Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Hampa


__ADS_3

Ghani berjalan gontai menaiki undakan tangga menuju lantai dua kediaman orang tuanya. Semenjak Aurora dirawat di rumah sakit, ini kali pertama dia pulang ke rumah. Entah mengapa ada perasaan hampa saat memasuki ruang kamar tidur yang dulu pernah Ghani dan Queensha tempati bersama.


Mengendurkan dasi yang melilit di leher kemudian menghempaskan tubuhnya di kasur dengan kasar. "Kenapa rasanya hidupku kosong semenjak kepergian Queensha? Rasanya mustahil jika aku merasa kehilangan wanita itu."


Peluh terus berjatuhan membuat tubuh terasa lengket. "Mendingan aku mandi setelah itu kembali ke rumah sakit. Kasihan Rora kalau ditinggal hanya berduaan dengan Bunda." Lantas, Ghani bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Akan tetapi, ketika melintasi meja rias yang diletakkan sebelum pintu kamar mandi, sebuah kotak kecil menarik perhatian pria itu.


Kedua alis Ghani tertaut petanda bingung. "Benda apa ini? Perasaan aku tak pernah meletakkan kotak ini di sini."


Karena penasaran dia lalu membuka kotak tersebut. Sepasang mata membulat sempurna saat melihat kotak kecil tersebut berisi buku tabungan, ATM serta cincin kawin yang pernah ia berikan kepada Queensha sebagai mahar pernikahan.


"Ini semua adalah barang yang pernah kuberikan kepada Queensha. Jadi, selama menikah denganku, dia menggunakan nafkah yang kuberi hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja? Pantas semua pakaian yang dikenakan tak ada satu pun barang branded rupanya dia mengeluarkan uang itu hanya untuk hal penting saja."


Tiba-tiba hati Ghani terasa sesak dan sakit melihat saldo rekening yang hanya berkurang sepersekian persen dari nominal uang di buku tabungan milik Queensha itu. Lalu, bayangan kebersamaan mereka terlintas di benaknya.


Di saat wanita di luaran sana berlomba-lomba mengumpulkan barang mewah sebagai koleksi, Queensha justru menyimpan semua uang pemberian Ghani dengan utuh tanpa menyentuhnya sepersen pun guna memenuhi kebutuhan pribadinya. Padahal dia telah memberikan setengah penghasilannya untuk sang mantan istri. Akan tetapi, Queensha tak memanfaatkan kesempatan itu untuk shooping ke mall, berbelanja tas, sepatu, perhiasan dan segala macam aksesoris guna menunjang penampilan agar terlihat lebih cantik di mata orang.


Ghani mengabaikan semua benda itu, dia harus segera membersihkan diri sebelum akhirnya beristirahat setelah dilanda musibah besar melanda putri tercinta. Selama beberapa hari ini pikiran serta tenaganya terkuras dan ia membutuhkan istirahat guna mengembalikan energinya kembali.


***


Beberapa hari kemudian, Aurora telah diperbolehkan pulang ke rumah. Selama kembali ke rumah, gadis kecil itu terus merengek ingin bertemu dengan Queensha. Ghani dan kedua orang tuanya sampai pusing menghadapi putrinya itu.


Sudah sulit untuk menghentikan tangisnya. Pagi, siang, hingga malam, Aurora terus merengek dan tidak mau makan, tetap ingin bertemu dengan Queensha. Begitu juga dengan hari ini, Ghani mendapatkan telepon dari sang bunda saat dia melakukan meeting bersama dengan ayah serta yang lain, suara tangisan Aurora terdengar cukup kencang sehingga Ghani meminta izin pada Rayyan untuk pulang terlebih dulu.


"Baru mengurus satu anak saja sudah kelimpungan apalagi mengurus tiga orang anak kembar. Bisa-bisa kepalamu pecah dan tubuhmu kurus kering kerontang," gerutu Rayyan sambil menatap kepergian Ghani dengan kesal. "Bukanya bersyukur punya istri, jadi putrimu ada yang ngurusin. Dan kamu tinggal fokus bekerja. Eh, malah kamu ceraikan dia. Ghani ... Ghani. Entah meniru siapa sikapmu yang keras kepala itu."


Tampaknya Rayyan tidak sadar, jika sifat putera tertuanya itu menurun darinya. Andai saja dia sadar, masihkah mempertanyakan dari anak pertamanya itu menurun dari siapa?


Aurora tangah menangis hebat saat Ghani sampai, bahkan mainan yang beberapa hari lalu dia belikan tidak cukup untuk membujuk anak itu untuk berhenti menangis.


