
"Mas Ghani?"
Bibir Queensha gemetar tatkala melihat kondisi Ghani yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Tangan kanan diperban, bagian kaki dibidai menggunakan dua buah spalk terbuat dari kayu dan dibungkus kain kasa lalu terdapat luka di beberapa anggota tubuh membuat Queensha tak kuasa menahan air mata yang meluncur begitu saja. Dada terasa sesak seolah udara di sekitar tak mampu memberi suplai oksigen ke dalam paru-paru.
"Sayang, kemarilah!" ucap Ghani lirih. Ingin rasanya ia berhambur ke arah Queensha, kemudian membawa tubuh sintal itu dalam pelukan. Mendekapnya dengan erat dan mengatakan untuk tidak boleh menangis. Namun, apalah daya saat ini ia tak mampu melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain.
Rayyan yang duduk di kursi samping ranjang rumah sakit segera bangkit berdiri dan berjalan ke arah Queensha. Lirih berkata di telinga sang calon menantu. "Duduklah dan temani Ghani. Selama berada di sini tanggung jawab puteraku diserahkan kepadamu. Tolong rawat dan jaga dia dengan baik."
Hati Queensha menghangat. Walaupun Rayyan tampak menakutkan dari luar, tapi hatinya begitu baik sampai mempercayakan Ghani kepadanya.
"Baik, Ayah. Terima kasih sudah mempercayakan Mas Ghani kepadaku." Queensha menunduk hormat. Lantas ia duduk di samping tubuh Ghani yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Sepasang mata memindai sosok di depannya mulai dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Jemari lembut membelai helaian rambut coklat kepirangan calon suaminya. Tidak berani mengusap punggung tangan yang terkena luka tusuk akibat perbuatan Sarman. Khawatir jika sentuhannya justru memperparah luka yang dialami Ghani.
"Mas, kenapa bisa begini? Bagaimana kamu bisa terluka? Apa Sarman adalah dalang di balik semua kemalangan yang menimpamu?" Queensha terisak, merintih dalam kepedihan. Berbagai rasa penyesalan menghantam relung jiwa yang terdalam. Berpikir kenapa ia meminta Ghani membalaskan dendamnya kepada Mia dan Sarman. Andai ia dapat melihat masa depan pasti akan membiarkan Ghani pergi agar calon suaminya tidak celaka.
"Ya, Sarmanlah yang membuatku begini. Terlalu asyik menghukum Mia, aku lengah hingga Sarman memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyerangku. Dia menyerangku dengan membabi-buta," sahut Ghani.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud menjerumuskanmu ke lubang penderitaan. Demi Tuhan, aku tak tahu jika Sarman akan berbuat gila seperti sekarang ini. Tolong ... maafkan aku."
Susah payah Ghani merengkuh telapak tangan Queensha. Sesekali meringis kesakitan, tetapi tak menyurutkan niatnya untuk menyentuh permukaan kulit sang wanita.
"Sst, jangan berbicara begitu. Kamu tidak salah, Sayang. Akulah yang terlalu lengah sampai tak menyadari ancaman bahaya di sekitarku. Sudah, jangan menangis lagi. Dokter 'kan bilang kalau aku baik-baik saja. Istirahat selama lima sampai tujuh hari ke depan, aku dapat beraktivitas lagi seperti sedia kala."
Queensha menubrukan kepala di dada bidang Ghani. Ia sembunyikan wajah di balik pakaian rumah sakit berwarna putih bergarik biru. Menghirup dalam aroma parfum citrus bersumber dari tubuh sang calon suami yang terasa begitu menyegarkan.
"Namun, aku takut kehilanganmu, Mas. Aku tidak mau jadi janda untuk kedua kali. Lebih baik aku ikut denganmu kalau sampai hal buruk menimpamu."
Ghani terkekeh perlahan. Dalam hati mengucap terima kasih karena Sarman ia dapat mengetahui bagaimana isi hati Queensha yang sebenarnya. Dari sini dapat menyimpulkan bahwa cintanya terbalaskan. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku tidak mungkin pergi meninggalkanmu, Sayang. Kita 'kan berjanji akan hidup bersama sampai rambut ini memutih, mataku tak lagi mampu melihat dengan jelas dan jantung tak lagi berdetak, aku ... tetap berada di dekatmu ... selamanya. I love you, Queensha Azura Gunawan."
"I love you too, Muhammad Ghani Hanan."
Dua netra saling bertatapan, sama-sama berdebar dan itu nyata terlihat dari ekspresi wajah masing-masing. Deru napas mulai memburu akibat suasana syahdu nan menghanyutkan.
__ADS_1
"Sha, you look so beautiful."
Ghani langsung memangut bibir Queensha dengan cepat. Tidak tahan lagi dengan paras jelita di hadapannya. Memendam kerinduan teramat dalam membuat pria itu ingin merasakan betapa manisnya madu di bibir sang wanita.
Tak dapat menjawab apa-apa, Queensha biarkan Ghani melakukan apa pun yang diinginkan. Ia membiarkan Ghani menciumnya karena ia pun tidak tahan menahan ledakan asa selama berada di dekat calon suaminya.
Dua orang dewasa saling memangut bibir satu sama lain. Mencium dengan panas, benar-benar panas. Ghani merasa ada sesuatu yang selama ini tertidur perlahan terbangun dan membuat celana yang dikenakan terasa sesak. Inti tubuh pria itu beraksi tatkala wanitanya membuka mulut membiarkan sang lelaki menjarah seisi rongga mulut.
Tak bisa menahan hasrat lebih lama, Ghani memperdalam ciuman mereka hingga suara ******* lembut meluncur dari bibir Queensha.
"Hmm," desah Queensha tertahan. Walaupun sedang diliputi hasrat membara, otaknya masih dapat berpikir jernih untuk tidak mengeluarkan suara aneh yang akan membuat orang lain curiga kepadanya.
'Sial! Kenapa dia bereaksi di waktu yang tidak tepat!' gerutu Ghani.
Tak mau melakukan dosa untuk kedua kali, Ghani terpaksa melepas pangutan bibir dari manisnya madu dari bibir ranum sang wanita. Ia kembali memandangi wajah Queensha dengan tatapan penuh cinta.
"Tunggu sampai kita halal. Setelah itu baru kita lanjutkan permainan tadi. Aku janji akan membawamu menuju puncak kenikmatan sama seperti lima tahun lalu, tapi kali ini bukan hanya mengutamakan hawa napsu melainkan juga semata-mata untuk beribadah kepada-Nya." Ghani kecup kening Queensha, seakan ingin mengatakan betapa tulusnya cinta yang ia berikan kepada wanita itu. "Tunggu aku sembuh. Setelah itu kita bawa hubungan ini ke jenjang yang lebuh serius lagi."
__ADS_1
Queensha tersenyum lebar. Mengangguk setuju dengan perkataan Ghani. "Aku selalu menunggumu, Mas. Lekaslah sembuh dan halalkan aku segera. Aku sudah tidak sabar ingin menjadi istrimu lagi." Lalu ia letakkan kepala di dada bidang Ghani. Mendekap erat tubuh lemah di sampingnya itu. Queensha tidak mau melewatkan sedetik pun waktu yang Tuhan kepada mereka. Ia ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengukir kisah cinta bersama lelaki yang sangat dicintainya.
...***...