Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Resmi Resign


__ADS_3

Berada di tengah ruangan dengan ditemani Lulu, nyatanya tak membuat Queensha menjadi tenang. Sejak melangkahkan kakinya yang jenjang menuju ruangan Rama, wanita itu merasa gelisah. Telapak tangan terasa dingin, peluh berukuran sebesar biji jagung mulai muncul di permukaan pori-pori kulitnya. Jangan tanya bagaimana wajah Queensha saat ini sebab ia kini terlihat pucat pasi bagaikan mayat.


Lulu menyenggol lengan Queensha dengan siku tangan, kemudian berbisik, "Buruan, katanya mau ngomong sama Pak Rama. Jangan membuang waktu terlalu lama! Ingat, di luar sana ada Pak Ghani dan anak lo sedang menunggu. Kalau lo enggak cepat-cepat mengutarakan maksud dan tujuan datang ke sini, calon suami lo yang super posesif itu bisa berubah menjadi Hulk. Gue enggak mau diterkam hidup-hidup olehnya."


Rama memicingkan mata, mendengar Lulu yang tengah berbisik di telinga Queensha. Sebetulnya ia penasaran apa yang membawa Queensha sampai ingin menemuinya lagi. Mungkinkah Queensha ingin mencambil jatah cutinya yang masih tersisa?


"Queensha, sebenarnya ada apa ini? Mengapa tiba-tiba kamu ingin menemuiku secara personal? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu? Apa Puji mengganggumu lagi?" Rama mencoba menebak alasan apa yang membuat Queensha datang ke ruangannya. Kalau bukan karena ingin cuti maka ini ada kaitannya dengan Puji, anak buah Rama yang hobi sekali menindas Queensha ataupun pekerja yang lain.


Queensha memilin ujung seragam yang ia kenakan. Tampak bingung harus memulai dari mana sebab semua keberanian yang sempat ia kumpulkan terbang tertiup angin bersamaan dengan peluh yang terus bercucuran walau ruangan tersebut dilengkapi fasilitas pendingin ruangan.


"Ehm ... b-begini, Pak Rama, s-saya ...." Queensha tak melanjutkan kalimatnya sebab ia merasa tak enak hati memberikan surat resign, padahal selama ini Rama begitu baik kepadanya bahkan pria itu sampai memberinya kesempatan kedua untuk bekerja lagi di restoran.


Lulu yang gemas sendiri melihat sikap Queensha menjadi tidak sabaran. Bukan apa-apa, ia hanya ingin segera menyelesaikan tugasnya menemani Queensha karena sangat yakin sekali jika sebentar lagi akan ada bencana besar kalau mereka tak segera keluar dari ruangan Rama.


'Kalau bukan sahabat, udah gue tampol lo, Sha. Gemes banget gue sama lo!' gerutu Lulu dalam hati. Rahang wanita itu mengeras dengan kedua tangan mengepal di samping tubuhnya.


'Enggak bisa dibiarin, nih. Kalau kelamaan berada di ruangan ini, bisa jadi sasaran empuk Pak Ghani, karena gue dianggap pengkhianat yang menyerahkan wanitanya kepada pria lain.'


Lantas, Lulu membuka mulutnya lebar hendak menyampaikan apa yang tidak bisa Queensha sampaikan kepada Rama. "Pak Rama, sebelumnya mohon maaf jika kedatangan kami ke sini mengganggu kegiatan Bapak. Hanya saja, saya mewakili Queensha ingin menyerahkan surat pengunduran diri. Mulai detik ini, Queensha memilih berhenti dari pekerjaannya."


Rama yang duduk di seberang meja tersentak kaget mendengar rentetan kalimat yang diucapkan Lulu. Detik itu juga ia merasa dunia tempatnya berpijak runtuh, kemudian menguburnya hidup-hidup. Tak pernah menduga jika Queensha akan mengundurkan diri dari restoran untuk kedua kali.

__ADS_1


Menurunkan dagu yang ditopang menggunakan punggung tangan lalu menatap lekat Queensha. Ia masih belum percaya jika tidak Queensha sendiri yang mengatakannya. "Apa yang dikatakan Lulu benar, jika kamu ingin resign dari restoran ini?"


Queensha tertunduk tatkala tatapan matanya beradu pandang dengan Rama. Lirih berkata, "Benar, Pak. Saya memang ingin resign dari sini."


"Apa karena Puji yang selalu menindasmu?"


Dengan cepat Queensha menggelengkan kepala, tangannya pun terangkat ke udara memberi isyarat bahwa ini tidak ada sangkut pautnya dengan Puji. "Tidak, Pak! Alasan saya mengundurkan diri karena ... sebentar lagi saya akan menikah dan calon suami saya tidak mau jika saya bekerja. Dia ingin saya fokus di rumah, merawat dan mengurus anak-anak."


