
"Karena saya adalah lelaki yang telah memperkosamu lima tahun lalu. Apa kamu masih mengingat kejadian itu, Sha?" tanya Ghani menatap lekat manik coklat Queensha. Beban di dada terasa terangkat semua kala mengucap kalimat tersebut. Setelah sekian lama memendam akhirnya dia berkata jujur di depan sang korban.
Queensha terdiam seribu bahasa. Bibir terkunci rapat mendengarnya. Mata saling menatap, memastikan kembali apa yang didengarnya barusan bukanlah halusinasi sesaat.
Sejujurnya Queensha ingin sekali tidak mempercayai ucapan Ghani, tetapi melihat tatapan penuh kesungguhan membuat dia percaya bahwa pria itu yang telah merenggut kesuciannya lima tahun lalu.
Dengan gerakan cepat Queensha menepis kedua tangan kokoh di pundaknya lalu mengangkat tangan ke atas kemudian menampar wajah Ghani detik itu juga. "Singkirkan tanganmu dari tubuhku, Ghani! Aku tidak sudi disentuh lelaki bejad sepertimu!"
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Queensha membentak dan memanggil Ghani tanpa menyematkan kata 'bapak' di depan nama mantan suaminya itu. Sungguh, ia tak dapat mengendalikan diri untuk tidak meluapkan emosinya di hadapan Ghani.
Dada Queensha kembang kempis, matanya terus menghunus tatapan tajam. Di dalam sana jantung wanita itu berdegup kencang seakan ingin meledak detik itu juga.
"Hidupku hancur setelah kejadian itu, lalu sekarang kamu datang padaku dan mengatakan ingin bertanggung jawab. Pertanggung jawaban apa yang ingin kamu berikan kepadaku. Menikahiku dan menjadikanku madu bagi kekasih barumu itu, iya?" teriak Queensha dengan tangis yang mendera. "Tidak, Ghani. Aku tidak sudi menikah dengan pria berengsek dan tak bermoral sepertimu."
Ghani membeku di tempat. Melihat emosi Queensha meledak membuat pria itu merasa bersalah. Ia tahu apa yang telah diperbuatnya di masa lalu telah menghancurkan masa depan Queensha, tapi itu semua diluar kendali. Ia berada di bawah pengaruh obat perangsang hingga tega berbuat asusila kepada mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu salah paham, Sha. Saya tidak berniat menduakanmu. Saya dan Cassandra tidak punya hubungan apa pun, kami hanya temanan biasa, tidak lebih." Ghani mencoba memberi penjelasan dengan harapan kesalahpahaman di antara mereka usai sampai di sini.
Queensha tersenyum getir. Air matanya jatuh berlinang. "Kamu pikir aku anak kecil yang mudah ditipu. Hanya melihat kedekatan kalian saja aku sudah dapat menebak ada suatu spesial di antara kalian berdua. Hubunganmu dengannya lebih dari teman."
"Namun, itulah kenyataannya. Kami memang dekat, tetapi bukan berarti pacaran. Selama berada di Jepang, saya selalu bersikap baik kepada siapa pun tanpa memandang jenis kelamin, status sosial dan juga ras mereka. Saya berteman dengan siapa pun tanpa memandang bulu."
"Kamu sangkal semuanya dan menekankan kalian berteman. Tapi melihat bagaimana cara Cassandra memelukmu dengan erat, menatap iris coklatmu dan memberi perhatiannya kepadamu saat kalian makan bersama, aku tidak yakin jika dia menganggapmu hanya sebagai teman. Dia ... pasti menyukaimu."
"Tapi saya tidak!" seru Ghani meninggikan suaranya. "Di dunia ini hanya ada satu wanita yang saya cintai dan itu adalah kamu, Queensha. Saya jatuh cinta padamu dan ingin kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Oleh karena itu, selama lima tahun ini saya terus mencari keberadaanmu dan berniat mempertanggung jawabkan semua perbuatanku di masa lalu."
"Queensha, saya-" Ghani tak menjawab. Semua masalah ini terlalu rumit untuk dijelaskan.
Queensha mundur beberapa langkah ke belakang. Menatap Ghani dengan tatapan pilu. "Kamu tidak tahu apa saja yang aku lewati selama lima tahun ini, Ghani. Ribuan hinaan, cacian, makian dan hujatan ditujukan kepadaku saat semua orang tahu bahwa aku hamil di luar nikah. Mereka mengataiku dan menyebutku wanita jal*ng karena mengandung anak haram yang tak jelas siapa ayah kandungnya."
Menyentuh di mana posisi dadanya berada. "Hatiku sakit bagai ditusuk pisau tajam ketika melihat bagaimana sanak saudara dari mendiang kedua orang tuaku memutus hubungan persaudaraan karena malu mempunyai saudara sepertiku. Bahkan, Papaku sendiri tak menganggapku lagi sebagai putrinya karena sudah mencoreng nama baik keluarga yang dijaga selama ini. Seorang diri aku bertahan hidup demi membesarkan benih yang kamu titipkan usai kejadian nahas itu."
__ADS_1
"Jadi, setelah malam itu kamu mengandung anakku, darah dagingku? Lalu, di mana dia sekarang? Kenapa kamu tidak membawanya ke rumah untuk tinggal bersama kita?" cecar Ghani penasaran.
Bibir Queensha gemetar. Tubuhnya terasa lemas hingga nyaris terjatuh. Beruntungnya dia dapat berpegangan pada dinding di sebelahnya sebelum tubuh itu ambruk.
"Benar, satu bulan setelah kejadian itu, dokter mengatakan bahwa diriku tengah mengandung. Namun sayang, bayi itu ... meninggal usai aku melahirkannya ke dunia ini. Mungkin Tuhan merasa kasihan jika bayi itu bertahan hidup dia akan menanggung malu akibat aib orang tuanya." Tanpa terasa air mata yang sempat terhenti kini mulai deras mengalir. Dada wanita itu terasa sesak bagai dihimpit batu besar.
Berbagai macam pekerjaan Queensha lakukan. Mulai dari buruh cuci piring di rumah makan Padang, penjaga toko mini market hingga menjadi cleaning service pernah dia lakukan demi mendapat uang guna memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil. Walaupun hidup serba kekurangan, tetapi dia tetap memperhatikan asupan gizi bagi calon anak dalam kandungannya.
Bagai mendengar gemuruh petir di siang bolong, tubuh Ghani pun terasa lemas seperti jeli saat mendengar penuturan Queensha. Rasa bersalah kembali menyapa pria tampan itu. Seandainya dia mengetahui lebih awal jika Queensha sedang hamil mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Mengusap wajah dengan frustasi sambil berkata, "Tidak mungkin. A-anakku tidak mungkin meninggal. Dia ...." Kepala bergerak ke kanan dan kiri. Ghani masih belum percaya jika darah dagingnya telah meninggal dunia.
Melambung tinggi ke atas awang mendengar dirinya telah menjadi seorang ayah, tapi harapannya kembali sirna pada sebuah kenyataan yang mengatakan bahwa bayi itu. Anaknya meninggal sebelum ia sempat melihat betapa indahnya bumi ciptaan Sang Pencipta.
...***...
__ADS_1