
Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, satu per satu anggota keluarga Ghani berdatangan. Ayah, bunda, Zavier, dan Zahira beserta suami dan si Kembar Allan dan Mayumi menjenguk Queensha. Pun begitu dengan rekan sejawat Ghani, mereka membesuk istri sang atasan, membawa buah-buahan serta mendoakan untuk kesembuhan nyonya direktur rumah sakit.
"Semoga lekas sembuh, Bu Queensha." Salah satu rekan sejawat Ghani menyodorkan buket bunga ke hadapan Queensha.
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan kalian semua," kata Queensha seraya menerima buket bunga tersebut.
"Alah, merepotkan apa, sih. Cuma buket bunga doang, tak mungkin merepotkan bagi kami. Benar begitu Teman-Teman?" Pertanyaan pria berkacamata dijawab anggukan kepala.
Lantas semua orang yang ada di ruangan terlibat obrolan singkat. Topik pembicaraan mereka random, mulai dari pekerjaan rumah sakit sampai isu politik terkini tak lepas dari jangkauan mereka. Queensha hanya tersenyum, melihat betapa humble-nya Ghani ketika di hadapan rekan sejawat dan anak buahnya. Meskipun statusnya sebagai direktur rumah sakit, tetapi Ghani tetap bersikap rendah hati, tanpa merasa dirinya paling berkuasa di antara yang lain.
'Memang pantas menjadi pemimpin rumah sakit. Tidak cuma berwawasan luas, tapi juga pandai berbicara, dan juga rendah hati. Sosok pemimpin ideal bagi semua orang.' Queensha memandang dengan tatapan memuja pada sosok suaminya itu.
Hampir sepuluh menit membesuk, rekan sejawat Ghani mohon izin dari hadapan Queensha. Katanya masih ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Kamu capek, Sayang? Mau aku pijitin?" Ghani memberi tawaran pada Queensha, ketika melihat tangan istrinya memijat betis sebelah kanan.
Queensha tersenyum dan berkata, "Capek, tapi aku seneng. Teman-temanmu baik juga, ya, Mas. Mereka ramah walau aku bukan dari circle kalian. Ketika berbicara denganku, mereka memilih topik umum agar aku dapat bergabung dengan kalian."
Ghani tetap memijat betis Queensha pelan meski wanita itu tak menjawab pertanyaannya. "Huum. Itulah alasannya mengapa aku bersikap sedikit hangat pada mereka. Biasanya aku akan jutek, memasang wajah datar di depan semua orang. Namun, di depan kelima orang itu aku bersikap berbeda."
Percakapan mereka terhenti saat ketukan terdengar dari luar. Sontak Queensha dan juga Ghani menoleh ke arah pintu lalu saling memandang satu sama lain.
"Siapa?"
Ghani menggendikan bahu. "Tidak tau." Karena tak mau semakin penasaran, Ghani mempersilakan orang di luar untuk masuk ke dalam ruangan.
"Assalamu a'laikum," ucap Bu Ayu ditemani Pak Imran.
"Wa'alaikum salam. Tante Ayu, Om Imran. Mari, silakan duduk." Ghani menarik dua buah kursi untuk orang tua sahabatnya.
"Maaf, tante dan Om baru sempat besuk kamu, Sha. Oh ya, ini ada bingkisan dari kami berdua. Semoga lekas sembuh dan dapat beraktivitas lagi seperti biasa."
Queensha menerima parcel buah pemberian calon ibu mertua sahabatnya. "Terima kasih, Tante Ayu."
"Omong-omong, bagaimana keadaan kamu, Sha. Sudah mendingan?" tanya Pak Imran. Mengambil duduk di sebelah sang istri. Matanya memindai kondisi Queensha dari balik kacamata minusnya.