Bagai disambar petir di siang bolong, berita itu membuat tubuh Rama lemas seketika. Belum usai keterkejutannya akibat Queensha yang tiba-tiba mengundurkan diri dari restoran kini ia mendengar kabar jika wanita yang disukainya akan menikah dengan lelaki lain.


Hati Rama hancur berkeping-keping. Belum juga mengutarakan isi hatinya kepada Queensha, wanita itu hendak dipinang lelaki lain. Sungguh malang nian nasib pria berkulit kecoklatan itu.


"Pak Rama, ini surat pengunduran diri saya." Queensha menyodorkan surat kepada Rama. Meskipun berat, tetapi ia harus melakukannya demi Aurora, putri tercinta.


'Ternyata benar, harapan itu sudah tak ada lagi. Kini Queensha telah melabuhkan hatinya untuk pria lain.' Mata terpejam merasakan ribuan jarum menusuk dada pria tersebut. Rasa sesak dan sakit muncul dalam waktu bersamaan.


Rama menaruh lembaran surat pengunduran diri Queensha ke atas meja kerja. Ia menarik napas dalam, mengembuskan perlahan mencoba untuk menyingkirkan beban yang menghimpit dada.


"Kamu sudah memikirkannya dengan matang, Sha? Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."


Tanpa ada keraguan sedikit pun, Queensha menjawab, "Sudah, Pak. Saat mengambil cuti kemarin, saya memikirkannya dengan matang dan memutuskan untuk resign dari sini. Bukan karena merasa tidak nyaman akibat kena tegur Mbak Puji terus melainkan karena saya mau fokus mengurus suami dan anak. Saya mau mencurahkan seluruh perhatian pada putri kami."

__ADS_1


Rama menarik napas panjang karena Queensha menjawab pertanyaannya dengan mantap. Itu artinya keputusan wanita itu sudah bulat, tidak dapat diganggu gugat. "Hm, baiklah jika kamu memang sudah yakin maka aku terima surat pengunduranmu. Namun, restoran ini selalu terbuka lebar kalau kamu mau kembali bekerja di sini."


"Terima kasih, Pak Rama. Semua kebaikanmu akan selalu saya kenang. Dan ... mohon maaf jika selama bekerja pernah membuat Anda ataupun Pak Bos merasa kecewa."


Lalu Queensha mengulurkan tangannya ke depan Rama. Rama menerima uluran tangan itu, menjabat tangan wanita yang menurutnya sangat pantas menjadi istri serta ibu bagi anak-anaknya. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena Pak Rama telah memberi kesempatan kepada saya untuk bekerja di sini. Semoga kebaikan Bapak dibalas Tuhan Yang Maha Esa."


Setelah menyerahkan surat pengunduran diri, Queensha berpamitan kepada teman-temannya. Suasana mengharu biru karena mereka akan berpisah dalam jangka waktu yang sangat lama. Puji melihat hampir semua anak buahnya meneteskan air mata, mencebikkan bibir. Karena menurutnya sikap mereka terlalu lebay.


"Pegawai malas seperti dia kok ditangisin, sih. Memangnya sumbangsih dia terhadap restoran ini apa? Perasaan tidak ada yang istimewa sama sekali," sungut Puji dengan melipat kedua tangan. Tatapan mata wanita itu menatap tidak suka kepada Queensha.


Ghani menanti dengan setia kemunculan Queensha di antara kerumunan para pegawai restoran. Senyum mengembang di sudut bibir melihat betapa eratnya hubungan pertemanan mereka.


"Kamu masih bisa bertemu teman-temanmu jika memang merindukan mereka. Aku tidak mungkin melarangmu pergi menemui sahabat maupun mantan teman kerjamu asalkan kamu meminta izin terlebih dulu, aku pasti mengizinkannya," kata Ghani saat ia berjalan bersisian menuju parkiran mobil. Sangat memaklumi mengapa Queensha tampak bersedih. Empat tahun bukanlah waktu sebentar bagi Queensha dan teman-temannya menumbuhkan rasa persaudaraan di antara mereka jadi saat salah satu meninggalkan tempat tersebut maka kesedihan melanda semua orang.


Queensha tak banyak berkata, ia hanya melingkarkan tangan di pinggang Ghani, sementara Aurora telah berjalan terlebih dulu ditemani mang Aceng.


"Sudah, jangan bersedih lagi. Nanti orang pikir aku menyakitimu. Sekarang sebaiknya kamu tersenyum agar dunia ini jauh lebih indah karena senyumanmu."


Tanpa disadari keduanya, seorang wanita dari dalam mobil memperhatikan setiap gerak gerik dua insan manusia itu. Tangan mencengkeram erat stir mobil miliknya.


"Gue bersumpah akan membuat hidup lo menderita. Kalau gue enggak bisa memiliki Ghani maka lo pun enggak akan bisa, Sha." Wanita itu mendesis tanpa mengalihkan perhatian dari pasangan calon suami istri di depan sana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2