Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
"Akulah Gadis Itu!"


__ADS_3

"Tentang apa, Nak? Cepat katakan, jangan membuat kami penasaran!" kata Arumi tidak sabaran.


Ghani menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian dalam dada. 'Lo pasti bisa, Ghan! Demi Queensha dan Rora, lo harus berani dan menerima resiko apa pun yang akan terjadi di kemudian hari.'


"Ini rahasia tentang masa laluku. Sebenarnya saat di Jepang dulu, aku telah melanggar dua aturan yang ditetapkan oleh Ayah dan Bunda."


Dengan gerakan cepat Rayyan melesak mendekati Ghani, kemudian mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan anak tertuanya. "Apa maksudmu dengan telah melanggar aturan yang aku dan Bundamu tetapkan? Jelaskan dengan benar!" Suara Rayyan terdengar berat, dingin dan tegas.


Lagi dan lagi Ghani menarik napas panjang. Inilah yang ia takutkan sedari dulu, berhadapan dengan sang ayah dari jarak terlalu dekat mampu membuat tubuhnya terasa lemas seolah kehadiran Rayyan mampu meyedot seluruh energi dalam dirinya.


"Aturan yang telah kulanggar adalah ... pertama, aku telah menyentuh minuman keras yang sebetulnya tidak diperbolehkan dalam ajaran agama kita. Dan yang kedua, aku ... telah merenggut kesucian seorang gadis hingga dia mengandung benih yang kutanam di rahimnya," ucap Ghani lirih seraya menelan saliva susah payah.


Pasrah jika setelah ini menerima hukuman dari sang ayah. Sekarang ataupun nanti bukankah sama saja? Kebenaran pasti akan terungkap dengan sendirinya walau telah disembunyikan serapat mungkin, tetap saja Rayyan pasti mengetahuinya. Daripada Rayyan mengetahuinya dari orang lain lebih baik ia sendiri yang memberitahu sang ayah.


"Kamu sudah gila! Bagaimana bisa kamu melakukan itu semua, hah?" bentak Rayyan dengan mata melotot. "Ayah menyekolahkanmu ke Jepang agar kamu menjadi dokter hebat, mempunyai banyak ilmu untuk dibawa kembali ke negera kita bukan untuk menyuruhmu bersenang-senang apalagi merusak masa depan seorang gadis. Apa kamu tidak sadar, perbuatanmu itu telah merugikan orang lain, heh?"


"Aku sadar betul, Yah. Untuk aturan pertama yang kulanggar, kuakui diriku memang bersalah karena sifatku yang tidak tegaan membiarkan setan membujuk diriku menyentuh minuman keras. Namun, untuk aturan kedua, aku melakukan itu bukan karena kemauanku. Saat itu aku berada di bawah pengaruh obat perangsang yang dicampur minuman. Hasrat membara membuat sekujur tubuhku terasa panas dan rasanya ingin segera menuntaskannya. Aku ... tersiksa bila tidak melampiaskan keinginanku itu, Yah." Ghani beberkan kebenaran yang selama ini tersimpan rapat. Semua informasi dari Yogi, ia ceritakan di hadapan semua orang.


"Bohong! Itu pasti hanya alasanmu saja, 'kan agar ayah tidak memberi hukuman kepadamu. Katakan dengan jujur, Muhammad Ghani Hanan!" Rayyan semakin terengah. Dada pria itu kembang kempis menahan amarah yang semakin lama semakin membakar seluruh tubuhnya.


"Tidak, Ayah! Apa yang kukatakan barusan benar adanya. Aku melakukan itu bukan karena keinginanku sendiri melainkan karena dijebak seseorang sehingga diriku terpaksa melakukan perbuatan terlarang itu, Yah." Ghani berusaha meyakinkan Rayyan.

__ADS_1


"Kamu sadar betul jika tempat itu tidak cocok untukmu, tapi kenapa dirimu tetap datang ke sana? Apa kamu memang sengaja ingin melemparkan aib kepada ayah dan Bundamu?" teriak Rayyan sambil mengeratkan cengkeramannya. Ghani mulai kesulitan bernapas karena cengkeraman tangan Rayyan yang dirasa sebentar lagi meremukkan tenggorokannya.


Arumi yang masih syok lama kelamaan merasa khawatir dengan suaminya yang terlihat benar-benar marah akibat berita yang disampaikan Ghani, sedangkan Queensha tak mampu berbuat apa-apa karena ia sendiri ketakutan melihat betapa menyeramkannya sosok Rayyan ketika sedang marah.


"Mas, hentikan! Kamu bisa membunuh anakmu sendiri." Arumi melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Tidak tega melihat darah daging yang ia kandung selama delapan bulan merenggang nyawa di tangan suaminya sendiri. Sungguh, ia tidak rela!