"Alhamdulillah, sudah mendingan. Tidak sesakit saat pertaman kali dirawat di rumah sakit. Berkat perantara bantuan Mas Leon yang telah mendonorkan darahnya, aku bisa kembali, menghirup kembali udara di muka bumi ini." Queensha berucap tulus, dari lubuk hatinya yang terdalam.
Pak Imran terkekeh mendengar ucapan terima kasih tulus dari Queensha. "Hanya setetes darah saja, Nak Queensha, tidak perlu berterima kasih begitu. Itu memang sudah menjadi kewajiban putera kami menolong orang kekasusahan. Apalagi Leon adalah dokter, jiwa menolongnya terketuk melihat korban di depan mata."
Bu Ayu mengusap lengan Queensha lembut. Tak hanya menganggap Lulu seperti anak, tetapi juga pada Queensha. Dia memperlakukan istrinya Ghani seperti anak kandung sendiri.
"Jangan dipikirkan lagi, Sha. Terpenting sekarang kamu fokus pada kesehatan dan kandunganmu. Bukannya 3 bulan lagi melahirkan?" Bu Ayu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tak mau kebaikan puteranya terus diungkit. Khawatir penyakit hati muncul ke permukaan karena Queensha terus memuji Leon.
Queensha mengangguk. "Benar, Tante. Karena hamil kembar tiga, ditambah dengan kondisiku yang sekarang, dokter mengatakan aku akan melahirkan lebih cepat dari biasanya."
__ADS_1
"Tak masalah. Melahirkan normal ataupun caesar, sama saja. Yang penting ibu dan anaknya sehat. Tante doakan semoga persalinanmu nanti lancar. Kamu dan dedek bayinya juga sehat, tanpa kekurangan apa pun."
"Aamiin. Terima kasih, Tante."
Semua yang menjenguk Queensha mendoakan wanita muda itu agar cepat sembuh dan bisa kembali lagi ke rumah. Mereka juga berpesan agar Queensha makan makanan yang sehat agar calon anak yang dikandung baik-baik saja.
Queensha tak pernah menduga akan mendapat perhatian dari semua orang. Bukan hanya dari mertua, adik ipar, tetapi juga dari rekan sejawat, teman suaminya, dan juga orang tua Leon, yang bukan merupakan siapa-siapa baginya. Namun, mereka begitu sayang kepadanya.
'Dulu aku hidup sebatang kara, dibuang Papa dan saudara dari kedua orang tuaku. Tapi kini aku mendapat limpahan kasih sayang dari keluarga suamiku. Sungguh Tuhan Maha Adil, merebut semuanya dari tanganku, tetapi Dia juga menggantinya dengan sesuatu yang tak pernah kuduga sama sekali.'
Setelah mereka semua sudah puas menjenguk, pak Imran dan bu Ayu pamit dari hadapan Queensha. Mereka tak mau berlama-lama di sana sebab takut mengganggu waktu istirahat Queensha.
"Sekali lagi terima kasih karena Tante dan Om sudah menjengukku," ucap Queensha kepada orang tua Leon.
"Kembali kasih. Cepat sembuh biar bisa beraktivitas lagi seperti biasa," ujar Pak Imran.
Pasangan suami istri paruh baya itu meninggalkan ruangan, menyisakan Queensha dan Ghani saja di ruangan. Suasana ruangan terasa sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding dan irama jantung keduanya yang berdegup beraturan.
"Huftt sepi lagi deh," ucap Queensha menghela napas berat. Dia menekan tombol ranjang pasien hingga posisinya rebahan lagi. Duduk terlalu lama membuat bagian belakangnya terasa pegal.
Ghani menggeleng kepala sambil mengupas jeruk pemberian Bu Ayu. Rencananya akan dia berikan pada Queensha agar istrinya tidak kekurangan vitamin C.
"Ya namanya jenguk sebentar, kalau lama namanya nungguin," jawab Ghani. Membuat Queen mendengus mendengar jawaban suaminya itu.
Mencibir dan memutar bola mata malas. "Ck. Namanya juga ngeluh."
