
Pada suatu hari di malam bulan purnama, Queensha diminta menggantikan teman kerjanya yang bekerja sesama waitress di sebuah club malam di Tokyo, Jepang. Sebetulnya malam itu Queensha sedang libur, tetapi ia diminta menggantikan temannya untuk bekerja.
“Please ... tolongin gue, Queensha. Malam ini aja lo gantiin jadwal gue. Badan gue rasanya demam, enggak kuat kalau harus berdiri berlama-lama,” ucap Elena dalam bahasa Indonesia. Kebetulan ia berasal dari Indonesia sama seperti Queensha.
Gadis itu sedang meringkuk di balik selimutnya. Entah kenapa badannya terasa meriang, berkali-kali dia mematikan dan menyalakan AC karena merasa kedingingan, sekaligus juga kegerahan saat pendingin udara dimatikan.
“Kamu beneran lagi sakit? Suara kamu sampai serak gitu. Ya udah deh kalau emang lagi sakit, aku bakal gantiin kamu malam ini, El. Sekarang kamu istirahat aja. Apa perlu aku kirim obat?” tanya Queensha lewat sambungan telepon. Dia tahu rasanya sakit di perantauan, sangat berat dan membutuhkan bantuan orang lain.
Di seberang sana Elena menggeleng lemah. “Enggak usah, Sha. Yang gue butuhin sekarang cuma istirahat. Makanya minta lo gantiin gue shift malam ini. Thanks, ya, lo udah mau bantuin gue. Nanti kalau gue gajian, gue bagi separuhnya untuk lo."
Queensha menerima permintaan temannya itu karena kebetulan dia butuh uang tambahan untuk dikirimkan kepada ayahnya yang sedang sakit keras. Gadis itu memang sudah hampir setahun ini tinggal di Jepang. Dulu bekerja sebagai babysitter, mengasuh seorang anak keturunan Indonesia Jepang. Namun, karena suatu sebab akhirnya Queensha diberhentikan dan dia bekerja sebagai waitress di sebuah klub malam.
Pekerjaan ini terpaksa Queensha lakukan karena pekerjaannya tidak terlalu berat juga gajinya lumayan. Belum lagi kalau ada tamu yang memberikan tips karena pelayanannya ia mendapat pemasukan lebih yang bisa dikirim ke Indonesia.
Queensha bersiap untuk berangkat ke club malam. Gadis cantik itu hanya sedikit mengoleskan lipgloss pada bibirnya. Tanpa mengenakan make up tebal pun, Queensha mempunyai wajah cantik yang sedap dipandang.
"Semangat Queensha!" ujar gadis itu seraya mengepalkan kedua tangan di depan dada, memberi semangat pada dirinya sendiri.
Saat Quennsha sedang bekerja, datang beberapa pria ke club itu. Dengan ramah Queensha menyambut mereka. Seorang pria asing berwajah oriental datang ke club tersebut bersama beberapa temannya.
"Irasshaimase!" ucap Queensha dalam Bahasa Jepang.
Empat dari lima orang pemuda yang baru saja masuk ke dalam club tersenyum, membalas sapaan Quensha. Akan tetapi, satu di antara mereka tampak sibuk membalas pesan singkat dari ibunda tercinta sehingga tak memperhatikan Queensha yang saat itu sedang bertugas.
“Ayo buka botolnya, Leon yang bayar semuanya. Jadi, kita puas minum tanpa takut kantong jebol,” ucap pria berkacamata. Pria yang dipanggil Leon mengangguk sambil tersenyum.
“Siap, Bro. Kita bersenang-senang malam ini. Udah capek kita kuliah selama sepuluh tahun di fakultas kedokteran, otak juga butuh di-refresh dan di-restart,” jawab Leon, pria jangkung dengan tinggi badan sekitar 170 cm.
Rupanya mereka adalah para pria yang baru saja lulus kuliah. Mereka merayakan perpisahan setelah menempuh pendidikan kedokteran sekaligus mengambil spesial selama sepuluh tahun lamanya.
__ADS_1
"Ayo, dong, lo juga ikut minum! Kita rayakan perpisahan ini setelah bersama-sama selama sepuluh tahun," ajak pria bertubuh kecil yang segera mengisi gelasnya dengan minuman beralkohol yang baru dibuka dari botol.
"Sorry, Bro, gue enggak bisa ikutan kalau minum-minuman beralkohol. Dari dulu gue enggak pernah minum. Lo juga tahu itu, 'kan?" jawab pria asing itu yang tak lain adalah Ghani. Sontak saja ucapannya itu disambut suara tertawa riuh dari teman-temannya
"Dasar sok suci, lo!" ledek pria yang memakai jaket.
"Enggak gitu, Bro! Gue ke sini cuma mau menghormati permintaan Leon sama kalian aja, tapi jangan paksa gua minum dong," tolak Ghani lembut.
Selain memang minuman beralkohol itu tak diperbolehkan di agama yang dianut Ghani, sake pun banyak memberikan efek buruk bagi kesehatan. Untuk itulah ia menolak habis-habisan bujukan dari keempat teman-temannya itu.
"Ayolah dikit aja buat pemanasan," bujuk pria berkacamata tetap menyerahkan segelas minuman ke hadapan Ghani.
Ghani menerima gelas berukuran kecil yang berisikan sake, minuman beralkohol dari Jepang yang berasa dari hasil fermentasi beras. Pria itu memandangi gelas dalam genggaman tangan kemudian beralih kepada keempat teman-temannya.
