
Kesepuluh anak buah Yogi berhambur mendekati orang suruhan Cassandra dengan membawa tongkat baseball di tangan, mereka menghadapi kelima anak buah Gareng, nama pimpinan komplotan tersebut. Tiga orang bertanggung jawab melumpuhkan masing-masing .satu anak buah Gareng sementara Yogi sendiri bertanggung jawab menyelamatkan Queensha dari cengkraman tangan Gareng. Yogi diminta untuk memastikan keadaan Queensha baik-baik saja, tanpa ada kekurangan sedikit pun.
Melihat Yogi berlari ke arahnya, Gareng memaksa Queensha mengikuti langkahnya. Ditemani Iis, ia menyeret tubuh Queensha hingga mentok ke dinding bangunan.
"Sial! Kenapa harus bertemu dengan lelaki ini, sih. Andai saja aku tahu wanita ini berada dalam perlindungan Yogi, sudah pasti aku menolak tawaran Bu Cassandra mentah-mentah. Aku tidak mau mati konyol!" gerutu Gareng. Kini ia menyesali keputusannya.
Karena tergiur upah yang sangat besar, Gareng tidak mengecek terlebih dulu siapa target penculikannya kali ini. Ia langsung menerima tugas tersebut tanpa pernah tahu jika ternyata ada Yogi di belakang Queensha, sosok pria yang terkenal dengan sebutan Killing Machine di kalangan mereka.
Iis, anak buah Gareng berbisik, "Bos, bagaimana ini? Situasi tidak memungkinkan bagi kita melakukan perlawanan. Kita hanya setor nyawa saja jika melawan mereka." Lantas ia mengedarkan pandangan ke sekitar, memperhatikan ketiga rekan kerjanya yang sedang susah payah melawan kesepuluh anak buah Yogi.
"Lihatlah, Bos, ketiga teman-teman kita saja kewalahan melawan mereka, apalagi kita. Meskipun hanya ada dua orang yang menantang, tetap saja kita pasti kalah jika berhadapan dengan Yogi," sambung Iis. Terlihat jelas betapa ketakutannya ia saat ini. Sama seperti Gareng, ia pun masih belum mau mati, masih banyak keinginan yang belum terlaksana. Namun, akankah ia diberi kesempatan hidup untuk kedua kali tatkala berhadapan dengan pria yang dikenal dengan manusia berdarah dingin seperti Yogi.
Gareng ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling. Memang benar yang dikatakan Iis, jika saat ini situasi tak memungkinkan mereka untuk memenangkan perkelahian sebab lawan mereka kali ini cukup kuat. Mereka berhadapan langsung dengan Yogi, si mesin pembunuh berdarah dingin.
"Banyak omong kamu!" bentak Gareng meninggikan suara. Ia benar-benar kalut sekarang ditambah Iis yang terus menakutinya membuat pria itu semakin hilang kendali.
Queensha melihat ekspresi wajah Gareng yang terlihat begitu tegang jadi sedikit terhibur. Di tengah kesusahan yang dialaminya saat ini ternyata Tuhan memberi sedikit pertunjukan seru yang mampu menghiburnya.
__ADS_1
Wanita cantik dalam balutan kebaya pengantin menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya yang ranum. Dengan nada mengejek ia berkata, "Takut, ya, sama anak buah suamiku? Makanya, ketika aku memperingatkanmu untuk menjauhiku seharusnya kamu menuruti kata-kataku bukan malah berbuat nekad. Jadi sekarang nikmati saja penderitaanmu karena kuyakin sebentar lagi Yogi akan membalas perbuatanmu karena telah menculik dan menampar wajahku."
Gareng yang sudah tak dapat berpikir jernih karena saking takut mati di tangan Yogi, segera mendorong tubuh sintal Queensha sehingga terhuyung ke depan. "Dasar wanita sialan! Mati saja kamu!" umpat pria itu kesal. Ia luapkan kekesalannya dengan cara mendorong keras tubuh sang target penculikan.
Merasakan dorongan kencang menghantam bagian punggung, Queensha menjerit kencang. "Aah!" Suara lengkingan itu membuat semua orang di sekitar terkesiap beberapa saat, tak menyangka jika Gareng akan melakukan suatu hal tak terduga.
