Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Dua Garis Merah untuk Ghani


__ADS_3

Tak terhitung lagi berapa kali Queensha bolak-balik, berjalan ke sana kemari mengelilingi kamarnya. Ia menggigit kuku jari guna menyingkirkan rasa gugup dalam diri. Bagaimana tidak, ia baru sabar bahwa sudah dua bulan dirinya tak mengalami siklus menstruasi. Itu artinya, sebelum menikah dengan Ghani, merupakan hari terakhir ia kedatangan tamu bulanan.


"Duh, bagaimana kalau aku betulan hamil? Apa Mas Ghani akan bahagia dengan kehamilanku yang kedua?" Bergumam lirih seraya mencengkeram ujung kaos yang Queensha kenakan.


"Bodoh! Kenapa pula aku berpikiran begitu. Mas Ghani tentu saja bahagia, bukannya selama ini dia memang sangat menunggu kehadiran anak kedua kami." Tak tahan lagi, akhirnya Queensha mendaratkan bokongnya yang sintal di tepian ranjang.


"Aku harus memastikannya terlebih dulu sebelum kuberitahu Mas Ghani soal kehamilanku ini. Jangan sampai setelah kuberitahu ternyata keterlambatan datang bulanku ini bukan karena tengah berbadan dua, melainkan karena gangguan siklus menstruasi."


Tanpa membuang waktu lama, Queensha meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas lalu mengirim pesan kepada suaminya. [Mas, aku izin ke mini market di bawah, membeli sesuatu. Tak lama hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja.]


Setelah pesan tersebut terkirim, Queensha bangkit berdiri dan berjalan mendekati walk in closet. Ia mengamil cardigan di lemari serta dompet dari laci lemari pakaian.


"Bik Anah, aku mau ke mini market sebentar. Kalau dalam sepuluh sampai lima belas menit aku tak pulang sedangkan Rora sudah pulang duluan, tolong bantu dia ganti pakaian dan minta untuk makan siang. Aku mau beli sesuatu yang penting di bawah," kata Queensha memberi amanah kepada asisten rumah tangganya.


Bik Anah mengangguk patuh. "Baik, Bu. Hati-hati di jalan."


Sementara itu, Ghani tengah menunggu dengan harap-harap cemas. Ia sama gugupnya dengan Queensha, terlebih sampai lebih dua puluh menit berlalu, pesan yang ia kirim tak jua dibalas istri tercinta.


"Kenapa dia enggak balas chat gue, sih. Apa dia sibuk banget sampe enggak bisa balas WA gue?" Ghani mengetuk-ngetuk atas meja menggunakan tangan.


Tatkala ponsel miliknya berdering, Ghani segera membaca pesan singkat yang dikirim Queensha. Setiap kalimat di layar ponsel begitu mencolok mata membuat ia semakin berdebar-debar. Hanya dengan membaca pesan tanpa pernah tahu benda apa yang hendak dibeli sang istri, ia sudah dapat menebak benda apa yang hendak dibeli Queensha.


"Ya Tuhan ... mungkinkah istriku betulan hamil?" Tangan Ghani gemetar. Baru kali ini ia mengalami tremor. Dulu, saat pertama kali praktek menjahit luka pada pantom bahkan latihan melakukan tindakan operasi, ia tak mengalami rasa gugup dan juga tremor. Namun, kenapa sekarang berbeda. Hanya membayangkan Queensha hamil sudah membuat pria itu gugup setengah mati.


"Sial. Sebaiknya gue pulang sekarang untuk mastiin apa Queensha betulan hamil atau enggak. Gue enggak bisa fokus kalau cuma duduk di sini sambil nunggu informasi dari bini gue."

__ADS_1


Ghani melangkah keluar ruangan, meninggalkan layar monitor yang sudah dalam keadaan mati serta beberapa laporan pekerjaan Leon serta tenaga medis lainnya. Ia benar-benar tidak fokus bekerja sementara pikirannya berkelana ke mana-mana.


"Mau ke mana, Ghan? Ini belum waktunya pulang, loh. Jam satu nanti kita ada rapat di aula, ngebahas rencana seminar nasional yang diadakan rumah sakit kita." Kening Leon mengerut dalam saat berpapasan dengan Ghani di lobby rumah sakit. Ia baru saja dari kantin, mengisi perut sehabis melakukan tindakan operasi kecil pada pasien wanita yang mengalami benjolan pada bagian dadanya.


"Rapat siang ini diundur besok pagi aja. Gue ada urusan penting di luar, nih. Lo bantu sampein permintaan maaf gue ke semua panitia karena ngebatalin rapat secara mendadak. Kalau mereka pada protes, pecat aja!" ujar Ghani seraya berlalu dari hadapan Leon.


"Dasar sinting! Seenaknya aja kalau ngomong. Dia pikir gue siapa, bisa seenaknya aja ngomong begitu di depan semua panitia. Dia, sih, enak, yang punya rumah sakit ini sementara gue? Yang ada gue bisa dimusuhin semua orang karena bertindak semena-mena." Leon tak lagi memedulikan Ghani yang semakin menjauh dari pandangan. Masih ada urusan lain yang jauh lebih penting dibanding menyusul sahabat gilanya itu.


***


Kembali lagi kepada Queensha, wanita itu langsung berjalan ke kamar mandi sesaat setelah merasa ada dorongan yang sangat mendesak untuk buang air kecil. Ia melirik pada bungkusan biru yang tergeletak di atas kasur. Usai mendapat apa yang ia cari, wanita itu meneguk banyak air putih untuk melakukan pemeriksaan guna memastikan apa ia betulan hamil atau tidak.


"Bismillah, semoga hasilnya tidak mengecewakan." Queensha mengamati perubahan warna indikator pada lempengan di tangannya.


