
Eberapa saat sebelum Ghani mengalami mimpi buruk, Lulu turun dari lantai dua dengan membawa sling bag miliknya. Siang ini dia berjanji akan makan bakso bersama sahabat terbaiknya, Queensha.
"Iye, gue bentar lagi jalan. Nih lagi nunggu ojol. Ntar lo pesen duluan aja kalau emang udah laper banget, gue bisa nyusul nanti."
Di seberang sana Queensha menjawab, "Aku nungguin kamu saja, Lu. Makan bakso akan terasa lebih nikmat jika makan bersama. Kalau sendirian, rasanya kurang nampol."
Lulu tertawa mendengarnya. Queensha memang sahabat paling setia yang pernah dimiliki, selalu ada di sisinya dalam keadaan apa pun, termasuk urusan makan, sahabatnya itu rela menahan rasa lapar agar dapat makan bersama.
"Oke, tapi jangan maksain diri. Kalau udah laper, langsung makan. Gue enggak mau ketiga ponakan gue kelaperan gara-gara Mamanya nahan lapar demi gue."
Setelah berbincang cukup lama, sambungan telepon pun berakhir. Lulu memasukan kembali gawainya ke dalam tas lalu berdiri di depan pintu gerbang, menunggu driver ojol pesanannya.
Dari kejauhan, tampak seorang pria mengamati gerak gerik Lulu. Tak ada sedetik pun matanya beralih dari sosok gadis itu.
"Semakin hari dia semakin cantik. Body-nya makin aduhai bahkan lebih sedap dipandang dibanding terakhir kali kita ketemu. Aah, andai saat itu dia enggak kabur, gue pasti udah bisa nyicipin kemolekan tubuhnya." Andri menyapu bibirnya menggunakan lidah. Air liur terasa seperti mau meluncur melihat betapa menggodanya tubuh Lulu. Lalu pikiran kotor mulai berkelana ke mana-mana, membayangkan Lulu berada di bawah kungkungannya membuat inti tubuhnya bereaksi.
Tak tahan ingin segera memandangi kecantikan Lulu dari jarak dekat, Andri melepas seat belt dan hendak menemui mantan kekasihnya. Namun, deru mesin kendaraan roda dua menghentikan niat.
"Atas nama Mbak Aluna Humairah?" kata driver ojek online saat motornya berhenti tepat di depan Lulu.
"Ya, saya." Lulu melirik sekilas ke arah plat nomor pada bagian belakang motor, memastikan jika pria dalam balutan jaket warna hijau adalah driver yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan barulah dia mengambil helm yang disodorkan pria tersebut.
"Pak, ke Kedai Bakso Mang Jawir, ya? Bawa motornya pelan-pelan, saya masih kepingin hidup, nikmatin keindahan dunia ini."
"Asyiap, Neng. Pegangan yang kenceng, saya jalanin motornya sekarang."
Tangan mengepal erat di atas stir mobil, melihat wanita incarannya menghilang dari pandangan timbul rasa kesal bersarang di dada. Susah payah meminta orang suruhannya mencari alamat Lulu dan ketika menemukan di mana keberadaan gadis itu, kesempatan itu justru menghilang begitu saja. Tak mau usahanya sia-sia, Andri memutuskan untuk mengikuti motor di depannya.
"Gue enggak akan biarin lo pergi. Gue bakal susulin lo sampe ke liang semut sekalipun." Andri bergegas menyalakan mesin mobil, mengikuti ke mana ojek online di depan sana membawa Lulu.
***
"Lulu!" Queensha memanggil sahabatnya seraya melambaikan tangan ke udara. Dia begitu senang bisa bertemu lagi dengan Lulu setelah tiga hari mereka tak bertatap muka.
__ADS_1
"Lo udah lama nunggu?"
"Tidak juga. Aku baru sampai sekitar lima menit yang lalu. Sini duduk, aku kangen banget sama kamu."