"Ghani, kasihan Rora, kamu hubungi Queensha, dan suruh dia kembali," ujar sang ibu, sudah berbagai cara dia lakukan untuk membujuk cucunya, tapi Aurora masih saja tidak menghentikan tangisannya.


Ghani mengambil Aurora yang terduduk di lantai dan menggendongnya.


"Jangan sebut dia lagi, Bun! Aku akan urus anakku dengan caraku sendiri!" ujar Ghani kemudian pergi dari rumah itu dan membawa Rora serta bersamanya.


"Ghani, kamu mau bawa Rora ke mana?" tanya Arumi khawatir mengejar Ghani.


Ghani tidak menjawab, dia menutup pintu mobilnya dan pergi dari rumah. Arumi menatap mobil Ghani yang semakin menjauh. Dia khawatir dan sedih dengan apa yang menimpa pada putranya.


Mobil Ghani berhenti di depan sebuah rumah sakit, dia membawa Rora masuk ke dalam sana dan menemui Rini. Rini terkejut karena mendapati Ghani datang bersama dengan Aurora yang menangis tersedu di gendongannya.


"Rora kenapa?" tanya Rini dengan khawatir. Sahabat sekaligus besan Arumi mendekat dan mengambil alih anak itu dari tangan Ghani. Dia mencoba untuk menenangkan Aurora dengan caranya, tapi anak itu memeluk Rini dengan sangat erat. Rini menatap Ghani, tapi pria itu hanya diam saja. Dia mencoba menenangkan dan membujuk Aurora hingga akhirnya anak itu tenang dan mau bermain dengan mainan yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" bisik Rini dengan suara yang pelan, takut terdengar oleh Aurora yang tengah bermain tak jauh dari mereka. Dia berlarian di ruangan itu, memainkan boneka, mobil mainan, juga menggambar, semua dia lakukan dengan acak.


"Queensha," ujar Ghani, kemudian dia menceritakan tentang apa yang terjadi kepada mereka hingga akhirnya Aurora masuk ke rumah sakit dan terus rewel beberapa hari ini. Rini yang mendengarnya berdecak kesal. Tidak habis pikir dengan laki-laki ini. Apa yang terjadi dengan cucu dari sahabatnya ini adalah keegoisan dari sang ayah.


"Astaga! Terlalu kamu! Kamu sudah tahu kan kalau Rora sangat sayang sama ibunya? Kenapa kamu tega ceraikan dia?" ujar Rini tetap menjaga nada suaranya. Ghani hanya diam. Satu orang lagi yang tak suka dirinya bercerai dari Queensha.


Rini merasa kesal, bodoh sekali Ghani menceraikan wanita yang sebaik Queensha. Entah apa yang menyelimuti hati laki-laki itu sehingga dia melakukan semua ini karena hal tersebut.


"Haruskah kamu ceraikan dia? Apa tidak ada jalan lain?" tanya Rini geram.


"Itu urusanku. Aunty hanya perlu membantu Rora agar dia bisa seperti dulu," ujar Ghani dengan tegas menatap putrinya yang tengah mencoret-coret kertas dengan spidol.


Rini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menghela napasnya dengan berat. Menatap laki-laki itu dan hanya menahan geram. Sungguh keras kepala sekali Ghani.


Dia ingin marah, tapi kode etik kedokteran tidak mengizinkannya untuk mengumpat laki-laki ini meski dia adalah anak dari sahabatnya. Lebih dari sekedar mengumpat, bahkan dia ingin sekali memasukkan kepala Ghani ke dalam wastafel yang dipenuhi air, agar air itu masuk ke dalam hidung dan membersihkan otak keponakannya itu.


"Ah, ya ampun, kenapa aku punya keponakan yang keras kepala kayak kamu?" gumam Rini dengan jelas masih terdengar oleh Ghani.


Ghani tidak peduli. Dia membalas pesan yang datang di hp-nya.


Rini berdiri dan mendekat pada Aurora, mengajak anak kecil itu untuk berbicara sambil ikut menggambar dan mewarnai bersama dengan Aurora. Sesi konsultasi bersama cucu dari sang sahabat dibuat semenyenangkan mungkin.


Ghani melirik sahabat ibunya dan Aurora, dia berharap dengan kedatangan dirinya ke sini bisa membuat sang putri perlahan bisa melupakan wanita itu..


Rini tersenyum kecut, tapi segera mengubah senyum ceria penuh kasih sayang kepada keponakannya itu. "Datang lagi besok ya ketemu Nenek. Besok Nenek belikan coklat kesukaan Rora," ucap Rini sambil mengusap pipi Aurora dengan gemas, tidak menyenangkan lagi karena tidak berisi seperti saat terakhir mereka bertemu.