"Jangan bujuk aku untuk tidak membuat perhitungan dengan anak sialan ini, Bun! Dia telah melempar aib ke wajah kita dan sudah sepantasnya mendapat hukuman."


Arumi menggeleng kepala cepat. "Tapi tidak dengan cara melenyapkan nyawa Ghani, Mas. Bagaimanapun, dia adalah puteramu, darah dagingmu sendiri. Kamu mau kehilangan salah satu anakmu akibat kemarahanmu ini?"


Dada Rayyan kembang kempis ketika ucapan Arumi mulai menelusup ke sanubari yang terdalam. Kobaran api di dalam dada perlahan mulai meredup seiring dengan cengkeraman tangan yang mulai mengendur.


"Honey, aku yakin kamu pasti menyesal seumur hidup kalau sampai nyawa Ghani lenyap di tanganmu. Penyesalan akan datang menghantui di setiap malammu. Jadi, sebelum itu terjadi lepaskan dia. Mari, kita duduk bersama sambil mencari jalan keluar terbaik dari masalah ini," bujuk Arumi. Mengusap lengan Rayyan dan menampilkan senyuman termanis yang selalu memabukkan sang lelaki.


Rayyan melepaskan cengkeraman tangannya di kerah kemeja, kemudian tubuh Ghani luruh begitu saja di atas lantai. Zavier dan Queensha dengan sigap membantu Ghani dan memapah pria itu duduk kembali di sofa.


"Kamu temani Ghani dulu, aku mau ambilkan minuman untuknya." Lantas Zavier berjalan menuju dapur. Ini masalah keluarga jangan sampai diketahui orang lain. Oleh karena itu, ia memutuskan mengambil sendiri minuman untuk Ghani walau ada dua orang asisten rumah tangga yang dapat diperintah.


Situasi sudah semakin terkendali. Rayyan jauh lebih tenang dari sebelumnya, sedangkan Ghani duduk di sebelah Queensha dengan kepala menunduk. Jemari tangan pria itu merangkum jemari lentik sang calon istri, mencoba mencari kekuatan dari lembutnya permukaan kulit ibu kandung dari anak tercinta.


"Kalau memang kamu telah memperkosa seorang gadis, lalu kenapa tidak mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Kenapa kamu justru ingin menikahi Queensha dan memulai hidup baru dengan wanita lain? Kamu mau bahagia di atas penderitaan orang lain?" desis Rayyan menatap tajam ke arah anak tertuanya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Yah!" sahut Ghani cepat.


"Lalu, kenapa bersikeras ingin menikahi mantan istrimu ini? Tidakkah kamu memikirkan perasaan gadis itu saat mengetahui jika pria yang telah merenggut kesuciannya justru bahagia dengan wanita lain, sedangkan ia hidup menderita akibat perbuatanmu. Di mana hati nuranimu, Ghani?"


"Karena aku memikirkan perasaan gadis itu, aku memutuskan menikahinya, Yah."


"Maksudmu, bagaimana, Nak? Bukannya tadi kamu bilang ingin menikahi Queensha, lalu kenapa sekarang malah membahas wanita lain. Bunda jadi bingung dengan cara berpikirmu." Arumi memijit kepalanya yang terasa pening akibat tingkah laku anak pertamanya itu.


"Memang benar aku ingin menikahi Queensha, Ayah, Bunda. Aku menikahi Queensha karena mencintainya. Namun, ada alasan lain yang membuatku menikahi mantan istriku ini. Aku ... mau mempertanggung jawabkan kesalahanku di masa lalu."


"Kesalahan apa lagi yang kamu perbuat, Ghani? Oh astaga, banyak sekali rahasia yang kamu sembunyikan dari orang tuamu ini." Tiba-tiba kepala Rayyan rasanya mau pecah. Ia seakan berubah menjadi pria bodoh yang tak mengetahui apa pun tentang anak pertamanya itu.


Sama halnya dengan Arumi dan Rayyan. Zavier memijat tulang bagian atas hidung dengan perlahan. 'Mimpi apa gue semalam harus terlibat dalam masalah pribadi Kakak Pertama. Seharusnya gue langsung pulang ke apartemen bukan malah mampir ke rumah Bunda.' Kini ia menyesali keputusannya menerima ajakan Arumi makan malam bersama di rumah.


Ghani membuka mulut, hendak menjawab pertanyaan Rayyan. Akan tetapi, Queensha mencegah pria itu. Queensha meremaas telapak tangan calon suaminya itu, kemudian menggelengkan kepala meminta Ghani untuk diam.


"Karena Mas Ghani telah merenggut kesucianku, Ayah, Bunda. Akulah gadis yang telah dinodai putera kalian lima tahun lalu," jawab Queensha dengan lantang.


...***...


__ADS_1


__ADS_2