"Udah, buruan diminum. Minuman itu enggak bakal bikin lo meninggal kalau cuma minum seteguk."
"Benar kata Alvin. Lo enggak bakal meninggoy, Ghani!" timpal yang lain.
Leon tersenyum sembari menggelengkan kepala lalu melirik pada pria berkacamata dan teman-teman yang lainnya. Mereka merasa senang karena cowok berwajah oriental yang selama ini dikenal alim ternyata mau juga bersenang-senang sejenak.
Awalnya Ghani hanya merasa pusing. Kepalanya seperti berputar-putar, tetapi tiga puluh menit kemudian tubuh pria itu panas dingin dan hasrat kelelakiannya bangkit dan ingin segera melampiaskan sesegera mungkin.
'Sial! Kenapa panas sekali. Lalu kepalaku juga pusing sekali,' batin Ghani sembari mengipas-ngipaskan tangan di depan wajah. Dinginnya ruangan tempat mereka bersenang-senang rupanya tak mampu menghilangkan rasa panas yang semakin menjalar ke seluruh tubuh.
Ghani bangkit kemudian meraih mantel panjang berukuran di bawah lutut. "Bro, ... gua mau cabut dulu. Lo semua lanjutin aja party-nya," ucap Ghani.
Sontak keempat teman-temannya itu menoleh ke arah Ghani. "Lo mau ke mana? Party-nya aja baru dimulai masa lo udah mau cabut."
"Iya nih. Si Cassandra aja belum sampai. Kok lo udah mau pergi gitu aja. Emang lo enggak mau have fun sama dia?" Alvin menimpali perkataan pria berkacamata.
__ADS_1
"Salamin aja deh sama dia. Gue udah enggak kuat lagi nih. Udah ya, gue cabut sekarang. Bye." Ghani melambaikan tangan ke udara kemudian bergegas meninggalkan mereka.
"Payah. Baru minum seteguk aja udah cabut. Cemen!" Sontak mereka semua tertawa terbahak-bahak.
Tak mau ambil pusing, mereka kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Sementara Alvin merogoh saku celana kemudian mengirimkan pesan pada seseorang. Setelah pesan itu berhasil terkirim, dia tersenyum smirk sambil menatap penuh arti pada sosok pria berwajah oriental di depan sana.
Ghani melangkah dengan gontai pergi dari club dan berniat pulang ke apartemen. Rasa pusing begitu hebat menyerang kepalanya. Manager club yang melihat pria itu berjalan sempoyongan segera menyuruh Queensha untuk mengantarkannya ke kamar VIP.
“Kita harus melayani semua tamu dengan service excellent, jadi antar dia ke ruang VIP sekarang juga. Nanti akan ada teman dari tamu ini datang ke kamar," ujar manager itu.
"Baik, saya akan mengantarkan pria ini,” jawab Queensha patuh. Sebagai pelayan baru tentu saja dia harus menuruti apa kata atasannya.
Queensha berjalan mendekati tubuh pria yang tergeletak di lantai dengan posisi punggung menyender ke dinding. "Tuan, mari saya antar Anda ke kamar."
Si cantik Queensha hendak meraih tangan kokoh itu, tapi si pria mendorongnya dengan kencang hingga tubuh mungil itu terhuyung dan membentur meja di sekitar situ.
"Aduh!" seru Queensha saat merasakan lengan bagian atasnya membentur ujung meja. Beruntungnya kepala gadis itu tidak terantuk hingga menyebabkan gadis itu mengalami cidera kepala. Namun sayang, kacamata yang bertengger di hidungnya yang mancung terjatuh di lantai.
"Astaga, Queensha! Disuruh begitu saja tidak becus! Sudah sana, antarkan pelanggan kita ke kamarnya sekarang juga!" Suara berat manager itu membuat tangan Queensha terhenti kala ingin meraih kacamatanya.
Penglihatan Queensha menjadi buram karena kacamata yang biasa ia kenakan tertinggal di tempat sebelumnya. Kendati begitu ia harus tetap menjalankan tugas dengan baik.
Dengan bersusah payah, Queensha membimbing Ghani memasuki ruang kamar bernuansa hitam keemasan. "Ah, berat banget!” keluh gadis itu sambil membuka pintu.
Berjalan perlahan menuju tempat tidur. Kemudian Queensha merebahkan Ghani di atas tempat tidur. “Akhirnya berhasil juga!” seru Queensha sambil menepuk-nepuk tangannya. "Sebaiknya aku bergegas keluar dari sini dan membantu teman-teman lainnya."
Queensha beranjak dari tempat tidur, hendak meninggalkan kamar itu, tapi semua terjadi di luar dugaan. Tangan kekar itu dengan cepat menarik tangan Queensha hingga tubuh gadis itu berada di atas tubuh sang lelaki. Tentu saja Queensha meronta-ronta, tetapi tenaganya kalah kuat hingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.
Meskipun berulang kali Queensha meminta dan memohon agar Ghani tidak melakukan suatu hal yang buruk terhadapnya, tetapi pria itu tidak mendengarkan. Akhirnya kesucian yang telah dijaga Queensha selama dua puluh tahun lamanya berhasil direnggut pria asing yang tak lain adalah Muhammad Ghani Hanan. Penyatuan itu terjadi akibat Ghani yang sedang mabuk berat ditambah pengaruh obat perangsang membuat pria itu menjadi hilang kendali.
__ADS_1
...***...