"Rora mau coklat!" seru anak itu sambil tersenyum, di tangannya memegang kertas yang dia gambar sendiri.


"Iya, berapa banyak? Dua? Atau tiga?" tanya Rini.


Rora mengangkat semua jarinya dan berseru menyebutkan angka lima dengan penuh semangat.


"Iya."


"Pamit sama Nenek," perintah Ghani.


"Bye-bye, Nenek!" seru anak itu sambil melambaikan tangannya.


"Bye. Datang lagi ya lusa." Rini membalas lambaian tangan anak kecil itu dan melihatnya mulai menjauh. Dia menghela napasnya dan menatap dua orang yang tampak menyedihkan. Aurora dengan kerinduannya pada Queensha, dan Ghani yang tanpa sadar kehilangan seseorang yang baik di dalam hidupnya.


Ya, meski Ghani tidak mengakui keberadaan Queensha, tapi dari sorot matanya tampak laki-laki itu menyiratkan sesuatu.


Rini tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. "Keras kepala dan egosi mirip Ayahnya."

__ADS_1


Sementara itu, Ghani tengah berjalan bergandengan tangan dengan Aurora menyusuri koridor rumah sakit. Sisa tangisan si kecil masih terlihat jelas di bola matanya yang sembab akibat terlalu lama menangisi Queensha.


"Ghani?" panggil seseorang saat tak sengaja melihatnya dari kejauhan.


Ghani yang merasa namanya disebut menolehkan kepala dan melihat orang yang dia kenal ada di sana.


"Cassandra? Sedang apa kamu di sini?" tanya Ghani pada wanita cantik itu.


"Ah, aku sedang menjenguk seseorang. Kamu? Sedang apa di sini?" tanya Cassandra. "Hai Rora, apa kabarmu?" tanya wanita itu kepada Aurora, sementara Aurora merasa tak nyaman saat tangan lentik wanita itu mengelus pipinya.


"Kalian baru dari dalam?" tanya Cassandra lagi sambil menatap salah satu ruangan yang berada di lantai tersebut.


"Iya, aku baru saja bertemu dengan seseorang," jawab Ghani.


Cassandra menegakan tubuhnya saat Aurora minta digendong Ghani. "Makin cantik saja Rora. Mau aunty gendong?" tanya Casandra. Namun, Aurora tidak menjawab. Dia bersembunyi di ceruk leher ayahnya. "Dia pemalu ya?" Tertawa kecil sambil mengusap rambut Aurora dengan lembut.


"Papa, ayo pulang. Aku sudah lapar," bisik Aurora pada sang ayah.


Ghani menatap lekat iris coklat putri tercinta. "Kamu mau makan? Makan apa?" sahut pria itu.


"Burger, es krim dan kentang goreng." Gadis kecil berusia empat tahun menyebutkan macam makanan yang disediakan salah satu restoran cepat saji.


"Oke, kita pergi ke sana," ujar Ghani. "Kami duluan ya," pamit Ghani pada Cassandra. Akan tetapi, saat Ghani akan pergi Cassandra menahannya.


"Em ... Ghani, sebentar. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," kata Cassandra. Tangannya yang lentik mencekal pergelangan tangan Ghani.


Mata elang Ghani menatap tajam ke arah tangan Cassandra yang masih setia menyentuh permukaan kulitnya "Bicara apa?" tanya pria itu ketus.


Dengan tergagap Cassandra berkata, "Itu--"


"Papa, ayo cepet kita pergi! Aku mau ayam!" rengek Rora menunjuk ke arah luar.


"Iya, sebentar. Kamu mau bicara apa?" tanya Ghani kembali kepada Cassandra.


Aurora mulai merengek lagi dan hampir menangis karena tidak lagi mau menunggu. Ghani terpaksa mengajak Cassandra untuk ikut bersama dengan mereka. Jangan sampai anak ini merengek dan kembali menangis, akhir-akhir ini Aurora cukup sulit untuk ditenangkan. Apa lagi tidak ada Arumi yang bisa membantunya menenangkan sang putri.


Mereka pergi bersama menggunakan mobil Ghani dan masuk ke sebuah restoran cepat saji yang berada tak jauh dari rumah sakit itu.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Ghani saat ada seorang pelayan yang menunggu pesanan disebutkan.


"Ah, aku pesan yang sama aja kayak kamu," ucap Cassandra. Sementara Ghani memesan makanan kesukaan Aurora. Mereka menunggu pesanan diantarkan sambil berbicara.


"Maaf menunggu. Pesanan sudah siap!" ujar seseorang yang membuat Ghani menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1


...***...


__ADS_2