Mendengar suara teriakan berasal dari calon istrinya, Ghani melempar kruk miliknya ke sembarang arah lalu berlari kencang ke arah Queensha. Ia kesampingkan rasa sakit pada area sekitar kaki pada saat tengah berlari, mencoba menyelamatkan Queensha yang nyaris menyentuh permukaan lantai. Ia tak akan membiarkan Queensha kesakitan karena membentur lantai.
"I got you!" kata Ghani saat berhasil menangkap tubuh Queensha. Ia sampai harus meletakkan kedua lututnya di lantai demi melindungi tubuh Queensha dari benturan keras.
"Sst, tenanglah! Semua akan baik-baik saja," ucap Ghani mencoba menenangkan. Tangannya mengusap punggung Queensha secara perlahan.
Ghani memandangi Gareng yang berusaha melarikan diri dari kepungan Yogi. Ia menatap dingin pada sosok pria jahat yang mencoba merusak suasana bahagianya dengan cara menculik mempelai wanita.
Dengan suara lantang sarat akan kemarahan Ghani berseru, "Kalian semua urusi mereka dan pastikan temukan dalang di balik percobaan penculikan calon istriku. Jangan biarkan para orang jahat itu berkeliaran setelah nyaris merusak acara penting dalam hidupku."
Ghani memberi perintah membuat Yogi dan yang lainnya segera meringkus Gareng serta keempat anak buahnya untuk memberi pelajaran. Sementara itu, ia membantu Queensha berjalan menuju ballroom hotel. Zavier tak tega melihat kakak kembarnya kesusahan memutuskan untuk mengikuti si sulung empat bersaudara, meninggalkan Leon yang begitu asyik menghajar anak buah Gareng sampai babak belur.
__ADS_1
"Hati-hati, Kak!" Zavier memperingatkan kakak pertamanya agar lebih berhati-hati dalam melangkah. Ia hendak membantu Ghani yang sempat kehilangan keseimbangan diri, tetapi segera dicegah oleh dokter tampan itu.
"Aku bisa sendiri, Vier. Tetaplah di belakangku dan jangan coba-coba menyentuh calon istriku!" Ghani tidak mau ada lagi orang yang menyentuh tubuh Queensha. Sudah cukup Gareng membuatnya emosi dan ia tak mau ada Gareng yang lain, yang mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan. Sekalipun itu adalah adik kembarnya sendiri, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Zavier mencibir dan memutar bola mata dengan malas. 'Dasar posesif. Cuma mau nolongin, tapi dianggap mau berbuat macam-macam.'
Setelah melewati drama yang menegangkan, akhirnya Ghani berhasil menyelamatkan Queensha. Kini ia dapat duduk manis di kursi sambil menunggu penghulu memulai acara. Beruntungnya saat ia kembali, penghulu yang bertugaskan menikahkannya dengan Queensha belum tiba akibat terjebak macet di perempatan yang menuju ke arah hotel sehingga prosesi ijab kabul dapat dilangsungkan sesuai rencana.
Tangan pak penghulu terulur ke depan, sementara tangan sebelah kiri memegang pengeras suara, ia meminta Ghani menyentuh tangannya dan mengikuti semua yang dikatakannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Queensha Azura Gunawan binti Almarhum Gunawan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cincin berlian dengan berat 10 gram serta satu unit apartemen di kawasan Heavenly Hills dibayar ... tunai." Suara lantang seorang pria melalui pengeras suara menggema memenuhi penjuru ruangan, membuat semua orang yang hadir menyerukan kata 'sah'. Kemudian para tamu undangan itu bermunajat, memanjatkan do'a kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
Hari ini, tepat di tiga bulan pasca ijab kabul pertama, Queensha resmi menyandang kembali gelar nyonya muda Wijaya kusuma. Setelah melewati lika liku kehidupan pahit, akhirnya ia dapat merasakan buah atas kesabarannya selama ini. Dicintai seseorang yang bersedia menerimanya apa adanya merupakan anugerah terindah dalam hidup. Apalagi orang itu adalah pria yang telah menitipkan seorang anak perempuan cantik nan menggemaskan di dalam rahimnya dulu maka hidup Queensha semakin sempurna.
'Alhamdulillah, terima kasih Tuhan atas semua nikmat yang Engkau beri kepadaku.' Tanpa terasa satu butir kristal meluncur di antara sudut matanya yang sipit.
...***...
__ADS_1