
Ghani menatap layar ponsel miliknya dan memastikan jika alamat yang diberikan Yogi tidaklah salah. Semalam dia meminta orang kepercayaannya untuk mencari tahu alamat tempat tinggal Queensha saat ini. Dan di sinilah dia berdiri di depan gerbang masuk sebuah indekos putri yang ada di kawasan Jakarta Selatan.
Mengetahui jika bangunan dua lantai itu tidak sembarang lelaki masuk membuat Ghani memutuskan menghubungi Queensha dan meminta sang mantan istri menemuinya di pintu gerbang.
"Siapa, Sha?" tanya Lulu tatkala melihat Queensha segera beranjak dari tempat tidur lalu membuka vitrase jendela kamar.
"Pak Ghani. Dia memintaku turun dan menemuinya. Namun, aku tidak tahu apa tujuan kedatangannya ke sini," sahut Queensha tanpa menoleh ke belakang.
Lulu ikut memandangi Ghani yang masih setia menunggu di depan pintu gerbang. "Temui saja dia, siapa tahu memang ada urusan penting dengan lo. Kasihan dia kalau terus berdiri di sana, takutnya jadi bahan omongan teman indekos lain."
Tampak Queensha berpikir keras sebelum akhirnya mengambil keputusan. Bertemu kembali dengan Ghani setelah kejadian kemarin membuat wanita itu sedikit bimbang haruskah menuruti permintaan mantan suaminya itu atau tidak. Namun, kalau boleh jujur sebetulnya dia penasaran apa tujuan pria itu datang ke sini?
Menghela napas panjang dan berat kemudian berkata, "Baiklah, aku segera turun. Kita bicara di gazebo depan indekosku." Sambungan telepon pun terputus. Queensha akhirnya memberi kesempatan pada Ghani sebelum mereka benar-benar berpisah.
Suasana tegang sangat terasa ketika sepasang mantan suami istri duduk bersebelahan. Tak ada senyuman mengembang di sudut bibir Queensha. Wajah wanita itu datar tanpa ekspresi.
"Mau apa lagi kamu menemuiku? Apa penolakanku kemarin belum jelas sampai kamu mencari cara untuk bisa menemuiku lagi?" Queensha mulai membuka percakapan di antara mereka. Wanita itu tak lagi memanggil Ghani dengan sebutan 'bapak' bahkan nada suaranya terdengar dingin tak seramah dulu.
__ADS_1
Ghani menelan salivanya susah payah. Perubahan sikap Queensha membuat pria itu kembali merutuki kebodohannya karena dulu mau menuruti permintaan teman kuliahnya, menegak minuman beralkohol yang sudah dicampur obat perangsang.
"Queensha, saya minta maaf jika kedatanganku ke sini mengganggu istirahatmu. Saya ke sini hanya ingin meminta bantuanmu untuk mengantarkanku berziarah ke makam putri kita. Karena bagaimanapun anak itu adalah darah dagingku juga dan saya berhak tahu di mana kamu memakamkannya."
Queensha tertegun mendengar permintaan Ghani. Meskipun dia membenci mantan suaminya, tapi untuk menolak rasanya sulit karena apa yang diucapkan pria itu adalah benar. Jika bukan karena cairan kenikmatan yang disemburkan Ghani ke dalam rahimnya, tentu saja putri mereka tidak akan lahir ke dunia.
"Makam putri kita berada di daerah Sumedang. Aku memutuskan pindah dari Jakarta ke kota kecil untuk memulai hidup baru, menghilang dari hiruk pikuk padatnya ibu kota. Lagi pula aku berpikir untuk apa tetap tinggal di kota di mana tak ada satu orang pun menginginkanku daripada tersiksa lebih baik pindah ke kota di mana tak ada satu orang pun menghina dan mencaci makiku karena hamil anak di luar nikah."
"Benar saja, setelah aku tinggal dan menetap di Sumedang, hidupku jauh lebih baik daripada saat masih tinggal di Jakarta. Walaupun dari mereka bertanya-tanya siapa ayah dari bayi yang kukandung, tapi setidaknya mereka langsung bungkam setelah kukatakan bahwa ayah dari bayi ini meninggal dunia. Mereka tak lagi mempermasalahlan statusku yang merupakan single parents."
Ghani membulatkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Dua jawaban itu mampu membuat jantung Ghani rasanya berhenti berdetak beberapa saat.
"Kecamatan Jatinangor, Desa Cintamulya. Kenapa, apa kamu punya saudara yang tinggal di sana juga?" Queensha memalingkan wajah kala dua netra saling beradu pandang. Dia tidak mau terbuai dan terjatuh untuk kedua kali dalam pelukan Ghani. Untuk itulah menghindari tatapan sang mantan suami.
Ghani kembali terhentak akan jawaban yang baru saja ia dengar. "Jadi, selama mengandung darah dagingku, kamu tinggal di desa Cintamulya, begitu?"
"Benar. Sampai melahirkan putri kita, aku tetap tinggal di sana. Namun, setelah dia dikebumikan aku memutuskan kembali ke Jakarta. Hanya sebulan sekali saja aku ke Sumedang untuk menziarahi makam putriku."
__ADS_1
Dalam satu kali gerakan, Ghani membalikan badan Queensha hingga posisi mereka saling berhadapan. Debaran jantung pria itu meningkat dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Queensha, coba kamu beritahu saya tanggal berapa kamu melahirkan putri kita? Kumohon, tolong jawab dengan sejujurnya."
Dada Queensha berdebar lembut, debaran yang sama saat dia pertama kali duduk bersanding dengan Ghani ketika prosesi ijab qabul berlangsung. Meskipun mereka jarang bertemu dan tak lagi tinggal satu atap rupanya debaran itu masih terasa dan lelaki itu mempunyai tempat teristimewa di hatinya.
"Putri kita lahir pada hari rabu, tanggal 11 Juli 2018."
Dunia terasa berhenti berputar beberapa detik. Napas pria itu tercekat di tenggorokan. Seketika tangannya yang kokoh terkulai lemas di samping kanan dan kiri.
Perasaan Ghani membuncah. Ada perasaan bahagia menelusup ke relung hati yang terdalam. Namun, dia belum mau percaya begitu saja sebelum ada bukti konkret dalam genggaman tangan.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi sekarang? Bawalah beberapa pakaian ganti sebab kita akan menginap selama satu atau dua hari. Perjalanan akan terasa melelahkan mengingat medan terjal menghadang di depan mata." Bangkit berdiri dari tempat duduknya lalu mengulurkan tangan ke arah Queensha berniat membantu wanita itu bangkit dari posisinya saat ini.
"Oke. Tapi aku tidak mau kalau cuma kita berdua yang pergi. Aku ingin mengajak Aurora pergi bersama. Bagaimana?" pinta Queensha ragu.
Menarik kedua sudut bibir ke atas dan menjawab, "Tidak masalah. Setelah dari sini kita ke rumahku sebentar dan menyiapkan keperluan Rora selama bepergian. Setelah itu barulah kita pergi ke Sumedang, menemui makam putriku."
__ADS_1
...***...