitan sakit yang menggerogoti hati.


Pertama, Lulu harus bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia harus bisa melupakan semua bayangan masa lalu yang terus menari indah di memori ingatannya. Namun, sekeras apa pun berusaha, nyatanya ia sulit untuk melupakan. Semuanya terasa nyata, dan sekarang ia kebingungan sendiri.

__ADS_1


Tubuhnya merespon kecemasan besar yang dialaminya dengan getaran dan keringat dingin yang membanjiri tubuh bahkan saat di mobil, Lulu masih berusaha menarik napas panjang untuk menenangkan diri. 'Come on, lo pasti kuat, Lu. Lo ditakdirkan untuk jadi perempuan kuat!' ujarnya dalam hati, menguatkan diri sendiri kalau ia bisa melewati semua ujian ini dengan baik.


Kecemasan yang ditunjukan Lulu tertangkap oleh sepasang mata Leon. Ia mencuri pandangan saat tengah berkendara. "Kalau lo butuh ke rumah sakit, gue bisa anterin sekalian jalan. Kebetulan jalanan ini searah dengan tempat kerja gue. Gimana, mau enggak?"


Lulu terdiam. Ia benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan Leon. Lulu ingin segera tiba di indekosnya dan berbaring nyaman. Lulu suka kegelapan kamarnya, di mana ia bisa menyembunyikan air mata di bawah bantal tanpa ada satu orang pun yang mengetahuinya. Ia sembunyikan semua rasa yang dipendam dari banyaknya orang di luaran sana, berpura-pura menjadi kuat demi menyembunyikan sebuah rahasia besar dari semua orang termasuk ayah dan ibunya.


"Atau mungkin lo butuh obat penenang? Gue bisa meresepkannya untuk lo kalau lo betulan butuh obat tersebut. Kita bisa mampir apotek sebentar, lo tinggal bilang apa yang lo butuhin." Leon berusaha membantu. Namun, semakin didesak, Lulu semakin merasa tidak nyaman. Dia ingin menjawab tidak membutuhkan semua itu, karena yang ia butuhkan adalah sebuah ketenangan.


"Udah nggak ada lagi. Anterin gue aja pulang ke kosan. Itu udah lebih dari cukup."


"Oke, oke." Merasa tak enak hati, Leon akhirnya mengantarkan Lulu ke indekosnya.


Di sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara seperti saat di restoran tadi. Lulu dengan sikapnya yang mendadak misterius membuat Leon bertanya-tanya. Semakin ia penasaran, semakin sisi hatinya yang lain melarang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


'Sumpah, gue jadi makin penasaran sama nih cewek. Apa yang dia sembunyiin dari gue? Apa Queensha tau tentang rahasia yang disimpan Lulu? Aargh, lama-lama gue jadi stress sendiri, nih!' raung Leon dalam hati.


Sesekali, Leon melirik ke samping, di mana Lulu terkulai lemas di jok sebelahnya. Pandangan wanita itu lurus ke depan, tanpa ekspresi. Leon tahu sesuatu sedang terjadi pada gadis di sampingnya. Sayang, Leon tak tahu harus memulai dari mana untuk mengetahui cerita sebenarnya. Leon memang selalu payah untuk urusan memahami wanita.


"Leon, thanks untuk makan malam tadi. Sorry kalau udah bikin lo repot. Yang terjadi di restoran, semua di luar kendali gue. Sekali lagi, sorry," ucapnya bersungguh-sungguh. Walaupun ia terkenal barbar dan ceplas ceplos dalam berbicara, tetapi semua nasihat yang diucapkan kedua orang tuanya terekam jelas di benak wanita itu.


Terima kasih, maaf, dan tolong merupakan tiga kata ajaib yang tak boleh dilupakan Lulu saat berbaur dengan masyarakat. Tiga kata ajaib itu pulalah yang selalu digaungkan di telinga wanita kelahiran dua puluh enam tahun silam.


"Enggak masalah, namanya musibah enggak akan pernah ada yang tau. Sekarang lo masuk dan istirahat. Misalkan besok kondisi lo masih belum ada perubahan, cuti kerja aja, jangan maksain diri sendiri. Dan kalau butuh apa-apa, misalkan obat atau apa pun itu, lo bisa hubungin gue. Gue standby 24 jam."


