
Seorang lelaki berparas tampan nan rupawan tengah berdiri di depan sebuah cermin. Batik lengan panjang warna navy dengan bagian bawahnya terdapat motif burung hong dipercaya dapat membawa kelanggengan dan kebahagiaan pada rumah tangga seseorang membalut tubuh tegap Leon yang malam itu akan melangsungkan prosesi lamaran sebelum akhirnya mengucap ikrar setia sehidup semati.
"Udah keren, ganteng lagi. Gue yakin Lulu bakalan klepek klepek dan matanya dia enggak bakalan berkedip sedikit pun. Dia pasti terpesona oleh ketampanan gue," kata Leon jumawa. Demi menyempurnakan penampilannya, dia menyemprotkan minyak wangi di leher, aroma kesukaan Neko-chan tercinta.
"Dih, kepedean banget jadi orang. Hati-hati, lo bakalan sakit kalau harapan enggak sesuai realitas," cibir Ghani yang kebetulan saat itu berada di kamar sang sahabat. Dia diminta Bu Ayu memanggil Leon untuk segera berangkat ke rumah orang tua Lulu yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka menginap saat ini.
Leon mendengkus kesal mendengar suara berat Ghani. Dia menatap Ghani lewat cermin di depannya lalu memasang wajah masam kala netranya menangkap sosok sahabat terbaiknya itu tengah berdiri di belakangnya. "Sirik aja lo jadi orang. Lagi pula, ini mulut gue terserah gue mau ngomong apa, it's not your business. Gue enggak pernah usil tentang hidup lo jadi lo enggak usah ngusik tentang kehidupan pribadi gue!"
Lalu Leon membalikkan badan kemudian melempar handuk yang tadi dia taruh di pinggiran meja kerja yang disediakan pihak penginapan. "Ngapain lo ke sini? Ganggu aja!"
Dengan cepat Ghani meraih handuk yang dilayangkan kepadanya, menaruhnya ke sembarang tempat. "Ngomel mulu jadi orang. Gue ke sini karena diminta Tante Ayu untuk manggilin lo. Nyokap dan bokap lo udah siap, Yogi juga udah standby di lobi penginapan, nunggu perintah dari gue. Kalau lo udah siap, kita berangkat sekarang. Perjalanan kita memakan waktu sekitar 1 jam-an jadi jangan sampe telat."
Melihat jam tangan mahal di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 WIB, sudah waktunya Leon dan yang lain pergi ke kediamannya Lulu. Jangan sampai mereka terlambat sebab pada momen penting ini akan ada banyak tamu yang hadir turut menyaksikan prosesi lamaran antara Leon dan Lulu.
"Ngomong kek dari tadi. Kalau tau lo datang ke sini karena disuruh Mama, enggak bakalan mungkin gue semprot lo." Lantas Leon mengambil telepon genggam, dompet, dan tak lupa kotak berisi cincin pertunangan yang akan disematkan di jari manis kekasihnya. "Buruan jalan, gue enggak mau sampe datang terlambat!"
__ADS_1
Ghani mengepalkan telapak tangan di samping badan. Kalau bukan sahabat terbaiknya, sudah dia beri pukulan keras di wajahnya yang jelek itu. Tapi berhubung Leon adalah sahabat karibnya Ghani sejak sama-sama duduk di bangku SMA sehingga dia hanya dapat menahan diri untuk tidak termakan bujuk rayu setan.
"Bagaimana, apa cincin tunaganmu sudah dibawa? Periksa terlebih dulu sebelum kita pergi. Mama tidak mau kita balik lagi ke penginapan gara-gara kamu lupa membawa benda penting itu bersamamu." Bu Ayu berkata ketika Leon berjalan menghampiri wanita paruh baya itu.
"Sudah, Ma. Aku memasukan kotak cincin itu ke dalam tas kecilku ini. Kalau dimasukan ke saku celana, takutnya jatuh."
"Kalau tidak ada yang ketinggalan, sebaiknya kita pergi sekarang. Nak Yogi, kamu tolong sopiri kami, biarkan Leon berkendara bersama Nak Ghani di mobil satunya lagi," kata Pak Imran mengajak semua orang di sana untuk segera bergegas.
