
"Nak Leon, hati-hati di jalan. Kalau ada waktu senggang, sering-seringlah main ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu," kata Pak Idris sebelum Leon melajukan kendaraan roda empat miliknya.
"Insha Allah, Pak. Doakan saya, semoga saat ke sini lagi merupakan hari di mana saya melamar Lulu untuk menjadi pendamping hidup saya. Saya udah enggak sabar kepingin cepet halalin putri cantik Bapak dan Ibu, takutnya kalau ditunda malah digondol maling, bahaya!" Leon terkekeh diakhir kalimatnya, sementara Lulu tertunduk malu. Bisa-bisanya Leon berkata demikian di hadapan kedua orang tuanya, benar-benar tidak tahu malu.
Pak Idris dan bu Fatimah ikut terkekeh. Rupanya Leon bisa juga bergurau.
"Aamiin. Ibu doakan semoga segala sesuatunya berjalan baik, sesuai rencana. Oh ya, jangan lupa pisang yang ibu petik kemarin sore langsung berikan kepada Mamanya Nak Leon dan separuh lagi untuk Neng Queensha. Tidak seberapa, tapi ibu dan Bapak harap kalian dapat menyukainya."
"Saya pasti memberikannya pada Mama, Bu. Terima kasih udah repot memetik pisang untuk dibawa ke rumah," kata Leon tulus. Walaupun oleh-oleh yang diberikan Bu Fatimah sangat sederhana dan dia bisa membelinya di pasar tradisional maupun supermarket, tetapi dia tetap mengucap terima kasih pada calon ibu mertuanya itu.
Lulu mencium punggung tangan kedua orang tuanya, setelah Leon selesai basa basi dengan bapak dan ibunya.
"Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai indekos, jangan lupa beri kabar pada bapak dan Ibu agar kami tidak mencemaskanmu," kata Pak Idris sembari mengusap punggung anak kesayangan.
Hal serupa dilakukan bu Fatimah. Wanita paruh baya itu mencium pipi kanan dan kiri Lulu, memberi sedikit wejangan sebelum anak semata wayangnya itu kembali ke kota.
Leon melirik sekilas ke arah Lulu yang masih melambaikan tangan pada kedua orang tuanya. Meskipun mulut wanita itu tak pernah mengucap kata sayang, tetapi Leon yakin jika sebetulnya kekasihnya itu begitu menyayangi pak Idris dan bu Fatimah.
Membawa sebelah tangan Lulu mendekati bibir kemudian mendaratkan kecupan di punggung tangan calon istrinya itu. "Jangan sedih, kan kita masih bisa datang ke sini. Kalau aku enggak sibuk, bisa nganterin kamu pulang kampung. Tapi, kalau aku sibuk, tetep aku sempatkan nganterin kamu ketemu Bapak dan Ibu."
Di sebelahnya, Lulu tersenyum meski hati bersedih karena harus berpisah dengan orang tuanya lagi. Mendadak, hatinya seperti dipenuhi bunga-bunga bermekaran, semerbak di mana-mana. Perkataan Leon menunjukan betapa pedulinya lelaki itu kepada dirinya.
"Jangan memaksakan diri kalau emang enggak bisa. Menolong orang merupakan perbuatan terpuji, dan aku enggak mau kamu terlalu menomorsatukan aku dibanding pasien-pasienmu. Kerjakan tugasmu dengan baik, setelah itu baru kamu pikirin aku."
Makin jatuh cinta sajalah Leon kepada Lulu. Di balik sikap jutek, mulutnya yang tak jarang melukai perasaan seseorang, rupanya Lulu mempunyai sisi lain yang jarang sekali ditunjukan kepada orang lain. Leon beruntung menjadi satu-satunya orang yang dapat melihat sisi lain dari sang kekasih.
***
Keesokan harinya, Leon pergi bekerja seperti biasa. Waktu cuti lima hari dia gunakan untuk mengunjungi kampung halaman calon mertuanya yang ada di Jawa Barat.
"Kayaknya gue mesti ngasih tau Ghani tentang rencana gue yang mau ngelamar Lulu karena bagaimanapun, Ghani dan Queensha-lah orang yang udah ngenalin gue kepada Lulu. Biar sekalian gue minta dia jadi saksi saat gue minta Lulu dari orang tuanya." Lantas Leon mempercepat langkahnya menuju lantai tertinggi bangunan tersebut. Dia sudah tak sabar ingin membagi berita baik ini kepada sahabat terbaiknya itu.