Lulu mengangguk lemah. Perasaannya sedikit melambung mendapat perhatian dari Leon yang dirasa saat ini benar-benar ia butuhkan. Akan tetapi, Lulu tidak mau berharap banyak toh tujuan awal makan malam ini hanya sekadar untuk perkenalan saja, bukan untuk membawa hubungan ini ke step selanjutnya.


"Ya udah, gue cabut dulu." Leon mengangguk kepala sebagai tanda perpisahan.


"Take care, Yon," jawab Lulu pelan.


Leon pulang dengan tanda tanya besar di kepalanya. Apa yang terjadi dengan Lulu, kenapa tiba-tiba gadis itu gemetar, padahal sebelumnya baik-baik saja? Leon mengingat rentetan kejadian tatkala Lulu tanpa sengaja melihat punggung seorang pria asing.

__ADS_1


"Fix, ini mah Lulu betulan kenal sama cowok itu, deh. Tapi, kenapa Lulu terlihat ketakutan setengah mati?" gumam Leon resah.


Leon bergegas pulang ke rumah orang tuanya. Hari sudah beranjak malam dan ia ingin segera beristirahat, merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Sampai di rumah, lampu ruang tamu sudah dimatikan, papa dan mamanya sudah tidur. Leon masuk ke dalam kamar, tapi merasa tubuhnya kegerahan, meskipun AC dinyalakan dengan suhu rendah.


Leon bergegas menuju ke freezer, mengambil es batu, kemudian menuangkan satu minuman kaleng. Rasa segar di tenggorokan membuat pria itu merasa rileks sejenak. Kini ia menikmati kesendirian di mini bar dekat taman belakang dapur.


"Kenapa gue jadi kepikiran tentang Lulu, ya? Apa gue telpon dia sekarang?" ujar Leon menimbang-nimbang.


Pria yang kini usianya genap 32 tahun mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mulai ragu hendak memencet nomor Lulu. "Kalau dia udah tidur, berarti gue ganggu waktu istirahat dia, dong."


Setelah duduk cukup lama di meja mini bar, Leon kembali ke kamarnya. Berkali-kali, pria itu mencoba memejamkan mata, tetapi ia tetap tidak bisa tidur. Bayang-bayang Lulu berteriak dan meracau tak jelas, bermain di pelupuk matanya.


"Enggak! Pergi lo dari sini! Pergi!"


Sepenggal kalimat yang Lulu ucapkan disela tubuhnya gemetar hebat kembali terngiang di telinga Leon. Ekspresi wajah ketakutan bersumber dari Lulu membuat Leon dihantam rasa penasaran hingga ia tak lagi dapat berpikir jernih karena terus kepikiran akan kondisi Lulu.


Gadis yang beberapa saat lalu bersikap sangat menyebalkan, liar, tapi juga lucu, malam ini berubah menjadi pendiam dan menyiratkan rasa takut yang mendalam. Leon benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada musuh bubuyutannya tersebut.


Leon kembali dalam kegelisahan teramat sangat. Ia melihat ponsel, ingin menelpon Queensha, dan menceritakan apa yang terjadi. Leon sungguh penasaran, tapi melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Leon membatalkan niatnya.


"Kasihan dia. Gue enggak nyangka kalau dia punya sisi lemah yang enggak diketahui siapa pun. Gue harap semoga Lulu baik-baik aja sekarang."


"Namun, ngelihat wajahnya tadi, jelas dia enggak akan baik-baik saja. Harusnya gue enggak pulang duluan tadi, tapi mastiin dulu sampai dia masuk ke indekosnya. Bodoh. Lo bener-bener bodoh jadi cowok, Yon!"


Leon menyesali diri. Ia menutup wajah menggunakan bantal, tetapi teriakan Lulu bak kaset rusak, terus menggaung di telinganya.


"Fucck! Pokoknya besok gue mesti temuin Queensha atau Ghani, dan menceritakan semua yang terjadi malam ini ke mereka."


...***...

__ADS_1



__ADS_2