
Selang dua hari kemudian, waktu yang dinantikan pun tiba hari di mana Ghani melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan sang ayah yang telah dipikul selama hampir tiga puluh tiga tahun lamanya. Di hadapan para petinggi rumah sakit, Ghani menerima amanah untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur rumah sakit menggantikan Rayyan. Dibanding dua orang adiknya, Ghani-lah yang lebih siap memikul tanggung jawab tersebut.
Zavier, anak kedua Rayyan sama sekali tidak tertarik bekerja di bidang kesehatan. Dia memilih menjadi dosen sama seperti Raihan, anak kedua dari mendiang sang kakek. Sementara Zahira tidak mau terlalu sibuk di luar rumah sebab ada suami dan tiga orang anak yang membutuhkan perhatiannya.
"Selamat Dokter Ghani atas jabatan yang baru saja Anda peroleh. Saya sebagai senior di rumah sakit ini sangat bangga padamu karena di usia yang masih terbilang muda, Anda membuktikan pada semua orang bahwa Anda memang pantas menjabat sebagai direktur rumah sakit menggantikan Dokter Rayyan." Salah satu rekan sejawat Rayyan sekaligus dewan direksi rumah sakit mengulurkan tangan ke hadapan kakak tertua Zahira.
Ghani menerima uluran tangan itu sambil berkata, "Terima kasih, Dokter Willy. Namun, sepertinya Anda terlalu berlebihan dalam menilai saya. Semua yang saya dapatkan sekarang tidak terlepas dari dukungan kalian semua. Sekali lagi, terima kasih."
Ghani tetap bersikap rendah hati di depan semua orang meskipun dia memang mempunyai kapabilitas untuk menggantikan posisi sang ayah. Itulah salah satu ajaran yang sering disampaikan Rayyan dan Arumi kepada keempat anak-anaknya. Rendah hati, tidak boleh sombong dan selalu mengingat kebaikan orang lain walau hanya seujung jari mereka harus tetap mengingatnya.
Acara dilanjutkan dengan sesi makan-makan. Seluruh tamu undangan yang hadir dipersilakan menikmati hidangan yang telah disediakan. Akan tetapi, Ghani sama sekali tak menikmati hidangan tersebut walau salah satu dari menu makanan tersebut merupakan makanan kesukaannya.
"Ghan, ayah perhatikan sejak tadi kamu melamun terus apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?" bisik Rayyan di sela aktivitasnya menyantap hidangan yang ada di atas piring. Lima tusuk sate taichan lengkap dengan lontong menjadi pilihan utama ayah empat orang anak.
Ghani yang saat itu duduk di antara kedua orang tuanya menoleh ke samping kanan. "Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya mempertahankan nama baik rumah sakit ini setelah Ayah menyerahkan kepercayaan padaku untuk mengelola harta peninggalan Nenek Mei Ling. Aku tidak mau jika rumah sakit ini justru mengalami kemunduran di bawah kepemimpinanku."
"Yakin sedang memikirkan soal rumah sakit? Bukan sedang memikirkan hal lain, seperti memikirkan Queensha, misalnya." Arumi menimpali ucapan suami tercinta. Nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa saat ini Ghani sedang dilanda kegalauan akibat ditinggal pergi Queensha.
Akhir-akhir ini Ghani memang sering melamun dan tampak lesu usai mendapat berita dari Yogi. Sikapnya itu berhasil menarik perhatian Arumi dan wanita paruh baya itu langsung berasumsi bahwa kini anak tertuanya sedang galau tingkat akut.
Sontak Rayyan menatap tajam kepada Ghani. "Benar begitu, Ghan?" tanyanya penuh selidik.
Ghani terdiam, tak menjawab pertanyaan sang ayah. Semua yang diucapkan Arumi benar adanya. Namun, harusnya dia mengatakan yang sesungguhnya di depan kedua orang tuanya?
Rayyan ambil napas panjang satu tarikan dan menghelanya cepat. Diamnya Ghani menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.
__ADS_1
"Sudahlah, sebaiknya kamu habiskan makananmu. Jangan sampai terbuang sia-sia. Ingat, di luaran sana masih banyak orang kelaparan karena tidak mampu membeli makanan." Rayyan mencoba menengahi pertikaian antara istri dan anak pertamanya itu.
***
Ghani melangkah gontai dari ruangan direktur. Hati gundah gulana, pikiran tidak tenang karena terus memikirkan Queensha. Tubuh pria itu memang berada di sini, pada sebuah bangunan megah bak hotel bintang lima. Akan tetapi, tidak bagi jiwanya.
Jiwa Ghani berada pada suatu tempat yang tak jauh dari posisinya saat ini. Oleh karena itu, dia memutuskan meninggalkan rumah sakit seusai acara serah terima jabatan.
