Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Good Bye, My Princess


__ADS_3

Selagi Ghani sibuk berbincang dengan Cassandra, Queensha memutuskan menemui Aurora sebentar sebelum ia benar-benar pergi dari kehidupan mantan suami serta anak sambungnya itu.


Langkah kaki terhenti di depan pintu kamar VVIP. Ia membukanya perlahan. Melihat anak sambungnya mungkin sedang bermimpi indah. Terlihat dari sudut bibir gadis itu yang tertarik ke atas.


Mendekati ranjang dan mendudukan bokong di atas kursi bundar dengan bagian atas terbuat dari busa empuk kualitas nomor satu.


"Rora sayang, ini mama, Nak. Maafin mama, ya, karena tidak bisa menjaga dan melindungimu dengan baik. Gara-gara mama, kamu harus masuk rumah sakit. Mungkin benar kata Papamu kalau kehadiran mama hanya mendatangkan kesialan bagimu. Untuk itu, mama memutuskan untuk pergi meninggalkanmu sesuai permintaan Papa."


"Namun, kamu jangan khawatir, mama tetap mencintai dan menyayangimu sama seperti dulu. Walaupun status mama bukan lagi ibu sambungmu, tetapi cinta dan kasih sayang mama masih sama dan tak akan pernah berubah sampai kapan pun." Queensha mencium kening Aurora yang ditutupi poni. Bibir wanita itu gemetar dan dada terasa sesak karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan Aurora. Tak bisa terbayangkan bagaimana hari-harinya tanpa melihat mendengar suara, canda dan tawa Aurora.


Berpisah dengan Aurora dan kembali menjalani kehidupan seperti dulu lagi dengan menyandang status janda pernah terlintas di benak Queensha. Namun, ia tak pernah menduga jika perpisahan itu terjadi secepat ini. Hanya dalam kurun waktu dua bulan kebahagiaan itu dirampas kembali oleh Ghani.


Kecewa, sedih dan terluka. Itulah yang dirasakan Queensha saat ini. Ingin mengadu, tapi kepada siapa? Ia saja sudah menjadi yatim piatu, hidup sebatang kara di dunia ini tanpa ada seseorang yang bisa menjadi sandaran di saat takdir Tuhan kembali mempermainkannya.


Memandang wajah cantik jelita terlelap dalam damai, ia menarik kedua sudut bibir ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan. Kemudian kembali menundukan wajah, mencium kening Aurora untuk terakhir kali.


"Walaupun mama sudah tak menjadi ibumu lagi, jangan pernah lupakan mama ya, Sayang. Karena mama pun tidak akan pernah lupa sama kamu dan kebersamaan yang pernah kita lalui bersama," bisik Queensha sambil mengigit bibir bawah, menahan isak tangis agar tak membangunkan Aurora.


Ketika Queensha mencium kening, tubuh Aurora menggeliat dan membuka mata perlahan. "Mama ...."

__ADS_1


"Sst, tidurlah kembali, My Princess," bisik Queensha mencium kening putri kesayangan lalu membelai lembut pipi sebelah kanan yang tembem itu.


"Jika suatu hari Tuhan kembali mempertemukan kita, mama harap kamu tidak lupa jika kita pernah mempunyai kenangan indah yang hanya ada kamu dan mama seorang. I love you, My Princess," gumam Queensha mengusap kepala si kecil untuk terakhir kali. "Tumbuhlah menjadi anak baik, solehah dan membanggakan keluargamu, Nak."


Queensha menarik napas panjang kemudian mengembuskan secara perlahan. Udara di dalam ruangan tak mampu memberi pasokan oksigen ke dalam paru-paru hingga dadanya kembali sesak seperti dihimpit bongkahan batu yang sangat besar.


Mata Queensha kembali berembun. Hendak mengeluarkan air mata. Namun, buru-buru dia mengerjapkan mata agar butiran kristal itu tak jatuh membasahi pipi.


"Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum Pak Ghani datang dan menegurku lagi," gumam Queensha.


Queensha bangkit berdiri dari kursi, hendak melangkah pergi meninggalkan ruang perawatan. Akan tetapi, langkah kaki terhenti saat melihat handle pintu bergerak kemudian disusul dua sosok manusia berdiri di ambang pintu.


Untuk beberapa saat, waktu terasa berhenti berputar bagi Queensha dan Ghani. Mereka membeku di tempat. Kembali teringat bahwa mantan suaminya itu berpelukan dengan wanita lain membuat hatinya sakit seperti ditusuk ribuan jarum oleh tangan tak kasat mata.


