
Andri sangat gelisah. Dia tak mungkin bisa menutupi luka lebam yang terlihat di wajah. Yah, lebam-lebam itu memang ulahnya sendiri, tetap saja dia harus merahasiakannya dari orang tuanya.
“Apa boleh buat. Gue harus ngarang alasan kalau Papa dan Mama tanya kenapa muka gue sampai babak belur begini. Enggak mungkin nyeritain yang sebenernya pada mereka. Bisa-bisa gue diamuk Papa karena ketauan udah dorong bini orang sampe pendarahan." Andri bergumam lirih.
Adri menyentuh ujung matanya yang perih dan bibirnya yang sedikit sobek. Ketika bercermin begini, baru dia sadar kalau wajahnya amat parah gara-gara dihajar habis-habisan. Kalau saja dia tahu bakal digebukin, tentu dia tak akan mau berurusan dengan Queensha.
“Gue yang terlalu bodoh sampae enggak bisa berpikir panjang,” keluh Adri sambil meringis. "Aah, tapi gue enggak salah-salah banget sih. Salah sendiri kenapa tuh cewek sialan malah ngalangin gue buat bawa paksa Lulu. Coba dia nurut apa kata gue, pasti kejadiannya enggak kayak begini. Tuh cewek enggak jatuh dan perutnya baik-baik aja."
Dua malaikat dalam diri Andri berperang. Sisi baik pada pria itu mengatakan kalau dia bersalah, tetapi sisi lain dia menyangkal bahwa dirinya tidaklah bersalah.
Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Andri sudah kena batunya. Dia tak mungkin bisa kembali ke masa lalu dan menceramahi dirinya sendiri agar tak mendorong Queensha sampai wanita itu mengalami pendarahan. Kalau dia dihajar dan berakhir babak belur, itu memang konsekuensi yang harus diterimanya.
Tiba-tiba, ponsel Andri berdering. Rupanya sang mama yang menelepon.
“Andri, mama dan Papa sudah sampai di bandara. Kamu mau jemput kami?” tanya Mama pada putra kesayangannya lewat sambungan telepon. Baru saja menjejakkan kaki di bandara Soekarno Hatta, dia langsung menghubungi Andri.
Sekali lagi, Andri melihat pantulan wajahnya di cermin. Kalau keluar rumah dan memperlihatkan wajahnya yang babak belur begini, pasti akan membuat orang-orang penasaran. Lebih baik dia di rumah saja daripada orang-orang berpikir yang bukan-bukan tentangnya.
"Terpaksa gue tinggal di rumah sampe muka gue sembuh," kata Andri. Embusan napas kasar keluar dari hidungnya.
“Ma, aku baru saja kena musibah. Aku minta sopir untuk jemput Mama dan Papa, ya?" Andri memberi pilihan pada mama tersayang.
“Ya ampun. Musibah apa, Sayang?” Mama langsung panik seketika bahkan sepasang matanya hampir copot dari tempatnya.
“Nanti aku ceritain. Aku tutup dulu ya teleponnya.”
Adri menutup teleponnya. Dia segera menelepon sopir pribadi di rumah kedua orang tuanya untuk menjemput mama dan papa di bandara. Setelah selesai, Adri tiduran di tempat tidur dengan mata nyalang menatap langit-langit kamar. Dia hanya berdoa semoga mama dan papanya percaya kebohongan yang akan diutarakannya nanti perihal ‘musibah’ yang dia ceritakan.
"Moga nyokap dan bokap enggak tanya macem-macem. Pusing gue mesti nyari alasan apa lagi kalau mereka banyak tanya." Andri memejamkan mata, mencoba mengumpulkan keberanian menghadapi orang tuanya yang baru kembali dari Australia.
***
“Astaga, Andri! Kenapa wajahmu jadi begini?”
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, bu Tania langsung panik waktu melihat wajah sang putera yang babak belur. Wajah Andri termasuk tampan dan digilai banyak wanita jadi tak heran kalau dia jadi playboy cap kakap. Lalu saat wajah puteranya itu babak belur, wajar jika ibu dua orang anak itu sampai panik setengah mati.
“Kamu berantem karena masalah perempuan? Ck ck ck." Pak Hardi memandang remeh anak bungsunya itu.
Tak seperti bu Tania, pak Hardi hanya berdecak sambil menggelengkan kepala melihat wajah puteranya. Laki-laki tua itu langsung berpikiran kalau Andri baru saja berduel memperebutkan perempuan. Tahu betul tabiat sang anak yang sering gonta ganti pacar.
