Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Impian yang Sempat Kandas


__ADS_3

Makan malam pun tiba. Queensha dengan begitu cekatan melayani suaminya, menuang nasi ke piring dan tak lupa sayur serta lauk pauk sebagai makanan pelengkap diletakkan di piring putih terbuat dari keramik kualitas nomor satu sampai terisi penuh oleh masakan buatan tangannya sendiri. Tak ada sedikit pun rasa canggung saat ia menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak kesayangannya.


"Eum, enak. Rora suka sayur capcay buatan Mama," puji Aurora sambil menyuapkan sayur brokoli ke dalam mulut. Ia mengunyah sayuran buatan mama tersayang dengan mata berbinar bahagia.


Semenjak Queensha memutuskan untuk kembali rujuk dengan Ghani, ia mulai memasakan makanan untuk Aurora lagi. Segala macam resep yang pernah ditulis mendiang ibu kandungnya, mulai ia praktekkan kembali. Beruntungnya buku resep peninggalan sang ibu masih tersimpan rapi di dalam koper sehingga ia dapat mengolah aneka ragam masakan yang diwariskan secara turun temurun.


Queensha mengambilkan kembali brokoli serta daging ayam ke atas piring Aurora menggunakan sumpit yang ada di tangan kanannya. "Makanlah yang banyak agar kamu lekas tumbuh besar. Kalau sudah besar kamu bisa jadi arsitektur sesuai impianmu."


Berbicara soal impian, Ghani jadi teringat akan percakapan mereka sekitar tiga bulan atau empat bulan lalu. Saat ia dan istrinya pulang bermain dari taman hiburan, Queensha sempat bercerita kalau ia ingin menjadi arsitektur, kuliah jurusan teknik dan menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di bidangnya. Namun sayang, impian itu harus kandas kala bujuk rayu Mia mulai menggoyahkan pertahanan Gunawan. Pria yang sepenuhnya berada dalam kendali iblis dalam wujud perempuan tua tega merampas impian Queensha sehingga gadis belia itu harus rela mengubur semua impian dan merelakan sebagi harta kekayaan sang papa digunakan untuk biaya kuliah Lita.


Meletakkan sumpit di atas mangkuk kecil, kemudian meraih gelas yang telah diisi air putih. Ia tegak minuman tersebut hingga habis tak bersisa. "Oh ya, Sayang. Omong-omong soal arsitektur, apa kamu masih berminat melajutkan sekolahmu ke jenjang yang lebih tinggi lagi?"


Pertanyaan Ghani sukses mengalihkan perhatian Queensha dari sosok mungil di sebelahnya. Ia mengernyitkan alis petanda bingung, tumben sekali Ghani bertanya tentang urusan pribadinya. Begitu isi kepala Queensha saat ini.


"Berminat, sih, Mas. Namun, dengan kondisiku saat ini rasanya sulit untuk bisa melanjutkan pendidikan S1-ku. Selain uang tabungan tidak cukup, aku pun kesulitan untuk membagi waktu antara keluarga, rumah, dan tugas kuliah. Jadi daripada aku tidak dapat menjalankan ketiga tugas itu dengan baik lebih baik aku pilih salah satu dan kuputuskan untuk memilih menjadi ibu rumah tangga, mengurus semua pekerjaan rumah dan merawat kamu serta putri kita."


Sebelah tangan kiri yang berada di bawah meja meremas ujung kursi makan tempatnya duduk sekarang. Jemari lentik itu mencengkeram erat demi mengurangi rasa sakit dan kecewa dalam diri. Sebagai manusia biasa, tentu saja Queensha kecewa karena harus menelan pil pahit untuk kesekian kali. Namun, ia mencoba ikhlas toh semua dilakukan demi kebaikan bersama.


Ghani yang saat itu sedang menoleh ke arah Queensha, melihat segurat kekecewaan pada sorot mata wanita itu dan mata istrinya terlihat berkaca-kaca seolah sedang susah payah menahan diri untuk tidak menumpahkan bulir air mata di antara kedua pipi. Tanpa kata, ia tahu jika sebetulnya Queensha sedih karena tak dapat mewujudkan cita-citanya.


Menuangkan air dari teko ke dalam gelas, kemudian menegaknya sampai habis tak bersisa. "Aku hargai keputusanmu, Sayang. Namun, apa kamu sudah memikirkannya dengan matang? Aku tidak mau menyesal di kemudian hari," ujar Ghani. "Kalau kendalamu adalah uang, aku bersedia membiayai kuliahmu sampai lulus kuliah. Mau S1, S2, ataupun S3 sekaligus, aku mampu menyekolahkanmu asalkan kamu bisa menggapai impianmu."

__ADS_1


"Lalu, untuk urusan rumah, bukankah kita sudah sepakat untuk meng-hire asisten rumah tangga? Bunda dan Aunty Rini sedang berusaha mencarikan orang untuk bantu-bantu di sini. Jadi kelak semua urusan pekerjaan bukan lagi kamu yang mengurusi melainkan ART kita. Kamu tinggal fokus kuliah sambil sesekali mengurusi aku dan Rora."


"Saat kamu kuliah, Rora bisa dititipkan ke rumah Bunda biar sekalian menemani kedua orang tuaku sampai kamu selesai kuliah. Misalkan aku sedang tidak bekerja, aku bisa menjaganya dengan baik. Simple, bukan?" ujar Ghani panjang lebar.


