
Bunyi bel pintu terdengar ke seluruh ruangan membuat dua wanita cantik yang baru saja selesai dirias saling memandang satu sama lain. Kening keduanya mengernyit dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Kira-kira siapa yang datang, Sha?" tanya Lulu kepada Queensha. Akibat bunyi bel tersebut, Lulu menaruh kembali botol air mineral berukuran 300 ml ke atas meja di ruang tamu.
Queensha menggendikkan bahu ke atas dan menjawab, "Tidak tahu." Karena tidak mau mati penasaran, lantas ia kembali berkata, "Tunggu sebentar, aku akan memeriksanya sendiri." Lantas ia bangkit berdiri dari kursi rias dan berjalan mendekati pintu. Ia mengintip dari bundaran kecil yang ada di pintu, memeriksa siapa gerangan yang datang ke kamarnya.
Tanpa pikir panjang, Queensha segera membuka pintu tersebut setelah tahu siapa orang yang tadi menekan bel pintu kamarnya. Ia membuka lebar pintu tersebut dan tak lama kemudian menampakkan sosok gadis tinggi bermata sipit mirip yang wajahnya mirip dengan aktris dan musisi Taiwan, Nana Ouyang.
Shakeela, adik bungsu Ghani menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah lengkungan bagai busur panah. Pendar bahagia terpancar jelas dari sepasang mata bundar mirip Aurora. Gadis cantik itu bahagia sebab akhirnya Ghani dapat bersatu kembali dengan Queensha, wanita lembut dan berhati baik bagai seorang bidadari.
"Kak, Bunda memintaku menjemputmu ke ballroom hotel sebab prosesi ijab kabul akan segera dimulai. Namun, sebelum Kak Ghani mengucap ikrar suci pernikahan, kita diminta menunggu di ruangan lain dulu sampai Pak Penghulu mengatakan kalau Kak Queensha dan Kakak Pertama resmi menjadi suami istri," tutur Shakeela panjang lebar, menyampaikan apa yang diucapkan sang bunda kepadanya.
Queensha membalas senyuman Shakeela dengan sebuah senyuman yang teramat manis. "Baik, tapi kamu tunggu sebentar, kakak panggil Kak Lulu dulu agar kita ke sana bersama-sama."
Setelah mempersilakan Shakeela masuk ke kamar, Queensha berjalan masuk menghampiri Lulu yang tengah menunggu dengan harap-harap cemas. Terdapat sekat pemisah antara ruang tamu dengan lorong kecil menuju pintu masuk sehingga Lulu tak mengetahui siapakah orang yang datang ke kamar tersebut.
"Siapa, Sha?" tanya Lulu sesaat setelah melihat Queensha berjalan ke arahnya.
"Adik bungsunya Mas Ghani. Dia diminta Bunda Arumi untuk memanggilku turun ke ballroom hotel karena prosesi ijab kabul akan segera dilangsungkan," sahut Queensha sambil memasukan telepon genggam miliknya ke dalam tas kecil.
"Kalau begitu, ayo sekarang kita ke bawah! Jangan sampai mempelai pria serta para tamu undangan menunggu terlalu lama." Lulu merampas tas kecil berisi telepon genggam milik Queensha. "Biar gue aja yang bawa. Gue enggak mau dicap sahabat jahat yang enggak peka terhadap kesusahan orang lain."
__ADS_1
Queensha berniat melayangkan protesnya kepada Lulu, tetapi sahabatnya itu lebih dulu bersuara. "Bu Naomi dan dua Mbak cantik yang ada di sana, tolong bantu Calon Mempelai Wanita berjalan. Tampaknya dia kesusahan untuk melangkah karena bagian ekor kebaya itu terlalu panjang. Jangan sampai keserimpet lalu sahabatku terjatuh. Kalau sampai cidera maka kita semua akan celaka."
Ketika Queensha masuk ke ruang tamu, Lulu tanpa sengaja melihat sahabatnya itu beberapa kali mengibaskan bagian ekor kebaya panjang yang dikenakan olehnya. Ruang geraknya pun terbatas sehingga berasumsi bahwa Queensha kesulitan melangkah karena kebaya yang dia kenakan. Oleh karena itu, Lulu meminta Naomi serta kedua asisten itu membantu Queensha memegangi bagian ekor kebaya guna memudahkan sahabatnya saat melangkah.
"Mbak Lulu tenang saja, saya pastikan calon mempelai wanita baik-baik saja sampai tiba di ballroom hotel nanti." Naomi melirik ke arah dua asistennya lalu memberi kode kepada mereka.