Leon mengetuk pintu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan direktur rumah sakit. Di sana ada Ghani yang sedang sibuk mengurusi urusan rumah sakit dan pasien di bangsal Bougenvile. Walaupun di bangsal itu sudah ada Leon yang bertanggung jawab sebagai dokter penanggung jawab, tetapi dia tetap mengawasi dan memastikan segala sesuatunya terkoordinasi dengan baik.
"Ghan, ada yang mau gue omongin nih sama lo. Kira-kira ada waktu enggak?" tanya Leon sambil duduk di kursi seberang Ghani.
__ADS_1
Ghani melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, lalu mendongakan kepala, mengarahkan tatapan mata pada sahabatnya itu. "Ada apa, Yon? Kayaknya serius banget sampe muka lo kelihatan tegang begitu. Kenapa, lo mau ambil cuti lagi?" jawab Ghani saat melihat air muka Leon terlihat begitu tegang dibanding sebelumnya.
Menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudia menjawab, "Lo pasti udah tau kalau beberapa hari lalu gue ke kampung halaman Lulu," ucap Leon basa basi dulu.
"Heem, gue tau makanya lo ambil cuti selama beberapa hari. Gimana di sana, apa semuanya lancar? Nyokap dan bokapnya Lulu, gimana?"
"Ya alhamdulillah, semua berjalan lancar. Gue juga udah dapat restu nih dari orang tuanya Lulu," ucap Leon dengan bangga.
Binar bahagia itu terpancar dari sepasang mata sipit Ghani. Dia ikut bahagia mendengar berita baik ini. "Bagus. Terus, kapan mau lamarannya? Jangan lama-lama, keburu setan ikut campur di dalamnya," kata Ghani mencoba memperingatkan. Jangan sampai kejadian yang menimpanya dulu terulang kepada Leon. Tiba-tiba Lulu hamil duluan, 'kan bahaya.
Leon menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ghani tahu saja kalau dia terkadang suka lepas kendali saat berada di sisi Lulu.
Pernah suatu waktu karena terlalu bahagia, Leon sampai kebablasan, mencumbu Lulu dengan begitu intens sampai nyaris melakukan hubungan intim karena saking terbawa suasana. Namun, beruntungnya dia segera sadar dan hal yang tak diinginkan tak terjadi.
"Rencananya sih dalam waktu dekat ini gue bakal ngelamar Lulu, sekitar satu bulan dari sekarang. Setelah itu, baru deh kita nikah. Lagi pula, gue enggak mau pernikahan gue nanti malah bentrok dengan Zavier, kasihan tamu undangan yang kebanyakan karyawan rumah sakit, mesti double ngasih amplop ke gue dan si playboy cap Naga itu."
Ghani tidak terima adiknya dihina, melempar gulungan kertas ke wajah Leon. "Kampret! Jangan hina adik kembar gue, gue tampol juga lo!" gertaknya kesal. Paling tidak suka ada seseorang menjelek-jelekan adik kembarnya itu walau kenyataannya Zavier memang sering gonta ganti pacar semasa sekolah dulu, tetapi dia tak akan tinggal diam jika ada orang lain menghina adik kembarnya itu.
Leon menangkis gulungan kertas yang nyaris mendarat di wajahnya. "Sialan, hampir aja muka ganteng gue rusak gara-gara lo! Gue ngomong apa adanya, Bro. Adik lo itu-"
Leon menaikkan tangan ke udara, tanda menyerah. Kalau Ghani sudah memang wajah serius dan nada bicara dingin maka dia tak bisa menyenggol sahabatnya itu. Ghani bisa jadi monster menyeramkan, tak segan menghabisi nyawa seseorang jika sekiranya dianggap telah menyakiti orang yang begitu dia sayangi.
"Fine, kita balik ke topik utama. Kemarin emang rencana gue cuma memperkenalkan diri di depan orang tuanya Lulu sekaligus minta restu untuk macarin anak mereka. Enggak lucu, kalau dateng tiba-tiba lalu bilang mau ngelamar anaknya. Yang ada bukannya diterima malah diusir gue," ucap Leon lagi membuat Ghani tersenyum tipis, membayangkan sahabat karibnya digebukin ibu dan bapaknya Lulu, pasti terlihat konyol sekali.
"Hmm, bener juga kata lo. Lalu?" Ghani yakin jika Leon masih ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Ini hanya permulaan saja, belum masuk ke inti pembahasannya.
Leon merubah wajahnya menjadi serius dan itu membuat Ghani yakin jika lelaki di seberangnya bukan sekadar ingin menyampaikan berita baik terkait kemajuan hubungannya dengan Lulu, tetapi ada hal lain penting lain yang ingin disampaikan kepadanya.