'Jangan bodoh, Queensha! Kamu dan Pak Ghani sudah berpisah. Jadi kamu tidak berhak melarang siapa pun mendekati lelaki itu,' batin Queensha mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa kini dia bukan lagi istri dari seorang dokter hebat yang mempunyai banyak prestasi di bidang kedokteran.


Mata Queensha terpejam diiringi hela napas berat. Akal sehatnya meminta wanita itu segera meninggalkan ruang perawatan sebelum hatinya semakin terluka.


"Kedatangan saya ke sini hanya ingin memastikan apakah demam Aurora sudah turun atau belum, tidak ada maksud apa-apa," ucap Queensha mencoba menjelaskan kedatangannya sebelum Ghani bertanya. "Karena kondisi tubuhnya membaik, saya permisi dulu. Selamat pagi." Kaki jenjang itu terayun menuju daun pintu.

__ADS_1


Ketika Queensha melewati Ghani, ia sempat melirik sekilas ke arah suaminya. Mematri wajah rupawan itu dalam memori ingatannya. Pun begitu dengan Ghani. Pria itu membalas tatapan penuh arti yang ditujukan kepadanya. Hanya saja lidah pria itu kelu, tak sanggup berkata-kata.


Tanpa sadar tangan Ghani bergerak dengan sendirinya, hendak mencekal lengan Queensha dan meminta wanita itu tidak pergi. Namun, egonya terlalu tinggi hingga ia menurunkan kembali tangannya yang sempat terangkat ke udara.


'Bodoh! Apa yang kamu pikirkan, Ghani. Biarkan dia pergi. Bukankah memang kamu menginginkan wanita itu menjauh dari hidup Rora dan keluargamu untuk selamanya?'


Ketika derap langkah sepatu kets tak lagi terdengar di telinga Cassandra dan Ghani, wanita bermata almond berbisik di telinga pria di sebelahnya.


"Ghani, perempuan itu siapa? Kenapa dia tampak begitu mencemaskan putrimu? Apa dia perawat di rumah sakit ini? Kalau iya, lalu kenapa dia mengenakan seragam rumah sakit?" cecar Cassandra penasaran. Sempat merasa risih saat Ghani dan Queensha beradu pandang satu sama lain.


"Dia ...." Ghani menggantung ucapannya. "Sudahlah, lupakan saja. Namun, kamu harus tahu kalau dia tidak berniat menyakiti putriku." Pria itu melepaskan tangan Cassandra yang melingkar di lengannya secara kasar lalu melangkah mendekati sisi pembaringan.


"Kenapa sikap Ghani berubah setelah melihat wanita itu? Sebetulnya ada hubungan apa antara mereka berdua? Jangan bilang kalau di antara mereka terjalin hubungan spesial," gumam Cassandra sambil menautkan kedua alis.


'Tidak. Tidak mungkin! Wanita itu bukan tipe perempuan idaman Ghani. Wajahnya saja jelek, tidak sedap dipandang jadi mana mungkin Ghani jatuh cinta pada perempuan miskin seperti dia.' Cassandra segera menepis segala pikiran buruk yang menerpa benaknya saat ini.


Melihat penampilan Queensha secara sekilas, Cassandra bisa menilai kalau pakaian yang menempel di tubuh wanita itu bukan merupakan brand terkenal apalagi sepatu yang membungkus kaki jenjang itu hanyalah barang tiruana alias KW. Pokoknya jauh dari kata menarik, itulah yang ada dalam pikiran Cassandra saat ini.


Sementara itu, Queensha baru saja keluar dari lift yang membawa tubuhnya turun ke lantai satu, lobi rumah sakit. Meskipun baru sekali bertemu Queensha, tetapi ingatan Leon masih tajam hingga ia dapat mengenali siapakah wanita yang sedang melangkah keluar ke arah pintu utama.

__ADS_1


"Loh, bukannya itu istrinya Ghani. Kenapa dia menangis? Apa pria dingin itu membuat masalah lagi? Argh, Ghani ... Ghani. Lo jadi cowok kok hobi banget sih nyakitin perasaan perempuan. Kena karma, baru nyaho lo!" dengkus Leon kesal. Walaupun Ghani adalah sahabatnya, tetapi ia tidak segan-segan berkata kasar maupun menegur jika dirasa sikap putera pemilik rumah sakit tempatnya bekerja melakukan kesalahan.


...***...


__ADS_2