"Memangnya masih merasa sepi, hem? Apa kehadiranku tak dapat menyingkirkan kebosanan dalam diri kamu, Sayang?" Lagi dan lagi Ghani menyodorkan buah dengan kandungan vitamin C tinggi ke hadapan sang istri. Bibir berbicara, tangan pun bergerak aktif.
Queensha cengegesan, melihat wajah Ghani yang berubah tak mengenakkan. "Iih, kenapa kamu bicara begitu, Koko Ghani. Mana mungkin aku merasa bosan ada di dekatmu. Jangan marah, ya, aku cuma iseng doang tadi."
Merangkul lengan kokoh suaminya. Mendusel-dusel bak anak kecil pada majikannya. "Sudah, jangan merajuk lagi. Aku tidak betulan dengan ucapanku barusan. Aku senang kok ada di dekatmu, Koko."
Mendesah pelan guna menyingirkan beban berat yang dirasa menghimpit dada. "Hmm, jangan diulangi lagi."
Cukup lama merangkul tangan sang suami, tiba-tiba Queensha memikirkan tentang soto Mie Bogor. Membayangkannya saja membuat dia menelan saliva dengan susah payah.
'Kira-kira kalau aku bilang, Mas Ghani mau mengabulkannya tidak, ya? Mengingat sikapnya yang kadang angin-anginan, aku kok jadi sangsi.' Queensha bermonolong.
Memaksakan diri mendongak demi melihat wajah suaminya. 'Aku ragu mau mengutarakan keinginanku padanya. Tapi kalau tidak bilang, bagaimana dengan nasib ketiga anak-anakku ini. Aku taku mereka ileran nanti.'
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Queensha memberanikan diri, mengatakan apa yang ada di benaknya saat ini.
"Mas, makan soto mie Bogor siang-siang begini sepertinya enak. Ehm, kalau misalkan aku minta tolong kamu belikan, kira-kira kamu bersedia tidak?" ucap Queensha ragu-ragu. Memiliki tempramental tinggi membuat dia ekstra hati-hati saat berbicara dengan suaminya itu. Jangan sampai Ghani tersinggung, lalu membangkitkan sisi lain dari dalam dirinya.
Ghani sudah memiliki perasaan yang tidak enak, "Emm kamu mau soto mie Bogor?" tanya Ghani lagi, memastikan keinginan istrinya.
__ADS_1
"Heem. Kayaknya anak-anak kita pengen makan itu, Sayang," sahut Queensha. Dia tidak berbohong, jika ini murni keinginan ketiga anak-anaknya.
Mendengar ketiga buah cintanya disebut, mau tak mau Ghani pasrah. Bukankah dia telah berjanji akan menuruti semua permintaan Queensha saat istrinya itu masih belum sadarkan diri.
"Ya sudah aku beliin kalau begitu. Kayaknya tidak jauh dari rumah sakit ada tukang soto mie." Ghani membuang kulit jeruk ke tempat sampah lalu mengambil dompet di laci meja nakas.
Menggeleng kepala cepat. "Tidak mau di sekitaran sini. Aku lagi pengen soto mie Bogor Mang Sarimin yang terkenal di Bogor itu, Ko. Yang waktu itu kita pernah makan di sana. Membayangkan kuah hangatnya saja sudah membuatku ngeces."
Sontak mata Ghani membulat mendengar permintaan sang istri. "Astaga itu jauh banget, Sha. Masa harus beli di sana. Beli di deket sini saja, ya? Nanti kalau kamu sudah sembuh aku janji kita bakal beli ke sana," ucap Ghani memberikan pilihan kepada Queen.
Akan tetapi, Queensha menolak tawaran itu. "Ya tidak bisa begitu dong, Mas. Ini aku lagi nyidam, loh. Yang kepengen makan soto mie Bogor langsung dari Bogor adalah anak-anak kita. Kamu tega melihat ketiga anak-anakmu ileran mulu?"