"Ghan, gue mau minta tolong nih sama lo. Kira-kira, bisa bantuin gue enggak?"
Ghani mengernyitkan kedua alis. "Tolong apa?" tanyanya singkat, padat, dan jelas.
Menarik napas dalam lalu mengembuskan perlahan. Mencoba mengumpulkan keberanian dalam diri. "Gue mau minta tolong untuk lo temenin gue ketika ngelamar Lulu nanti. Gue takut otak gue nge-blank mendadak. Lo tau sendiri, otak gue kadang-kadang lemot kalau urusan percintaan. Daripada acara sakral itu berantakan, gue putusin buat ngajak lo, Ghan. Gimana, bisa kagak?"
Ghani menangkup ujung dagunya yang lancip dengan punggung tangan, pura-pura berpikir padahal dia bersedia menemani Leon. Sengaja begini hanya ingin mengerjai sahabatnya.
__ADS_1
"Gimana, ya?" Ghani kembali memang wajah seriusnya, membuat Leon kesal dibuatnya.
"Yaelah, pake mikir lama lagi. Buruan dijawab, bisa kagak?" kata Leon. Kedua tangannya mencengkeram erat gumpalan kertas yang dilempar kepadanya tadi sampai kertas tersebut gepeng.
Sudut bibir Ghani tertarik ke atas. Bahagia melihat Leon kesal karena ulahnya.
"Kagak sabaran amat jadi orang. Jangan-jangan lo udah ngebet kepingin itu sama Lulu, iya?" Ghani berkata dengan tatapan penuh selidik.
Leon langsung gelagapan mendapat pertanyaan itu. Dia memang sudah tak sabar ingin bisa mencicipi yang namanya surga dunia. Selama ini dia tak pernah berbuat macam-macam meski menjalin kasih dengan lawan jenis, dia selalu menjaga diri untuk tidak merusak masa depan anak gadis orang. Namun, di depan Lulu, hasrat untuk bercinta menggebu, Lulu ibarat sebuah magnet yang membawanya terus mendekat.
"Ngawur! Gue mah anak baik, sholeh, mana mungkin ngerti begituan."
Ghani mencibir dan memutar bola matanya dengan malas. "Anak sholeh kok miras," sindirnya sinis.
Berdecih karena Ghani mengingatkan dosanya di masa lalu. "Itu masa lalu saat gue masih gila, sekarang mah enggak. Gue udah tobat, Bro."
Ghani ber-hmm saja, tak mau menanggapi apa-apa.
"Soal pertanyaan lo barusan, udah gue pertimbangkan dengan matang kalau gue ... bersedia nemenin lo ke rumah orang tuanya Lulu. Gue siap jadi saksi penyatuan dua insan manusia yang melangkah bersama ke jenjang pernikahan."
Leon melompat kegirangan saking bahagianya. Mata berbinar bahagia, hati berbunga-bunga seakan ada jutaan kupu-kupu terbang dari perutnya.
"Yes! Akhirnya gue bentar lagi nikah sama Lulu. Thanks Ghan, lo emang sahabat terbaik gue." Lalu Leon berhambur mendekati Ghani, berniat memeluk tubuh atasan yang merangkap juga sebagai sahabat karibnya. Namun, niatnya itu terhenti tatkala melihat mata sipit Ghani melotot ke arahnya.
"Fine! Gue enggak akan macam-macam," kata Leon dengan kedua tangan tertahan di udara. Tak mau membuat Ghani kesal, dan usahanya membujuk lelaki itu sia-sia.
"Kabarin aja kapan lo mau ke rumah orang tuanya Lulu. Kalau bisa jauh-jauh hari biar gue mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang."
Dengan gerakan secepat kilat Leon menaikkan dua ibu jarinya ke hadapan Ghani. "Siap, Bos! Sekali lagi, thank you, Bro."
Perkataan Leon hanya dijawab anggukan kepala saja. Namun, di dalam hati Ghani, dia amat sangat bahagia mengetahui Leon sebentar lagi mempersunting gadis pujaan hatinya. Itu berarti tiga lelaki yang ada dalam circle-nya telah melepas lajang semua.
Pertama Shaka, yang menikah dengan adik kembarnya Zahira. Kedua Zavier, yang dalam 2 minggu lagi mempersunting Hanna--salah satu teman dekat Zahira di bangsal Melati. Dan terakhir Leon. Ini merupakan kabar menggembirakan bagi dirinya.
...***...
__ADS_1