Lulu mengambil duduk di hadapan Queensha. Kedua wanita yang telah lama bersahabat saling menatap satu sama lain.
Mengernyitkan alis saat melihat wajah Lulu yang terlihat berbeda dari sebelumnya. 'Ini cuma perasaanku saja atau bagaimana. Kenapa muka Lulu tampak begitu berseri. Senyuman manis tak pernah menghilang dari wajah sahabatku itu. Ada apa dengan Lulu? Apa mungkin hal besar terjadi dalam hidupnya tanpa aku sadari sama sekali?'
Karena penasaran, Queensha membuka suara, bertanya pada Lulu langsung daripada terus menerka-nerka. "Lu, kamu kelihatan happy sekali. Ada apa? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Lulu cengegesan, merasa berdosa telah menyembunyikan rahasia besar dalam hidupnya. Sebuah rahasia yang hanya dia dan Leon saja yang tahu.
Queensha merengut sebab Lulu tak jua memberitahunya. "Main rahasiaan segala nih ceritanya. Awas ya kalau aku dapat kabar gembira, tak akan kuberitahu kamu biar kamu semakin penasaran sepertiku sekarang."
Lulu mencolek ujung dagu Queensha, mencoba merayu sahabatnya agar tidak merajuk. "Cie, ngambek nih ye. Udah, kagak usah ngambek segala, ntar muka lo makin jelek." Lantas gadis itu memajukan tubuhnya ke depan hingga mentok di ujung meja. "Mau tau enggak kenapa gue bisa se-happy ini."
Perkataan Lulu membuat mata jernih Queensha berbinar bahagia karena sebentar lagi mendengar kabar baik tentang sahabatnya. Kalau bukan kabar baik mana mungkin Lulu bisa sebahagia ini, bukan?
"Emangnya ada apaan, sih, kok aku jadi kepo begini."
"Apa? Jadian! Kapan? Kenapa kamu baru cerita sama aku?" teriak Queensha seraya bangkit dari kursinya.
Lulu meletakkan jari telunjuk ke depan bibir memberi kode pada Queensha untuk diam ketika sadar bahwa mereka berada di tempat umum.
"Kecilin suara lo kalau enggak mau diusir sama Mang Jawir," kata Lulu. Dia menarik tangan Queensha untuk duduk di kursi semula. "Duduk dulu, nanti gue ceritain semua ke lo." Mau tak mau ibu satu orang anak itu menuruti perintah sahabatnya.
"Gue minta maaf belum cerita ke lo. Bukannya sengaja, gue terlalu larut dalam euforia sampe lupa kasih kabar gembira ini ke lo dan Dokter Ghani. Sorry, ya, Sha, bukan maksud menyembunyikan berita baik ini dari kalian semua."
Queensha berdecak kesal. Namun hati kecil ikut berbahagia sebab kini Lulu tak lagi sendiri, akan ada Leon yang menemani. Menjaga dan merawat Lulu di saat dirinya sibuk mengurusi suami dan anak-anaknya.
Berkata dingin. "Hmm. Lalu, apa kalian cuma mau main-main doang? Tidak mau membawa hubungan ini ke tahap serius lagi?"
"Leon, eeh maksud gue ... Mas Leon mau serius sama gue. Kita berencana nikah sekitar tiga atau empat bulan dari sekarang. Sementara waktu ini Mas Leon kepingin kenal dulu dengan nyokap dan bokap gue di kampung. Setelah itu kedua keluarga saling ketemu dan baru membahas rencana pernikahan."
__ADS_1
"Sambil nunggu, Mas Leon ngajak gue terapi ke psikiater untuk menghilangkan trauma yang gue alami selama ini. Dia kepengen gue lepas dari bayang-bayang masa lalu. Gue yang emang udah capek terus dikejar bayangan Andri, nerima ajakan Mas Leon. Gue kepingin bebas menjalani hidup ini tanpa mikirin wajah cowok sialan itu."