Mengacak-acak rambut frustrasi. "Bukan gitu. Masalahnya soto mie Mang Sarimin itu jauh. Belum lagi macetnya ke sana. Aku bakal sampai tujuan beberapa jam kemudian, Sayang. Hari ini aku beliin soto di daerah sini dulu, ya? Aku beliin yang enak. Katanya ada yang sangat enak di daerah sini." Pendar pengharapan terpancar dari sepasang mata sipit. Berharap sekali Queensha luluh dan menerima tawarannya.
Namun, tampaknya Ghani harus menelan pil kekecewaan saat melihat gelengan kepala Queensha.
"Aku pengennya soto mie Mang Sarimin masa kamu kasih soto mie pinggir jalan, ya engga plonglah ngidam aku," jawab Queen seraya melipat kedua tangan. Memberi tatapan tajam pada suaminya.
"Tapi, Sha-" Belum sempat Ghani melanjutkan ucapannya Queensha memotongnya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau membelikannya untukku. Kamu memang pada dasarnya tidak sayang padaku. Sudah tahu aku lagi ngidam, tapi kamu malah tak mau mengabulkan keinginanku. Menyebalkan!" jawab Queensha lalu dia memunggungi Ghani.
Queensha merajuk, mengatakan kalau Ghani tak sayang kepadanya, membuat Ghani pusing 7 keliling. Bagaimana Queensha bisa mengatakan kalau dia tidak menyayangi istrinya itu.
Melihat keadaan istrinya kemarin saja sudah membuat Ghani ingin mengamuk. Lalu sekarang bisa-bisanya Queensha mengatakan kalau dirinya tidak menyayangi wanita itu.
'Tuhan, tolong bantu aku terlepas dari masalah ini,' jerit Ghani dalam hati.
"Sayang, bukan begitu maksudku." Ghani menyentuh punggung Queensha, tetapi wanita itu menghempaskan tangan Ghani.
Mau tidak mau Ghani pun mengalah dan menuruti keinginan istrinya. Dia rela pergi ke Bogor demi membeli soto mie Bogor yang sangat terkenal di sana.
"Oke, aku beliin kamu soto mie Bogor Mang Saimin di Bogor langsung. Tapi, kamu jangan ngambek lagi," ucap Ghani. Queensha pun membalikan badannya ke depan. Dia tersenyum sumringah kala sang suami mau mengabulkan permintaannya.
"Terima kasih, Kokoku sayang. Kamu memang paling the best, suami kesayanganku," ucap Queensha dengan nada semanja mungkin. Dia memeluk leher suaminya dengan erat sambil memberi ciuman di pipi Ghani.
Rasa kesal yang sempat datang menghampiri, perlahan sirna ketika hangatnya permukaan bibir sang istri mendarat di pipi. Paling tak bisa mendengar suara manja istri tercinta.
"Kamu tunggu di sini. Mungkin aku nyampenya lama karena di sana pasti macet sekali. Kamu tidur saja dan aku akan membangunkanku ketika tiba lagi di sini," ucap Ghani.
"Oke, Sayang. Hati-hati ya di jalan. Kutunggu kepulanganmu dan soto mienya, Koko." Mengerlingkan sebelah mata, dengan harapan Ghani tak marah kepadanya.
Ghani memakai jaketnya untuk segera pergi membeli soto mie tersebut. "Aku pergi dulu," ucapnya. Queensha mengangguk dan tersenyum lebar melepas kepergian suaminya itu.
Kalau bukan karena rasa cintanya yang begitu besar pada sang istri, tidak mungkin Ghani mau mengabulkan keinginan Queensha.
__ADS_1
"Sabar, Ghan. Ini semua demi ketiga anak dalam kandungan Queensha." Ghani coba mengingatkan diri sendiri untuk lebih bersabar menghadapi kelakuan Queensha yang terkadang di luar nalar.
...***...