__ADS_1
“Papa! Mana mungkin Andri berantem gara-gara perempuan? Andri, 'kan anak baik.” Bu Tania melotot pada suaminya gara-gara pikiran buruk yang terlintas di benak suaminya itu
Andri cuma nyengir. 'Kayaknya bokap punya indere keenam. Buktinya bisa tau kalau gue habis digebukin orang karena berniat bawa paksa mantan cewek gue yang sialan itu.'
Mantan kekasih Lulu mengajak mama dan papanya duduk agar dia bisa bercerita apa yang terjadi padanya. Tentu saja versi bohongnya, bukan versi yang sebenarnya.
“Jadi, begini, Ma, Pa ... kemarin aku baru terkena musibah karena habis nolong seseorang." Andri mulai berceria. Tak lupa memasang wajah serius agar orang tuanya percaya.
“Menolong kok malah digebukin? Gimana ceritanya?” Mata Pak Hardi langsung menyipit dengan pandangan sangsi.
“Nah, ini mau aku ceritain. Jadi, aku punya temen, namanya Hana Dia punya pacar namanya Dunsa. Mereka udah lama pacaran. Hana cinta mati sama Dunsa. Namun, si Dunsa ini orangnya agak problematik gitu."
“Problematik gimana maksudnya?” tanya Bu Tania.
“Yah, dia tipe orang yang banyak masalah gitu, Ma. Dia enggak lulus kuliah dan jadi pengangguran. Selama pacaran, dia morotin duit Hana terus. Hana sih enggak keberatan. Dia bilang kasihan sama Dunsa karena cowoknya adalah anak broken home. Memang sih keluarga Dunsa berantakan—Mama dan Papanya sudah cerai sejak dia umur 12 tahun. Yang bikin sebel, Dunsa pakai alasan itu supaya Hana bisa nolongin dia terus. Hana tipe cewek yang enggak tegaan, makanya selalu nolong Dunsa. Apalagi kalau si cowok butuh uang.”
“Dasar cowok enggak tahu diri. Terus gimana? Apa hubungannya Hana sama kamu? Kamu jadi orang ketiga?” tebak sang Mama.
Andri mencebikkan bibir. “Ya, enggak dong,” bantah Andri cepat. “Jadi gini. Awal hubungan Hana dan Dunsa baik-baik aja. Malah Hana kelihatan bahagia banget. Kayak yang kubilang tadi, Hana cinta mati sama Dunsa, makanya mau melakukan apa pun demi Dunsa. Sampai akhirnya kemarin si Dunsa pikir Hana selingkuh sama aku karena akhir-akhir ini kita sering jalan bareng."
“Yakin? Kamu betulan enggak jadi orang ketiga?” Bu Tania menyangsikan kejujuran sang anak.
Andri menjeda kalimatnya. Kembali mengeluarkan jurus yang dimiliki untuk meyakinkan sang mama. "Waktu itu Hana lagi curhat, butuh kerja sampingan gara-gara duitnya habis dimintain cowoknya terus. Mau minta orang tuanya, yang ada dia disuruh putus sama Dunsa, Ma. Makanya Hana curhat ke aku, siapa tau beban hidupnya berkurang setelah cerita ke aku."
“Oh, gitu. Gara-gara kamu ngopi bareng, makanya kamu digebukin sama Dunsa?” Pak Hardi mengambil kesimpulan dari cerita Andri.
“Bener, Pa.” Andri mengangguk. “Waktu itu aku bilang sama Hana bisa mengusahakan cari lowongan buat dia. Aku bilang lebih baik Hana putus aja sama Dunsa. Hana enggak dengerin kata-kataku sih. Katanya aku terlampau negative thinking sama Dunsa. Di mata Hana, Dunsa adalah orang baik, setia, dan penyayang. Alah, bullshiit! Kalau baik enggak mungkin morotin duit pacarnya sendiri, kan?”
Mama dan Papa mengangguk bersamaan.
“Temenmu terjebak sama cowok mokondo. Kasihan juga,” komentar Pak Hardi sambil menyesap secangkir kopi buatan asisten rumah tangganya. ART yang bekerja di rumah itu segera membuatkan minuman untuk dua majikannya.
“Mokondo apa sih, Pa? Spesies komodo ya?” tanya Mama dengan raut bingung. Bu Tania memang tidak terlalu up to date dengan bahasa gaul masa kini.
Papa dan Andri langsung menyemburkan tawa gara-gara bu Tania menyangkut-pautkan mokondo dengan komodo.
“Aduh, bukan, Ma. Kok komodo sih? Jauh banget.” Andri terus saja ketawa. Tak lama kemudian dia meringis saat merasakan luka di sudut bibirnya terbuka.