"Lo mau ke mana, Ghan, kok buru-buru banget? Bukannya dua jam lagi kita ada rapat guna membahas persiapan operasi pada pasien anak Nabil, lalu kenapa jam segini lo justru pergi dari sini," ujar Leon saat tanpa sengaja berpapasan Ghani yang kala itu baru saja keluar dari lift.
"Gue mau nyamperin Queensha di tempat kerjanya, Yon. Sumpah, pikiran gue jadi enggak tenang semenjak tahu kalau Queensha adalah wanita yang gue cari selama ini."
"Mau gue temenin? Siapa tahu gue bisa jadi penengah ketika terjadi kesalahpahaman antara lo dan dia," tawar Leon. Meskipun tidak yakin Ghani akan menerima tawarannya itu, tapi setidaknya dia telah berinisatif mengulurkan tangan membantu sahabatnya itu.
Ghani menggeleng kepala cepat. "Thanks atas niat baik lo. Namun, untuk masalah ini biarkan gue yang menyelesaikannya sendiri. Gue enggak mau melibatkan orang lain dalam urusan pribadi." Dia menepuk bahu Leon sebelum mengayunkan kaki. "Doain gue semoga urusan dengan Queensha cepat selesai. Gue mau meminta maaf dan memperbaiki hubungan kami."
"Jangan sampai terpancing emosi yang mana justru memperkeruh keadaan. Lo punya kesempatan sekali dan jangan pernah menyia-nyiakannya."
***
Rama meletakkan paper bag yang ukurannya cukup besar di atas meja sebelah Queensha membuat wanita berambut panjang dikuncir ekor kuda mendongakan kepala demi melihat siapakah gerangan orang yang datang secara tiba-tiba.
"Pak Rama, aku pikir siapa." Seulas senyuman Queensha berikan kepada atasannya itu. Lalu pandangan wanita itu terarah pada bungkusan berwarna hijau tosca di sebelahnya. "Ini apa, Pak?"
"Itu hadiah dariku, Sha. Kemarin malam aku dengar dari Pepeng kalau kamu berhasil membungkam mulut Puji. Aku sangat mengapresiasi sikapmu itu karena kini kamu lebih berani dari sebelumnya. Kamu ... sudah tidak takut lagi berbicara di depan Puji."
__ADS_1
Terkekeh pelan sambil beringsut ke kursi sebelah. Dia mempersilakan Rama duduk di kursi kosong di sampingnya. "Pak Rama terlalu berlebihan. Itu bukanlah merupakan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan, Pak."
"Lagi pula, aku lelah jika terus menerus diam saat diomeli Mbak Puji. Padahal aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik, tapi tetap saja salah di matanya. Orang seperti Mbak Puji memang pantas dilawan agar dia tidak semena-mena pada orang lain. Dengan begitu dia dapat berubah dan lebih menghargai orang lain."
Rama tampak manggut-manggut tanda setuju. Sejak dulu memang tak ada satu pun karyawan yang berani melawan Puji karena malas berurusan dengan wanita egois dan mau menang sendiri. Akan tetapi, semua berubah saat Queensha dengan gagah berani menangkis semua ucapan yang dilontarkan Puji.
"Oh ya, jangan lupa dibawa paper bag-nya, Sha. Aku secara khusus membeli ini semua untukmu."
"Tapi, Pak-"
"Tidak ada tapi-tapi. Pokoknya kamu wajib membawanya pulang ke rumah," keukeh Rama tanpa mau ditolak.
Kalau sudah begini, mau tidak mau Queensha harus menerima pemberian Rama. Rasanya percuma saja jika dia menolaknya.
Rama menyingkap lengan kemeja lalu melihat arloji di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukan pukul dua lebih tiga puluh menit dan shift pagi di restoran telah usai. Sebuah ide terlintas di benak pria itu kala melihat Queensha sudah tak lagi mengenakan seragam restoran.
"Ehm, Sha. Kamu udah mau pulang kerja?" tanya Rama memberanikan diri.
"Benar, Pak. Aku kurang enak badan jadi mau cepat-cepat pulang. Kenapa, Bapak mau bareng aku sampai parkiran?" Queensha balik bertanya.
"Kamu sakit? Mau aku anterin ke rumah sakit?" Tampak raut kecemasan terpancar di sorot mata Rama. Bahkan saking cemasnya tangan Rama sampai menyentuh kening Queensha, memastikan apakah wanita itu demam atau tidak.
Queensha gelagapan saat permukaan kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Wajah wanita itu seketika memucat tatkala tangan kokoh Rama mulai menyusuri permukaan kulitnya yang lembut bagaikan kapas. Kilasan kejadian lima tahun lalu kembali terlintas di benak wanita itu.
Mulut terbuka, hendak mengatakan sesuatu. Akan tetapi, suara berat seseorang telah lebih dulu menghentikan kegiatan Rama.
__ADS_1
"Jangan sentuh istriku!"
...***...