Tak ada yang membantah. Semua orang yang ada di sana mulai masuk ke kendaraan masing-masing. Pak Imran, bu Ayu ditemani Yogi berada di mobil milik ayahanda Leon sementara pria yang malam ini berniat meminang sang pujaan hati berada di mobil berbeda. Malam ini Leon berada dalam satu mobil dengan Ghani.
"Rileks, jangan gugup begitu. Nanti yang ada otak lo malah nge-blank, enggak bisa ngomong apa-apa di depan Lulu dan kedua orang tuanya. Enggak lucu kalau tiba-tiba aja lo berubah jadi batu karena isi kepala lo kosong melompong," ujar Ghani seraya melajukan kendaraan milik Leon. Malam ini dia turun jabatan dari atasan menjadi sopir pribadinya Leon. Bukan apa, dia hanya tidak mau berakhir di rumah sakit karena saking gugupnya Leon membuat kekasih Lulu hilang konsentrasi.
Ghani tertawa tertahan. Dalam keadaan termaram dia masih bisa melihat air muka penuh kekhawatiran.
"Iya, gue pasti bantuin. Udah, mendingan lo persiapin diri karena sebentar lagi kita sampe."
__ADS_1
Benar saja, hanya memakan waktu satu jam lamanya, Leon beserta rombongan tiba di kediaman orang tuanya Lulu. Di rumah sederhana itu telah banyak tetangga sekitar rumah pak Idris hadir untuk menyaksikan prosesi lamaran yang sebentar lagi akan digelar. Lulu, calon mempelai wanita tengah menunggu dengan harap-harap cemas di kamarnya yang mungil.
"Neng Lulu tenang saja, semua pasti berjalan lancar sesuai harapan kita semua." Bu Endang, tetangga samping rumah Pak Idris mencoba menenangkan Lulu yang terlihat gugup. Telapak tangan gadis itu berkeringat dingin karena diliputi rasa cemas.
Dalam kegugupan melanda, Lulu menjawab, "Baik, Bu. Aku usahakan untuk tenang."
Tak lama kemudian, bu Ayu masuk ke kamar anak semata wayangnya memberitahu jika Leon beserta orang tuanya telah tiba dan sedang menunggu kehadiran Lulu di tengah mereka.
"Bu, kok Lulu gugup banget, ya? Apa ini wajar terjadi pada perempuan yang mau dilamar kekasihnya?" tanya Lulu ketika dia dibantu ibunda tercinta melangkah masuk menuju ruang tamu.
Bu Ayu tersenyum samar tanpa melepas genggaman tangannya. Dengan lemah lembut dia menjawab, "Wajar banget, Lu. Dulu, sewaktu Bapakmu datang ke rumah Nini dan Aki untuk melamar, ibu juga gugup banget malah saking gugupnya tangan ibu sampe gemeteran waktu mau masangin cincin di tangan Bapak. Untungnya semua orang yang ada di sana tidak terlalu memperhatikan sehingga insiden itu berlalu begitu saja."
"Ibu mengerti bagaimana perasaanmu saat ini sebab ibu pernah ada di posisimu sekarang. Cobalah untuk rileks, agar rasa gugup dalam dirimu hilang. Kalaupun emang tidak juga hilang, berusahalah untuk meminimalisirnya. Jangan sampai saat prosesi lamaran berlangsung, kamu malah melakukan hal serupa seperti ibu puluhan tahun yang lalu."
Lulu mengangguk patuh kemudian mulai menarik napas dalam, menahannya sebentar lalu mengembuskan perlahan. Sepasang mata terpejam sebentar guna mengumpulkan keberanian dalam dada.
__ADS_1
Tatkala ekor mata Lulu terbuka sempurna, dalam hati dia berkata, 'Tenang Lu, dan serahkan semuanya kepada Tuhan. Malem ini segala urusan akan segera terselesaikan. Lo dan Mas Leon akan melangkah bersama menuju pelaminan.'
...***...