Lantas kedua wanita berseragam rapi bangun dan membantu Queensha memegangi bagian ekor kebaya. Mereka berbaris di belakang mempelai wanita, menanti Queensha melangkah terlebih dulu meninggalkan ruang kamar yang telah disewa Arumi sebelumnya.
***
Queensha duduk dengan gelisah, menanti detik-detik menegangkan di mana ia dan Ghani akan dipersatukan kembali dalam mahligai rumah tangga. Kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain, bibir komat kamit merafalkan doa, memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar semuanya dapat berjalan sesuai rencana.
"Dek, gue mau temanin calon Kakak Ipar lo dulu. Kasihan dia takut sawan duluan sebelum Pak Ghani mengucap ijab kabul," kata Lulu kepada Shakeela.
Shakeela terkikik geli mendengar perkataan Lulu. Sikap Lulu yang terkesan ceplas ceplos dan apa adanya membuat bungsu empat bersaudara menyukai kepribadian sahabat Queensha. Bagi Shakeela, Lulu adalah teman ngobrol yang asyik dan mudah diajak bercanda sehingga ia merasa semua beban disebabkan oleh menumpuknya tugas kuliah dapat terangkat semua.
"Iya. Bujuk Kak Queensha agar tidak terlalu tegang." Lulu tak menjawab, ia hanya mengangkat ibu jari ke udara sebagai jawabannya.
"Woi, ngelamun aja! Awas kesambet penghuni ruangan ini!" Lulu menepuk pelan pundak Queensha. Queensha terlonjak kaget mendapati Lulu yang tiba-tiba berada di sebelahnya, padahal beberapa saat lalu sahabatnya itu masih duduk di sebelah Shakeela.
"Kamu, ngagetin aku aja, Lu. Untung jantungku normal, kalau tidak, bisa terkena serangan jantung karena kamu kagetin barusan." Queensha mengusap dadanya yang berdegup cepat akibat keisengan sahabatnya.
__ADS_1
Alih-alih meminta maaf dan menunjukan rasa bersalahnya, Lulu justru terkekeh geli melihat ekspresi wajah Queensha. "Kenapa, gugup lagi? Udahlah, santai aja jangan terlalu tegang begitu, Sha. Lo dan Pak Ghani, 'kan, udah pernah nikah sebelumnya seharusnya lo jauh lebih santai dibanding pernikahan pertama kalian bukan malah sebaliknya."
"Iya, sih. Namun, tetap saja Lu, aku merasa gugup sekali seperti sedang menghadapi ujian nasional. Kalau tak lulus maka tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi lagi," keluh Queensha, mengutarakan apa yang ia rasakan sekarang. Saat pertama kali menikah dengan Ghani, ia pun mengalami perasaan yang sama, tetapi rasa itu semakin bertambah sebab telah tumbuh cinta di hati keduanya.
"Hu, lebay!" cibir Lulu. "Sebetulnya lo lebih diuntungkan saat ini dibanding Pak Ghani. Coba lo bayangkan, Pak Ghani mesti ngucap ijab kabul di depan semua orang dan sesaat setelah penghulu serta para saksi menyuarakan sata sah, detik itu juga ia memikul tanggung jawab besar di pundaknya. Jadi, seharusnya lo bersikap lebih santai sekarang, Sha. Jangan karena gugup, muka lo jadi terlihat seperti orang tertekan!"
Bukannya merasa lebih tenang, Queensha malah semakin gugup ditambah kandung kemih yang terasa penuh membuat wajahnya semakin pucat.
"Eh, kenapa muka lo jadi pucat begini, Sha?" Lulu terlihat panik melihat sahabatnya. Pandangan matanya bergerak ke sana kemari, takut terjadi hal buruk menimpa Queensha.
Dengan lirih Queensha berucap, "Aku kebelet banget, Lu. Bagaimana, ya, aku sudah tak bisa lagi menahannya."
Sontak Lulu berteriak memanggil seorang make up artist yang tadi mendandani Queensha serta kedua wanita yang bertugas menjadi asisten Naomi. Ia menyampaikan keinginan Queensha di depan ketiga orang tersebut.
"Tidak ada jalan lain selain membantu Bu Queensha menuntaskan hajatnya. Walau nanti kita membutuhkan waktu untuk merapikan penampialnnya lagi, tak mengapa daripada bikin penyakit." Naomi berkata bijak. Lantas ia meminta kedua asistennya mengantarkan Queensha ke toilet yang tak jauh dari ballroom hotel.
Saat Queensha berjalan menuju toilet dengan ditemani Naomi serta kedua asisten MUA, seorang pria memberi isyarat kepada teman-temannya untuk bersiaga.
"Bersiaplah, target sudah di depan mata!" ucapnya melalui walky talky yang ada dalam genggaman tangan.
***
__ADS_1