Jari kokoh itu menangkup tangan kanan Queensha yang tengah memegang sumpit. Ghani usap punggung tangan istrinya perlahan. Dengan lembut ia berkata, "Sayang, coba pikirkan dengan matang apa kamu benar-benar ingin melepaskan begitu saja impian yang sudah kamu dambakan sejak masih kecil? Kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan? Tidak takut menyesal di kemudian hari?" Mencecar Queensha dengan berbagai macam pertanyaan.


Dinding pertahanan kokoh yang dibangun akhirnya runtuh. Satu bulir air mata jatuh menandakan bahwa sebetulnya Queensha tak benar-benar rela melepaskan cita-citanya begitu saja. Apalagi ia pernah berjanji akan membangun rumah untuk sang mama dengan desain miliknya sendiri.


Dengan bibir gemetar dan kedua pundak bergerak turun naik, Queensha berkata, "Sebetulnya aku tidak rela kalau harus mengubur dalam semua impianku itu, Mas. Aku ingin mewujudkan mimpi yang kubangun sejak masih remaja. Namun, aku berpikir apa mungkin diriku bisa melakukan itu semua?"


"Aku cuma orang miskin, tak punya apa-apa. Sudah untung menikah dengan lelaki tampan dan berkecukupan seperti kamu. Derajatku diangkat hingga sekarang aku menjadi salah satu bagian keluarga Wijaya Kusuma. Kalau aku memintamu menyekolahkanku bukankah itu keterlaluan? Ibaratnya kamu telah memberiku jantung, tapi aku malah minta ampela."


Ghani bangkit berdiri lalu berjongkok di sebelah istrinya. "Jangan pedulikan ucapan orang lain, Sayang. Aku sama sekali tidak menganggapmu perempuan matre. Semua harta yang kukeluarkan merupakan wujud tanggung jawabku sebagai seorang suami kepada istrinya. Kebetulan aku punya uang lebih jadi kenapa tidak kamu gunakan untuk biaya sekolahmu lagi. Aku malah senang kalau sebagian uang yang kumiliki dapat bermanfaat untuk kamu."


"Tapi bagaimana dengan biaya sekolah Rora, Mas? Aku takut kamu merasa terbebani karena harus mengeluarkan uang demi menyekolahkanku juga. Aku tidak mau masa depan Rora jadi korban keegoisanku."


Ghani bawa kepala Queensha di dadanya yang bidang. Tangannya sibuk mengusap helaian rambut istrinya. "Jangan mencemaskan masa depan Rora, Sayang. Aku sudah menyiapkannya dengan matang. Percayalah, putri kita akan tetap bersekolah seperti rencana awal kita berdua."


Melerai pelukan. Ghani ulurkan tangannya ke depan, mengusut buliran kristal yang masih membasahi pipi. "Jadi bagaimana, apa kamu mau melanjutkan pendidikanmu?"


Queensha mendongakan kepala. Sepasang matanya yang memerah memandang Ghani dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa tidak masalah kalau aku kuliah, Mas? Kamu tidak keberatan kalau aku belajar lagi?"

__ADS_1


Ghani menempelkan ujung hidungnya di hidung Queensha. Ia mengesek-geseknya dengan gemas. "Iih, gemesin banget, sih, istriku ini. Kamu masih saja bertanya, padahal sudah tahu jawabannya. Aku tidak keberatan sama sekali kalau kamu mau kuliah. Asalkan kamu bersungguh-sungguh menuntut ilmu maka aku ikhlas dunia akhirat, mengeluarkan uang demi biaya sekolahmu."


"Jadi, apa kamu tetap dengan pendirianmu atau-"


"Aku terima tawaranmu, Mas. Aku mau kuliah, mewujudkan mimpiku yang sempat tertunda," sergah Queensha cepat sebelum Ghani menyelesaikan kalimatnya.


Sudut bibir Ghani tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan. Senyuman itu membuat sang lelaki terlihat begitu tampan. "Baiklah. Kalau begitu aku akan minta bantuan Leon mencarikan kampus terbaik untukmu kuliah nanti."


Dengan gerakan cepat, Queensha berdiri lalu mencium pipi kiri suaminya. Ciuman itu diberikan sebagai bentuk terima kasihnya karena Ghani telah begitu baik kepadanya.


Sementara itu, Ghani cukup terkejut mendapat ciuman dadakan dari istri tercinta. Membeku di tempat seraya menyentuh pipi yang sempat Queensha cium.


'Gue ... barusan dicium Queensha? Ya Tuhan, tumben banget bini gue inisiatif nyium duluan. Kesambet apaan, ya, jadi lebih agresif begini?'


"Cie, cie. Mama dan Papa ciuman. Rora senang sekali lihat Mama dan Papa bermesaraan," seru Aurora dengan kedua tangan ke atas. Kakinya yang menjuntai ke lantai bergerak saking girangnya melihat keromantisan papa dan mamanya.


Queensha tertunduk malu karena digoda anak pertamanya. Dengan suara lirih ia berkata, "Sudah, sebaiknya kamu habiskan makananmu. Setelah itu mama temani kamu mengerjakan PR." Ia mencoba mengalihkan perhatian sang putri. Bisa mati berdiri karena malu kalau sampai Aurora terus meledekinya.


...***...


__ADS_1


__ADS_2