“Mokondo itu … modal itu tuh, Ma." Pak Hardi tidak enak menyebut kepanjangan mokondo. Akhirnya, dia berbisik di telinga istrinya guna menyebutkan apa kepanjangan mokondo.
__ADS_1
Begitu tahu apa artinya, bu Tania langsung terkikik geli. Dia benar-benar baru tahu kepanjangan mokondo.
“Oh, ternyata itu toh. Maklumlah mama, 'kan, sudah tua. Jarang ngobrol sama yang muda-muda." Bu Tania ikut menyeruput teh hangat di atas meja. Setelah tenggorokannya tidak lagi terasa kering, dia kembali berkata, "Eh, tapi kok Papa bisa tahu istilah mokondo sih?”
Papa nyengir. “Yah, papa kan suka ngobrol sama Supri yang tukang ojek itu. Dia banyak tahu istilah bahasa gaul masa kini. Walau cowok, tapi suka gosip juga makanya papa tahu. Hehe.”
“Ya ampun, Pa. Jangan suka gosip dong. Apalagi sama Supri.” Bu Tania cemberut.
"Kan enggak sering, Ma. Cuma kalau ketemu Supri doang.”
Andri yang melihat obrolan Mama dan Papanya hanya tersenyum. Untunglah, orang tuanya percaya bualannya terkait Hana dan Dunsa. Padahal dua orang itu hanya imajinasinya semata alias cuma karangan bebas, kisah cinta tentang Hana dan Dunsa.
'Bagus deh kalau Papa dan Mama percaya. Jadi gue enggak perlu muter otak untuk cari alesan lain.'
Terlepas kalau ceritanya hanya bualan, Andri memang pernah baca kisah cinta semacam itu di media sosial. Banyak cewek yang ingin mengubah cowok nakal agar menjadi baik, makanya mereka mau bertahan meski hubungan mereka sangat toxic. Walau mengalami kekerasan, sang cewek enggan meninggalkan pacarnya karena sudah terlanjur cinta.
“Mama harap kamu enggak berhubungan lagi sama Hana. Jangan sampai Dunsa salah paham lagi dan hajar kamu habis-habisan," ujar Bu Tania, membuyarkan lamunan Adri.
"Waduh, ini masalahnya, Ma. Kayaknya Dunsa dendam banget sama aku.”
“Dendam gimana?”
“Dunsa ini posesif berat. Dia orangnya sangat pencemburu. Walau aku sudah digebukin sampai babak belur, aku terus aja diteror sama dia. Aku udah enggak aman tinggal di Indonesia, Ma, Pa."
“Ya ampun. Terus gimana dong?” Bu Tania terlihat panik sekali. Raut wajahnya berubah seketika.
Sebagai seorang ibu tentu saja bu Tania tidak mau kalau sampai anak lelakinya itu jadi bulan-bulanan orang. Susah payah mengandung dan melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, eh malah disakiti orang lain. Tentu saja dia tidak rela!
“Aku kepikiran pindah dari sini. Walau aku enggak salah apa-apa, tapi aku ogah banget diteror Dunsa terus-terusan. Makanya aku mau pindah ke Amerika lagi. Gimana, Ma? Apa boleh?” Andri menatap Mama dan Papanya dengan mata penuh harap. Ya, cuma ini jalan satu-satunya supaya dia terhindar dari masalah yang ditimbulkannya gara-gara berurusan dengan Queensha.
Pak Hardi dan bu Tania berdiskusi sebentar, menentukan jalan terbaik bagi putera mereka. Tak sampai sepuluh menit, kata sepakat didapat.
"Baiklah, papa setuju. Demi kebaikanmu, papa dan Mama perbolehkan kamu kembali ke Amerika. Di sana kamu bisa membantu Daniel, mengurusi kantor cabang yang ada di sana."
Bu Tania mengusap pundak Andri. "Ini kesempatan emas bagimu untuk mengembangkan diri jadi jangan disia-siakan."
“Terima kasih, Ma, Pa.” Andri tersenyum bahagia. Akhirnya, dia bisa hengkang dari Indonesia dan terbebas dari masalah yang menyeret Queensha di dalamnya. Walaupun dia tak punya kesempatan mencicipi tubuhnya Lulu, tak mengapa. Di Amerika nanti dia bisa berhubungan dengan perempuan mana pun bahkan lebih molek, sintal, pokoknya lebih segalanya dari tubuh mantan kekasihnya itu.
'Selamat tinggal Indonesia,' seringai menjengkelkan tersungging di bibir Andri.
__ADS_1
***