"Aku dukung kamu, Lu. Memang sudah seharusnya kamu mengubur masa lalumu dalam-dalam. Anggap saja semua kejadian itu menjadi bagian dalam perjalanan hidupmu yang suatu hari nanti bisa dijadikan pelajaran hidup agar kita semakin dewasa."
***
"Perutku kenyang sekali. Aah, rasa baksonya Mang Jawir dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah." Queensha mengusap lembut permukaan perutnya yang mulai bucit. Usia kandungannya baru memasuki 20 minggu, tetapi terlihat lebih besar dari kandungan pada umumnya. Kehamilan kembar tiga membuat bentuk tubuh Queensha terlihat seperti ibu hamil tujuh bulan.
"Bener banget. Setelah sekian lama, akhirnya kesampean juga makan bakso di sini bareng lo. Next time, kita ajak pasangan kita ke sini. Ajak juga Rora biar makin rame."
Lulu menuntun Queensha menuruni anak tangga hingga alas kakinya menyentuh tanah beraspal. Lalu keduanya berjalan beriringan meninggalkan kedai bakso.
Ketika keduanya sedang asyik mengobrol, tiba-tiba muncul sosok Andri di depan mereka. Pria sialan yang terkenal gemar gonta ganti pasangan menyeringai ke arah Lulu, membuat tubuh kekasih Leon gemetar hebat. Seketika wajahnya pucat dan terlihat panik dalam hitungan detik.
Queensha yang merasa kasihan, langsung berdiri di depan Lulu, menghalangi pandangan Andri dari sahabatnya.
"Mau ngapain kamu ke sini. Pergi, jangan pernah ganggu Lulu lagi!" seru Queensha tanpa mengenal takut. Hidupnya yang pahit menjadikan wanita itu kuat seperti baja.
Andri meludah ke tanah, kesal karena ada orang lain ikut campur dalam urusan pribadinya. "Cuih, dasar kep4r@t! Gue enggak ada urusan sama lo. Minggir sebelum gue berbuat nekad!"
"Tidak mau! Kalau kamu berani ganggu Lulu maka aku akan berteriak!" Queensha masih berdiri di depan Lulu dengan kedua tangan terbentang ke kanan dan kiri.
Dada kembang kempis, gigi gemelutuk, dan wajah merah padam. Andri yang telah dirasuki setan berjalan cepat ke arah Queensha. Lalu dia menarik paksa wanita itu untuk menjauhi Lulu.
"Ikut gue sekarang!" Andri menarik tangan Lulu usai mendorong tubuh Queensha hingga menjauh beberapa meter dari mereka. Nyaris terjerembab jika tak segera berpegangan pada pohonan menjulang tinggi ke angkasa.
Lulu berontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Andri. Namun usahanya sia-sia. Cengkeraman tangan Andri semakin kencang, terus menyeret mantan kekasihnya mendekati parkiran mobil.
"Lepasin Lulu. Jangan bawa dia pergi!" Queensha mencoba membebaskan sahabatnya, menarik sebelah tangan Lulu yang tidak ditarik paksa Andri. Akan tetapi, Andri dengan sigap menjauhkan Lulu dari jangkauan Queensha.
Emosi meledak-ledak bagai lava pijar gunung berapi, membuat Andri gelap mata dan ingin menyingkirkan pengganggu yang ada di depan mata. Lantas dia mendorong tubuh Queensha dengan kencang hingga wanita itu tersungkur ke tanah beraspal. Bagian bokong menghantam kencang hingga membuat Queensha meringis kesakitan.
"Argh! Sakit!" rintih Queensha saat merasa sakit pada bagian perut. Dia pegangi perutnya sambil bergumam lirih memanggil nama sang suami. "Mas Ghani, tolong!" Tak lama kemudian darah segar mengalir di antara kedua paha.
__ADS_1
"Queensha!" jerit Leon dengan tubuh menegang.
...***...