Queensha dibuat lemas saat garis samar tersebut perlahan-lahan semakin terang. Gemuruh kencang menghantam dadanya dan detik berikutnya ia tak lagi mampu berdiri. Ia terduduk lemah di atas closet sambil menata haru pada lempengan berukuran sepuluh sentimeter di tangannya.


"Ya Tuhan ... i-ini .... Astaga, aku sungguh benar-benar hamil?" kata Queensha tak percaya. Ia kembali memandangi alat test pack tersebut hingga tanpa terasa buliran kristal meluncur di antara kedua pipi. Rasa haru menyelimuti wanita itu. Tepat di pernikahannya yang ke-2 bulan, ia diberi karunia terindah oleh Tuhan Yang Maha Esa.


"Mas Ghani pasti senang kalau tau aku mengandung anaknya lagi. Aah, pantas saja selama dua bulan ini mood-ku berubah-ubah, kadang bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan. Rupanya ada buah cintaku dengan Mas Ghani di dalam sini." Mengusap lembut perutnya yang sedikit terlihat buncit. Dulu berpikir karena ia sudah lama tak berolahraga menyebabkan perutnya buncit, tetapi ternyata itu semua disebabkan oleh kehamilan keduanya.


Kabar gembira ini tak bisa disimpan sendirian. Maka dari itu, Queensha berjalan keluar dari kamar mandi dengan perasaan mengharu biru. Ia berdiri di depan cermin, memperhatikan bentuk tubuhnya yang mulai menonjol di beberapa bagian tubuh. Bagian dada, perut serta pipi terlihat jelas ada perubahan di sana, tetapi mengapa ia tak menyadari semua itu?


Menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu dibuka seseorang. Tak lama kemudian muncul sosok Ghani, berdiri di ambang pintu.


Tatkala dua pasang mata beradu pandang, ada sorot mata penuh cinta terpancar dari keduanya. Sama-sama tersenyum lebar seakan terjalin ikatan batin antara mereka berdua.

__ADS_1


Perlahan, Ghani mendekat lalu memeluk tubuh Queensha dari belakang. Kali ini ia tak mengeratkan pelukannya sebab khawatir melukai calon anak mereka.


"Jadi, apa kamu betulan hamil, Sayang?" tanya Ghani untuk memastikan. Sebetulnya tanpa bertanya pun ia dapat melihat air muka kebahagiaan terlukis di wajah istrinya itu. Akan tetapi, ia ingin mendengar langsung penuturan dari istri tercinta. Bukankah lebih membahagiakan jika istrinya sendiri menyampaikan langsung berita bahagia ini kepadanya?


Queensha menyentuh tangan Ghani yang menempel di perutnya dengan lembut sementara tangan sebelah lagi mengusap rahang suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. "Benar, Mas. Aku baru ingat terakhir kali menstruasi sebelum kita mengagendakan untuk berbulan madu dan saat kamu menjamahku, hari itu pulalah aku mengalami ovulasi. Bisa jadi saat kita berhubungan lagi setelah enam tahun berlalu, benihmu telah tumbuh subur di rahimku, Mas."


Ghani menghela napas lega. Akhirnya usahanya untuk bisa menghamili Queensha berhasil. Ia juga telah mengabulkan keinginan Aurora, memberi adik bayi untuk putri tercintanya itu.


"Aku bahagia sekali, Sha, bisa diberi kepercayaan Tuhan untuk menjadi ayah dari bayi yang kamu kandung. Dulu, aku tak ada di sisimu saat kamu mengandung Rora. Namun, untuk kehamilanmu yang kedua, aku pastikan akan berada selalu di sisimu, membantu kamu melewati masa-masa kehamilan yang cukup melelahkan." Ini semua Ghani lakukan untuk menebus kesalahan yang pernah diperbuatnya di masa lalu. Kali ini ia akan menjadi suami dan ayah siaga bagi calon anak-anaknya.


"Mereka pasti senang tau Papanya begitu perhatian dan bertanggung jawab."


Ghani menarik ujung dagunya dari pundak Queensha tanpa melepaskan tautan tangan mereka di perut sang wanita. Mengenyit dalam, berusaha keras mencerna kalimat yang terucap di bibir istri tercinta. "Mereka? Apa ... kamu mengandung bayi kembar, Sayang?"


Queensha terkekeh pelan. "Itu hanya feeling-ku saja, sih, Mas. Kamu terlahir kembar, anaknya Zahira pun terlahir kembar. Tak menutup kemungkinan kita akan memiliki bayi kembar juga, bukan?"


Ghani manggut-manggut. "Ehm, kamu benar. Mendiang Nenekku pun terlahir kembar, tetapi meninggal saat masih kecil. Lalu turun kepadaku, anak-anak Zahira, dan mungkin menurun kepada kita. Untuk memastikannya, bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan? Aku punya referensi dokter kandungan hebat di rumah sakit."


Queensha memutar tubuh lalu menangkup wajah suaminya itu. Ia pandangi pria tampan yang telah memberinya satu orang putri cantik bermata bundar. "Aku ikut saja apa katamu. Jika menurutku baik maka lakukanlah, Mas, aku tidak akan menolaknya."


Ghani turut menangkup wajah Queensha, menempelkan kening wanita itu di keningnya. Mata terpejam menikmati hawa panas bersumber dari hidung Queensha. Bersyukur kepada Tuhan karena ia diberi kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu.


"Terima kasih sudah mau membiarkan benihku tumbuh di rahimmu, Sayang. Kamu ... memang wanita terbaik yang Tuhan kirimkan kepadaku. Wǒ ài nǐ, Queensha Azura Gunawan." Ghani kecup kening istrinya dengan luapan cinta yang teramat besar.


...***...

__ADS_1


__ADS_2